Waktu

1273995_1029385157113276_4769354092204862806_o
 *
Demi waktu yang terus berjalan
Ingatkan aku tentang kemanusiaan
*
Demi waktu yang tak mau berhenti
Ingatkan aku tentang empati
*
Demi waktu yang telah berlalu
Ingatkan aku tentang hari kelabu
Demi waktu di masa depan
Ingatkan aku tentang harapan
 *
Demi waktu di masa kini
Ingatkan aku tentang yang hakiki
 *
Demi waktu yang berarti
Ingatkan aku tentang mengerti
 *
Demi waktu yang penuh rahasia
Ingatkan aku tentang menjadi manusia
 *
Demi waktu yang kadang pikiran lalu lalang
Ingatkan aku tentang jalan pulang
 *
Demi waktu yang tak bisa diputar kembali
Ingatkan aku tentang hati yang damai
 *
Demi waktu di dunia yang adalah perjalanan pertama
Ingatkan aku tentang perjalanan selanjutnya yang kedua
 *

Hujan dan Kemarau

 Foto Ilustrasi: https://www.facebook.com/DogaHayattir

Hujan, kamu dirindukan tanaman di tepi jalan
Juga dinantikan oleh pohon-pohon di hutan
Kamu juga ditunggu Pak Tani di persawahan

Hujan, kamu juga menakutkan, kadang bagaikan teror tahunan
Bagi yang terancam kebanjiran, yang sistem pengairannya tak mapan
Yang tak kunjung dibetulkan, dari zaman ke zaman

Hujan bertanya, mengapa rawa-rawa dijadikan daratan
Tak cukupkah daratan yang sudah dipersediakan
Tak berpikirkah bahwa aku butuh saluran

Hujan masih mempertanyakan
Mengapa ada manusia yang selalu saja merasa kekurangan
Tidak berpikirkah mereka tentang masa yang jauh di depan
Sebagian mereka merutukiku sialan sialan sialan sialan
Padahal tanpa aku, tak akan ada hidangan di meja makan

Hujan kemudian bercerita, baru saja ia berjumpa si kemarau
Kemarau bilang, jangan heran dengan suara manusia yang parau
Mereka memang hobi mengeluh tanpa berpikir, sukanya bergurau
Bertemu denganku, teriak-teriak kegerahan agar seluruh dunia hirau

Mendengar cerita si kemarau, hujan pun mengangguk-angguk

*********

Lotus

Foto Ilustrasi: https://www.facebook.com/DogaHayattir

 

Lotus, itu namamu, ada pula yang menyebutmu teratai
Kehadiranmu memberi arti, meskipun diletakkan di lantai
Kamu menyegarkan yang sedang letih dan ingin bersantai
Kamu menenangkan yang gelisah yang seperti sedang dirantai

Lotus, keelokanmu kadang membuatku terbius
Memandangimu membuatku lupa lapar lupa haus
Seolah kamu yang terpenting, hal lain tak terurus
Aku bicara apa adanya, tidak main-main, aku serius

Siang malam, aku memikirkanmu lotus
Kamu ada di sini tentu ada yang mengutus
Diakah pemilik nama sembilan sembilan, bukan seratus
Menjaga mata rantai kehidupan agar tak terputus

Lotus, kamu terlahir dalam kubangan lumpur
Namun, kamu tumbuh cantik walau tak berpupur
Kamu tersenyum sepanjang waktu sebagai pelipur
Lumpur tak mampu membuat semangatmu tergempur

Lotus, paduan warna-warnimu sungguh menawan
Menerbangkan khayalku terbang tinggi ke awan
Membuat mataku mengerjap, berkabut, berawan
Kadang membuatku lemah, tak kuasa melawan

Lotus, keindahanmu membuatku terpikat
Membuat hati dan pikiranku kadang terikat
Ingin rasanya merangkaimu dalam ikat
Agar tiap saat bisa menatapmu lekat

Kemudian kutimbang ulang tentang keinginan
Apakah cara demikian akan membawa kebaikan
Atau itu justru mempercepatmu menuju kematian
Kuputuskan biarkanmu tumbuh dalam kebebasan

Untuk bahagia, tak harus menguasaimu
Aku tahu, diriku tumbuh bersamamu
Dan juga, aku selalu mengagumimu
Semoga aku bisa meneladanimu

*********

Segala Sesuatu Ada Waktunya

 Foto ilustrasi: lotus.org

Ada tahun-tahun yang melahirkan pertanyaan-pertanyaan
Ada tahun-tahun yang menjawab pertanyaan-pertanyaan

Kamu bertanya mengapa harus ada gelap pada malam
Aku menjawab karena bintang hanya terlihat saat kelam

Kamu bertanya mengapa matahari selalu datang di pagi hari
Aku menjawab karena matahari tahu tugasnya menyinari

Kamu bertanya mengapa dedaunan rontok di musim gugur
Aku menjawab karena itulah waktu baginya untuk gugur

Kamu bertanya mengapa bunga bermekaran di musim semi
Aku menjawab karena itulah waktu baginya untuk bersemi

Kamu bertanya mengapa di belahan bumi ini ada musim salju
Aku menjawab karena manusia perlu membeku sebelum melaju

Kamu bertanya mengapa harus ada musim panas
Aku menjawab karena salju bisa cair hanya dengan panas

Kini kamu hanya bisa diam, tak ada lagi tanya
Sebab kamu tahu, segala sesuatu ada waktunya

*********

Bulir-bulir Padi di Sawah

Foto Ilustrasi: mrblurster.blogspot.com

 

Apa yang kamu ingin tunjukkan padaku di tengah sawah ini?

