Waktu

1273995_1029385157113276_4769354092204862806_o
 *
Demi waktu yang terus berjalan
Ingatkan aku tentang kemanusiaan
*
Demi waktu yang tak mau berhenti
Ingatkan aku tentang empati
*
Demi waktu yang telah berlalu
Ingatkan aku tentang hari kelabu
Demi waktu di masa depan
Ingatkan aku tentang harapan
 *
Demi waktu di masa kini
Ingatkan aku tentang yang hakiki
 *
Demi waktu yang berarti
Ingatkan aku tentang mengerti
 *
Demi waktu yang penuh rahasia
Ingatkan aku tentang menjadi manusia
 *
Demi waktu yang kadang pikiran lalu lalang
Ingatkan aku tentang jalan pulang
 *
Demi waktu yang tak bisa diputar kembali
Ingatkan aku tentang hati yang damai
 *
Demi waktu di dunia yang adalah perjalanan pertama
Ingatkan aku tentang perjalanan selanjutnya yang kedua
 *

Belajar Menulis Novel pada Roth

12046800_709402412526619_3807520874553569375_n (1)

foto dok. pribadi

DIVERGENT, INSURGENT, ALLEGIANT, FOUR

Dilihat dari segi apa pun, novel ini ok banget. Terutama ide ceritanya, saya suka. Orisinil. Jalinan konflik yang dbangun luar biasa, mengalir deras dari buku satu sampai buku empat. Membacanya serasa sedang berarung jeram.

Begitu membuka halaman pertama, kita diajak masuk ke dalam kehidupan Tris, gadis 16 tahun yang sedang mencari jati diri. Menyusuri halaman demi halaman dari buku satu sampai buku empat, rasanya seperti menyusuri ke kedalaman diri sendiri. Apakah kita lebih dominan murah hatinya seperti faksi abnegation. Apakah kita memiliki keberanian setangguh faksi dauntless. Ataukah kita dominan jujurnya seperti faksi candor. Ataukah kita secerdas kaum intelektual seperti faksi erudite. Ataukah kita cinta kedamaian seperti faksi amity. Atau ada keseimbangan unsur-unsur karakter tersebut dalam diri kita seperti divergent. Atau kita lemah dalam semua unsur karakter tersebut hingga masuk kategori factionless. Dimanapun posisi kita, yang pasti tak seorang pun bisa lepas dari yang namanya risiko.

Karya Veronica Roth ini (sejauh ini) merupakan kiblat saya dalam menulis novel serial. Sambil menyelami jalan cerita tokoh-tokoh di dalamnya, saya mempelajari teknis penulisannya. Bagaimana mengenalkan tokoh-tokoh. Bagaimana menunjukkan karakter tokoh melalui dialog. Bagaimana menarasikan setting. Bagaimana menciptakan konflik demi konflik beserta penyelesaiannya. Bagaimana memberikan risiko pada setiap pilihan hidup si tokoh. Bagaimana membuat plot yang runut dan bagaimana agar terdapat benang merah satu kesatuan yang padat dari buku pertama sampai buku terakhir. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Saya bersimpati pada tokoh utamanya, Tris dan Four. Mereka pasangan yang setara. Sampai sekarang masih sedih karena pada akhirnya Tris dibuat meninggal.

Tapi walau bagaimana pun, gak nyesel baca novel ini. Keren abis. Bintang lima deh (y) (y) (y) (y) (y)

11850758_933501676696094_4844333445241599395_o

Keep Calm and Write a Novel

22.Membaca Ulang dalam Proses Editing21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing |16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop| 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi| 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline|8.Timeline |7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan |5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending|2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Membaca Ulang dalam Proses Editing

1

Foto ilustrasi: DivergentSeries

Seiring perjalanan waktu menulis novel, lalu membaca kembali tulisan yang sudah kita buat sendiri, akan timbul kepekaan. Misalnya akan muncul pertanyaan, “Apakah alurnya tidak terlalu terburu-buru?,” atau, “apakah alurnya tidak terlalu lambat?” atau, “Kenapa tidak bisa detil?” atau, “Kenapa karakter si tokoh tidak keluar?” atau, “Kenapa sulit sekali menggambarkan ciri fisik tokoh-tokoh?” atau, “Kenapa rasanya malas sekali membuat detil?” dan sebagainya pertanyaan-pertanyaan otokritik yang berguna untuk memperbaiki tulisan sendiri dalam proses editing.

