Belajar Menulis pada JK Rowling

Setelah mangkrak dua tahun lebih (sampai ujung-ujung kertasnya kecoklatan dimakan panas, hujan, debu), akhirnya tergerak juga membaca buku ini, The Cuckoo’s Calling : Dekut Burung Kukuk. Satu dua tiga hari selesai. Sebuah novel kriminal karya Robert Galbraith yang tak lain dan tak bukan adalah JK Rowling. Ternyata sangat mengasyikkan dalam keseluruhan proses membacanya. Seruuuuu.
 
Cerita dibuka dengan terjadinya sebuah peristiwa besar, sebuah kasus yang nantinya akan dipecahkan oleh seorang detektif partikelir dalam lembar-lembar berikutnya. Cara menuliskannya sangat menyenangkan untuk diikuti. Membaca buku ini serasa melihat gambar bergerak, seperti menonton film.
 
TOKOH DAN KARAKTER
Penokohannya sangat kuat. Dari segi gambaran fisik maupun psikis. Tak ada karakter yang sempurna. Penyampaiannya lentur. Tidak kaku. Cara berpikir para tokoh bisa tergambarkan dengan baik. Apa yang dirasakan para tokoh juga tersampaikan dengan manis.
 
KONFLIK
Ada satu konflik besar dan konflik-konflik kecil yang menarik. Arus cerita menuju pada pemecahan konflik besar, dan sepanjang cerita konflik-konflik kecil antartokoh dimunculkan dengan apik. Setiap tokoh punya masalah. Tak ada satu pun yang bebas dari masalah.
 
DIALOG
Setiap tokoh mempunyai rasa bahasa yang berbeda satu sama lain ketika berdialog. Masing-masing punya ciri khas. Pilihan kata dan rangkaian kalimat disesuaikan dengan karakter.
 
SETTING
Tempat, benda-benda, dideskripsikan dengan detail. Ditulis dengan cara disebar melalui daya tangkap dan pengamatan tokoh-tokoh.
 
PLOT TWIST
Banyak kejutan di sekujur tubuh cerita. Semua tokoh terkait ditampilkan memiliki kemungkinan sama besar melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus utama.
 
ENDING
Akhir cerita dieksekusi dengan sangat menawan. Seseorang yang sepertinya paling tidak mungkin melakukan sesuatu karena beberapa sebab, ternyata bisa menjadi sangat mungkin.
 
Aaahhh… kembali melihat naskah sendiri, yang mandek, yang jalan di tempat, yang nggak maju-maju… duuuh bisa nggak ya menulis sekeren itu *curcol :)))))
 
Yang udah baca novel ini, bagaimana kesan Anda? Akan disimak dengan senang hati komentarnya.
 
#InspirasiMenulisNovel
Advertisements

Belajar Menulis pada Ahmad Tohari

Ketika membaca novel trilogi ini, sejak membuka halaman pertama tidak mau berhenti kecuali karena harus melakukan kegiatan yang tidak bisa ditunda. Sinyal bahwa ini novel bagus. Terus… terus… dua hari diselang-seling melakukan ini-itu, selesai. Kemudian seperti ada yang hilang. Kenapa sudah selesai *speechless. Sebuah perjalanan membaca yang sangat emosional, hingga air mata tak bisa dibendung pada bagian-bagian tertentu. Perasaan seperti dibanting-banting. Ngilu.
 
Walaupun cara penulisan berubah-ubah, kadang sudut pandang orang ketiga kadang orang pertama, itu tidak terlalu mengganggu, bisa diterima. Dan secara menyeluruh terasa novel ini ditulis dengan segenap indera.
 
Alam pedesaan, binatang, aktivitas binatang, tumbuh-tumbuhan dilukis dengan warna-warna yang tajam. Jalinan antar cerita begitu padu menjadi satu kesatuan yang utuh dalam tiga buku: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala.
 
Selain gambaran alam yang memukau, keunggulan menonjol pada novel ini adalah adanya ketegangan, alur cerita tidak mudah ditebak, penokohan tidak hitam-putih. Tokoh protagonis tidak selalu putih, tokoh antagonis tidak selalu hitam. Mungkin karena begitu manusiawi, begitu alamiah, sehingga novel ini mampu menyentuh kesadaran manusia yang paling dalam.
 
Tentang ronggeng sendiri terasa absurd, terutama bagi yang belum tahu atau belum pernah mendengarnya, tapi ternyata ada atau mungkin pernah ada. Persinggungan tokoh-tokoh utama dengan peristiwa tregedi kemanusiaan 1965 ditulis secara mengalir alamiah, tidak mengesankan dibuat-buat. Ketika membaca novel serasa membaca kisah nyata, disitulah letak keberhasilan pengarangnya.
 
Rasanya akan menyesal jika melewatkan satu kata pun dalam novel ini. Ahmad Tohari memang layak mendapat gelar sastrawan. Beruntung telah membaca novel ini, walaupun mungkin bisa disebut terlambat mengingat sejarah tahun penerbitan awalnya.
 
