Senyuman Kematian

Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

—-——

Gelap malam mencekam sebuah pulau kecil di selatan Pulau Jawa. Udara lembab mengantarkan aura yang membuat bulu kuduk merinding dalam ruang isolasi penjara.

Terdengar derap langkah kaki. Tiga orang pria berbadan tegap berseragam sipir menuju sel Gunawan. Salah satu dari pria itu membuka kunci gembok pintu jeruji besi. Seorang pria yang lain memberikan baju seragam yang sama agar dipakai Gunawan.

Keempat pria berseragam itu kemudian berjalan menyusuri lorong penjara, melewati jalan khusus yang sudah dipersiapkan. Mereka kemudian menaiki tangga yang juga sudah dipersiapkan untuk selanjutnya melompati tembok. Di balik tembok itu sudah menanti sebuah speedboat untuk mereka.

***

Namanya adalah Gunawan ketika pertama kali dilahirkan ke dunia ini. Gunawan alias Markus alias Roland alias Beno alias Wijaya alias Tommy alias Winata alias Anggoro ditandai sebagai narapidana berbahaya.

Lahir di tengah lingkaran kemiskinan, Gunawan melarikan diri dari rumah. Hidup di jalanan mempertemukannya dengan seseorang yang menawarkan pekerjaan dengan cara mudah dengan uang yang banyak. Bermacam ‘pekerjaan’ telah ia lakoni, dari mulai merampok, mencuri, dan juga memperkosa untuk bersenang-senang.

Sampai akhirnya Gunawan bertemu seseorang yang lain yang tergabung dalam mafia perdagangan obat-obatan terlarang. Gunawan ‘naik kelas’, dari penjahat jalanan yang amatir menjadi penjahat kelas atas. Ia membuang baju lusuhnya, menggantinya dengan setelan jas dan dasi. Kemana-mana ia berpenampilan rapi dan wangi, dengan pistol yang selalu terselip di saku celananya. Gunawan telah bemotamorfosa menjadi penjahat profesional dengan spesialisasi pembunuh bayaran.

Dalam melakukan aksi kejahatannya, Gunawan melakukan penyamaran dengan nama palsu, memakai wig yang berubah-ubah bentuk, bahkan sampai mengoperasi wajahnya. Keluar masuk penjara sudah biasa baginya.

Ia dikenal sebagai penjahat berotak licin. Tiga kali di rumah tahanan yang berbeda, di Bandung, Tasikmalaya dan Sumatera, ia menyuap sipir dan berhasil kabur. Butuh waktu lama bagi aparat untuk memburunya. Sampai suatu hari Gunawan ditangkap ketika sedang berada di sebuah pantai di Hawai bersama seorang perempuan. Gunawan dievakuasi ke tanah air dan dijebloskan ke dalam penjara Nusa Kambangan.

Di penjara dengan pengamanan super ketat di tengah medan yang sulit di daerah Cilacap ini, Gunawan pernah berusaha kabur. Aksinya itu dilumpuhkan petugas dengan sebuah tembakan di kaki kirinya. Sejak itulah Gunawan pincang jalannya.

Dialah pria yang puluhan tahun yang lalu berada di diskotik saat Wulan dan teman-temannya sedang merayakan pesta lepas lajang Marc. Dialah pria yang menggandeng Wulan yang dalam keadaan mabuk, memisahkan Wulan dari kumpulan teman-temannya, membawanya ke sebuah hotel. Dialah pria yang Wulan tak sempat tanyakan siapa namanya.

Deburan ombak laut di selatan Jawa melebur dengan hembusan angin kencang di pantai. Udara kebebasan mulai dibaui oleh indera penciuman Gunawan. Rencana pembebasan Gunawan memang sudah dipersiapkan dengan matang dan rapi oleh Adrianus Boy, bos-nya Gunawan.

Adrianus Boy adalah seorang konglomerat dengan bermacam-macam bisnis, dari mulai perminyakan, konstruksi, perhotelan hingga perjudian di Batam dan Macau, juga bisnis obat-obatan terlarang. Dua bisnis terakhirnya itulah sumber pendapatan terbesarnya, pundi-pundi mengalir deras ke kantongnya. Ia ‘mengangkangi’ jaringan hukum di negeri ini. Ia tanam orang-orangnya di kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Ia buai ‘orang-orangnya’ itu dari ketika jabatannya masih rendah, dengan berbagai macam kenikmatan materi. Hingga ketika orang-orangnya itu jabatannya merangkak naik dan naik sampai ke puncak, merasa berhutang budi padanya.

Adrianus harus membebaskan Gunawan karena Gunawan mengancam akan membongkar jaringan bisnis kotornya. Gunawan meminta dibebaskan dan selanjutnya diterbangkan ke Singapura.

Gunawan tertawa terbahak-bahak sambil menenggak bir lokal di speedboat, merayakan kebebasannya. Tawanya berhenti ketika salah seorang pria yang membebaskannya dari penjara itu menempelkan pistol di dahi Gunawan dengan jarak sangat dekat. Gunawan terbelalak….

*DORRR..!!!

Angin laut menghembuskan aroma darah segar saat 3 laki-laki melemparkan sesosok mayat ke lautan lepas.

***

Dengan langkah tegap berwibawa, Adrianus Boy menuju podium, siap menyampaikan pidato politiknya. Ia menebar senyum pada tamu-tamu terhormatnya yang terdiri dari para pengusaha, duta besar, pejabat termasuk gubernur.

Adrianus sangat berambisi untuk menjadi gubernur. Demi ambisi menguasai kota, ia sebarkan ratusan miliar rupiah dari bisnis kotornya ke berbagai lembaga kemanusiaan dan lembaga pendidikan.

Dalam peresmian hotel barunya malam ini, Adrianus akan menceritakan ratusan miliar uangnya yang telah diamalkan bagi kemajuan bangsa. Adrianus ingin membuat kesan betapa derwamannya ia.

Ketika Adrianus berdiri di depan podium dan mengucapkan salam, sebuah tembakan melesat dari atas menembus dadanya. Pesta mewah malam itu pun gempar seketika. Tamu-tamu undangan berlarian ke luar untuk menyelematkan diri.

***

Pagi hari di salah satu sudut kota, seorang pengemis pincang berpakaian dekil dan bertopi lusuh berhenti di sebuah lapak koran. Ia mengambil koran terbaru dan meletakkan uang recehan di tumpukan koran lainnya.

Headline berbagai surat kabar nasional hari itu adalah tentang terbunuhnya Adrianus Boy, konglomerat tersohor di negeri ini. Sesungging senyuman terbit di bibirnya. Pengemis itu kemudian menggelar koran tersebut di ujung gang, ia duduk di atasnya sambil memegangi kaleng kosong. Di depannya orang-orang berlalu-lalang.

*Kling…. Beberapa dari mereka melempar uang recehan ke dalam kalengnya.

… Pengemis itu menunduk dan masih tersenyum….

