MILESTONE

Buat kami, novel The Smiling Death merupakan milestone – batu pijakan pertama yang semoga diikuti lompatan-lompatan berikutnya (baca: novel-novel berikutnya). Di sini terkandung doa dan harapan, juga tentu saja harus bekerja keras. Karena itu satu-satunya jalan yang bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan. 

Berikut ini beberapa catatan yang mengiringi hadirnya novel The Smiling Death.

<<<

CRITIC MAKES PERFECT 

Oleh: Erri Subakti | 05 Desember 2013

 

Saya sangat percaya dengan kritik, dari yang halus sampai yang menjatuhkan sekalipun itu akan membangun diri dan kemampuan kita menjadi lebih terasah dan semakin matang di kemudian hari.

Itu sebabnya komentar-komentar favorit saya adalah: “fiksi ini jelek sekali, buruk ceritanya, basi…” dsb.

Mungkin banyak yang akan gak terima jika karya tulisannya sampai ada yang mengomentari demikian. Tapi buat saya justru itu satu pembelajaran gratis yang membuat saya berpikir, bagian mana yang kurang dan harus diperbaiki, dan bagian mana yang memang itu hanyalah soal selera pembaca dan karakter menulis saya.

Kalau pun saya masih belum bisa memuaskan banyak orang dengan karya saya (tentu saja) paling tidak saya terus mencoba tantangan untuk selalu terus dan terus belajar.

Karena itulah kami, saya dan mbak Arimbi Bimoseno sempat menggelar “Ajang Kritik Novel The Smiling Death, Senyuman Berbisa.”

Dengan membuka ruang kritik, kita mendapat banyak pelajaran berharga bagaimana pandangan atau penilaian teman-teman secara jujur tanpa rasa sungkan.

1. Tante Paku menuliskan

“… bila mencermati penyakitnya Carla, karena diceritakan mengalami penyumbatan pembuluh darah, walau pengarang tidak secara jelas mendeskripsikan tentang penyakit penyumbatan pembuluh darah itu sendiri. Sebab penyumbatan pembuluh darah sendiri ada 3 jenis untuk membedakannya, orang awam biasa menyebut hal ini sebagai STROKE. Entah stroke jenis apa yang diderita Carla, stroke iskemik, Stroke hemoragik, dan Transient Ischemic Attack? Sebab masing-masing mempunyai penanganan yang berbeda, dan tingkat penyembuhannya pun berbeda pula. Tapi entah mengapa kemampuan finansial Clara dan Ananta ketika sudah menjadi suami istri tidak menuntaskan pengobatannya tersebut?” (Ketika Sahabat Menjadi Jahat)

2. Muhammad Armand mengkritik:

“Terkuaklah penyakit (desease) Rachel, gangguan jiwa akibat koleksi-koleksi problematika dahsyat sepanjang hidup dan matinya. Penulis novel ini sedikit kecolongan sebab penulis mendominankan pull treatment kepada psikiater. Penulis novel ini ‘khilaf’. Rachel wajib melibatkan psikolog, karena penyakit Rachel kominasi sakit jiwa dan disfungsi saraf. Psikiater sanggup menenangkan saraf Rachel, dan psikolog sanggup menenangkan jiwa Rachel. Bila saja ini terjadi, novel ini akan indah di mataku, dan saya akan bertambah ilmu bagaimana cara memenej cemburu dengan kekuatan mental, cerdas dan wajar. Namun, itu tak kutemukan dalam novel ini.”
(Iblis Pun Cemburu)

3. Katedra Rajawen:

Sebuah buku yang sangat menggairahkan dan merangsang minat untuk segera membaca begitu melihat covernya. (eh ini kritik atau bukan ya? hehehe…) di sini

4. Kang Insan Purnama menuliskan:

“novel ini dibuka dengan “persiapan malam pertama”, sangat romantis pada awalnya hingga akhirnya saya dikejutkan oleh “peristiwa” selanjutnya, yang menyebabkan malam pertama itu tidak lagi romantis, melainkan sedikit histeris.