Pasti ada yang bisa menggambarkan jauh lebih baik tentang kehebatan novel ini. Yang sudah membaca novel ini, bagaimana pendapat Anda?
 
#MustRead #InspirasiMenulisNovel

Membaca Ulang dalam Proses Editing

1

Foto ilustrasi: DivergentSeries

Seiring perjalanan waktu menulis novel, lalu membaca kembali tulisan yang sudah kita buat sendiri, akan timbul kepekaan. Misalnya akan muncul pertanyaan, “Apakah alurnya tidak terlalu terburu-buru?,” atau, “apakah alurnya tidak terlalu lambat?” atau, “Kenapa tidak bisa detil?” atau, “Kenapa karakter si tokoh tidak keluar?” atau, “Kenapa sulit sekali menggambarkan ciri fisik tokoh-tokoh?” atau, “Kenapa rasanya malas sekali membuat detil?” dan sebagainya pertanyaan-pertanyaan otokritik yang berguna untuk memperbaiki tulisan sendiri dalam proses editing.

Melelahkan? Iya kadang-kadang. Tapi, semua itu harus dilalui. Kalau kita malas membaca tulisan sendiri, bagaimana dengan orang lain, apa tidak lebih malas membacanya. Seburuk apa pun tulisan di tahap pertama, akan selalu ada gunanya. Tulisan awal adalah bahan mentah. Seperti orang yang mau memasak, tanpa bahan mentah, tidak akan ada yang bisa dimasak.

Tidak ada cerita sekali memasak langsung enak. Sebuah resep mesti melalui beberapa kali uji coba hingga menghasilkan formula yang pas. Mungkin ada kasus khusus yang sekali jadi, tapi pasti ada penjelasan untuk hal semacam itu.

Yang penting disadari. Semakin banyak menulis, kita akan semakin tahu kekurangan/ kelemahan kita, kelebihan/ kekuatan kita. Memang tidak akan pernah ada tulisan yang sempurna. Tapi, kita tidak bisa menyembunyikan kemalasan/ keengganan di balik klaim tersebut.

Memang menulis adalah perjalanan individual. Kita sendiri yang tahu yang sejatinya di balik sebuah tulisan.

Menarik menyimak proses yang harus dilalui Veronica Roth dalam penciptaan Divergent.

Dalam pengantar FOUR, Roth bercerita:

“Awalnya aku menulis Divergent dari perspektif Tobias Eaton, seorang bocah lelaki Abnegation yang mengalami masa sulit dengan ayahnya dan mendambakan bisa bebas dari faksinya.

Aku mengalami kemacetan setelah menulis tiga puluh halaman karena naratornya tak cocok dengan cerita yang ingin aku kisahkan.

Empat tahun kemudian, saat aku membaca kisah ini lagi, aku menemukan karakter yang tepat untuk mendorong kisah ini agar terus maju. Kali ini seorang gadis Abnegation yang ingin menemukan dirinya. Tapi, Tobias tak pernah menghilang – dia masuk ke cerita sebagai Four, instruktur, teman, kekasih, dan pasangan setara Tris.

Four selalu menjadi karakter yang ingin aku kembangkan karena dia selalu terasa hidup bagiku saat dia muncul di tulisan. Dia sangat kuat bagiku terutama dari caranya terus mengatasi kesulitan, dan bahkan di beberapa kesempatan, dia justru berkembang karena kesulitan itu.”

Dengan membaca pengalaman Roth, semoga proses editing menjadi masa-masa yang tidak kalah menyenangkannya dengan proses penciptaan cerita di awal.

Happy Writing!

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)| 13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik | 6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter | 3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Seni Menulis Novel: Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel

novel 2

Foto lustrasi: pixshark

Menulis novel tanpa target itu seperti berlari tanpa tujuan, lari tanpa tahu apa yang dikejar, akan kelelahan sendiri. Beda halnya menulis novel dengan target, penulis tahu apa yang dituju, tahu goalnya di mana, kapan. Semua ini berkaitan dengan komitmen pribadi, disiplin pribadi.

Target Harian, Target Bulanan, Target Tahunan

Pada awalnya membayangkan akan menulis novel sejauh 50 ribu kata, memang berat kalau cuma dibayangkan. Ternyata setelah dijalani rasanya biasa-biasa saja. Ternyata ini memang persoalan kebiasaan. Kebiasaan menulis dengan sebisa mungkin mendekati, bahkan kalau bisa melampau target yang ditetapkan secara pribadi.

Membuat novel 50 ribu kata akan terasa ringan bila dipecah-pecah dalam target harian. 50 ribu kata dibagi 30 hari sama dengan 1.666 kata. Digenapkan saja satu hari 2000 kata. Sebulan jadi satu novel. Setahun 12 novel. Wowww alangkah produktifnya. Bila mampu menjaga target harian, target bulanan dan target tahunan otomatis tercapai.