Melelahkan? Iya kadang-kadang. Tapi, semua itu harus dilalui. Kalau kita malas membaca tulisan sendiri, bagaimana dengan orang lain, apa tidak lebih malas membacanya. Seburuk apa pun tulisan di tahap pertama, akan selalu ada gunanya. Tulisan awal adalah bahan mentah. Seperti orang yang mau memasak, tanpa bahan mentah, tidak akan ada yang bisa dimasak.

Tidak ada cerita sekali memasak langsung enak. Sebuah resep mesti melalui beberapa kali uji coba hingga menghasilkan formula yang pas. Mungkin ada kasus khusus yang sekali jadi, tapi pasti ada penjelasan untuk hal semacam itu.

Yang penting disadari. Semakin banyak menulis, kita akan semakin tahu kekurangan/ kelemahan kita, kelebihan/ kekuatan kita. Memang tidak akan pernah ada tulisan yang sempurna. Tapi, kita tidak bisa menyembunyikan kemalasan/ keengganan di balik klaim tersebut.

Memang menulis adalah perjalanan individual. Kita sendiri yang tahu yang sejatinya di balik sebuah tulisan.

Menarik menyimak proses yang harus dilalui Veronica Roth dalam penciptaan Divergent.

Dalam pengantar FOUR, Roth bercerita:

“Awalnya aku menulis Divergent dari perspektif Tobias Eaton, seorang bocah lelaki Abnegation yang mengalami masa sulit dengan ayahnya dan mendambakan bisa bebas dari faksinya.

Aku mengalami kemacetan setelah menulis tiga puluh halaman karena naratornya tak cocok dengan cerita yang ingin aku kisahkan.

Empat tahun kemudian, saat aku membaca kisah ini lagi, aku menemukan karakter yang tepat untuk mendorong kisah ini agar terus maju. Kali ini seorang gadis Abnegation yang ingin menemukan dirinya. Tapi, Tobias tak pernah menghilang – dia masuk ke cerita sebagai Four, instruktur, teman, kekasih, dan pasangan setara Tris.

Four selalu menjadi karakter yang ingin aku kembangkan karena dia selalu terasa hidup bagiku saat dia muncul di tulisan. Dia sangat kuat bagiku terutama dari caranya terus mengatasi kesulitan, dan bahkan di beberapa kesempatan, dia justru berkembang karena kesulitan itu.”

Dengan membaca pengalaman Roth, semoga proses editing menjadi masa-masa yang tidak kalah menyenangkannya dengan proses penciptaan cerita di awal.

Happy Writing!

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)| 13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik | 6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter | 3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Telah Terbit: Buku Kisah Tujuh Penjuru

Hidup adalah perjalanan

Selalu ada alasan untuk tersenyum

Bagi yang mampu melihat keindahan dalam setiap perjalanan

Tinggal di Lindu, hidup serasa kembali ke zaman batu. Tidak ada sinyal. Tidak bisa menelepon atau menerima telepon. Tidak bisa mengakses internet. Tidak bisa berselancar di media sosial. Orang-orang saling berkirim surat untuk menyampaikan pesan. Petugas Puskesmas misalnya, ketika mau menyampaikan sesuatu pada Pak Camat yang tinggal di luar Lindu, harus menitip surat pada tukang ojek. Petugas Puskesmas yang mau mengabarkan jadwal Posyandu pada bidan yang tinggal di dusun seberang danau, harus menitip surat pada pemilik perahu yang tiap hari mondar-mandir melayani penyeberangan.

