Telah Terbit: Novel The Smiling Death

TB Gramedia Matraman Jakarta, 6 November 2013

Oleh: Erri Subakti

Proses penulisan novel ini diawali dengan brainstorming yang cukup alot tentang penokohan karakter-karakter di dalamnya. Kita sampai harus detil menggambarkan bentuk fisik, rupa, asal usul, kecilnya di mana, ayah ibunya keturunan mana, di mana mereka bertemu, sampai pada pertumbuhan tokoh-tokoh tersebut di mana sekolahnya.

Kolaborasi dua penulis yang berbeda latar belakang dan profesi ini menjadi menarik karena co-writer saya yang telah puluhan tahun bergelut di dunia media dan kepenulisan telah biasa dengan target-target tertentu dalam menulis. Target jumlah kata, jumlah halaman, deadline sampai pembuatan outline naskahnya.

Sementara saya sebagai penulis rekreatif, menulis hanya mengandalkan nikotin dan cafein di tengah-tengah malam, bengong-bengong dengan laptop menyala, berharap ‘ruh’ dari tokoh-tokoh yang saya ceritakan mampir ke dalam otak saya. Kadang sampai ketiduran inspirasi itu gak datang juga. Baru setelah paginya inspirasi melanjutkan naskah tulisan hadir untuk dituangkan.

Sementara di ujung sana co-writer saya sudah teriak-teriak menagih naskah seperti dikejar-kejar deadline. “Seniman sinting” itu sebutannya kepada saya. Kami menargetkan penyelesaiannya selama 2 bulan, Februari sampai akhir Maret.

Setelah rampung naskah ini sempat tidak digubris atau ditolak beberapa penerbit. Tapi ahamdulillah hanya 2 minggu dikirim ke Elex Media Komputindo, kami mendapat jawaban positif.

Dan kini “Senyuman Berbisa” telah bertengger di rak-rak buku toko Gramedia di kota Anda.

Terimakasih untuk berbagai pihak yang turut mewujudkan novel ini hingga terbit. Trims untuk para pembaca setia, komentator atas masukan dan kritiknya pada cerita ini saat pertama kali dirilis di Kompasiana.

maple40

Editor’s Note
Sebuah novel romance berbalut misteri dan filosofis. Penulis berani mengajak pembacanya mendalami lebih jauh karakteristik dan hubungan antar tokoh.

Paperback, 248 pages
Published October 30th 2013 by Elex Media Komputindo
ISBN13                                          9786020224046
edition language                             Indonesian
 .
 .

Advertisements

Kepingan Senja di Yerusalem

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya : Bumi Itu Satu )

———

Dua mobil itu berhenti di depan Ananta. Penumpangnya berhamburan keluar. Ananta menghitung, ada 12 orang, tidak termasuk supir. Wajah-wajah Asia, tepatnya wajah-wajah Indonesia. Dan ada sesosok wajah yang sangat akrab bagi Ananta, membuat Ananta refleks mendekatinya.

“Julia?!” sapa Ananta, dua meter dari perempuan yang disapanya.

Perempuan itu menghentikan langkahnya, menoleh pada Ananta. Tampak sejenak mengernyitkan kening, lalu rona mukanya terkejut, kaget.

“Ananta?” agak ragu suara Julia mendapati Ananta yang berlumur debu dan penampilannya yang awut-awutan.

Julia dengan ciri khasnya bercelana jins, rambut pendek dan sepatu kets, dengan tas punggung yang tampak berat, datang bersama para relawan satu profesi yang tergabung dalam Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), non-governmental organization dengan misi kemanusiaan. Rencananya Julia akan menetap selama 6 bulan di Palestina, memberikan terapi kejiwaan pada anak-anak dan wanita korban perang di Rumah Sakit Indonesia.

Rumah Sakit Indonesia adalah rumah sakit yang dibangun para relawan asal Indonesia. Berlokasi di Bayt Lahiya di jalur Gaza Palestina. Rumah sakit itu dibangun dengan dana murni sumbangan rakyat Indonesia, dari berbagai lapisan masyarakat. Tidak ada satu sen pun dana itu berasal dari pemerintah Indonesia ataupun pihak asing.

Tidak mudah bagi Julia dan rombongan mencapai Jalur Gaza di tengah situasi konflik yang sedang berkecamuk seperti sekarang ini. Setelah berkali-kali mencoba untuk berangkat ke Gaza melalui beberapa cara dan belum berhasil, 14 orang relawan asal Indonesia termasuk Julia berangkat ke Turki dan berlayar dengan kapal Mavi Marmara menembus Gaza.

Di tengah perjalanan Mavi Marmara dihadang tentara Israel dan semua relawan dijebloskan ke dalam penjara. Dua orang relawan tertembak peluru tentara Israel, satu orang patah tangan dan seorang lainnya tertembus peluru di bagian dada kanannya. Dua relewan itu dilarikan ke rumah sakit dan segera dievakuasi ke tanah air. Sementara Julia dan 11 relawan, setelah dibebaskan dari penjara Israel, melanjutkan perjalanan menembus jalur Gaza.