 

 

THE END

*Finale dari naskah Novel “The Smiling Death”

Terimakasih untuk seluruh para pembaca, voters, komentator, dan yang sudah share kepingan episode-episode yang telah kami buat melalui akun FB-nya.

Salam hangat dari kami berdua,

Erri Subakti & Arimbi Bimoseno

Kepingan Senja di Yerusalem

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya : Bumi Itu Satu )

———

Dua mobil itu berhenti di depan Ananta. Penumpangnya berhamburan keluar. Ananta menghitung, ada 12 orang, tidak termasuk supir. Wajah-wajah Asia, tepatnya wajah-wajah Indonesia. Dan ada sesosok wajah yang sangat akrab bagi Ananta, membuat Ananta refleks mendekatinya.

“Julia?!” sapa Ananta, dua meter dari perempuan yang disapanya.

Perempuan itu menghentikan langkahnya, menoleh pada Ananta. Tampak sejenak mengernyitkan kening, lalu rona mukanya terkejut, kaget.

“Ananta?” agak ragu suara Julia mendapati Ananta yang berlumur debu dan penampilannya yang awut-awutan.

Julia dengan ciri khasnya bercelana jins, rambut pendek dan sepatu kets, dengan tas punggung yang tampak berat, datang bersama para relawan satu profesi yang tergabung dalam Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), non-governmental organization dengan misi kemanusiaan. Rencananya Julia akan menetap selama 6 bulan di Palestina, memberikan terapi kejiwaan pada anak-anak dan wanita korban perang di Rumah Sakit Indonesia.

Rumah Sakit Indonesia adalah rumah sakit yang dibangun para relawan asal Indonesia. Berlokasi di Bayt Lahiya di jalur Gaza Palestina. Rumah sakit itu dibangun dengan dana murni sumbangan rakyat Indonesia, dari berbagai lapisan masyarakat. Tidak ada satu sen pun dana itu berasal dari pemerintah Indonesia ataupun pihak asing.

Tidak mudah bagi Julia dan rombongan mencapai Jalur Gaza di tengah situasi konflik yang sedang berkecamuk seperti sekarang ini. Setelah berkali-kali mencoba untuk berangkat ke Gaza melalui beberapa cara dan belum berhasil, 14 orang relawan asal Indonesia termasuk Julia berangkat ke Turki dan berlayar dengan kapal Mavi Marmara menembus Gaza.

Di tengah perjalanan Mavi Marmara dihadang tentara Israel dan semua relawan dijebloskan ke dalam penjara. Dua orang relawan tertembak peluru tentara Israel, satu orang patah tangan dan seorang lainnya tertembus peluru di bagian dada kanannya. Dua relewan itu dilarikan ke rumah sakit dan segera dievakuasi ke tanah air. Sementara Julia dan 11 relawan, setelah dibebaskan dari penjara Israel, melanjutkan perjalanan menembus jalur Gaza.

“Aku sama sekali gak menyangka penampilanmu seperti ini sekarang… Sudah berapa abad kamu tak bercukur?” goda Julia.

“Hahahahaha…, aku juga gak mengira kita bisa bertemu di sini dan dalam situasi serba mencekam ini…”

Ananta kemudian berkisah tentang perjalannya dan aktifitasnya yang kini mengelola Ananta Schiller Institute. Sebuah sekolah rakyat yang  memiliki konsep pendidikan untuk pembebasan. Bisa diikuti oleh siapa saja dan usia berapa saja. Di sekolah itulah, Ananta mendonasikan hampir seluruh kekayaannya.

“Bersihkan dirimu… nanti dalam kondisi yang relatif aman kita bertemu lagi…” senyum Julia merekah lantas kembali bergabung dengan rombongannya.

Senyum itu… wajah itu… setiap inci permukaan yang tampak dari Julia melemparkan ingatan Ananta pada Rachel. Julia yang ternyata adalah adik dari Rachel mewarisi kecantikan dari ibunya Wulandari yang juga mirip dengan Julia.

Ananta segera menepis bayang-bayang kelabunya….

***

 

“Kamu tahu Julia, mengapa kota ini dinamakan Yerusalem? Yerusalem artinya damai. Karenanya banyak Nabi lahir di kota ini. Tanah para Nabi, begitu sebutannya…” tutur Ananta saat ia mengajak Julia menyusuri Yerusalem, kota suci tiga agama.

Mereka berjalan-jalan di Via Dolorosa, lalu ke Tembok Ratapan dan berakhir di Masjidil Aqsa.

“Semoga damai di hati seluruh penghuni kota ini…” doa Julia, “Mengapa tanah yang seharusnya menjadi keberkahan ini harus diperebutkan manusia dengan banjir darah…,” ujar Julia.

“Kesombongan, Julia…, keangkuhan dan egoisme… Padahal di tiap-tiap lekukan bumi manapun, adalah bumi Allah…”

Julia teringat sebuah catatan dalam buku yang ia simpan dalam tas, ‘Seluruh bumi Allah adalah tempat sujud bagimu. Maka di manapun kamu mendapati waktu shalat, maka shalatlah.’

Matahari telah tergelincir ke barat. Memerahkan langit. Lantunan adzan berkumandang syahdu. Bersanding dengan bunyi lonceng gereja. Sayup-sayup hembusan angin membwa alunan kidung dari sinagog.

Esok mereka harus berpisah kembali, tenggelam pada kesibukannya masing-masing. Ananta akan kembali ke sekolah binaannya, Julia akan kembali ke Indonesia.

“Suatu saat jika Tuhan mengizinkan.. kita akan bertemu kembali…” Ananta mengucapkan kata-kata perpisahannya.

Kedua insan itu masuk ke dalam rumah Tuhan, larut dalam doa-doa mereka…

Julia membatin, ‘Aamiin Ananta…, semoga Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu kembali dalam situasi yang jauh lebih baik… atau mungkin kita kan mengabiskan hari tua bersama? Biarkan angin kan menyampaikan doa-doaku ke langit…’

Di sudut masjid seorang laki-laki melantunkan syair dalam hatinya…,

Kami hanya sedikit mengenal-Mu
tapi ribuan dari kami meregang nyawa atas nama-Mu

Kami berusaha mati-matian membuka misteri-Mu dan ciptaan-Mu
tapi permukaannya saja belum tersentuh

Kami datang ke dunia ini tanpa banyak bisa memilih, ya Mutakabbir…

Duhai Yang Maha Sombong
haruskah kami menanggung derita
sedangkan Kau bisa menghapus derita itu
haruskah kami meraba dalam alam semesta-Mu
sedangkan kalau Engkau mau, kami bisa menerbangi sisi-sisinya

Duhai yang Maha Besar
kenapa tidak Kau tunjukkan saja diriMu
kenapa tidak Kau buktikan kebesaran-Mu
agar ke-Maha-anMu tak lagi samar dalam nyata
agar wujud-Mu tak hanya sebatas khayalan kami saja

Duhai Yang Maha Mendengar
Dengarlah rengekan bayi-bayi kecil di kolong reruntuhan
Dengarlah tangisan ibu-ibu yang kehilangan buah hatinya
Dengarlah rintihan anak-anak yang kosong isi perutnya