Danau Lindu menjadi seperti pusat. Di sini lalu lintas cukup ramai. Orang-orang tinggal menyebar di berbagai desa yang mengelilingi danau. Di antaranya Desa Anca, Desa Tomado, Desa Langko, Desa Puroo, Desa Lembosa, Desa Olu, Desa Sangali, Desa Kangkuro dan Desa Wongkodono. Orang-orang yang tinggal di dusun-dusun di desa seberang itu kebanyakan adalah petani dan nelayan. Mereka menyeberang danau untuk mengirim hasil panen atau ikan tangkapan ke pasar yang berada di pusat kota Palu. Atau sering kali juga banyak pengumpul atau pedagang dari kota yang menyeberang danau untuk membeli hasil panen para petani dan ikan tangkapan nelayan itu untuk dijual kembali. Mobilitas warga ini terasa benar pada jam-jam penyeberangan di danau. Peran tukang ojek menjadi sangat penting. Di dermaga pada jam-jam penyeberangan, tukang ojek menunggu penumpang yang akan memakai jasanya untuk mengirim hasil panen ke kota.

Orang-orang di dusun-dusun yang jauh juga harus menyeberang ketika keadaan mengharuskannya pergi ke Puskesmas satu-satunya yang terletak di Kecamatan Lindu. Demikian juga anak-anak mereka yang melanjutkan pendidikan tingkat atas di Kota Palu, juga harus melakukan penyeberangan. Di Lindu hanya ada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Untuk melanjutkan sekolah tingkat atas, anak-anak Lindu harus pergi ke Palu. Mereka pada umumnya yang melanjutkan sekolah menengah atas di Palu, tinggal bersama kerabat di Palu, atau tinggal di rumah sewaan.

***

Pulang sekolah, banyak anak bermain perahu di danau. Anak-anak naik perahu kecil yang biasa disebut ketinting. Tangan-tangan kecil mereka lincah mendayung. Mereka gembira dengan aktivitasnya. Anak-anak remaja naik perahu dengan santai, menjaring ikan sambil asyik mendengarkan musik yang diputar dari tape berukuran kecil. Seperti suatu siang terdengar lirik lagu dari sebuah perahu, ‘… suara, dengarkanlah aku, apa kabarnya pujaan hatiku, aku di sini menunggunya, masih berharap di dalam hatinya….’

Di sini aturan adat masih cukup berpengaruh. Ketua adat mengatur tata cara pergaulan, pernikahan, kelahiran, kematian, juga tentang menjaga lingkungan. Kearifan lokal mengajarkan untuk menjaga kebersihan danau, di antaranya tidak boleh cuci tangan di danau setelah makan. Namun masih ada pemandangan seorang ibu mencuci panci di danau, dan seorang pria melempar puntung rokok ke danau.

Danau Lindu merupakan sumber kehidupan bagi warga sekitar. “Di sini tidak ada orang kelaparan. Kalau tidak punya makanan, pergi saja ke danau untuk mencari ikan,” kata Sujarno Rema Kepala Desa Anca.

Setiap hari orang-orang di sini makan nasi dan ikan mujair. Ikan mujair itu ada kalanya digoreng, ada kalanya dibakar. Ada kalanya dimasak dengan kuah. Mereka menyebut ikan mujair berkuah sebagai sayur.

Suatu ketika seseorang bertanya pada seseorang yang lainnya yang sedang berada di danau. “Lagi apa?”

“Lagi mencari sayur,” jawabnya.

***

Lindu belum tersentuh listrik. Pada malam hari, orang-orang menyalakan lampu teplok menggunakan minyak tanah. Sebagian lagi menyalakan lampu dengan genset. Kawasan ini seperti terisolir dari dunia luar. Jauh dari jalan yang bisa diakses dengan kendaraan roda empat. Dari ujung jalan raya Desa Sidaunta, di satu-satunya jalan menuju Danau Lindu yang berada di kawasan hutan lindung Taman Nasional Lore Lindu, biasanya mangkal tukang ojek yang siap mengantar siapa saja yang mau ke atas, begitu sebutannya. Karena Lindu berada di dataran atas atau pegunungan.

Jalan menuju Lindu tidaklah lurus mendatar. Jalannya ekstrim, lebarnya tidak sampai satu meter di antara jurang menganga dan tebing curam yang rawan longsor. Alurnya naik turun dan berliku-liku, pada titik-titik tertentu kondisinya berbatu, berlubang, berlumpur. Bagi orang yang baru pertama kali ke sini, satu setengah jam terguncang-guncang di atas motor bisa terasa sangat lama dan menegangkan.

Namun orang-orang yang sudah terbiasa melewati jalan ini, mereka terlihat sangat tenang.