Kalau lagi merasa tidak bisa menulis, sulit konsentrasi, mungkin ini waktunya untuk mengisi kepala dengan bacaan. Membaca novel yang sealiran, satu genre, sehingga keluaran dari bacaan itu nantinya menjadi energi untuk kita melanjutkan perjalanan menulis.

Misalnya suatu hari saya lagi malas menulis, saya membaca ulang novel Divergent (setebal 543 halaman), bagian satu saja yang saya baca.

***

Ada sebuah cermin di rumahku. Letaknya di belakang panel geser di koridor tangga. Faksi kami memberiku izin untuk berdiri di hadapan cermin itu pada hari kedua setiap tiga bulan. Hari ketika ibu memotong rambutku.

Aku duduk di atas bangku dan ibu berdiri di belakangku dengan membawa gunting. Sekadar merapikan rambut. Helaiannya yang ikal, berwarna pirang pucat, jatuh ke lantai.

Setelah selesai, ibu menarik rambutku ke belakang dan membentuk sebuah gelung kecil. Aku memperhatikan betapa ibu terlihat tenang dan fokus. Ibu sangat terlatih dalam seni menghilangkan jati diri. Aku tak bisa seikhlas ibu dalam menghilangkan jati diri.

Aku sedikit melirik melihat bayanganku saat ibu tak memperhatikan – bukan karena ingin sombong, tapi karena penasaran. Penampilan seseorang bisa banyak berubah dalam tiga bulan. Di depan cermin, kulihat wajah lonjong dengan mata bulat lebar dan hidung kecil yang memanjang. Aku masih terlihat seperti gadis kecil walau beberapa bulan lagi aku berulang tahun keenam belas. Faksi lainnya boleh merayakan ulang tahun, tapi tidak faksi kami. Perayaan itu hanya untuk menyenangkan diri sendiri.

“Nah,” ujar ibu saat menyemat gelung rambutku. Mata kami saling bertatapan di cermin. Terlambat untuk memalingkan muka, tapi bukannya memarahiku, ibu tersenyum menatap bayangan kami. Aku sedikit bekernyit. Mengapa ibu tak menegurku yang sedang memandangi bayanganku sendiri?

“Jadi, hari inilah saatnya,” ujarnya.

“Ya,” jawabku.

“Apa kau gugup?”

Aku menatap mataku sendiri sejenak. Hari inilah hari pelaksanaan Tes Kecakapan yang akan menunjukkan di manakah tempatku berada di antara lima faksi yang ada. Dan besok, pada saat Upacara Pemilihan, aku akan memutuskan faksi mana yang kupilih. Pilihanku berlaku selamanya. Aku akan memutuskan apakah aku akan tinggal bersama keluargaku atau meninggalkan mereka.

“Tidak,” ujarku. “Tesnya tidak harus mengubah pilihan kita.”

“Benar,” ibu tersenyum. “Ayo kita sarapan.”

“Terima kasih. Sudah memotong rambutku.”

Ibu mencium pipiku dan menggeser panel menutupi cermin. Menurutku, ibu bisa saja menjadi wanita cantik, di kehidupan yang lain. Tubuhnya yang ramping tersembunyi di balik jubah kelabu. Tulang pipinya tinggi dengan bulu mata panjang melentik. Saat ibu mengurai rambutnya di malam hari, rambutnya tergerai indah melewati bahu. Tapi sebagai anggota faksi Abnegation, ibu harus menyembunyikan kecantikannya.

Kami berjalan bersama-sama menuju dapur. Pada pagi-pagi seperti inilah, saat ibu menyiapkan sarapan, dan tangan ayah membelai rambutku sembari membaca koran, lalu ibu bersenandung sambil membersihkan meja – itulah pagi-pagi yang menyiksaku dengan rasa bersalah karena ingin meninggalkan mereka.
Busnya bau pengap. Tiap kali harus melewati jalan bergelombang, busnya berguncang dan melemparku ke sana kemari, tak peduli betapa kuatnya aku menggenggam kursi agar tidak jatuh.

Kakakku, Caleb, berdiri di lorong bus sambil berpegangan pada sulur besi di atas kepalanya agar tidak jatuh. Kami sama sekali tidak mirip. Caleb mewarisi rambut gelap dan hidung mancung ayah; serta mata hijau dan lesung pipi ibu. Saat masih kecil, sosoknya yang seperti itu kelihatan aneh, tapi sekarang ia terlihat tampan. Jika ia bukan seorang Abnegation, aku yakin para gadis di sekolah takkan melepaskan pandangan darinya.

Caleb juga mewarisi sifat ibu yang tak pernah mementingkan diri sendiri. Ia memberikan kursinya pada seorang pria Candor yang bermuka masam tanpa berpikir dua kali.

Pria Candor itu mengenakan setelan hitam dengan dasi putih – seragam standar Candor. Faksi mereka menghargai kejujuran dan melihat kebenaran sejelas warna hitam dan putih. Jadi, warna itulah yang mereka pakai.