Duhai Tuhan Yang Maha Melihat
Lihatlah lusuh dunia-Mu
Lihatlah naif para makhluk-Mu
Lihatlah keberingasan para khalifah-Mu

Tuhanku…
ini dunia-Mu
ini alam-Mu
kami milik-Mu
kami kehendak-Mu
tapi sebagai pemerannya
kami butuh drama semesta yang lebih baik

lebih sedikit air mata yang mengalir
lebih banyak muka-muka ceria
anak-anak yang tertawa menyambut pagi
ibu-ibu yang tersenyum menyongsong purnama

damai…

sedamai yang terbayangkan oleh otak kami
sedamai yang mampu Kau ciptakan…

***

Bumi Itu Satu

Oleh: Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Ananta menggendong anak balita perempuan yang tewas tertimbun reruntuhan puing-puing bangunan 3 lantai di Gaza. Sebuah rudal yang telah menghancurkan bangunan itu. Ada memar di wajah Ananta akibat hantaman benda tumpul yang keras, tapi darah dari hidungnya sudah mengering bercampur debu.Ananta membawa gadis mungil tanpa nyawa itu ke tepi jalan, memasukkannya ke dalam kantung mayat, berjejer dengan belasan mayat yang lain. Bersama relawan lain dan petugas gabungan Tim Search and Rescue, Ananta mengevakuasi korban yang terluka parah dan tewas.

Penampilan Ananta sudah sangat berubah, rambutnya gondrong, kumis dan jenggotnya tumbuh, sudah berbilang bulan ia tidak mencukurnya.

***

Bumi ini satu, tak peduli di mana kamu berada…
bila kamu berguna bagi kehidupan, itulah hakikatmu yang sebenarnya…

Ananta telah menjual seluruh aset yang dimilikinya dan akan travelling menuruti langkah kakinya. Ia pergi ke Citarik, bermain rafting, lalu ke Bali menantang ombak di tengah lautan, bermain jet ski, menyelam ke dasar samudera di Bunaken, mendaki Gunung Bromo, dan menyusuri ujung Sumatera dengan sepeda gunung.

Setelah menjelajahi berbagai pelosok nusantara, Ananta terbang ke Jepang, ia bermain snowboard di Nagano. Salju dan sakura mengingatkan Ananta pada Carla.

“Salju dan sakura tak mungkin bersama. Kalau mereka memaksa, mereka akan mati,”

‘Ya Carla, kamulah sakura itu. Dan akulah saljunya,’ batin Ananta, pedih.

Perjalanan Ananta sampai di Jerman. Ananta mengunjungi kedua orang tuanya, Mikhail Schiller dan Halimah Sayidina. Ananta mengundang beberapa teman ke rumah untuk makan malam bersama dengan menu hidangan buatan ibunya.

Petualangan Ananta berhenti di negara konflik Palestina.

***

Ketika sedang berusaha mengeluarkan seorang Ibu yang telah meninggal terkubur reruntuhan, Ananta menemukan botol bening yang tebal berisi kertas yang digulung hingga kecil. Seperti surat dalam botol.

Ananta mengeluarkan kertas itu, sebuah surat cukup panjang yang ditulis dalam bahasa Arab.

———

Assalamu’alaikum wr. wb.

Aku yakin banyak orang yang akan mendengarkan kata-kataku ini. Dan juga yakin, sebagian besar dari Anda peduli tentang kami, atau mau peduli tentang penderitaan kami.

Untuk itulah Anda membaca surat ini. Aku ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas perhatian Anda.

Kami menyambut hari dengan memastikan bahwa kami memiliki cukup cadangan air untuk diminum. Namun, listrik padam, sehingga kami tidak bisa memompa air.

Aku juga harus memastikan ketersediaan stok makanan untuk anak-anak karena sulitnya mencari kebutuhan pokok. Sebab, tentara Israel telah membunuh penjual makanan yang biasa datang ke tempat kami. Israel juga telah membunuh tukang air keliling yang tiap pagi lewat di kampung.

Aku juga takkan membiarkan suami pergi mencari air atau makanan. Karena kuyakin, bila suamiku nekat pergi ke pasar, dia tak bakal kembali lagi. Sebab, jika drone (pesawat mata-mata Israel) melihatnya membawa kantong makanan, ia dijadikan sasaran tembak.

Drone Israel akan menganggap suamiku—yang menggotong karung di pundaknya—sebagai ancaman. Padahal, dia mungkin hanya membawa kentang atau tomat. Dan aku pun bakal hidup sendiri tanpa suami dan kekasih hati.

Di malam hari, aku mengajak anak-anak tidur bersama dalam satu ruangan. Aku berkisah kepada mereka tentang kekejaman perang dan menjawab setiap pertanyaan mereka tentang serangan brutal Israel.

Ketika anak-anak telah tidur pulas, kupandang wajah-wajah mereka yang polos di balik kegelapan. Maaf jika lancang… aku seolah-olah melihat calon-calon korban pembantaian di wajah anak-anakku.

Aku teringat wajah bocah-bocah yang jadi korban pembunuhan serdadu Israel, dan membayangkan tubuh anak-anakku bersimbah darah atau hancur di bawah puing-puing.

Aku menangis, tersedu, terisak… dan berdoa kepada Allah agar menjaga keselamatan anak-anakku. Atau jika memang Allah mau mengambil nyawa mereka, hendaknya Dia memberikan kematian yang indah agar mereka tak merasakan perihnya sakaratul maut.

Aku juga selalu membawa KTP kemana-mana, setiap saat. Dengan demikian, jika aku mati nanti, mereka akan tahu ada lagi seorang Palestina yang telah mengorbankan darahnya demi tanah air. Di lain pihak, entah mengapa, aku yakin setiap tetes darahku telah menjadi incaran Israel.

Yang kuharapkan dari orang-orang yang mendengarkan kata-kataku ini… untuk bersikap seolah-olah mereka berada di posisi kami. Merasakan sakitnya perang, mendengarkan dentum roket dan bom di atas kepala, menanti kematian yang datang menghampiri detik demi detik.

Walau demikian, aku yakin mimpiku menjadi nyata, suatu saat nanti. Aku hanya berharap darimu, dari Anda semua, bantulah kami mewujudkan impian itu. Bangkitlah bersama-sama, hadapi pemerintah Anda, pemerintahan yang bisu tanpa suara. Katakan kepada mereka, “Sebagai manusia kami juga punya hak untuk hidup, melawan, dan menang. Kami akan menang, suatu hari nanti!”

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Suheila al-Dallu

Jalur Gaza, Palestina

———

Setelah diidentifikasi, Suheila al-Dalu adalah salah satu dari jenazah yang berada dalam kantung mayat di pinggir jalan itu.

Sebagian orang meninggal sambil mengerang
mengeluhkan rasa sakit mereka
Tapi anak-anak hanya diam
Mereka mati dalam kebisuan
bagai daun-daun yang berterbangan tertiup angin….