“Dulu kami pakai kuda sebelum ada kuda Jepang,” cerita Sukiman, tukang ojek. Dia menyebut motor dengan istilah kuda Jepang, karena umumnya motor yang dipakai penduduk di sini adalah motor keluaran Jepang.

“Sekarang kuda dipakai untuk mengangkut hasil panen,” lanjut Sukiman.

Dengan kuda Jepang, tukang ojek bisa melakukan berbagai “akrobat” mencengangkan. Bisa mengangkut lemari berukuran besar, bahan material untuk membuat bangunan, spring bed, pipa-pipa panjang, dan lain-lain.

“Kalau angkut lemari super besar, ongkos angkutnya bisa sampai 700 ribu rupiah,” cerita Sukiman.

Sukiman sudah seperti prajurit yang siap perang. Memakai sepatu boot setinggi lutut. Ban motornya berdesain khusus untuk menghadapi medan yang garang. Ganti ban tiga bulan sekali. Ganti oli seminggu sekali.

Namun tidak semua hal bisa ditangani kuda Jepang. Dalam keadaan darurat misalnya ada warga sakit parah, dirujuk ke rumah sakit di Palu, tidak bisa dibonceng motor. Orang-orang menandu si sakit dengan berjalan kaki. Bukan hanya keluarga inti saja yang mengantar, banyak warga yang refleks turut mengiringi. Dan mereka bergantian menandu yang sakit sampai jalan raya di Desa Sidaunta untuk kemudian dipindahkan ke ambulans Puskesmas menuju rumah sakit di Palu.

***

Ikuti perjalanan ini selengkapnya dalam buku Kisah Tujuh Penjuru yang ditulis oleh Wisnu Nugroho, Arimbi Bimoseno, dan Tim Pencerah Nusantara.

 

 

Editor’s Note

Tentang pengabdian anak-anak muda yang peduli perbaikan kesehatan masyarakat di tujuh penjuru. Yaitu di Kelay, Lindu, Ende, Pakisjaya, Ogotua, Sikakap, dan Tosari.

216 pages

Published September 30th 2014 by Penerbit Buku Kompas

ISBN13                                    9789797098667

edition language                       Indonesian

Arimbi Bimoseno’s Books

Telah Terbit: Buku Alien Terakhir

 

Oleh: Benny Rhamdani

Siang ini saya mendapatkan satu buku anak-anak berjudul Alien Terakhir. Buku ini ditulis oleh para penulis yang tergabung Fiksiana Community. Saya bernapas lega, akhirnya buku ini terbit setelah lebih dari setengah tahun menunggu, lantaran antrean terbit buku yang panjang.

Yang belum tahu infonya, buku ini terbit melalui seleksi lewat ajang  Festival Fiksi Anak (FFA) tahun lalu di Kompasiana. Pesertanya, ada yang sudah menulis buku anak bejibun, banyak pula yang pemula. Jam terbang memang tidak bisa dibohongi, kebanyakan yang lolos memang yang sudah terbiasa menulis cerita anak. Lantaran ‘aura’ penulisan cerita anak sedikit berbeda dengan menulis fiksi lainnya. Terutama menulis dengan sudut pandang anak.

Pemilihan Cover Story

Sejak awal, saya sudah jatuh hati dengan naskah peserta Ita Fauziah  dengan judulAlien Terakhir.  Judulnya tidak terlalu panjang, namun bikin penasaran. Itu sebabnya saya kemudian mengangkatnya menjadi cover story (judul utama di kaver buku).

Alien Terkhir berkisah tentang Ben dan Rhea yang tiba-tiba mengalami kejutan demi kejutan, seperti  disapa bunga, mendengar kelinci bicara dan keanehan lainnya.Yang bikin  menarik karena ada kejutan di akhir cerita (surprise ending). Dibandingkan naskah-naskah lain yang terbilang normatif, saya memberi nilai tinggi untuk ide cerita dan plotnya. Apalagi pesan moral yang disampaikan tidak  terasa menggurui. Meskipun dari sisi penggarapan ide (baca: penulisannya) masih terbilang belum matang karena bertebarannya kalimat tidak efektif .