Jarak antarbangunan mulai menyempit dan jalanan mulai lebih halus saat kami mendekati pusat kota. Gedung yang tadinya disebut Menara Sears – sekarang kami memanggilanya The Hub – mencuat dari balik kabut dan membentuk sebuah pilar hitam di langit. Bus melewati bagian bawah jalur layang kereta. Aku belum pernah naik kereta walau kereta selalu lewat dan jalur relnya di mana-mana. Hanya the Dauntless yang menggunakannya.

Lima tahun lalu, beberapa pekerja konstruksi sukarela dari Abnegation memperbaiki beberapa jalan. Mereka memulainya dari tengah kota dan terus bekerja sampai ke luar kota, hingga akhirnya mereka kehabisan bahan baku. Jalanan tempatku tinggal masih retak-retak dan penuh tambalan; benar-benar tak aman dilewati. Tapi itu tak masalah karena kami tak memiliki mobil.

Ekspresi Caleb terlihat tenang saat busa berayun dan berguncang. Jubah kelabunya menjuantai di bagian lengan saat ia menggenggam tiang untuk menjaga keseimbangannya. Aku tahu dari matanya yang terus bergerak kalau ia sedang mengamati orang di sekitarnya – berusaha untuk hanya melihat mereka dan tak melihat dirinya sendiri. Candor menghargai kejujuran, tapi faksi kami, Abnegation, menghargai sifat tak mementingkan diri sendiri.

Bus berhenti di depan sekolah. Aku bangkit dan melewati pria Candor itu. Aku meraih lengan Caleb saat aku tersandung sepatu pria itu. Celanaku memang terlalu panjang dan aku memang canggung.

Gedung Tingkat Atas adalah bangunan sekolah tertua di antara tiga sekolah di kota ini: Tingkat Rendah, Tingkah Tengah, dan Tingkat Tinggi. Seperti gedung-gedung lain di sekelilingnya, bangunan ini terbuat dari kaca dan baja. Di bagian depannya ada ukiran besi besar yang sering dipanjat the Dauntless sepulang sekolah. Mereka saling menantang untuk memanjat lebih tinggi dan tinggi. Tahun lalu aku melihat salah satu dari mereka jatuh dan kakinya patah. Akulah yang pergi mencari pertolongan perawat.

“Hari ini tes kecakapan,” ujarku. Selisih usia Caleb dan aku tidak ada setahun, jadi kami berada di kelas yang sama.

Caleb mengangguk saat kami melewati pintu depan. Otot-ototku menegang begitu kami masuk. Suasananya terasa seperti kami semua tengah dahaga. Sepertinya semua murid yang berumur enam belas tahun berusaha menikmati apa pun yang bisa mereka nikmati di hari terakhir ini. Karena kemungkinan besar kami takkan berjalan melewati aula ini lagi setelah Upacara Pemilihan – begitu kami membuat pilihan, faksi kami yang barulah yang akan bertanggung jawab untuk tuntasnya pendidikan kami.

Pelajaran cuma berlangsung setengahnya hari ini, jadi kami bisa menyelesaikan semua pelajaran sebelum tes kecakapan yang akan berlangsung setelah makan siang. Detak jantungku sudah telanjur naik.

“Kamu sama sekali tidak khawatir tentang semua yang mereka katakan?” tanyaku pada Caleb.

Kami berhenti sejenak di persimpangan aula, di mana ia akan pergi ke satu arah untuk mengikuti kelas Matematika Lanjutan dan aku akan pergi ke arah lainnya menuju kelas Sejarah Faksi.

Ia mengangkat alisnya menatapku. “Kamu sendiri?”

Aku bisa saja berkata padanya berminggu-minggu ini, aku khawatir bagaimana hasil tes kecakapanku nanti – Abnegation, Candor, Erudite, Amity, atau Dauntless?

Tapi, aku malah tersenyum dan berkata, “Tidak juga.”

Ia ikut tersenyum. “Nah,… semoga harimu menyenangkan.”

Aku berjalan menuju kelas Sejarah Faksi sambil menggigit bibir bawah. Ia tak menjawab pertanyaanku.

Aula terlihat sesak walau ada cahaya menyeruak masuk melalui jendela dan menciptakan ilusi ruangan yang lebih luas. Inilah salah satu tempat di mana semua anggota faksi berkumpul, saat seusia kami. Hari ini kerumunannya seperti memiliki semacam energi baru, kegembiraan akan hari terakhir.

Seorang gadis dengan rambut keriting panjang berteriak “Hei!” tepat di telingaku sambil melambai ke arah temannya di kejauhan. Lengan jaketnya menampar pipiku. Kemudian, seorang anak laki-laki Erudite bersweater biru mendorongku. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.

“Minggir, dasar orang kaku,” bentaknya sambil berlalu pergi.