“Aku sama sekali gak menyangka penampilanmu seperti ini sekarang… Sudah berapa abad kamu tak bercukur?” goda Julia.

“Hahahahaha…, aku juga gak mengira kita bisa bertemu di sini dan dalam situasi serba mencekam ini…”

Ananta kemudian berkisah tentang perjalannya dan aktifitasnya yang kini mengelola Ananta Schiller Institute. Sebuah sekolah rakyat yang  memiliki konsep pendidikan untuk pembebasan. Bisa diikuti oleh siapa saja dan usia berapa saja. Di sekolah itulah, Ananta mendonasikan hampir seluruh kekayaannya.

“Bersihkan dirimu… nanti dalam kondisi yang relatif aman kita bertemu lagi…” senyum Julia merekah lantas kembali bergabung dengan rombongannya.

Senyum itu… wajah itu… setiap inci permukaan yang tampak dari Julia melemparkan ingatan Ananta pada Rachel. Julia yang ternyata adalah adik dari Rachel mewarisi kecantikan dari ibunya Wulandari yang juga mirip dengan Julia.

Ananta segera menepis bayang-bayang kelabunya….

***

 

“Kamu tahu Julia, mengapa kota ini dinamakan Yerusalem? Yerusalem artinya damai. Karenanya banyak Nabi lahir di kota ini. Tanah para Nabi, begitu sebutannya…” tutur Ananta saat ia mengajak Julia menyusuri Yerusalem, kota suci tiga agama.

Mereka berjalan-jalan di Via Dolorosa, lalu ke Tembok Ratapan dan berakhir di Masjidil Aqsa.

“Semoga damai di hati seluruh penghuni kota ini…” doa Julia, “Mengapa tanah yang seharusnya menjadi keberkahan ini harus diperebutkan manusia dengan banjir darah…,” ujar Julia.

“Kesombongan, Julia…, keangkuhan dan egoisme… Padahal di tiap-tiap lekukan bumi manapun, adalah bumi Allah…”

Julia teringat sebuah catatan dalam buku yang ia simpan dalam tas, ‘Seluruh bumi Allah adalah tempat sujud bagimu. Maka di manapun kamu mendapati waktu shalat, maka shalatlah.’

Matahari telah tergelincir ke barat. Memerahkan langit. Lantunan adzan berkumandang syahdu. Bersanding dengan bunyi lonceng gereja. Sayup-sayup hembusan angin membwa alunan kidung dari sinagog.

Esok mereka harus berpisah kembali, tenggelam pada kesibukannya masing-masing. Ananta akan kembali ke sekolah binaannya, Julia akan kembali ke Indonesia.

“Suatu saat jika Tuhan mengizinkan.. kita akan bertemu kembali…” Ananta mengucapkan kata-kata perpisahannya.

Kedua insan itu masuk ke dalam rumah Tuhan, larut dalam doa-doa mereka…

Julia membatin, ‘Aamiin Ananta…, semoga Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu kembali dalam situasi yang jauh lebih baik… atau mungkin kita kan mengabiskan hari tua bersama? Biarkan angin kan menyampaikan doa-doaku ke langit…’

Di sudut masjid seorang laki-laki melantunkan syair dalam hatinya…,

Kami hanya sedikit mengenal-Mu
tapi ribuan dari kami meregang nyawa atas nama-Mu

Kami berusaha mati-matian membuka misteri-Mu dan ciptaan-Mu
tapi permukaannya saja belum tersentuh

Kami datang ke dunia ini tanpa banyak bisa memilih, ya Mutakabbir…

Duhai Yang Maha Sombong
haruskah kami menanggung derita
sedangkan Kau bisa menghapus derita itu
haruskah kami meraba dalam alam semesta-Mu
sedangkan kalau Engkau mau, kami bisa menerbangi sisi-sisinya

Duhai yang Maha Besar
kenapa tidak Kau tunjukkan saja diriMu
kenapa tidak Kau buktikan kebesaran-Mu
agar ke-Maha-anMu tak lagi samar dalam nyata
agar wujud-Mu tak hanya sebatas khayalan kami saja

Duhai Yang Maha Mendengar
Dengarlah rengekan bayi-bayi kecil di kolong reruntuhan
Dengarlah tangisan ibu-ibu yang kehilangan buah hatinya
Dengarlah rintihan anak-anak yang kosong isi perutnya

Duhai Tuhan Yang Maha Melihat
Lihatlah lusuh dunia-Mu
Lihatlah naif para makhluk-Mu
Lihatlah keberingasan para khalifah-Mu

Tuhanku…
ini dunia-Mu
ini alam-Mu
kami milik-Mu
kami kehendak-Mu
tapi sebagai pemerannya
kami butuh drama semesta yang lebih baik

lebih sedikit air mata yang mengalir
lebih banyak muka-muka ceria
anak-anak yang tertawa menyambut pagi
ibu-ibu yang tersenyum menyongsong purnama

damai…

sedamai yang terbayangkan oleh otak kami
sedamai yang mampu Kau ciptakan…

***