… novel ini pun tiba-tiba saja mengingatkan saya pada novelet “Raumanen”. Hampir sama dalam sajian penceritaan. Novelet Raumanen setiap babnya diawali oleh sebuah teks/wacana yang berisi “pengakuan” para tokohnya baik Monang maupun Manen. Nada pada teks itu cenderung murung. Nah, novel Erri dan Arimbi ini pun mirip seperti itu. Bedaanya adalah mereka berdua menyajikan puisi-puisi yang mengawali setiap babnya. Saya membaca puisi itu, rasanya nadanya pun agak sedikit murung. Ah,mungkin saya salah, bisa jadi, kemarin 30 menit kehujanan naik motor di Cianjur cukup membuat saya menggigil.” (di sini)

5. Dues K Arbain:

“Baru bolak-balik halaman muka, halaman belakang. Halaman tengah. Memahami sedikit tabiat Rachel yang rasa-rasanya pernah tayang di lapak Mas Erri juga. Maka tertidurlah aku semalam dengan mimpi bertemu Rachel yang culas.” di sini.(hehehe… makasih bang Dues yang berani membelikan buku untuk anak remajanya, padahal ini buku mestinya untuk dewasa… 🙂 )

6. Choirul Huda

Menyelami “The Smiling Death” justru membuat pembaca mengernyitkan dahi. Setelah selesai baca bukannya langsung berkata, “oh, begitu toh ending ceritanya,” layaknya novel-novel lainnya. Sebaliknya, pembaca kian “terjebak” dalam labirin waktu yang tak kunjung selesai. Kenapa si A harus begini. Si B, begitu. Atau, si C…
kisahnya kelam dan alur yang sangat dalam hingga sulit diselami apalagi sekadar ditebak.

(di sini)

7. Chandra Permadi ngedumel

“pertama kali baca deskripsi kamar pas bagian Malem Pertama, pengen tuh rasanya gigit seprei merahnya. Buat saya deskripsi acara jitak bibir Ananta, kagak dapet. Ibarat hukum oom Newton F=-F, aksi pasti nimbulin reaksi, dan buat saya reaksi Rachel terlalu datar, terlalu pendek. Aksi Ananta udah begono eh reaksi Rachel Cuma sebegono. Lah reaktif gitu dibilang datar? Maksud sayah mungkin kurang deskriptif, misal nih ya misal doang sih. Mungkin bakal lebih seruh klo dipikiran si Rachel (kagak pake Maryam Sayidina ) ada layar tancepnya, misal bayangan Carla nongol bijimana gituh.”
di note FB-nya.

8. Dyahrina menceritakan bagaimana gak ngetopnya yang namanya Erri Subakti di Gramedia karena namanya gak ditemukan di mesin pencari toko tersebut. (di sini)

Hehehe… ya iyalah.. soalnya yang tanda tangan kontrak atas nama mbak Arimbi, jadinya yang terdata nama Arimbi Bimoseno aja sebagai penulisnya.

9. Siti Swandari

“menurut saya ceritanya kurang ber-tele-tele, terlalu pendek dan ada kesan terburu-buru — terlalu ringkas dan padat, kale di kejar dead-line ya? Hehehe…” (di sini)

________________________

Maka untuk para pemberi kritik, kami mengapresiasi teman-teman dengan mengirimkan sebuah buku dari kami. Untuk itu, mohon memberikan alamat posnya via inbox ke mbak Arimbi Bimoseno.

Salam

ES & Arimbi Bimoseno

.

AJANG KRITIK NOVEL THE SMILING DEATH

Oleh: Erri Subakti | 12 November 2013

Duhai para penikmat fiksi,

Awal November 2013 ini, novel berjudul “The Smiling Death: Senyuman Berbisa”  karya kolaborasi saya dengan Arimbi Bimoseno telah dirilis. Semua itu tak lepas dari ‘konspirasi semesta’ atas terwujudnya novel ini.

Untuk kami berniat mengadakan “Lomba Kritik” novel tersebut sebagai rasa terimakasih kepada para pembaca, dan sebagai sarana feedback untuk mengungkapkan kritiknya atas karya kami itu.