Pipiku memanas. Aku bangkit, lalu menepuk-nepuk jubahku. Beberapa orang berhenti saat aku terjatuh, tapi tak satu pun menawarkan bantuan. mata mereka mengikutiku sampai ke ujung aula. Hal seeperti ini juga terjadi di anggota faksiku beberapa bulan belakangan – Erudite membuat laporan menyudutkan tentang Abnegation dan itu mulai memengaruhi hubungan kami di sekolah. Jubah kelabu, tatanan rambut sederhana, dan sikap sahaja faksi kami seharusnya membuatku mudah melupakan kepentinganku sendiri dan mudah pula bagi semua orang untuk melupakan keberadaanku. Tapi sekarang, mereka menjadikanku target.

Aku berhenti sejenak di depan jendela sayap E dan menunggu para Dauntless tiba. Aku melakukannya tiap pagi. Tepat pukul 07.25, Dauntless membuktikan keberanian mereka dengan lompat dari sebuah kereta yang tengah melaju.

Ayah memanggil Dauntless itu dengan panggilang “Hellion”. Mereka bertindik, bertato, dan berpakaian serbahitam. Tugas utama mereka adalah menjaga pagar yang mengelilingi kota kami. Menjaga dari apa, aku tidak tahu.

Mereka membuatku bingung. Aku bertanya-tanya apa hubungan keberanian – yang merupakan nilai yang paling mereka hargai – dengan cincin besi yang menembus cuping hidung mereka. Namun, tetap saja mataku tak bisa lepas menatap mereka ke mana pun mereka pergi.

Peluit kereta melengking nyaring. Suaranya menggema di dadaku. Lampu yang terpasang di bagian depan kereta berkedip-kedip saat melaju melewati sekolah. Rel besinya berdecit kencang. Dan, saat beberapa gerbong terakhir melaju, sekumpulan remaja laki-laki dan perempuan berpakaian hitam berlompatan dari dalam gerbong yang sedang berjalan itu. Ada beberapa yang jatuh. ada pula yang terguling. Yang lainnya terjungkal beberapa langkah sebelum akhirnya kembali seimbang. Salah satu bocah laki-laki itu malah merangkul pundak seorang gadis sambil tertawa.

Menonton mereka hanyalah sebuah tindakan konyol. Aku berbalik dari jendela dan berjalan menembus kerumunan menuju kelas Sejarah Faksi.

***

Dari bacaan itu, beberapa hal bisa disampaikan.

Melalui tokoh “aku”, penulis memperkenalkan karakter-karakter kunci, karakter tokoh “aku” sendiri, Caleb kakaknya, juga  karakter ayah ibunya. Penulis juga mulai memperkenalkan ciri khas masing-masing faksi (belum semua faksi).

Melalui tokoh “aku”, penulis mendeskripsikan jalanan kota dan sekolah. Sangat detil seperti gambar bergerak, seperti menonton film. Tidak heran, Divergent dengan mudah dibuat dalam versi film.

Dari situ kita jadi tahu, bahwa sebagai dalang, tugas kita adalah menggerakkan wayang-wayang buatan kita dari hari ke hari. Mau apa, mau ke mana, bagaimana menciptakan gesekan-gesekan antar wayang atau tokoh agar jalan cerita menjadi seru.

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau MoodMenulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Seni Menulis Novel: Menciptakan Alur yang Dinamis

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Suatu kali saya menonton sinetron atau FTV (film televisi), lupa, judulnya apa juga lupa. Tokoh-tokohnya itu duduk terus ngobrol, lamaaa banget. Kesan yang saya tangkap adalah alur yang statis dan membosankan. Saya tidak tahan untuk meneruskan acara menonton. Rasanya pengin mengunyah remote control saking bosannya, eh nggak ding 🙂 cukup matikan teve, masalah selesai.

Kali lain saya menonton film Hollywood, lupa judulnya, tapi rata-rata yang saya tonton itu menyajikan alur yang dinamis. Tokoh-tokohnya itu tidak cuma diam terus ngobrol, tapi ada aktivitas yang menyertai obrolan itu. Misalnya saja berjalan terburu-buru ke arah dapur, kemudian terima telepon sambil mencuci piring. Ya seperti itu, tampak sibuk, tampak dinamis. Saya suka yang model kedua ini.

Dalam membuat novel, kita punya wewenang penuh. Mau bikin alur statis, silahkan. Mau bikin alur dinamis, silahkan juga. Suka-suka aja 🙂

Contoh alur yang dinamis:

Suatu sore di musim dingin, Panji meninggalkan hotel…. Pergi ke toko yang khusus menjual bahan makanan dan rempah-rempah asli Indonesia. Panji membeli bawang putih, bawang merah, cabe rawit, sawi hijau segar, terasi, bakso, dan sosis. Panji juga membeli daging yang akan dibuat rendang khas restoran Padang. Khusus sore ini, Panji janji pada Salwa untuk membuatkan nasi goreng.

Setelah membayar di kasir, Panji kembali lagi ke dalam toko. Dia hampir lupa, Salwa minta dibawakan sepuluh bungkus mi instan. Panji berjalan ke deretan rak aneka makanan instan, mengambil sepuluh bungkus mi instan, memasukkannya dalam keranjang.