Lihat bulir-bulir padi itu telah menguning dengan sempurna, siap dipanen.

Sudah biasa. Apa yang istimewa?

Pernahkah kamu berpikir, apakah selalu begitu keadaannya di sawah ini?

Aku tidak tahu.

Mari kuberi tahu. Di sawah ini bukan hanya ada padi yang menguning sempurna di musim panen. Ada juga padi yang tidak sempat menguning karena diserang hama hingga terjadilah apa yang namanya gagal panen. Ada juga padi yang rusak karena terendam banjir di musim penghujan, dan terjadi lagi apa yang namanya gagal panen. Ada juga padi yang rusak karena kekeringan di musim kemarau, dan gagal panen pun terjadi lagi.

Jadi?

Seperti sawah ini, hidup bukan hanya sekadar kegembiraan, kemenangan, kesuksesan, kebahagiaan. Bahwa hidup juga adalah kesedihan, kekalahan, kegagalan, penderitaan. Di balik kegembiraan ada kesedihan yang harus dihadapi. Di balik kemenangan ada kekalahan yang harus diterima. Di balik kesuksesan ada kegagalan yang harus dilewati. Di balik kebahagiaan ada penderitaan yang harus disadari.

Aku hanya mau kegembiraan, kemenangan, kesuksesan, kebahagiaan.

Seperti di sawah ini ada musim tanam, musim panen, musim paceklik, kemauanmu itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Semuanya itu tidak bisa dihindari. Semuanya itu harus dihadapi dan dipahami. Bila kita sudah paham, kita akan menjadi manusia yang bebas. Bebas dari ketakutan, bebas dari kekhawatiran, bebas dari kekecewaan, bebas dari kemarahan, bebas dari kesedihan.

Aku belum bisa.

Ya sudah jangan dipikirkan. Hanya karena belum bisa, bukan berarti kamu harus kehilangan senyum. Tersenyumlah, ada aku di sampingmu.

*********

Sekuntum Kamboja untuk Kita

Foto Ilustrasi: orange flowers community

 

Aku kamu berbeda, tapi mengapa kita saling cinta?

Memang begitu takdirnya cinta.

Takdir cinta?

Aku kamu serupa siang dan malam. Aku kamu serupa langit dan bumi. Aku kamu serupa kehidupan dan kematian. Aku kamu serupa energi positif dan energi negatif. Kita berbeda, bertolak belakang, namun kita ditakdirkan sebagai pasangan.

Seperti kamu menarikku ke ruang ramai, dan aku menarikmu ke ruang sunyi?

Tepat sekali. Kamu membuatku tidak terlalu keasyikan berjalan-jalan di luar. Dan aku membuatmu tidak terlalu keasyikan berjalan-jalan di dalam.

Lalu, apa hubungannya dengan kamboja putih oranye itu?

Ya itulah kita. Bila putih adalah lonceng kematian, oranye serupa warna sinar matahari adalah lonceng kehidupan.

Tapi, mengapa kadang aku merasa sedih?

Apakah kita punya alasan untuk sedih? Apakah kita meminta dilahirkan? Kita tidak meminta dilahirkan, tahu-tahu kita dilahirkan, dihidupkan, diberi kehidupan. Pada saatnya lonceng kematian berdentang, itu semata siklus alamiah belaka. Jangan sedih. Tidak ada yang patut disedihkan. Kita dipersatukan untuk saling menguatkan.

*********

Tak Ada Lagi Hijau Daun atau Kuning Daun

Foto Ilustrasi: fourseasons community

Lihat. Salju itu membuat segalanya tampak sewarna, serasa. Tak ada lagi hijau daun atau kuning daun. Ranting besar dan ranting kecil pun tampak serupa.

Iya, aku melihatnya. Terus, apa yang kamu tangkap dari itu semua?

Salju itu mengingatkanku pada ungkapan ‘melampaui dualisme’.

Dualisme?

Sedih-gembira. Kecewa-lega. Marah-sabar. Itulah sedikit contoh mengenai dualisme. Salju meratakan dualisme itu.

Mati rasa?

Bukan mati rasa, tapi seperti rasa air putih, tawar. Bila kita bisa seperti salju itu yang kemudian mencair bagaikan air putih yang mengalir, kita akan damai selamanya, tak peduli dalam suka maupun duka.

Bagiku, itu baru sebatas cita-cita. Buktinya, aku masih bisa sedih ketika aku berpikir kamu menjauhiku. Aku masih bisa kecewa ketika kamu datang tidak tepat waktu. Aku masih bisa marah ketika sikapmu tidak sesuai inginku.

Setidaknya kamu punya cita-cita itu.

*********