Syaratnya mudah, tidak pakai daftar-daftaran. Hanya menuliskan kritiknya di Kompasiana, lalu kasih tag: thesmilingdeath, senyuman, berbisa, kritik

Share kritik Anda di grup Fiksiana Community atau mention saya dan Arimbi Bimoseno, atau mention di tweeter: @errisubakti, @arimbibimoseno.

Jangka waktu posting mulai hari ini 12/11/2013 sampai tanggal 19 November 2013.

Gak pakai menang-menangan, 10 (sepuluh) kritik yang menarik akan dapat hadiah berbagai hadiah buku-buku dari kami. Tanggal 20 November sudah bisa diumumkan dan segera dikirim.

Terimakasih semuanya.

Salam

ES & Arimbi Bimoseno

.

SEKAPUR SIRIH: THE SMILING DEATH

 Oleh: Erri Subakti |8 November 2013
.

Proses penulisan buku ini diawali dengan brainstorming yang cukup alot tentang penokohan karakter-karakter di dalamnya. Kita sampai harus detil menggambarkan bentuk fisik, rupa, asal usul, kecilnya di mana, ayah ibunya keturunan mana, di mana mereka bertemu, sampai pada pertumbuhan tokoh-tokoh tersebut di mana sekolahnya.

Kolaborasi dua penulis yang berbeda latar belakang dan profesi ini menjadi menarik karena co-writer saya yang telah puluhan tahun bergelut di dunia media dan kepenulisan telah biasa dengan target-target tertentu dalam menulis. Target jumlah kata, jumlah halaman, deadline sampai pembuatan outline naskahnya.

Sementara saya sebagai penulis rekreatif, menulis hanya mengandalkan nikotin dan cafein di tengah-tengah malam, bengong-bengong dengan laptop menyala, berharap ‘ruh’ dari tokoh-tokoh yang saya ceritakan mampir ke dalam otak saya. Kadang sampai ketiduran inspirasi itu gak datang juga. Baru setelah paginya inspirasi melanjutkan naskah tulisan hadir untuk dituangkan.

Sementara di ujung sana co-writer saya sudah teriak-teriak menagih naskah seperti dikejar-kejar deadline. “Seniman sinting..” itu sebutannya kepada saya. Kami menargetkan penyelesaiannya selama 2 bulan, Februari sampai akhir Maret.

Setelah rampung naskah ini sempat tidak digubris atau ditolak beberapa penerbit. Tapi ahamdulillah hanya 2 minggu dikirim ke Elex Media Komputindo, kami mendapat jawaban positif.

Dan kini “Senyuman Berbisa” telah bertengger di rak-rak buku toko Gramedia di kota Anda.

Terimakasih untuk berbagai pihak yang turut mewujudkan buku ini hingga terbit. Trims untuk para pembaca setia, komentator atas masukan dan kritiknya pada cerita ini saat pertama kali dirilis di Kompasiana.

(ES)

.

MASIH ADA 3 HADIAH BUKU LAGI DARI KAMI

Oleh: Erri Subakti | 6 April 2013

Untuk para pembaca novelet kami yang telah kami posting per episode di Kompasiana ini, kami masih memiliki 3 buah buku sebagai hadiah dari kami.

Buku-buku tersebut adalah:

1. “Love Asset”

Novel setebal 435 halaman ini dikerjakan oleh 16 penulis perempuan dari berbagai latar belakang profesi. mereka tergabung dalam WSC (Women Script & Co.). Pembuatan novel ini ditulis secara ‘keroyokan’, ada yang menuliskan satu bab, ada yang menuliskan 2 atau lebih bab di dalamnya.

Mereka menerbitkan novel ini secara independen. Maka tidak saja mereka berjuang untuk menyelesaikan naskah novel yang bercerita tentang lika-liku cinta dengan gaya dan warna penulisan yang beragam namun linier dalam kisahnya. Mereka juga berjuang membagi waktu, berkorban moril dan materil untuk mendapatkan pendanaan untuk bisa menerbitkan novel roman ini.

Atau lihat sinopsis buku ini di sini.

Kami menyediakan 2 buah buku “Love Asset” bagi yang beruntung.