 

(Sambungannya : Kepingan Senja di Yerusalem)

Malam Membeku

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya: “I Wish I Was Special…” )


Tiga orang tua itu diam beberapa lama, larut dalam pikirannya masing-masing, di selasar samping rumah panti rehabilitasi perawatan mental Rachel.

Selembar kertas dari Fahira menjelaskan semuanya. Tangan Wulan bergetar memegang catatan yang ia buat 37 tahun yang lalu itu.

“Ayo Bu, masuk,” ajak Ananta kepada Wulan.

Wulandari mengikuti langkah kaki Ananta bersama Julia menuju kamar di mana Rachel dirawat selama ini.

Di depan pintu kamar Rachel yang terbuka, sejenak Wulan berhenti. Dan inilah momen pertama kalinya Wulan bisa melihat anaknya kembali setelah 37 tahun ia tinggalkan seorang bayi mungil yang cantik begitu saja di samping tempat sampah pinggir jalan. Dadanya terhenyak.. dalam…

Wulan memandangi sosok dewasa anaknya, Rachel yang duduk di atas tempat tidur. Tatapan matanya kosong… Wulan ragu untuk mendekat. Air matanya kembali menetes. ‘Rachel…,’ batinnya.

Wulan melangkah pelan mendekat, lalu memeluk tubuh Rachel dengan isak tangis, “Anakku. Kamu anakku.” Wulan mengguncang-guncang tubuh Rachel namun Rachel tak bergeming.

Air mata Wulan tak berhenti berderai saat ia menatap wajah Rachel begitu lekat. Ia menyentuh hidungnya, alisnya, pipinya, dagunya, semua begitu indah. Namun mata itu, mata itu kosong, tak ada kehidupan di sana, tak ada kehidupan di dalamnya. Rachel seperti patung kristal.

“Bu, sudahlah, istirahatlah. Ibu sudah berjam-jam seperti ini. Ibu belum istirahat sejak datang dari Solo,” pinta Julia.

Wulan tidak mau pergi. Ia mau menunggui Rachel. Mau berdekatan terus dengan Rachel.

Ananta merasakan kelegaan atas pertemuan Ibu-anak itu, walau dalam kondisi yang mengguncang seperti ini.

***

Hari-hari berikutnya adalah milik Wulan dan Rachel.

Wulan membantu Rachel mandi, memakaikan bajunya, menyuapinya, menyiapkan obat, dan sebagainya. Seolah ia sedang mengurus bayinya. Ia ingin melakukan semuanya sendiri. Wulan selalu mengajak Rachel bicara, walau Rachel tidak meresponnya sama sekali. Andai saja bisa menggantikan posisi Rachel, Wulan mau menggantikannya.

Kala pagi hari, Wulan membimbing Rachel untuk berjalan-jalan di taman. Kadang berjam-jam mereka duduk di bangku taman, sementara Wulan terus berbicara di sampingnya. Namun wajah Rachel hanya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Rachel hanya terdiam lama sekali.

“Rachel, namamu Rachel, nama yang cantik. Bahkan Ibumu ini tak terpikirkan untuk memberimu sebuah nama. Ketika kamu lahir, yang terlintas di kepala Ibumu ini adalah kakek buyut Wongso Wijoyo, kakek yang sangat menyayangi ibu. Ibumu ini menanggung rasa malu, kesakitan dan ketakutan selama sembilan bulan,” kata Wulan sembari mengelus-elus jemari Rachel yang duduk di sebelahnya.

“Entahlah, mungkin kalau kamu dalam keadaan sadar, mungkin kamu sudah mengusir Ibumu ini. Ibumu ini memang jahat, kejam. Kalau saja kamu melakukan itu, Rachel, Ibu tidak akan marah, Ibu akan menerimanya, karena kamu pantas melakukannya,” ucap Wulan.

“Sungguh lucu hidup ini, Rachel. Setelah Ibumu ini meninggalkanmu dalam travel bag di tepi jalan, Ibumu ini baru menyadari bahwa kamulah hadiah terindah yang pernah Ibu dapatkan. Hari-hari berikutnya adalah hujan air mata dalam hidup ibumu ini. Setiap kali makan, ibu ingat kamu, memikirkan kamu, di mana kamu sekarang, sudah makan atau belum.”

“Dulu ibumu ini malah menolak hadiah terindah. Entah apa yang kamu alami selama ini, hingga kamu seperti ini. Semua ini salah ibu, salahku,” bergetar suara Wulan, air matanya menetes-netes.

***

Julia tercenung di meja kerjanya. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kerusakan sudah menyebar di sel-sel syaraf otak Rachel, menutup segala celah memorinya. Rachel mengalami demensia, penurunan fungsional otak yang membuatnya hilang ingatan. Rachel tidak ingat siapa dirinya, apalagi orang lain.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Rachel yang di kala siang hari bergeming laksana patung kristal, di mlam harinya ia kerap mengalami kegelisahan. Berbagai halusinasi muncul menghampiri penglihatannya yang mempengaruhi emosi dan perilakunya. Sebuah gejala schizophrenia.

Satu malam. Lewat tengah malam, bulan masih belum terbit pada pukul dua dini hari. Tiba-tiba Rachel terbangun dari tidurnya dengan wajah ketakutan. Di sampingnya Wulan, ibunya, terlelap kelelahan.

Seperti ada suara yang memanggil, Rachel turun dari ranjang perlahan-lahan, hampir tak ada suara yang dapat membuat Wulan terbangun. Halus langkah kaki Rachel keluar dari kamar dan mengambil kunci 520i di mana Ananta biasa menyimpannya.

Langkah kakinya menuju garasi, menyalakan mobil buatan Eropa itu, kemudian melesat. Seperti kesetanan, Rachel menyetir dengan kecepatan tinggi, membelah malam Jakarta yang lengang. Tak ia pedulikan sirine polisi yang memintanya berhenti. Rachel terus melesat dengan kecepatan di atas rata-rata.

Mobil Rachel mengarah ke Puncak. Ia salip bus dan truk di depannya, membuat sopir bus dan truk itu kaget dan memaki-maki. Rachel lepas kendali, mobilnya seperti mau terbang.

Duarrrrrrrrrr…..!!!

Mobil yang dikendarai Rachel menerjang pagar pembatas jalan, terlontar jatuh membentur tebing dan berguling-guling.

 

Hati Wulan hancur berkeping-keping begitu kain yang menutupi jenazah Rachel disingkap oleh petugas rumah sakit. Dadanya bergolak hebat. Julia dan Ananta menopang badan Wulan agar jangan sampai jatuh pingsan. Rasanya sekejap saja ia dipertemukan dengan Rachel, dan sekejap saja ia sudah dipisahkan kembali dengan Rachel.