Di apartemen yang terletak di…. Salwa tinggal bersama Larasati. Sore ini Larasati sedang pergi ke rumah Charles, sepupunya di……

Salwa menyiapkan nasi di dapur. Dan ketika bel berdentang, dia tahu Panji yang datang. Salwa berlari membukakan pintu.

“Met sore, Sayang,” Panji tersenyum cerah, dan mengangkat dua tentengan belanjaan tinggi-tinggi.

“Sore,” Salwa membalas senyuman sang pangerannya itu, menutup pintu dan membantu membawakan tentengan belanjaan ke dapur.

Panji melepas jaket dan meletakkannya di tiang gantungan di pojok ruangan, kemudian bergegas menyusul Salwa di dapur.

“Doa restu orangtua itu penting, Salwa,” ujar Panji sembari mengiris bawang merah.

“Sudah tahu. Tapi, doa restu dari orang tua macam apa?” perhatian Salwa tetap pada sosis yang sedang diirisnya.

“Kamu tidak suka perbuatan papimu, itu bagus. Tapi, kamu jangan membenci papimu,” Panji mengupas bawang putih.

“Apa aku tampak membencinya?” selesai mengiris sosis, Salwa lanjut mengiris bakso.

“Kamu tidak pernah menemuinya. Artinya apa? Papimu harus tahu kita akan menikah,” Panji memasang wajan di atas kompor, memasukkan mentega ke dalamnya, menyalakan kompor.

“Kamu sudah tahu keadaan papiku,” Salwa memberikan wadah berisi bumbu yang sudah diiris-iris pada Panji.

“Setidaknya, kita akan menemuinya sebelum hari H,” Panji memasukkan semua bumbu itu ke dalam wajan yang menteganya sudah mencair, dan mengoseng-ngosengnya.

“Dia tidak akan mengerti. Percuma. Dia tidak mengenali siapapun, bahkan dia tidak mengenal dirinya sendiri,” Salwa memberikan wadah berisi irisan bakso dan sosis pada Panji.

“Tidak apa-apa. Kita akan temui dia,” Panji memasukkan semua irisan bakso dan sosis ke dalam wajan.

Salwa memasukkan irisan sawi hijau ke dalam wajan. Panji mengoseng-ngosengnya. Setelah semua layu, Salwa memasukkan nasi ke dalam wajan. Panji mengaduk-aduknya hingga bumbu dan semua bahan meresap. Aroma harum dari nasi goreng yang mengepul-ngepul memenuhi ruangan dapur. Panji mematikan kompor.

“Apa aku anak durhaka?” Salwa murung sembari mengambil dua piring dan sendok garpu dari rak.

Panji mendekati Salwa, memeluk pinggangnya dari belakang, “Enggak, Sayang. Kamu hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan,” bisik Panji ke telinga Salwa.

Dalam hati, bertambah kekaguman Salwa pada Panji, lelaki yang ditemuinya di sebuah seminar pariwisata di Amsterdam setahun silam. Lelaki yang menyihirnya, yang membuatnya jatuh cinta sekaligus ketakutan pada pandangan pertama.

Dalam seminar bertema…. itu, Panji adalah salah satu pembicara bersama beberapa pembicara dari berbagai negara.

Di depan audiens, Panji menjelaskan kekayaan pariwisata Indonesia. Pada layar proyektor, dia menunjukkan berbagai tempat wisata di tanah air yang direkomendasikan untuk dikunjungi.

Salwa duduk bersama ratusan peserta seminar. Salwa yang bekerja di perusahaan travel, merasa penting untuk mengikuti seminar itu. Salwa senang melihat kepiawaian Panji dalam memberikan presentasi. Panji tampak menguasai apa yang dia sedang bicarakan. Diam-diam, kerinduan pada Indonesia mengusik hati Salwa.

Salwa ingat betapa menyenangkannya liburan di Bali bersama Larasati dan Danu. Kala itu Salwa yang baru berusia tujuh tahun sedang diajari berenang oleh Danu. Mengapung di atas air dengan ban yang menyangga badannya, tangan Salwa bergerak-gerak cepat membelah air, sebagian air itu mengenai mata Danu. Keduanya tertawa-tawa gembira. Dari kejauhan, Larasati terjun bebas ke dalam kolam dan berenang cepat mendekati Danu dan Salwa.

Ketika layar proyektor dimatikan oleh Panji, Salwa kembali fokus ke masa kini.

Seminar telah selesai.

Salwa berjalan cepat mendekati Panji yang tampak serius di depan laptopnya.

Panji yang sedang menekan tombol shutdown, mendongakkan wajahnya. Dia terpukau pada perempuan yang berdiri di depan mejanya. “Kamu Salwa?” kata Panji sebelum Salwa membuka mulut.

Salwa diam karena terkejut. Dia menurunkan tangannya yang memegang kartu nama.

“Kamu Salwa anaknya Danu Bismaka?” Panji menegaskan.