Keunikan lainnya, di buku ini bertaburan tokoh-tokoh lain yang bukan manusia. Ya, namanya juga genre fantasi, jadi pensil pun di sini bisa bicara seperti manusia seperti dalam cerita Cita, Pensil, dan penghapus karya Arimbi Bimoseno. Tapi saya paling suka tokoh fantasi sawi dalam cerita Penyesalan Mimi Sawi karya Rahab Garendra. Keunikan karakter, mendorong saya untuk membaca terus ceritanya.

Dua penulis cerita anak yang sudah malang melintang di dunia perbukuan seperti Firma Sutan (Bantal Ajaib untuk Raja), dan Wylvera W (Serbuk Ajaib Tiko Kelinci) sungguh membuat kegembiraan tersendiri untuk saya.  Setidaknya, bagi penulis pemula lainnya dapat belajar cara menyusun kalimat-kalimat yang lebih efektif di dalam cerita ank.

Buku ini juga dikejutkan dengan satu peserta penulis cilik Sellyn yang masih duduk di bangku SD. Sellyn dengan gaya khas anak-anak sangat khas menulis tentangRatu Peri dan Jam Weker Shabby. Amat terasa, jika anak-anak menulis genre fantasi, maka fantasinya akan melompat-lompat ke sana kemari, namun untungnya bisa dikendalikan dengan baik.

Insya Allah buku yang dihiasi ilustrasi berwarna oleh TOR STUDIO ini akan terbit seminggu lagi. Juga akan disusul dengan buku berikutnya dari penulis Fiksiana Community, berjudul Hantu Siul.

Nah, sekarang saya ingin sekali kedua buku tersebut diluncurkan, walaupun secara sederhana.  Kira-kira menarik nggak ya?

Editor’s Note
15 cerita fantasi anak persembahan 15 penulis.

116 pages

Published August 2014 by Mizan
ISBN13                                    9786022424406
edition language                       Indonesian
.
.

Telah Terbit: Buku Jokowi Rapopo Jadi Presiden

Buku JOKOWI Rapopo Jadi Presiden

Jokowi telah membukakan mata, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Wong ndeso, tidak ganteng, tidak gagah, tidak kaya, bukan darah biru, jauh dari ciri-ciri yang biasa dilekatkan pada sosok seorang idola.

Zaman memang telah berubah.

Keterbukaan di era teknologi informasi membuat banyak orang memiliki akses yang lebih luas untuk melihat dan menilai secara langsung kualitas para pejabat publik. Banyak orang menjadi sadar politik dan memilih pemimpinnya dengan pertimbangan-pertimbangan rasional.

Pemilihan Presiden 2014 membuktikan, kualitas hati dan pemikiran Jokowi dalam membangun sebuah bangsa telah membuat banyak orang jatuh cinta hingga memilihnya untuk memimpin Indonesia.

Dan membicarakan Jokowi, tak lengkap tanpa menyinggung Ahok – pejabat publik dengan gaya bicara yang ajaib.

Pemilihan Presiden 2014, selain menerbangkan Jokowi ke puncak tangga tertinggi kepemimpinan nasional, sekaligus juga menerbangkan Ahok ke puncak tangga tertinggi kepemimpinan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Ahok telah menembus tradisi yang tidak lazim, bahwa orang dari ras minoritas, dari agama minoritas, bisa menduduki jabatan politis yang demikian strategis, memimpin ras mayoritas dan agama mayoritas.

Jokowi dan Ahok telah menumbuhkan semangat baru, bahwa politik tidak selalu kotor, bahwa politik tidak selalu buruk. Bahwa politik hanyalah salah satu jalan untuk mengambil peran dalam kehidupan. Baik-buruknya politik tergantung siapa yang menggunakannya, apakah niatnya baik ataukah sebaliknya. Dan kemampuan untuk menjaga niat baik itu terus-menerus dari waktu ke waktu.

Jokowi dan Ahok membuat banyak orang berani bermimpi. Bahwa siapa saja bisa menjadi apa saja yang diinginkan, tak peduli asalnya dari mana, tak peduli keadaannya bagaimana, tak peduli warna kulitnya apa, tak peduli agamanya apa. Lebih dari semua itu, kompetensi dan kredibilitas lah yang membuat segalanya menjadi mungkin.