Ketika kesedihan memuncak, kesakitan yang sangat terasakan, pahit, pahit…

Tak ada yang bisa dilakukan selain diam…

Diam…

dan biarkan tangan tak terlihat merangkulmu, melepaskan segala kesedihan, kesakitan dan pahit itu…

Tenggelamkan dirimu dalam diam dan biarkan dirimu ditemukan oleh-Nya

***

‘Selamat jalan, anakku. Doa Ibu menyertaimu,’ kata hati Wulan saat mengantarkan Rachel ke dalam liang lahat.. Ia usap air matanya dengan ujung kerudung hitamnya.

Ananta memakamkan Rachel disamping makam Carla. Ia menangis tanpa suara ketika menatap makam dua orang yang dicintainya itu. Carla Indira binti Syahrir dan Rachel Wongso Wijoyo binti Trenggono. Atas kesepakatan Wulan, Fahira dan Trenggono, disematkan nama Trenggono di belakang nama lengkap Rachel untuk ditatahkan di batu nisannya.

Ananta berjalan gontai meninggalkan makam. Sepoi angin lembut mengusap helai-helai rambutnya. Beberapa kuntum bunga kamboja berguguran tertiup angin. Ananta terus berjalan…

Yang hidup akan mati

Yang datang akan pergi

Yang bertemu akan berpisah

***

(*Lanjutannya : Bumi Itu Satu )

“… I Wish I Was Special…”

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya : “Keajaiban yang Hilang” )

 

Aku hilang… hilang arah…

Tak tahu siapa aku, siapa kamu…

Gelap… gelap… gelap…

Aku terjebak dalam kegelapan yang mencekam

 

***

Deg! Ananta merasakan dadanya naik-turun memburu karena cemas, Rachel hilang…!

Ananta menemui manajer penginapan dan mendatangi kantor polisi terdekat. Dengan jeep sewaan, Ananta bergerak dengan kecepatan rendah, menyusuri jalan-jalan. Ia pasang matanya dengan awas, seringkali ia berhenti dan bertanya pada siapa saja yang ia temui di malam selarut itu.

Ananta berhenti di depan pasar tradisional yang sepi. Ia masuk ke dalamnya. Beberapa orang sedang menurunkan bermacam sayuran dari mobil pick up bak terbuka. Kesibukan pasar untuk persiapan pagi yang sebentar lagi tiba.

Mata Ananta menyapu segala yang terhampar yang terjangkau pandangannya. Ia perhatikan satu persatu orang-orang yang dijumpainya, berharap Rachel adalah salah satunya.

Langkah kaki Ananta terhenti di dekat seorang pria berambut gondrong awut-awutan di pojok pasar, di dekat tumpukan sampah. Baju pria itu begitu kumuh, pria separuh baya yang terus saja berbicara sendiri.

“Dunia semakin tua, manusia sulit diatur, maunya menang sendiri, maunya enak sendiri, mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri, menumpuk-numpuk harta-benda untuk keluarga sendiri, tidak peduli dengan orang lain,” kata pria itu sambil tangannya menunjuk-nunjuk pada meja kosong pedagang daging.

Bau amis daging menyebar di sekitar area. Sampai Ananta pergi menjauh, pria itu terus saja berbicara. Entah siapa dia.

“Rachel, dimana kamu Rachel,” lirih suara Ananta.

Kemana kan kucari, dirimu yang telah mencuri hati

Kau datang laksana buih gelombang di pantai selatan

Kau hilang bersama dinginnya hembusan angin malam

Aku beku dalam pusaran waktu yang seolah berhenti

Penantian ini terasa sangat lama, sangat lama…

Satu menit seolah seribu tahun rasanya, rasanya…

Kembalilah, Sayang…. mari bersama merenda hari

Setapak demi setapak, kita singkap misteri hidup ini

 

Satu jam, dua jam, tiga jam, lima jam, tak ada tanda-tanda dimana Rachel berada. Rachel seperti lenyap ditelan bumi.

Pagi tiba, kehidupan baru dimulai, sekelompok anak-anak dengan pakaian seragam mengendarai sepeda menuju sekolah. Ananta berputar-putar mengelilingi kota Magelang. Ia habiskan waktu seharian hingga matahari hampir terbenam untuk blusukan ke kampung-kampung.

Tiba-tiba telepon genggamnya bergetar. Dari ujung telepon, polisi mengabarkan Rachel ditemukan di tepi pantai selatan. Ananta langsung memutar balik dan tancap gas.

Ananta menyibak kerumunan di tepi pantai. Ia kaget, ada Julia di sana. Rachel rebah dalam pangkuan Julia. Ananta melihat genangan di mata Julia. Wajah Rachel pucat pasi, tubuhnya menggigil basah. Tatapan mata Rachel kosong, tidak tahu apa-apa, tidak ingat apa-apa.

Ananta memang mengabarkan ‘hilang’nya Rachel kepada Julia sebelumnya. Begitu mendengar kabar Rachel hilang, Julia langsung terbang menyusul ke Magelang. Julia merasa ikut bertanggung jawab atas Rachel, karena perjalanan mereka juga adalah saran darinya yang mengungkapkan bahwa travelling tersebut sebagai bagian dari terapi.

Julia bergabung dengan tim kepolisian, menyisir bagian selatan Magelang, hingga perjalanan mereka sampai di Pantai Ketawang. Pantai tradisional yang sangat indah dengan deburan ombak laut selatan. Ombaknya kadang sangat besar hingga mencapai ketinggian tiga meter. Bibir pantainya sangat luas, dengan hamparan pasir yang lembut.

Segala keindahan itu tak terasakan karena di pantai ini Rachel ditemukan dalam keadaan kosong. Rachel tidak bisa ditanya, tidak bisa menjawab apa-apa. Hanya diam dengan tatapan mata hampa.

Seorang nelayan menyaksikan Rachel berendam lama sekali di tepi pantai itu. Lambat laun Rachel menuju tengah laut. Nelayan yang bernama Taufan itu dengan sampan kecilnya mendekati dan menarik Rachel.

“Bahaya sekali, dia bisa terseret ombak yang ganas,” terang Taufan pada Ananta.

Ananta mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang diberikan Taufan pada Rachel.

Saat itu juga Rachel dievakuasi ke rumah sakit jiwa di tepi lereng gunung, di antara bukit perkebunan teh di kawasan Jawa Barat, dimana selama ini ia dirawat.

***

Sebentar terang, sebentar gelap…

 

Pendar terangmu menyilaukan mata, lalu kamu padam, padam…

 

Ananta terhenyak, Rachel benar-benar sudah kehilangan kesadarannya. Rachel kadang menangis, tersenyum dan tertawa tanpa sebab. Rachel benar-benar tergantung orang lain kini, untuk makan dan membersihkan diri saja harus dibantu suster. Jaringan syaraf di otak Rachel mengalami gangguan yang parah, hang.

“Lakukan yang terbaik, dok. Saya mencintainya. Saya tidak mau kehilangan harapan,” kata Ananta pada Julia.

Begitu Ananta keluar dari ruangannya, Julia membiarkan buliran air matanya mengalir. Julia mengerjap-ngerjapkan matanya, menghalau duka.