Salwa tidak senang ada yang mengenalinya sebagai anak Danu Bismaka. Dia berlalu begitu saja, membatalkan niatnya untuk berkenalan dengan Panji.

Panji refleks berlari mengejar Salwa. “Tunggu. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?”

Salwa diam terpaku dihadang Panji sedemikian rupa. “Ini kartu nama saya,” Salwa mengangsurkan kartu namanya.

Panji menerimanya dan buru-buru merogoh saku kemejanya, membuka kotak kecil, mengambil satu kartu nama dan menyerahkannya pada Salwa.

“Presentasi yang bagus, saya suka,” Salwa memuji dengan sikap formal, kemudian berjalan cepat-cepat.

Panji bengong. Sejurus kemudian dia mengamati kartu nama Salwa.

Dia masukkan kartu nama itu ke dalam sakunya, kemudian bergegas merapikan tas dan kembali ke hotel….., bersama Pradipta partner-nya.

“Kamu yakin itu Salwa anaknya Danu Bismaka?” Pradipta mengecilkan volume televisi di kamar hotel.

“Yakin banget. Dan anehnya, begitu aku melihatnya, aku langsung teringat pada perempuan yang kulihat dalam mimpiku. Aku jatuh cinta pada perempuan dalam mimpiku itu, perempuan yang aku tidak tahu siapa namanya,” Panji menyalakan pemanas untuk membuat teh hangat.

“Gila lu Ndro, eh Nji. Sampai segitunya,” Pradipta membuka kopor untuk berkemas-kemas. Malam nanti mereka harus terbang ke Jakarta.

“Ini memang tidak masuk akal. Mimpi itu sudah lama, tapi masih teringat jelas sampai sekarang. Gue gak jadi pulang malam ini,” Panji mengaduk teh dan meminumnya.

“Bener-bener kesambet jin Amsterdam lo,” Pradipta melipat kaos bekas pakai. Lipatan yang tidak terlalu rapi, dan memasukkannya dalam kopor.

“Lo duluan aja, gue nyusul setelah ketemu Salwa,” Panji duduk bersila di atas kasur sembari ngemil biskuit.

“Lo nggak bisa seenaknya. Lo kerja sama orang,” Pradipta menutup resleting kopornya.

“Itu bisa gue atasi. You know, this is miracle. Gue rela mengambil risiko apa pun demi perempuan yang selama ini bagaikan misteri,” Panji meraih kartu nama Salwa dan mengecupnya.

“Itulah kelemahan lo. Lo lemah kalau sudah menyangkut perkara cinta.”

***

Contoh itu saya cuplikkan dari draft novel berjudul Roller Coaster yang sedang saya buat dan belum selesai. Masih mentah dan acak-acakan 🙂 tapi saya sudah berani menyertakannya dalam tulisan ini. Ya sudah, tidak apa-apa, ini hanya catatan harian.

Selamat menulis dan tetap semangat!

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau MoodMenulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Seni Menulis Novel: Mengembangkan Jalan Cerita

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Pernahkah Anda merasa kesulitan mengembangkan jalan cerita? Saya pernah, sering dan sampai sekarang pun kadang mengalaminya. Merasa kesulitan mau dibawa kemana lagi ya ceritanya supaya jalannya menjadi panjang, panjang dan panjang.

Jalan cerita awal sudah dibuka, ending-nya sudah ditentukan, tapi kan di tengah perjalanan itu si tokoh-tokoh harus dibuat berjalan kesana kemari supaya ceritanya panjang, supaya ceritanya bercabang-cabang, tidak linear, supaya seru, supaya ada yang diceritakan.

Untuk memecahkan kesulitan tersebut, saya berusaha mengenali karakter dasar tulisan saya. Saya berangkat dari tulisan-tulisan pendek, terbiasa menuliskan hal-hal pokok yang esensial saja. Buat saya, jalan cerita tidak terlalu penting. Tapi ketika saya memutuskan menulis novel, saya harus menganggap penting jalan cerita. Kalau tidak, tulisan saya akan mandek di tengah jalan, tidak bergerak kemana-mana.

Dibutuhkan keberanian untuk menggores dan terus menggores agar cerita yang sudah dimulai itu berkembang hingga garis finish di 50 ribu kata (standar fisik novel). Memang kuantitas halaman bukan segala-galanya, tapi kalau kualitas isi dan kuantitas halaman diusahakan tampil secara maksimal dan beriringan, tentu itu akan mendatangkan kepuasan batin tersendiri.

Di meja saya sekarang ada novel terbaru J.K. Rowling, The Cuckoo’s Calling: Dekut Burung Kukuk, 520 halaman: 23 cm. Baru saya baca beberapa halaman, dan terkagum-kagum dengan kemampuan detil penulisnya dalam bercerita.

Saya percaya, salah satu cara melatih kemampuan mengembangkan jalan cerita dalam novel adalah dengan membaca novel tebal yang detilnya mengagumkan.