Buku ini akan mengantar pembacanya menelusuri perjalanan yang telah dilewati Jokowi dan Ahok.

Selamat menyerap energi positif Jokowi dan Ahok.

 Editor’s Note

Buku untuk inspirasi anak muda dalam berjuang meraih mimpi.

238 pages

Published October 2014 by PT Kata Media – Puspa Swara Group

ISBN13                                    9789791478632

edition language                       Indonesian

Arimbi Bimoseno’s Books

Telah Terbit: Buku Pesawat Habibie

Buku Pesawat Habibie Sayap-sayap Mimpi Indonesia

Ketika Penerbit Puspa Swara meminta dibuatkan buku biografi Bacharuddin Jusuf Habibie, saya menyambut gembira. Tanpa berpikir, refleks saya mengiyakan. Menulis tokoh yang disukai memang jauh lebih mudah dan mengasyikkan, tak ada hambatan psikologis apapun.

Saya mengagumi banyak hal yang ada dalam diri BJ Habibie. Terutama semangatnya yang tidak mudah ditumbangkan dalam menjadikan Indonesia sebagai negara produsen pesawat terbang komersil.

Menjadikan Indonesia sebagai produsen pesawat terbang komersil? Bila melihat realitas yang ada dalam jangka pendek dan berpikir secara sempit dan dangkal, tampaknya memang jauh, terlalu jauh. Tapi, harus ada yang memulainya. Pada titik ini BJ Habibie mengambil peran. Dengan N-250, BJ Habibie telah menancapkan tonggak sejarah bahwa Indonesia merupakan negara pertama di Asia Tenggara yang mampu membuat pesawat terbang komersil.

Dan kini beberapa tahun kemudian setelah diguncang badai krisis politik dan ekonomi yang dahsyat, BJ Habibie kembali membuat gebrakan dengan R-80 penerus N-250.

Kagum pada semangatnya.

Ia tidak ikut patah bersama lepasnya kekuasaan dari genggaman.

Semangatnya tidak ikut mati bersama wafatnya sang istri yang begitu mengguncang kejiwaannya.

Habibie turun gunung dengan api mimpi yang terus terjaga dalam benaknya.

Saya tidak menutup mata, apa yang dilakukan Habibie tidak lepas dari kritik, caci-maki dan hujatan. Tapi dalam buku Pesawat Habibie Sayap-sayap Mimpi Indonesia, saya lebih senang melihat hal-hal baik dalam diri Habibie.

Sudah banyak buku tentang Habibie. Bahkan Habibie sendiri menulis dua buku, “Detik-detik yang Menentukan : Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi” dan “Habibie & Ainun”. BJ Habibie tetap saja menarik untuk diperbincangkan. Dari sekian banyak predikat untuknya, ada yang menyebutnya manusia multi dimensi, tak heran jika selalu ada sisi menarik yang bisa digali lebih dalam dari dirinya.

Dalam proses penyusunan buku ini, saya sangat terbantu oleh berbagai literatur yang cukup melimpah.

Buku Pesawat Habibie Sayap-sayap Mimpi Indonesia merupakan apresiasi pada kegigihan BJ Habibie yang sedang proses mendesain R-80 menuju penerbangan menjelajahi nusantara dan dunia.

Dan terutama sekali, buku ini dipersembahkan untuk generasi muda, anak cucu intelektual BJ Habibie. Seperti diketahui, Habibie senang menyebut siapa saja yang lebih muda dan masih usia sekolah sebagai anak cucu intelektualnya.

Buku ini cocok dijadikan kado untuk anak-anak usia sekolah/kuliah dalam momen ultah, kenaikan kelas atau kelulusan. Cocok bagi siapa saja yang ingin mengenal BJ Habibie lebih dalam.

Selamat menyelam ke kedalaman samudera hati dan pikiran BJ Habibie.

Semoga mendapatkan kegelisahan baru yang produktif.

10989139_755103857919922_6325431702003533736_n

Editor’s Note
Buku inspirasi untuk anak muda dalam berjuang meraih mimpi.
 
384 pages
 
Published October 2014 by PT Kata Media – Puspa Swara Group
ISBN13                                    9789791478625
edition language                       Indonesian

Arimbi Bimoseno’s Books