2. Veil of Roses

Buku karya Laura Fitzgerald ini menceritakan tentang wanita Iran yang mendamba kehidupan ala Amerika. Maka ketika ia berkesempatan pergi ke Amerika.. ia pun tak kembali ke Iran. Ia bertekad untuk mencari suami di negeri paman Sam itu sebelum tiga bulan. Atau ia akan dipulangkan kembali ke Iran.

Ia coba semuanya dari bra Victoria Secret, line dance, berjalan-jalan dengan motor, sampai menjajal ketertarikannya di bidang fotografi hingga ia merambah ke dunia perfilman.

Saat-saat ‘dikejar-kejar’ waktu untuk segera mendapatkan jodohnya sebelum visa-nya kadaluarsa, ada sosok Ike, sahabatnya yang kian lama kian tumbuh rasa cinta terhadap pemuda Amerika tersebut. Dan masih banyak lagi pertemuannya dengan berbagai sosok-sosok baru dalam kehidupannya di Amerika.

Huufftt… kayakya seru deh buku Veil of Roses, yang diterbitkan oleh Gramedia ini.

Satu buah buku ini akan bisa didapatkan bagi yang beruntung menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

1. Siapakah ayah kandung Rachel?

2. Siapakah ayah kandung Julia?

3. Apakah saja nama penyakit/gangguan mental yang diidap Rachel?

4. Keturunan dari manakah Ananta? Darah yang mengalir pada ibu bapaknya?

5. Apa genre novel “The Smiling Death (Senyuman Berbisa)” ini?

6. Bagaimana gaya penulisan novel “The Smiling Death (Senyuman Berbisa)” ini?

Tiga orang yang berhak mendapatkan buku-buku di atas (Veil of Roses & Love Asset) adalah yang menjawab paling banyak benar/tepatnya.

***

“The Smiling Death”

1. Malam Pertama

2. Rachel, Satu Senyuman Satu Pria Patah Hati

3. Cinta Kan Membunuh

4. Selamat Tinggal Waktu

5. Kerudung Putih Carla

6. Sang Petualang Cinta

7. Akulah Neraka dan Surga

8. Work Hard Play Hard

9. Mati Saat Menyentuh Bibirmu

10. Semua Tanya Tertinggal Tanpa Jawaban

11. Abu-abu Cinta Rachel

12. Tidurkan Aku Malam Ini, Bawa ke Alam Simulakrum

13. I Just Want You To Know Who I Am

14. Dia.. Siapa Dia…

15. “… Kita Cerai Saja…”

16. Lompatan Quantum Rachel

17. Bumi Adalah Ibuku, Angkasa Adalah Ayahku

18. Selamat Tinggal Masa Lalu

19. Selamat Datang Cinta

20. Peluk Aku

21. Sayap-sayap Kecil untuk Rachel

22. Antara Mimpi dan Kenyataan

23. Keajaiban yang Hilang

24. “… I Wish I Was Special…”

25. Malam Membeku

26. Bumi Itu Satu

27. Kepingan Senja di Yerusalem

28. Senyuman Kematian

29. Surat Carla

30. Lembar Terakhir

31. Jadwal Kematian

32. After All That We’ve Been Through

———

Salam hangat

Erri Subakti & Arimbi Bimoseno

.

ANTARA AKU DAN ARIMBI

Oleh: Erri Subakti | 8 Maret 2013

Ada apa antara saya dengan Arimbi Bimoseno?

Yang pasti kita berdua sedang mengerjakan karya bersama. Kita mau buat novel pendek saja, dengan target bisa selesai sekitar 120-200 halaman sebelum akhir Maret 2013.

Tema yang kita angkat adalah “The Smiling Death” alias senyuman maut atau senyuman mematikan…

Hmmm.. ada ya sesuatu yang manis seperti senyuman tapi justru malah mematikan.

Yeps.. itulah yang akan kita tampilkan… Dan sejauh ini kita telah mem-posting 14 episode.

Fluktuasi para pembacanya dalam 13 posting sebelumnya adalah sebagai berikut.

13627190471433527743

Pada Episode 9, yang berjudul Mati Saat Menyentuh Bibirmu, jumlah share via Facebook mencapai hingga angka 50. Hal ini cukup luar biasa untuk mendongkrak jumlah pembaca yang tadinya mulai menurun di angka 264 pada episode sebelumnya (Work Hard Play Hard), menjadi ke angka 374.

Tapi hal yang unik adalah pada Episode 12, Tidurkan Aku Malam Ini… di mana jumlah share via FB mencapai angka 24, namun jumlah pembacanya hanya berada di angka 250 hits.

13627196271272557638

Menulis tiap hari secara kontinyu dengan satu jalinan kisah ternyata tidak mudah. Diperlukan kedisiplinan dan fokus untuk terus dan terus menggali ke arah mana kisah ini akan berujung.

Saya dan mbak Arimbi memang sejak awal mulai menggarap kisah ini diawali dengan penokohan-penokohan yang sangat detil. Dari bentuk fisik, latar belakang hidupnya, sampai siapa kakek-nenek tokoh-tokoh yang kita tampilkan dibahas untuk pembentukan karakter masing-masing tokoh.

Hal lain yang patut diikuti dari jalinan episode-episode ini adalah adanya kuis “tebak senyuman” atau tebak bibir di tiap posting kami. Dan bagi mereka yang menebak dengan benar, kami menyediakan berbagai buku sebagai hadiah.

Sampai saat ini para pengunjung yang telah menebak dengan tepat adalah:

1. Dyahrina, yang menjawab dengan benar di episode 2, yaitu senyum Atiqah Hasiholan

2. Valencya Poetri, yang menjawab dengan benar di episode ini, yaitu senyum Nadya Hutagalung.

3. Hery Supriyanto, yang menjawab dengan benar di sini, yaitu senyum Fauzi Baadila.

4. Priadarsini (Dessy) & Nisa, yang menjawab dengan benar di post ini, yaitu senyum Mariana Renata.

5. Na.ma, Tyas, Coretan Embun, Mak Ngerot, Yanni Aditya, yang menjawab Sherina di episode ini

6. Conni Aruan, yang menjawab dengan tepat yaitu Julie Estelle di sini

7. Ferdiana Sumartini & Aan Santoso, yang menjawab Prisia Nasution di sini

Oiya, mohon maaf apabila buku-buku hadiahnya belum terkirim, karena kita akan mengirimnya sekaligus bersamaan, jadi saya gak bolak-balik ke paket pengiriman barang. Ditunggu aja ya… 🙂

Kolaborasi karya yang mengkombinasikan perbedan-perbedaan gaya dan cara menulis memang dibutuhkan kesabaran buat mbak Arimbi yang selalu ngomelin saya.. hehehe.. dan saya pun dipaksa untuk menulis lebih baik lagi dari sebelumnya yang hanya ‘angin-anginan’, tergantung mood. Dan saya rasakan ada sensasi yang berbeda dalam membuat karya bareng ini.

Seperti membuat gerabah dari lempung, namun ada dua tangan berbeda yang membentuknya. Tanah lempung itu bisa saja malah jadi hancur berantakan, atau jika kita berhasil justru bisa saling melengkapi. Ini sebuah seni yang mengasyikkan….

Terimakasih untuk para pembaca semua dan yang sudah berbagi tulisan-tulisan kami melalui Facebook.

Salam hangat

Erri Subakti & Arimbi Bimoseno

***

“The Smiling Death”

1. Malam Pertama

2. Rachel, Satu Senyuman Satu Pria Patah Hatiu

3. Cinta Kan Membunuh

4. Selamat Tinggal Waktu

5. Kerudung Putih Carla

6. Sang Petualang Cinta

7. Akulah Neraka dan Surga

8. Work Hard Play Hard

9. Mati Saat Menyentuh Bibirmu

10. Semua Tanya Tertinggal Tanpa Jawaban

11. Abu-abu Cinta Rachel

12. Tidurkan Aku Malam Ini, Bawa ke Alam Simulakrum

13. I Just Want You To Know Who I Am

14. Dia.. Siapa Dia…

Page: https://www.facebook.com/thesmilingdeath

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s