Rachel kini bukanlah orang lain bagi Julia. Ia melihat banyak persamaan antara Rachel dan Wulandari. Golongan darah mereka sama. Gestur tubuhnya juga sama. Semakin sering Julia mengamati Rachel, ia seperti melihat Wulandari muda.

Julia merasa tak ada waktu lagi untuk menunda-nunda menyampaikan apa yang diketahuinya ini pada ibunya, Wulandari. Julia akhirnya menceritakan semua yang dirasakannya pada Wulan melalui telepon.

Mendengar penuturan Julia, Wulan merasakan seolah bumi berguncang, bulu kuduknya merinding, telepon lepas dari genggamannya, matanya berkunang-kunang. Sebelum ambruk karena pingsan, tangannya meraba-raba meja, memegang ujung meja dengan kuat. Wulan menyenderkan punggungnya pada senderan kursi.

‘Anakku, anakku,’ batin Wulan.

Rasa lega, kegembiraan yang meluap mewujud dalam air mata yang tumpah. Wulan merasa inilah jawaban atas doanya pada tiap-tiap malam, doa sepanjang musim. Dalam hati kecilnya, Wulan sangat ingin bertemu bayinya itu. Bayi satu-satunya yang pernah ia kandung dan lahirkan. Keputusan impulsifnya di masa muda menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Setengah limbung, ia melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu kemudian melakukan sujud syukur. Ia tumpahkan air matanya di atas sajadah. Satu-satunya tempat dimana ia merasa bebas menumpahkan isi hatinya, pikirannya. Wulan menempelkan dahinya di atas sajadah dalam waktu yang lama.

‘Andai aku bisa memutar waktu, tak akan kulakukan tindakan bodoh itu. Terima kasih Tuhan, Engkau penjawab segala jerit tangis hamba-Mu yang hina ini,’ batin Wulan bersuara, berusaha menguasai diri.

***

“Ibu?” Julia terkejut, begitu membuka pintu, ternyata Wulan yang mengetuk pintu.

Julia memeluk Wulan erat, “Kenapa Ibu tidak menungguku?” Julia sudah janji akan menjemput Wulan esok lusa.

“Antarkan Ibu ke rumah orang tua Rachel,” pinta Wulan dengan suara menyayat hati.

Julia memandangi wajah Wulan. “Ibu baru datang, nanti sore ya?”

“Kalau kamu tidak mau mengantar, Ibu pergi sendiri,” kata Wulan dengan wajah kecewa.

“Bukannya tidak mau, Bu. Oke, tunggu sebentar,” Julia bergegas ke kamar, berganti baju dengan cepat.

Menyangkal keberadaanmu sama dengan menyangkal keberadaanku

Cukup sudah penyangkalan ini, aku menerimamu sebagaimana kuterima diriku

Kamu bagian dari diriku, anakku… maafkan ibu… pantaskah aku disebut “Ibu…”

****

(Bersambung : “Malam Membeku” )

Keajaiban yang Hilang

Oleh :  Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

(Sebelumnya : “Antara Mimpi dan Kenyataan” )

 

Cinta ini sakit, sakit…

Menumpahkan air mata, meruntuhkan Tembok Raksasa China

Mengobarkan rindu dendam, membakar batu Petra di Yordania

Mendidihkan darah Fir’aun, meluluhlantakkan Piramida Agung Giza

Kudaki gunung tua Machu Picchu di Peru, namun tak kutemukan dirimu di puncaknya

Kutelusuri Chichén Itzá di Meksiko, tak jua kutemukan cinta

Kuberlari mengelilingi Koloseum di Roma, yang kudapatkan hanya luka, pedih…

Kecantikan Taj Mahal bertabur kristal berlian di India menghentikan langkahku

Ingin kusudahi sakit ini, luka ini, pedih ini…

***

Rachel membolak-balik brosur tujuh keajaiban dunia yang baru saja diperlihatkan Ananta kepadanya. Tak tanggung-tanggung rencana travelling yang dipilih Ananta adalah membawa Rachel ke tujuh tempat keajaiban dunia.

“Kita akan mengunjungi semua tempat ini?” tanya Rachel tak percaya.

“Ya,” jawab Ananta, tersenyum dengan mata berbinar. “Kamu suka?” tanya Ananta balik.

Rachel menoleh pada Ananta, tersenyum mangut-manggut. “Ya, suka.”

Tempat pertama yang mereka akan tuju adalah Candi Borobudur. Walaupun hasil polling yang dilakukan oleh yayasan New 7 Wonders membuat Candi Borobudur tergusur dari daftar tujuh keajaiban dunia, itu tidak berpengaruh apa-apa bagi Ananta. Ananta tetap menganggap Candi Borobudur adalah bagian dari tujuh keajaiban dunia.

Tiba di Magelang, Jawa Tengah, Ananta dan Rachel mencari penginapan yang berlokasi tak jauh dari Candi Borobudur.

Ananta sengaja menyusun jadwal bertepatan dengan Hari Waisak. Ini adalah kedua kalinya bagi Ananta berkunjung ke Magelang bertepatan perayaan upacara Waisak. Malam nanti merupakan puncaknya, Ananta ingin menunjukkan sesuatu yang menakjubkan pada Rachel.

“Sudah siap?” tanya Ananta pada Rachel yang tampak cantik walaupun sedikit pucat, dengan long dress hijau lumut.

Rachel mengangguk dengan gerakan yang kaku.

“Nanti sampai lewat tengah malam, kamu akan kuat, kan?” tanya Ananta, khawatir.

“Kepalaku agak pusing. Tapi, kupikir aku akan baik-baik saja,” jawab Rachel.

Diambilnya dua butir pil dan satu kapsul untuk diminum Rachel. Ia memasukkannya ke mulutnya kemudian mendorongnya dengan segelas air putih.

Sesampainya di Borobudur, mereka membaur dengan ribuan orang, umat Budha dari berbagai negara dan wisatawan yang khusus datang untuk melihat ritual sakral itu. Seperti lautan manusia di tengah keheningan. Doa-doa memancarkan energi positif yang sangat kuat.

Rachel merasa takjub. Ia melihat semua orang demikian khusyuk, membuatnya gemetaran. Matanya enggan berkedip manakala ribuan lampion berwarna kuning kemerahan beterbangan di udara mengantarkan doa-doa, menembus langit pekat berhiaskan cahaya bulan purnama.

Rachel merasakan badannya panas dingin. Ananta menuntunnya keluar dari keramaian, menjauh dan mencari tempat yang lebih sepi. Di bawah taburan bintang bagai glitter yang menghiasi gelapnya langit malam, Ananta mengajak Rachel berdoa bersama.

“Aku manusia berlumur dosa,” lirih suara Rachel.

“Siapa manusia yang tidak punya dosa,” kata Ananta.

“Dosa besar. Dosa besarku banyak sekali, tak termaafkan,” akhirnya tangis Rachel pun pecah. Rachel memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit dan ingin meledak.

Ananta mendekap erat Rachel, mencium rambutnya dengan lembut, dan membimbing Rachel menuju mobil. Mereka kembali ke penginapan. Rachel harus minum obat dan istirahat.

***

Keesokan harinya, kondisi Rachel memburuk. Ananta memutuskan tidak melanjutkan perjalanan.

“Lupakan tujuh keajaiban dunia. Aku tidak ingin kemana-mana. Kamu adalah keajaiban bagiku,” kata Rachel pada Ananta. Suaranya lemah, air matanya menetes.

“Oke, kita akan kembali ke Jakarta. Kesembuhanmu adalah keajaiban. Aku ingin kamu sembuh. Aku ingin kamu sehat dan ceria seperti dulu,” lirih suara Ananta di telinga Rachel.

Rachel merasa hangat dalam pelukan Ananta.

Andai aku mati esok pagi

Tak kan ada yang kusesali

Sebab kamu yang kucintai

Ada di sisiku malam ini

‘Aku manusia yang tidak diharapkan, tidak dicintai. Apa itu bahagia, omong kosong semuanya!’ jerit Rachel dalam hati.

Rachel gelisah, tidak bisa tidur. Ia lepaskan pelukan Ananta, turun dari tempat tidur, keluar kamar, berjalan menyusuri jalan sepi. Di atas sana langit gelap tanpa bintang. Rachel terus berjalan tanpa tahu kemana tujuannya.

***

Ananta bangun dan terperanjat mendapati tak ada Rachel di sisinya. Ia bangkit, melihat jam tangan di atas meja, jam dua belas lewat sepuluh menit. Ananta memeriksa kamar mandi dan seluruh area penginapan, tak ada Rachel.

Rachel hilang!!!

(Bersambung : “… But I’m a Creep…” )

Antara Mimpi dan Kenyataan

Oleh :  Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

(Sebelumnya : “Little Wings” )


Pagi itu, Julia sedang menikmati egg sandwich-nya di sekitar halaman FKUI, sambil membaca kertas-kertas dalam genggamannya.

Ananta yang pagi itu memang berencana menemui Julia tiba-tiba hadir di sampingnya.

“Pagi Julia…” sapa Ananta.

Dengan agak sedikit terkejut, perempuan berambut pendek yang mengenakan kemeja putih dan blue jeans itu, langsung merapikan kertas-kertas yang dibacanya. Tapi angin meniup ketas-kertas itu hingga berterbangan. Ananta mencoba membantu memunggut setiap lembaran ke sisi Julia. Sejenak Ananta memperhatikan selembar kertas yang berisikan beberapa catatan dengan nama Rachel di atasnya.

“Pagi juga Ananta… terimakasih..” jawab Julia.

“Sama -sama..”

“Ananta… entah kenapa aku merasa memiliki keterikatan emosional dengan Rachel. Mungkin kamu memiliki pikiran yang sama denganku tentang hal ini…”

“Tentang nama belakangmu yang serupa dengan nama belakang Rachel?”

“Ya…”

“Apakah ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?”

Julia menarik nafas panjang dan mulai bertutur.

Sejak Ananta dan Rachel bertemu dengannya, keesokan harinya Julia langsung menelepon ibunya, Wulandari.

Diceritakannya bahwa ibunya yang awalnya berat untuk mengisahkan masa-masa pahit dalam hidupnya itu kemudian mulai membuka semua lembaran kelamnya.

Dengan isak tangis Wulandari sama sekali tak menyangka, dan masih bertanya-tanya apakah Rachel yang ditemui Julia itu benar-benar anaknya yang dulu ia buang.

Sejak Wulandari membuang bayinya dan bertemu dengan Bram, Wulandari hidup normal, menyelesaikan kuliah, bekerja kemudian menikah dengan Bram.

Di hati Wulan, terpatri sosok Wongso Wijoyo, kakek dari pihak ayahnya. Meski kakeknya itu meninggal dunia ketika Wulan berusia tujuh tahun, namun rasa sayang yang ditorehkan Wongso Wijoyo membekas di hati Wulan hingga ia besar. Itulah mengapa ia ingin bayi yang dibuangnya itu diberi nama belakang Wongso Wijoyo.

Hal ini yang membedakan hubungan Wulan dengan ayahnya, Prambudi, yang lebih sering bersikap galak pada anak dan istrinya. Entah apakah karena tekanan pekerjaan atau karena seringnya berpindah-pindah kota karena tugas, tanpa membawa anak istrinya, yang membuat Prambudi alpa memperhatikan anaknya. Sementara Sari, ibunda Wulan, tipikalnya nrimo secara kebablasan, tidak mampu menyelami hati anaknya, tidak bisa kritis melihat keadaan di sekitarnya. Sari mengira semua baik-baik saja.

Beberapa tahun setelah menikah dengan Bram, Wulandari tidak kunjung hamil. Tahun-tahun itu membuat Wulandari berpikir bahwa itulah karma yang harus dijalaninya. Karena itu sebagai bentuk penebus rasa bersalahnya, ia mendirikan yayasan yang bergerak di bidang parenting. Ia membuka kelas atau semacam pelatihan yang bisa diikuti oleh orang tua, siapapun, yang mau belajar bagaimana mengasuh, mengasah dan mengasihi anak dengan pola yang tepat.

Dan di tahun berikutnya akhirnya Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada Wulandari untuk kembali mengandung janin di dalam rahimnya. Itulah Julia yang sembilan bulan kemudian hadir ke dunia memberikan harapan baru dalam kehidupan Wulandari dan Bram.

Kini ayah Julia, Bram, sudah meninggal lima tahun silam. Sejak Bram meninggal, Wulan meninggalkan Jakarta, pulang ke kampung halaman kakek buyutnya di Solo. Di sana Wulan membaur dengan masyarakat setempat, mengembangkan program parenting yang sudah ia rintis sejak lama di Jakarta.

Dua tahun berikutnya, Wulan mendirikan taman kanak-kanak. Wulan menikmati momen berada di tengah anak-anak yang banyak, dengan cara itulah ia meredam emosi negatifnya di masa yang lalu, dimana ia telah membuang anak kandungnya sendiri.

“Semua orang menjalani karmanya sendiri-sendiri…”

Ananta terdiam cukup lama. Matanya memandang jauh entah kemana saat mendengar penuturan Julia.

“Ah.. ini, aku temukan beberapa obat-obatan yang nampaknya sering dikonsumsi oleh Rachel selama ini. Aku curiga ia begitu ketergantungan dengan obat-obatan yang diminumnya. Dan ini ada beberapa resep dari dokter yang sulit aku baca.” Ananta memecah kebisuannya sendiri.

Jula melihat catatan resep dokter yang diberikan Ananta. Nampaknya ia kenal dengan goresan tanda tangan dan tempat praktek dokter yang memberikan resep obat tersebut.

“Hmm… nampaknya ini merupakan resep dari dokter Andika, kolegaku. Baiklah, nanti saat makan siang aku akan menemuinya dan menanyakan semua hal tentang catatan medis Rachel pada Andika… um.. 5 menit lagi aku harus mengajar.. aku akan menghubungimu jika ada perkembangan lebih lanjut, Ananta..”

Julia beranjak dan melangkah cepat memasuki koridor kampus. Ananta masih berdiam di tempat, menatap punggung Julia yang menjauh. Ia baru bangkit saat sosok Julia berbelok dan menghilang dari pandangannya.

***

“Ia tak mau mendengarkan saranku Julia. Aku sudah memperingatkannya bahwa ia harus melakukan terapi sesegera mungkin…” jelas dr Andika kepada Julia.

“Ya.. Rachel malah menjadi addicted dengan obat-obatan penenang itu.. dan itu semakin menurunkan kondisi kejiwaannya sekarang. Kini Rachel berada di panti rehabilitasi gangguan jiwa di daerah Bogor… Dan terakhir kulihat kondisinya lebih baik dari sebelumnya,” tambah Julia.

“Menurutku, terapi yang terbaik itu sebaiknya Rachel berada dalam lingkungan orang-orang terdekatnya yang mempunyai cinta yang tulus terhadapnya. Mendengar kisah latar belakang Rachel, ia membutuhkan orang-orang yang menerima ia apa adanya. Ia mengalami pengalaman traumatik dalam batinnya jika ia merasa ‘ditolak’ oleh orang-orang terdekatnya sendiri…” terang Andika.

“Tapi tak mungkin Ananta, suaminya, mampu untuk mengatasi Rachel sendirian…” Julia berkata pelan.

“Karena itulah kita bantu mereka… Kini Rachel ada dalam penangananmu.. Aku yakin kamu tau treatment seperti apa yang seharusnya kamu berikan untuk Rachel… Saranku… biar Rachel menikmati indahnya hidup… mm.. mungkin liburan atau jalan-jalan bersama suaminya.. travelling ke tempat-tempat yang indah…”

“Ya.. aku pun berpikir demikian…, hmm.. baiklah.. aku akan segera bicara dengan Ananta..”

***

Ananta melalui hari-hari yang melelahkan, menemani Rachel dengan suasana hatinya yang turun-naik secara sporadis. Kadang Ananta merasakan dunia ini gelap, entah apakah masih ada setitik cahaya di ujungnya nanti. Saat sulit seperti itu, Rendy datang mengajak Ananta ke restoran hotel yang mewah.

“Ada perayaan apa nih..?”

“Haha… kabar gembira my brother.. kabar yang sangat bagus…” Rendy lantas megeluarkan i-Pad-nya dan mulai browsing. Lalu ia menunjukkan sebuah berita di internet pada Ananta.

Awalnya muka Ananta terkejut, namun senyum lebar langsung mewarnai wajahnya.

“Gilaa…! Hebat..! dahsyat kawan… are you sure ‘bout this? Luar biasa.. hahaha.. congrats.. yes.. we did it! Kita berhasil ‘menampar’ mereka-mereka yang sinis terhadap kita. Kita akhirnya membungkan sorotan media melalui kerja keras kita.., kerja kerasmu bro..!”

Ananta menyalami erat Rendy sahabatnya itu. Ternyata berbulan-bulan Rendy berjibaku untuk mengatasi persoalan-persoalan dalam bisnis Ananta yang ada di titik nol, bahkan minus. Ananta yang usahanya harus megap-megap karena tumpukan utang yang banyak. Kontrak-kontrak kerjasama yang batal akibat berita-berita miring akan dirinya, sedangkan kucuran dana atas pinjaman perbankannya harus tetap dibayarkan dan juga membayar gaji para karyawannya. Ananta hampir tak memiliki dana untuk hidupnya sendiri, meski ia masih memiliki beberapa asset tak bergerak.

Dengan kontrol biaya yang ketat, mereka pun sedikit demi sedikit me-restrukturisasi utang-utangnya dan secara bertahap akhirnya bisa mendapat keuntungan.

Berita yang ia baca melalui i-Pad Rendy adalah mengenai mencuatnya sektor bisnis property ‘Small Office Home Office’ (SOHO) yang ditangani Rendy. Rendy mempu melihat bahwa kian hari kian banyak entrepreneur muda yang bekerja hanya dari rumahnya saja yang juga berfungsi sebagai kantor. Mereka-mereka adalah kaum professional muda yang berwirausaha dengan mengutamakan kualitas kerja, bukan berdasaran absensi masuk ke kantor.

“Tapi bukan soal itu aja bro.. nih ada satu lagi.” Rendy lantas mulai bercerita bahwa sejak kematian bendahara HIPMI, ia penasaran dengan apa yang terjadi. Lewat berbagai peyelidikan dan jaringan yang ia miliki di dunia bisnis dan politik, Rendy berhasil menemukan saksi yang mengakui sebagai salah satu pelaksana untuk membuat ‘seknario’ bunuh dirinya bendahara HIPMI itu.

Saat pengakuannya kepada Rendy, si saksi tersebut terlihat sangat depresi, dihantui rasa bersalah atas keterlibatannya dalam konspirasi yang ia lakukan. Namun sayangnya sebelum tuntas Rendy bisa membuktikan itu semua, si saksi tak lama ditemukan mati bunuh diri lompat dari lantai 25 apartemennya di Jakarta Barat.

Rendy melihat celah untuk melempar sebuah propaganda ‘serangan balik’. Dari beberapa pengakuan saksi yang ia temui, Rendy lantas membentuk ‘tim issue’ dan mulai menguak berbagai dugaan-dugaan akan konspirasi yang terjadi merujuk pada kematian bendahara HIPMI, dan sekaligus mencoba meng-counter issue-issue keterkaitan Ananta akan kasus tersebut.

Lewat berbagai opini yang dilemparkan ke publik, meski kematian itu masih misteri tapi akhirnya khalayak mampu memahami bahwa Ananta sama sekali tidak ada kaitannya apalagi terlibat atas kasus kematian bendahara HIPMI. Nama baik Ananta mulai pulih.

Mendengar semua keterangan Rendy, rona cerah semakin tampak dalam diri Ananta.

“I don’t know what to say…. Ren…, you’re the best..!”

“Antara mimpi dan kenyataan, ada yang namanya kerja keras. Berjalanlah di atas kerikil itu dan yakinlah waktu akan mengubahnya menjadi debu yang sangat halus dan memuluskan jalan kita untuk melangkah lebih jauh dari yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya…”

“Kau ambil deh semua bisnisku itu.., aku mau keliling dunia…!” antusiasme akan hidup mulai nampak di wajah Ananta.

“Hahaha… tenang aja bro.. kamu ajak Rachel travelling sana sekaligus untuk terapi… tapi jangan sampai mati dimakan singa Afrika ya…” seloroh Rendy.

Malam itu meski tak terlihat bintang di atas langit kota Jakarta, tapi kini ada semangat yang berbinar dalam diri Ananta. Tak sabar ia ingin segera merencanakan travelling-nya bersama Rachel.

*bersambung