Aku Bilang Tidak Padahal Ingin

#Novel Vivian Zen

Fedy sudah mendapatkan manajer baru, namanya Sonny, Fedy meminta pendapatku sebelum menerima Sonny. Aku percaya pada Sonny, seorang konseptor yang sangat memperhatikan detil. Sonny menangani beberapa artis yang cukup populer, kupikir dengan cara kerjanya yang sistematis, ia bisa mengembangkan kelompok band Fedy.

Aku sendiri, meski sudah tidak jadi manajer sementaranya Fedy, kebiasaan menonton infotainment terbawa hingga kini, malah sudah menjadi makanan wajib, bukan karena Fedy meminta, tapi karena aku merasa harus memantaunya. Refleks yang biasa dilakukan oleh orang yang sedang jatuh cinta, selalu ingin tahu apa yang dilakukan yang dicinta.

Dan malam ini kulihat siaran langsung Fedy, Peter, Rino, Leo dan Donny menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Dua orang presenter, laki-laki dan perempuan, bicara secara bergantian menghadap kamera, memperkenalkan satu persatu personel kelompok band ‘Fedy n Friends’ pada pemirsa. Fedy ditanya seputar konsep album dan proses pembuatannya, Fedy dan teman-temannya menjawab secara bergantian, saling melengkapi.

Tak ketinggalan presenter juga menanyakan seputar kehidupan pribadi. Fedy menjawab singkat sekarang ini sedang dekat dengan seseorang, seseorang yang sudah lama menetap di hatinya, dan aku tersenyum kege-eran, Mamaku yang melintasi ruang keluarga tempatku kini berada, untuk kemudian menuju dapur, memergoki senyumku, sudah tidak heran lagi.

Ketika presenter menyinggung nama Nabila yang disebut-sebut pacar Fedy, wajah Fedy berubah kurang senang dan menjawab itu pertanyaan basi, pertanyaan ngawur yang diulang-ulang, tidak kreatif, membuat wajah presenter merah padam. Seperti mendapat amunisi baru, presenter itu menggunakan jawaban Fedy untuk menyerang balik, bahwa apakah Fedy ternyata seorang temperamental, mudah tersinggung, cepat naik darah.

Ketika jeda untuk iklan, Fedy bertanya padaku melalui blackberry messenger.

‘Kamu nonton?’

‘Iya.’

‘Gimana?’

‘Bagus awalnya sampai kemudian kamu emosional.’

‘Aku bosan ditanya hal sama berulang-ulang.’

‘Yang tanya kan orang berbeda dari media yang berbeda, di infotainment itu kan kamu baru sekali ini tampil.’

‘Aku nggak suka ditanya kehidupan pribadi, bilangnya mau bahas album, kok, melebar ke masalah personal.’

‘Jawab dengan tenang dengan pilihan kata yang netral, hindari kata-kata tendensius.’

‘Ok mau lanjut lagi.’

‘Ok, be cool.’

Keesokan harinya beberapa surat kabar dan tabloid hiburan memberitakan Fedy dengan judul ‘Fedy Temperamental’, ada juga yang memberikan judul ‘Fedy Melecehkan Presenter’, ada juga judul ‘Dibilang Ada Hubungan dengan Nabila, Fedy Marah’. Bad news is good news, rumus basi yang entah akan terus berlaku sampai kapan. Realitas media adalah realitas media, tidak lebih dari itu.

Telepon genggamku bergetar, ada sambungan masuk, nomor yang tidak kukenal, dari seorang wartawan, ingin bertemu denganku. Entah dari mana ia mendapatkan nomor handphone-ku, wartawan selalu tahu apa yang ia harus lakukan. Dan aku tidak terlalu tertarik untuk sebuah wawancara yang sudah bisa kuduga akan kemana arahnya. Aku lebih senang bekerja di belakang layar. Aku belum memberikan janji apa-apa, kukatakan akan menghubunginya kembali. Tidak menarik buatku diberitakan sebagai anu-nya seseorang, akan lebih menarik jika aku menjadi berita karena sebuah karya yang layak diketahui banyak orang.

***

Pekan depan Fedy mau show di Bali, ia memintaku untuk turut serta, aku bilang tidak mau karena naskah FTV sedang ditunggu, aku harus bekerja cepat. Sebetulnya aku mau, sangat mau, aku ingin ikut, sangat ingin, tapi aku bilang aku tidak mau ikut. Di Bali, Fedy tampil satu panggung dengan Nabila, entah mengapa aku percaya Fedy akan baik-baik saja dimanapun berada. Kupikir betapa menderitanya aku bila selalu curiga, mengkhawatirkan segala hal, aku tidak mau khawatir, walaupun kekhawatiran itu ada.

‘Vivian,’ panggil Fedy melalui bbm.

‘Iya.’

‘Ini hari apa.’

‘Rabu.’

‘Sekarang jam berapa.’

‘Jam sebelas lewat empat puluh menit.’

‘Sudah malam ya.’

‘Istirahat gih, besok ada acara pagi kan.’

‘Iya.’

‘(smile).’

‘(smile).’

Bahasa tubuh bicara banyak hal tentang dua orang yang sedang dimabuk cinta. Ketika mabuk, seseorang membutuhkan banyak hal yang bisa dikerjakan untuk menjaga kesadaran. Kembali aku menatap layar monitor, melanjutkan pekerjaanku, sedikit lagi selesai, waktunya tidur.

***

pada dua hati yang saling tertawan

dua hati yang memantulkan satu bayangan

nurani kan menjaga

terang adalah terang

.

pada dua hati yang saling terpesona

dua hati yang mencerminkan keindahan

cermin kan menjaga

keindahan adalah keindahan

.

pada dua hati yang saling merindukan

dua hati yang mengingatkan kebaikan

ingat kan menjaga

kebaikan adalah kebaikan

.

pada dua hati yang saling mencinta

dua hati yang berpikir dalam diam

berpikir kan menjaga

cinta adalah cinta

Foto ilustrasi: hdwallpapers.im

Bersambung

Advertisements