Dengan cara itu, semoga impuls-impuls saraf di kepala terbuka, semakin lebar dan semakin luas jangkauannya, sehingga terbawa refleks dalam menulis yang detilnya lebih baik dari waktu ke waktu.

Satu lagi, kadang dalam proses mengembangkan cerita, seperti berhenti di persimpangan jalan. Mau dibawa kemana ya si tokoh A ini misalnya, rasanya mau ke sana deh, tapi… enaknya ke sini deh. Pernah mengalami hal demikian? Saya pernah. Kalau terjadi hal seperti itu, pilih saja salah satu dan jalan. Yang penting adalah jalan. Jangan sampai gara-gara itu, proses menulis malah berhenti. Tentukan saja pilihan dan jalan.

Selamat jalan!

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing | 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Novel Ditolak Penerbit Itu Menyakitkan, Jenderal! Benarkah?

 

14300381441532359929

Boyke Abdillah berkata di sini, “Saya pernah mencoba bikin novel. Lamanya 2 tahun. Selama itu, saya mencoba untuk merevisi berkali-kali, mengedit berkali-kali, mencari kalimat yang pas, adegan yang pas dan menjaga kontinuitas cerita agar tak membosankan. Setelah jadi, saya coba sodorkan pada orang terdekat untuk dikritisi, katanya sih menarik. Tapi saat dikirim ke penerbit, eh ditolak. Nyesek rasanya. Semangat jadi kendor. Akhirnya jadi malas bikin novel lagi.”

Perkataan Boyke itu menginspirasi lahirnya catatan ini.

Memang setiap penulis itu memiliki jalan cerita hidupnya masing-masing. Kalau ada yang merasa sakit karena novelnya ditolak penerbit, ya tidak ada yang bisa melarangnya.

Tapi, pengalaman beberapa penulis berikut ini (bagi yang belum pernah membacanya), barangkali bisa meredakan perasaan sakit atau nyesek itu.

Memang ini tak lebih dari kumpulan informasi, kitalah yang bisa menjadikannya “sesuatu” jika kita mau.

Novel best seller yang pernah ditolak penerbit:

1. Dune karya Frank Herbert – 13 penolakan

2. Harry Potter and the Philosopher’s Stone karya J.K Rowling– 14 penolakan

3. Auntie Mame karya Patrick Dennis – 17 penolakan

4. Jonathan Livingston Seagull – 18 penolakan

5. A Wrinkle in Time karya Madeline L’Engle – 29 penolakan

6. Carrie karya Stephen King – lebih dari 30 penolakan

7. Gone With the Wind karya Margaret Mitchell – 38 penolakan

8. A Time to Kill karya John Grisham – 45 penolakan

9. The Help karya Kathryn Stockett – 60 penolakan

Penolakan yang dialami para penulis hebat sebelum karya pertama mereka terpublikasikan:

1. Louis L’Amour, penulis lebih dari 100 novel – mendapatkan lebih dari 300 penolakan sebelum mempublikasikan buku pertamanya.

2. John Creasy, penulis 564 novel misteri – 743 penolakan sebelum mempublikasikan buku pertamanya.

3. Ray Bradbury, penulis lebih dari 100 novel dan cerita science fiction – mendapatkan sekitar 800 penolakan sebelum menjual cerita pertamananya.

4. The Tale of Peter Rabbit karya Beatrix Potter – ditolak oleh semua penerbit yang dikiriminya, sehingga dia memutuskan untuk menerbitkan sendiri karyanya.

Banyak keajaiban juga terjadi di dalam negeri. Sebut saja pengalaman Aya Lancaster. Novelnya, Chronicles of The Fallen: Rebellion ditolak beberapa penerbit lokal. Ajaibnya, novel itu justru mampu menembus jantung hati penerbit internasional, diterbitkan di Inggris dan diedarkan di kawasan Eropa.

Cerita di atas hanya sebagian contoh saja. Kalau masih kurang, bisa menelusuri sendiri melalui mesin pencari google. Di sana, data semacam itu melimpah.

Sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa ditolak itu hal biasa. Semua penulis pasti pernah mengalaminya. Ditolak bukan alasan untuk patah semangat. Ditolak tidak selalu berarti bahwa karya kita itu jelek. Bisa saja belum bertemu penerbit yang segmentasinya pas. Seperti novel The Smiling Death (TSD). Sebelum diterbitkan Elex Media Komputindo, TSD ditolak dua penerbit. Saya tidak tahu alasan pastinya. Tapi, saya amati novel-novel terbitan dua penerbit yang menolak TSD itu, kebanyakan novelnya untuk segmen remaja, sedangkan TSD adalah novel dewasa. Dan hal itu dibenarkan oleh pemilik salah satu penerbitan tersebut.

Jadi…

Tetap semangat menulis

Asyik-asyik aja 🙂

*Sumber data: Novel Best Seller yang Sempat Ditolak | 60 Kali Ditolak | Ditolak Penerbit Lokal, Sukses di Pasar Internasional

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing