Air Mata Darah

Di bawah langit kelabu pada pagi hari di kawasan timur Jakarta, Yuyun merapatkan jaket bertudung hitam yang membungkus badan kurusnya. Ketika memasuki halaman sebuah panti asuhan khusus balita, ia dihadang petugas keamanan, ditanya maksud dan tujuan kedatangannya.

“Saya disuruh saudara mencari tahu informasi tata cara adopsi anak. Saya pernah ke sini. Bapak lupa?” Yuyun mengulas senyum, matanya sembap.

Petugas berperut gendut itu mengangguk dengan muka masam seperti menyimpan sekian persen ketidakpercayaan. Empat hari lalu perempuan itu datang dan mengatakan akan adopsi anak. Saat petugas mencecarnya dengan penilaian bahwa ia masih sangat muda kenapa mau adopsi anak, mana suaminya, berapa tahun menikah, perempuan itu gugup kemudian meralat omongannya sendiri bahwa ia datang atas suruhan saudaranya.

“Katakan pada saudaramu itu, lain kali harus datang sendiri kalau memang niat bersungguh-sungguh mau adopsi anak,” petugas mundur dua langkah ke samping.

Yuyun cepat-cepat pergi menjauhi petugas yang memuakkannya itu. Ia melintasi musala dan sekolah untuk anak usia empat dan lima tahun yang bersebelahan di sisi kiri, anak-anak berlarian di tengah taman, ada yang main perosotan, mangkok putar, jungkat jungkit, ayunan bangku, komedi putar, bola dunia, tangga majemuk.

“Mamah… mamah…,” seorang anak laki-laki berdiri mematung, bola matanya berputar mengikuti langkah Yuyun yang semakin menjauh menuju gedung bagian belakang.

Anak-anak di panti ini dipersiapkan untuk diadopsi pasangan suami istri yang minimal sepuluh tahun menikah tapi belum dikarunia keturunan. Mereka dibiasakan memanggil mama pada pengunjung perempuan, memanggil papa pada pengunjung laki-laki.

Yuyun mendaki tangga di gedung belakang, menyusuri koridor, berhenti di depan bingkai kaca berukuran besar yang terpajang di dinding. Dalam bingkai itu tersemat belasan foto bayi yang lahir antara tahun 2016 sampai 2017. Di samping masing-masing foto terdapat penjelasan identitas; nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, keterangan rujukan, penjelasan mengenai bayi titipan atau terlantar, tanggal masuk panti.

Mata Yuyun terpaku pada foto paling kanan baris kedua dari atas, seorang bayi perempuan bernama Dara Juwita, masuk panti ini tujuh bulan lalu. Ekor mata Yuyun menangkap kedatangan seorang ibu dan anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun di ujung lorong. Ia bergegas menuju ruangan yang setengah dinding bagian atas berlapis kaca. Pada bagian atas pintu tertutup terdapat papan petunjuk bahwa ini merupakan ruang khusus bayi usia nol sampai satu tahun.

Berdiri di balik dinding kaca, Yuyun menghirup aroma wangi badak bayi. Di dalam ruangan tembus pandang, belasan bayi tidur pulas dalam boks-boks berkerangka kayu bercat putih. Pada boks-boks bayi tertempel identitas masing-masing bayi. Tangis bayi terdengar dari boks di ujung ruangan. Seorang suster mendekatinya dengan sebotol susu. Suara tangis bayi itu redam.

Yuyun menggeser posisi saat seorang ibu dengan anak laki-laki berdiri di sampingnya. Seorang ibu yang rambutnya seperti habis disasak di salon, kulitnya putih, wajahnya bening dengan hidung yang mancung, bau badannya wangi lembut, blazernya terlihat mahal dengan sepatu hak tinggi sewarna dengan tas dan rok selutut.

“Bayi-bayi itu nggak punya ibu, nggak punya bapak. Nggak ada yang memeluk mereka sepanjang waktu,” sang ibu itu berkata pelan pada anak laki-lakinya, tapi Yuyun bisa menangkap jelas bunyi ujarannya.

Si anak laki-laki termangu. Ia punya seorang ibu yang memiliki seribu satu cara untuk membuatnya mengerti akan sesuatu.

Si ibu berkata lagi pada anaknya, “Mereka ada yang ditemukan di tempat sampah, di tepi jalan, ditinggalkan begitu saja di rumah sakit. Mereka tidak bisa memilih orangtua.”

Si anak tahu ibunya sedang sangat jengkel karena ia mogok sekolah selama dua minggu, hingga si ibu membawanya ke sini. Si anak tahu ibunya sedang berusaha membukakan matanya untuk melihat sisi lain dunia, sisi yang kelam, gelap, penuh kemalangan dan nasib buruk.

“Kamu punya orangtua lengkap, mendapat kesempatan belajar di sekolah terbaik, harusnya kamu bersyukur dengan cara rajin sekolah,” kata si ibu lagi.

“Pindah sekolah aja, Bun. Mereka terus membullyku, mempermalukanku,” akhirnya untuk pertama kali setelah puasa bicara sekian lama si anak menceritakan apa yang sesungguhnya ia alami di sekolah.

Si ibu merengkuh bahu anaknya, “Bunda akan menemui gurumu. Kita hadapi bersama-sama masalah ini.”

Si ibu membimbing anaknya pergi menjauh.

Yuyun termangu di balik kaca dengan wajah beku.

Pengunjung silih berganti datang. Ada yang sendirian, bersama teman, ada juga yang datang dengan pasangannya. Umumnya mereka bakal calon orangtua adopsi itu menghabiskan waktu lima sampai sepuluh menit kemudian beralih ke ruangan lain, lanjut ke ruangan khusus bayi usia satu sampai dua tahun, ruangan khusus bayi usia dua sampai tiga tahun, dan seterusnya. Tapi Yuyun belum beranjak dari tempat berdirinya semula.

Seorang perempuan berusia 45 berkulit gelap bersama anak lelaki usia 14 tahun berkulit terang berambut keriting merapat di samping Yuyun. Perempuan itu memakai busana panjang longgar dan kerudung merah yang ujung-ujungnya dililitkan di leher.

“Sebenarnya ibu ingin mengajakmu ke sini saat kamu berulang tahun ke tujuh belas,” si ibu berkata setengah berbisik.

“Apa pentingnya tempat ini buatku,” kata si anak lelaki dengan suara ketus.

“Penting. Sangat penting. Tuhan mengirimmu ke tempat ini untuk menjadi anak ibu.”

Si anak lelaki mundur selangkah, wajahnya mengeras.

Sang ibu menatap lembut ke dalam mata anaknya. “Seorang anak tidak harus lahir dari rahim kita sendiri. Ia bisa lahir dari hati. Pertama ibu melihatmu ketika masih bayi, ibu langsung jatuh cinta. Selama enam bulan ibu bolak-balik ke sini hampir tiap hari karena ingin cepat-cepat menggendongmu, memelukmu, memberimu susu, menidurkanmu. Ayahmu ikut ke sini pada hari Sabtu dan Minggu. Semua orang menyayangimu di sini, tapi ibu dan ayah ingin merawatmu di rumah. Selama masa penantian proses adopsi disahkan oleh hakim di pengadilan, ibu dan ayah menyiapkan segala sesuatunya di rumah layaknya menyambut seorang pangeran. Kamar untukmu, mainan, baju-baju. Ayah juga sudah membuat rekening tabungan khusus untuk menjamin pendidikanmu hingga perguruan tinggi,” sang ibu menghela napas.

Anak lelaki itu menelan ludah, matanya memerah.

Si ibu berkata lagi, “Hari-hari belakangan ini ibu sudah dua kali dipanggil ke sekolah karena kamu terlibat tawuran. Absensimu menunjukkan kamu berangkat sekolah tapi beberapa kali kamu tidak sampai ke sekolah. Ibu sangat mengkhawatirkanmu. Ibu ingin memastikan kamu baik-baik saja. Ibu berhasil meluluhkan hati ayahmu yang akhirnya memberikan persetujuan untuk membawamu ke sini. Bukan untuk apa-apa. Kami pikir, lebih cepat kamu mengetahui hal ini, kamu bisa segera memperbaiki diri, bisa membuka diri kalau ada apa-apa di sekolah atau di lingkungan pergaulan, agar ibu dan ayah bisa membantumu keluar dari masalah.”

Ibu itu meraih tangan anaknya, tapi si anak menepisnya, membalik badan, berjalan cepat ke arah tangga di ujung koridor.

“Tio,” sang ibu berseru sembari mengejar anaknya.

Yuyun menunduk dengan wajah bisu.

~~~

Di bagian samping sebuah toko grosiran, Yuyun terhimpit di antara gunungan kardus kosong terlipat. Ia mengambil satu demi satu, membukanya, memasang lakban di bagian bawah kemudian memberikannya pada orang-orang yang belanja dalam jumlah banyak untuk dijual lagi di warung di rumahnya masing-masing.

Pekerjaan melakban bagian bawah kardus itu biasanya ia tekuni dari pagi sampai sore, tapi menjelang istirahat siang ini pikiranya dipenuhi kabut. Sepertinya ia tak akan menuntaskan pekerjaan sampai selesai.

Seorang perempuan dengan rambut dikuncir bernama Ruroh, pelayan toko bagian dalam, menghampiri Yuyun. “Cari makan yuk.”

Yuyun masih memasang lakban. “Duluan aja. Nanti aku menyusul,” suaranya dingin.

Ruroh bergabung dengan beberapa pekerja toko menuju warung di pinggir jalan.

Lima menit kemudian Yuyun mengambil arah berbeda. Tapak-tapak kakinya berpijak pada trotoar, namun pikirannya melayang jauh ke belakang, ke masa paling gelap dalam hidup ketika ia kelas dua sekolah menengah atas dan tinggal di sebuah desa di Bengkulu.

Ayahnya sopir angkot dan pemabuk. Ibunya pedagang sayur di pasar, aslinya lembut tapi perangainya menjadi kasar karena tabiat suaminya yang jarang memberikan uang belanja, harus diminta dulu dan memberikanya pun jauh dari kata cukup. Ego ibunya yang merasa sebagai perempuan dan istri yang mestinya dinafkahi sering melecut ke depan, membuatnya sering marah-marah.

Suatu hari jam tiga dini hari ibunya sudah berangkat ke pasar, ayahnya datang dalam keadaan mabuk. Si ayah mendapati Yuyun sedang tidur pulas. Ayah itu melakukan pemerkosaan dan merekamnya dengan kamera ponsel. Yuyun menjerit-jerit dan memberontak, tapi tenaga ayahnya yang bertubuh besar dan gendut jauh lebih kuat. Si ayah itu menampar pipi Yuyun dengan sangat keras. Yuyun tak berdaya, air matanya mengalir tanpa suara. Jauh di kedalaman sana lebih menyakitkan lagi, air mata darah campuran rasa jijik, amarah, kecewa, sedih, dan segala emosi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Jangan cerita pada ibumu. Kalau sampai kamu cerita, kubunuh ibumu,” si ayah berkata dengan tatapan mengintimidasi.

Yuyun menutupi badannya dengan kain jarit yang sudah usang. Bibirnya gemetar, tangannya meremas sprei dengan kencang.

Si ayah bersendawa usai menenggak alkohol. “Mandilah. Tersenyumlah seperti biasanya. Jangan tunjukkan air matamu pada orang lain.”

Ketika ayahnya terkulai menggelepar di lantai, Yuyun mengeluarkan motor dengan pelan. Ia meluncur ke arah kota. Sepanjang jalan air matanya mengalir deras. Ia menjual motor dan kabur ke Jakarta dengan tujuan ke tempat Ruroh, teman yang ia kenal melalui jejaring pertemanan Facebook.

Yuyun menumpang di kamar kost Ruroh. Ia menceritakan apa yang dialami dan meminta Ruroh merahasiakannya. Ruroh menuruti kemauan Yuyun, bahkan mengajaknya bekerja di toko grosiran.

“Coba baca,” kata Ruroh suatu hari sembari menyodorkan ponselnya pada Yuyun.

Berita mengulas temuan sebuah yayasan yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak di Bengkulu. Yayasan itu mencatat sepanjang 2016 hingga triwulan pertama 2017 terjadi 176 kasus kekerasan seksual di Bengkulu. Di antaranya 115 kasus pemerkosaan terhadap perempuan, selebihnya merupakan korban pelecehan seksual. Dalam kasus pemerkosaan ditemukan 95 persen pelaku memiliki relasi personal dengan para korban.

Yuyun mengembalikan ponsel pada Ruroh dengan pandangan hampa. Ia tahu dua minggu sebelumnya anak tetangganya yang masih kelas tiga sekolah menengah pertama diperkosa ayahnya. Ia tak menyangka hal serupa menimpa dirinya.

Beberapa kali keinginan bunuh diri melintas di kepala Yuyun, tapi entah mengapa ia selalu tak punya keberanian untuk mewujudkannya. Sampai kemudian ia tahu ternyata pemerkosaan itu membuatnya hamil, Ruroh lah yang membantunya melewati hari-hari yang sulit.

Yuyun melahirkan bayi perempuan di Rumah Sakit Pasar Rebo. Ia dikuasai perasaan jijik mengingat bayi itu merupakan hubungan paksa sedarah. Usai muntah-muntah karena mual yang tak tertahankan, Yuyun menulis surat: Bayi ini bernama Dara Juwita. Saya tak sanggup merawatnya. Semoga bayi ini mendapatkan orangtua yang menyayanginya dengan tulus.

Ia letakkan kertas surat itu di bantal kemudian lari ke luar sebelum suster datang pertama kali membawa bayinya untuk menyusu padanya.

Sejak itu dan hari-hari berikutnya Yuyun memantau perkembangan berita terkait bayi perempuan yang ditelantarkan ibunya di rumah sakit. Bayi itu dilaporkan ke polisi kemudian dikirim ke panti asuhan khusus balita.

Yuyun ingin mengingkari keberadaan bayi itu, tapi tak bisa. Dengan pikiran berkecamuk, ia naik ke jembatan penyeberangan. Berdiri tepat di bagian tengah, matanya melihat ke bawah, mereka-reka berapa meter ketinggian. Apakah sakit ketika ia melayang ke bawah. Apakah ia akan langsung mati ketika badannya berbenturan dengan aspal. Apakah ia akan terlindas mobil atau jatuh di atap mobil yang sedang melintas.

Banyak orang lalu lalang di jembatan penyeberangan yang terhubung ke halte TransJakarta. Tak ada yang memperhatikan Yuyun. Tak ada sesuatu yang istimewa dari Yuyun yang harus menjadi perhatian. Sepintas tak ada bedanya ia dengan beberapa orang yang juga berdiri menikmati pemandangan kota.

“Ibu, apakah kamu merindukanku?” gumam Yuyun kepada angin.

Ibunya yang membanting tulang dan berharap pada Yuyun anak sematawayangnya kelak mampu mengangkat derajat keluarga. Ibunya yang sering ngomel, tapi sesungguhnya menyimpan kelembutan dan kesabaran. Buktinya walau punya suami berperangai buruk, ia tak lari dari rumah seperti dilakukan seorang tetangganya.

“Bagaimana pun keadaan jodohmu nanti, apakah lapang rezekinya atau sempit rezekinya, kamu perempuan harus mandiri. Karena kita tidak pernah tahu ke depannya akan seperti apa. Umur orang tak ada yang tahu. Kita harus siap menghadapi apa pun yang terjadi,” tutur ibunya suatu hari saat suasana hatinya sedang baik.

Saat suasana hati lagi buruk, ibunya pernah menenteng palu ke kamar, nyaris mengayunkannya pada suami yang tidur pada saat orang-orang umumnya sedang bekerja. Ibunya itu kemudian kembali ke dapur, meraup paku di bawah meja, memukul-mukulkan palu pada paku yang menancap di dinding untuk menyalurkan amarahnya.

“Aku telah menikahi iblis,” gerutu ibunya di antara suara palu yang berdebum.

Yuyun merasa lapar dan ingin makan, ‘Ternyata aku masih punya keinginan, makan nasi hangat, urap dan peyek udang sepertinya enak. Bunuh diri bisa menunggu besok.’

Ia menuruni tangga jembatan, melongok mencari warung tegal, tapi yang terjangkau matanya rumah makan padang. Kakinya melangkah ke depan dan berhenti di depan kantor Polsek. Beberapa detik kemudian ia bergegas ke dalam kantor polisi itu.

“Ada yang bisa dibantu?” seorang petugas mempersilakannya duduk.

“Saya ingin melaporkan kejahatan yang telah dilakukan ayah saya.” []

 

_______

*Cerpen ini sebelumnya sudah diunggah di Locita.co

Advertisements

Pabrik Kembang Api

Pabrik Kembang Api

Lelaki berbadan tegap berambut cepak itu berlari di tepi jalan di antara deretan pabrik di kawasan Kosambi, Tangerang. Kaos putih membungkus ketat badannya yang berotot dan berkeringat. Ia berlari dengan menjaga kewaspadaan karena jalanan yang tidak terlalu lebar itu penuh dengan kendaraan yang lalu lalang, tak ada trotoar yang nyaman, hanya pinggiran tanah yang kadang dilewati pengendara motor yang tak sabar.

Saat melintasi sungai dangkal yang penuh sampah lelaki itu melambatkan larinya, matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Tiga meter di depan sana seorang perempuan bertubuh mungil memakai celana jins dan atasan kembang-kembang. Perempuan berkulit coklat itu berjalan terhuyung dan jatuh. Lelaki itu berlari mendekatinya. Ia jongkok, mengamati sebentuk wajah yang pucat. Ia angkat tubuh perempuan itu dengan kedua tangannya, berlari menuju warung terdekat.

“Minta teh hangat, Bu,” lelaki itu berkata pada pemilik warung sembari menurunkan tubuh perempuan di bangku panjang.

Si perempuan memaksa diri bangkit duduk dengan wajah tertunduk.

“Kamu kenapa? Rumahmu di mana?” si lelaki jongkok di depannya.

Sebelum perempuan itu membuka mulut, si ibu pemilik warung muncul dengan segelas besar teh hangat. Perempuan itu meneguknya hingga tuntas.

Si lelaki memesan sepiring nasi, ayam goreng dan sayur lodeh. Perempuan itu melahapnya dengan sangat cepat seperti sebulan tak pernah makan. Wajah pucat si perempuan berangsur normal.

“Tambah lagi?”

Si perempuan menggeleng lemah. “Enggak.”

Lipstik merah menyala dan kawat gigi tak bisa memanipulasi bahawa perempuan itu masih anak-anak.

“Kamu dari mana? Mau ke mana?” lelaki itu diliputi rasa ingin tahu yang mendalam.

“Dari pabrik. Mau pulang,” perempuan itu melirik sekilas pada si lelaki.

“Dari pabrik? Ngapain?”

“Kerja.”

“Kamu kerja? Usia kamu berapa?”

“15 tahun.”

Si lelaki tercekat. “Kamu tahu pemerintah melarang pengusaha mempekerjakan anak-anak?”

Perempuan itu menggeleng.

“Pengusaha yang ketahuan mempekerjakan anak-anak bisa dipenjara.”

Perempuan itu terdiam.

“Di mana kamu kerja?”

“Pabrik kembang api.”

“Oh di situ,” si lelaki menghela napas. “Banyak bahan kimia pasti di situ. Anak-anak bolehlah kerja yang ringan, tapi kalau ada bahan kimia itu berbahaya. Banyak anak yang kerja di situ?”

“Banyak. Ada yang lebih muda dari aku, 14 tahun.”

“Perempuan semua?”

“Anak laki-laki juga ada. Rame-rame, ada anak-anak sampai bapak-bapak dan ibu-ibu yang tua-tua.”

Mata si lelaki agak melebar. Ia baru dua hari tinggal di daerah ini. Ia adalah bagian dari 200 personil Brimob Polda Kalimantan Barat yang diperintahkan untuk BKO di Polda Metro Jaya. Kebetulan BKO Brimob Kalbar ditempatkan di Polres Tangerang Kota. Anggota Brimob itu ditempatkan di dua lokasi. Sebanyak 100 personil di Polsek Benteng Tangerang, 100 personel lainnya di Teluk Naga. Anggota Brimob termasuk lelaki itu yang bertugas di Polsek Teluk Naga tinggal di sebuah GOR dekat lokasi pabrik kembang api.

“Namamu siapa?” si lelaki mengulurkan tangan.

Sejenak ragu perempuan itu akhirnya menjabat tangan si lelaki sembari menyebut namanya Hanah.

“Saya Argo,” si lelaki tersenyum dengan matanya. “Rumahmu masih jauh dari sini?”

“Lumayan. Jalan kaki setengah jam sampai.”

“Kamu jalan kaki?”

Hanah mengangguk, sejurus kemudian ia tersenyum samar. “Tiap hari aku pulang pergi dari rumah ke pabrik selalu jalan kaki.”

“Oh ya? Berapa jam kamu kerja?”

“Dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore.”

“Kamu nggak sekolah?”

‘Andai aku punya pilihan,’ kata Hanah dalam hati. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Hanah bangkit berdiri, “Terima kasih telah menolongku, terima kasih untuk makanannya.”

Hanah bungsu dari lima bersaudara, ayahnya telah lama tiada, ibunya buruh kasar, mencari penghasilan dari suruhan mencuci baju para tetangga. Uang ibunya sering tidak cukup untuk membayar tagihan listrik dan air. Kelas 2 SMP Hanah berhenti sekolah, pernah kerja di pabrik mainan, terakhir ini baru seminggu yang lalu Bude Garti mengajaknya kerja di pabrik kembang api dengan upah Rp 40 ribu sehari yang dibayarkan tiap akhir pekan. Hari pertama masuk kerja Kamis, ketemu Sabtu Hanah mendapat upah Rp 120.000. Ia gunakan uang itu untuk membeli pulsa dan makanan di restoran cepat saji, sisa sedikit untuk membeli beras. Uangnya habis. Hari ini ia hanya makan sekali tadi pagi di rumah, lelah kerja sampai sore dan kelaparan membuat perutnya melilit, kepala pusing dan mata berkunang-kunang. Ia pasti pingsan kalau tidak segera ditolong Argo tadi.

Setelah membayar pada pemilik warung, Argo berlari menyusul Hanah yang sudah berjalan cepat di depan sana.

“Aku nggak apa-apa, bisa pulang sendiri,” Hanah merasa agak canggung.

“Saya ingin mengenal penduduk di sini. Boleh kan?”

“Memang Bapak orang mana?”

Argo yang masih lajang di usia 35 tahun itu merasa jengah dipanggil Bapak. Sebutan itu selalu membuatnya ingat betapa tuanya dia. Ia satu-satunya jomblo dalam geng lingkaran pertemanan terdekatnya, sering menjadi korban bully dari para sahabatnya. Banyak olok-olok sudah ia terima, di antaranya, ‘Tenang bro, jodohmu pasti ada tapi belum dilahirkan.’

“Oh, saya orang baru di sini,” Argo memberi isyarat tangan saat membaca gerak tubuh Hanah akan menyeberang jalan.

Keduanya memasuki wilayah Kampung Salembaran, Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Tangerang. Argo mengangguk sopan pada beberapa warga yang memperhatikannya. Setelah melewati jalanan rusak yang lebarnya hanya setengah meter, langkah kaki mereka sampai di rumah orangtua Hanah yang sempit, berdinding kusam tanpa jendela, terselip di antara rumah tetangga kanan-kiri depan-belakang yang juga berhimpit-himpitan.

Sanah ibunya Hanah memakai daster lusuh, kulitnya gelap terbakar matahari, wajahnya kering namun senyumnya hangat. Ia mempersilakan Argo duduk di lantai. Ada televisi 14 inch di atas dipan, kasur dekil yang terlipat, dapur terbuka dengan wajan dan panci yang sudah hitam bagian bawahnya.

Ketika Hanah mandi, Argo mengorek keterangan pada Sanah, banyak hal tentang Hanah dan terkait keadaan keluarga ini. Ia juga menceritakan siapa dirinya.

“Boleh saya sering main ke sini, Bu?” Argo menyesap teh hangat buatan Sanah.

Sanah merasakan intuisi tertentu, sebuah firasat yang menggembirakan. “Boleh, Nak. Tentu boleh.”

Hanah setelah mandi tampak segar, wajahnya tidak cantik, tapi manis dengan senyum yang menyenangkan. Ia menyenderkan punggung pada kasur lipat sembari mengutak-atik telepon selular.

“Kamu mau melanjutkan sekolah kalau ada kesempatan?” Argo menatap ke dalam mata Hanah.

Hanah melirik sekilas pada ibunya, melihat Argo kemudian kembali mengutak-atik ponsel. “Mau.”

“Berdoa aja. Jangan pernah kehilangan harapan.”

Walau merasa keinginan untuk sekolah lagi itu terasa di awang-awang, Hanah memaksa diri untuk mengangguk.

“Saya akan carikan jalan supaya kamu bisa sekolah lagi.”

Hanah meletakkan ponsel di sampingnya. “Sungguh?”

“Ya.”

Argo meninggalkan rumah Hanah dengan perasaan berbeda. Keinginannya tumbuh dengan cepat. Ia berpikir mungkin Hanah adalah jodohnya. Tak mengapa bila ia harus menunggu beberapa tahun. Atas nama cinta, perbedaan usia 20 tahun bukan masalah besar.

Malam usai makan bersama seluruh anggota Brimob di sebuah ruangan besar, Argo dan seorang rekan sekamarnya bernama Ghani mencari udara segar di halaman depan. Lampu jalan tak terlalu terang, tapi Argo bisa melihat pintu gerbang pabrik kembang api yang bercat hitam. Di antara beragam obrolan, Argo sempat menyinggung tentang Hanah.

“Menafkahi nggak harus menikahi,” celetuk Ghani, ayah tiga anak dengan nada menggoda.

“Slogan itu cocok buat yang mau poligami. Atau, mungkin itu nasehat yang pas buat kamu, Ghani?” Argo tergelak.

“Hahaha…. Kamu benar. Tapi kalau kamu nggak naksir anak itu, apa kamu terpikir untuk mempedulikan sekolahnya?” Ghani mengusap perutnya yang agak melar.

Argo diam sesaat. “Yup. Bisa jadi saya nggak peduli. Begitu banyak anak putus sekolah. Hal yang terjadi di mana-mana di banyak daerah di seluruh penjuru negeri ini.”

~~~

Pagi mendekati jam 8 jalanan di kawasan pabrik sangat sibuk. Para pekerja berdatangan dari dua arah, kebanyakan mengendarai sepeda motor, bercampur dengan anak-anak berseragam putih biru karena ada gedung SMP dekat area pabrik.

Hanah berjalan cepat melintasi lahan kosong yang ditumbuhi rumput liar yang berada di sisi kanan pabrik kembang api. Ia menoleh saat mendengar namanya dipanggil dari balik punggung. Seorang perempuan pengendara motor dengan wajah tertutup helm berhenti. Hanah mengenal perempuan itu, namanya Rum asal Jawa Timur. Sama sepertinya, Rum juga baru seminggu kerja di pabrik kembang api. Rum bersama suami dan satu anak laki-lakinya tinggal di rumah kontrakan di Gang Putri.

Hanah duduk di jok belakang motor Rum. Motor melaju perlahan memasuki pintu gerbang berbelok ke arah parkiran yang sudah penuh dengan mobil petinggi pabrik dan motor pekerja. Bergerak memutar, Rum mendapat tempat parkir di pojok sebelah kiri.

Area di dalam pabrik yang dikelilingi tembok tebal dan tinggi itu cukup luas, tertutup rapat dengan atap seng, hanya ada satu pintu gerbang di bagian depan.

“Hari Minggu datang ke rumahku ya,” Rum melepas helm. “Anakku ulang tahun.”

“Asyik bakal makan enak,” Hanah membetulkan posisi tali tas yang menyelempang di pundaknya.

“Masak sendiri aja kok, tapi dijamin enak,” Rum tersenyum sembari merapikan jilbab birunya.

Keduanya berjalan ke arah gudang di antara lalu lalang pekerja yang bersiap untuk menempati posnya. Hanah dan Rum sama-sama bertugas di bagian pengepakan, bedanya Hanah masuk dalam kelompok pengepakan di dalam gudang, sedangkan Rum dalam kelompok pengepakan di luar gudang. Bagian pengepakan ini hampir semuanya dikerjakan perempuan.

Hanah duduk di samping Bude Garti, di sebarangnya seorang ibu dan dua anak perempuan berusia 14 dan 16 tahun. Tangan anak-anak itu cekatan memasukkan kembang api kawat dalam kemasan kertas merah, sedangkan Bude Garti dan seorang ibu lagi bagian menutup kemasan dengan lakban.

Seorang laki-laki berkulit putih berkemeja rapi, penanggung jawab pabrik, berjalan perlahan mengawasi proses produksi. Ia menegur seorang pekerja yang lamban. Seseorang mendekatinya.

“Panggil Tarto,” kata lelaki berkemeja rapi pada seseorang yang melaporkan sesuatu padanya itu.

Tarto seorang tukang las. Ia muncul dengan tubuh kurusnya.

“Ada kerusakan di gudang bagian atas, kamu bereskan itu,” perintah si lelaki berkemeja rapi.

“Sekarang lagi produksi, Pak. Apa nggak sebaiknya pas hari libur saja?” Tarto menebar pandang ke seluruh gudang.

“Lakukan saja.”

Tarto bergegas ke bagian belakang gudang, mengambil peralatan, menegakkan tangga, memanjat hingga ujung teratas. Ia mengelas sambungan besi yang tidak merekat sempurna. Percikan api dari las menyambar empat ribu kilogram bahan baku kembang api.

Saat Tarto menuruni tangga, bahan baku kembang api itu meledak, api menyambar ke segala arah, ruangan sangat panas, Tarto terguling bersama tangga. Semua pekerja dalam gudang terkepung api, banyak di antara mereka termasuk Hanah nekat menerjang api menuju pintu ke luar. Ada yang jatuh terinjak-injak.

Lidah api menjilati apa saja hingga ke luar gudang, bertemu bensin yang tersimpan dalam mobil dan motor di parkiran, memicu ledakan-ledakan berikutnya.

Rum dan puluhan perempuan dengan baju berkibar api berlari ke samping kiri, menyeburkan diri ke kolam limbah cairan kuning pekat dan berbau tajam, berpegangan pada paralon. Rum melompat ke luar dari kolam, memanjat tembok dengan mengaitkan jempol kaki pada panel.

Jalanan depan pabrik dipenuhi warga sekitar yang melihat asap tebal membubung tinggi menyelimuti pabrik kembang api. Anggota Brimob yang sedang apel membubarkan diri, serentak berlari ke arah pabrik kembang api.

Para pekerja menggedor-gedor pintu gerbang, berteriak-teriak minta tolong.

Argo, Ghani, dan beberapa temannya menerjangkan badan ke pintu gerbang yang terkunci hingga pintu besi itu jebol. Puluhan orang dengan pakaian compang-camping bahkan ada yang bertelanjang dada berlarian ke luar, menghambur ke jalanan.

“Masih banyak yang di dalam! Masih banyak yang di dalam!” seorang lelaki dengan wajah berlapis asap hitam menuding-nudingkan telunjuknya.

Seorang warga melepas jaket, memakaikannya pada perempuan bertelanjang dada yang punggungnya terluka bakar.

Argo merangsek ke dalam, menerjang api, menggendong seorang ibu yang terjatuh. Sebagian personel Brimob dengan martil seadanya dari warga sekitar berusaha menjebol tembok pabrik sebelah kanan, membongkar atap seng. Seorang anggota Brimob menangkap tangan yang menggapai-gapai di balik atap seng. Itu tangan Rum. Tubuh Rum diturunkan, ditangkap anggota Brimob yang bersiaga di bawah. Rum berlari di rerumputan hingga dengkulnya lemas. Mendekati jalan raya ia jatuh pingsan.

Di bagian dalam pabrik, kobaran api menjilati baju Argo yang matanya menatap nyalang ke segala arah yang berselubung asap. Ghani menarik tangan Argo, membawanya mundur menjauh, memadamkan api di baju Argo.

“Hanah,” gumam Argo dengan mata nanar. Sudah banyak orang yang ia keluarkan, tapi ia belum melihat keberadaan Hanah

Satu setengah jam kemudian muncul iring-iringan sebelas mobil pemadam. Api berhasil dipadamkan tepat jam 12 siang. Kantung-kantung jenazah dipersiapkan. Sepasukan polisi memeriksa gudang bagian dalam, mayat gosong seperti arang bertebaran dimana-mana.

Warga dan personel Brimob mengangkat korban luka-luka ke dalam ambulans.

“Kamu harus segera ke rumah sakit,” Ghani melirik lengan kiri Argo yang terbakar.

Raga Argo seperti terpisah dari jiwanya, dengan jalan agak pincang matanya mengamati satu persatu korban kebakaran yang selamat yang berserak di sudut-sudut jalan. Ia berharap satu di antara mereka adalah Hanah. []

 ___

*Cerpen ini didedikasikan untuk mengenang para korban kebakaran pabrik kembang api di Kosambi, Tangerang, yang terjadi pada Kamis 26 Oktober 2017

*Sebelumnya sudah diunggah di Locita.co

Belajar Menulis pada JK Rowling

Setelah mangkrak dua tahun lebih (sampai ujung-ujung kertasnya kecoklatan dimakan panas, hujan, debu), akhirnya tergerak juga membaca buku ini, The Cuckoo’s Calling : Dekut Burung Kukuk. Satu dua tiga hari selesai. Sebuah novel kriminal karya Robert Galbraith yang tak lain dan tak bukan adalah JK Rowling. Ternyata sangat mengasyikkan dalam keseluruhan proses membacanya. Seruuuuu.
 
Cerita dibuka dengan terjadinya sebuah peristiwa besar, sebuah kasus yang nantinya akan dipecahkan oleh seorang detektif partikelir dalam lembar-lembar berikutnya. Cara menuliskannya sangat menyenangkan untuk diikuti. Membaca buku ini serasa melihat gambar bergerak, seperti menonton film.
 
TOKOH DAN KARAKTER
Penokohannya sangat kuat. Dari segi gambaran fisik maupun psikis. Tak ada karakter yang sempurna. Penyampaiannya lentur. Tidak kaku. Cara berpikir para tokoh bisa tergambarkan dengan baik. Apa yang dirasakan para tokoh juga tersampaikan dengan manis.
 
KONFLIK
Ada satu konflik besar dan konflik-konflik kecil yang menarik. Arus cerita menuju pada pemecahan konflik besar, dan sepanjang cerita konflik-konflik kecil antartokoh dimunculkan dengan apik. Setiap tokoh punya masalah. Tak ada satu pun yang bebas dari masalah.
 
DIALOG
Setiap tokoh mempunyai rasa bahasa yang berbeda satu sama lain ketika berdialog. Masing-masing punya ciri khas. Pilihan kata dan rangkaian kalimat disesuaikan dengan karakter.
 
SETTING
Tempat, benda-benda, dideskripsikan dengan detail. Ditulis dengan cara disebar melalui daya tangkap dan pengamatan tokoh-tokoh.
 
PLOT TWIST
Banyak kejutan di sekujur tubuh cerita. Semua tokoh terkait ditampilkan memiliki kemungkinan sama besar melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus utama.
 
ENDING
Akhir cerita dieksekusi dengan sangat menawan. Seseorang yang sepertinya paling tidak mungkin melakukan sesuatu karena beberapa sebab, ternyata bisa menjadi sangat mungkin.
 
Aaahhh… kembali melihat naskah sendiri, yang mandek, yang jalan di tempat, yang nggak maju-maju… duuuh bisa nggak ya menulis sekeren itu *curcol :)))))
 
Yang udah baca novel ini, bagaimana kesan Anda? Akan disimak dengan senang hati komentarnya.
 
#InspirasiMenulisNovel

Belajar Menulis pada Ahmad Tohari

Ketika membaca novel trilogi ini, sejak membuka halaman pertama tidak mau berhenti kecuali karena harus melakukan kegiatan yang tidak bisa ditunda. Sinyal bahwa ini novel bagus. Terus… terus… dua hari diselang-seling melakukan ini-itu, selesai. Kemudian seperti ada yang hilang. Kenapa sudah selesai *speechless. Sebuah perjalanan membaca yang sangat emosional, hingga air mata tak bisa dibendung pada bagian-bagian tertentu. Perasaan seperti dibanting-banting. Ngilu.
 
Walaupun cara penulisan berubah-ubah, kadang sudut pandang orang ketiga kadang orang pertama, itu tidak terlalu mengganggu, bisa diterima. Dan secara menyeluruh terasa novel ini ditulis dengan segenap indera.
 
Alam pedesaan, binatang, aktivitas binatang, tumbuh-tumbuhan dilukis dengan warna-warna yang tajam. Jalinan antar cerita begitu padu menjadi satu kesatuan yang utuh dalam tiga buku: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala.
 
Selain gambaran alam yang memukau, keunggulan menonjol pada novel ini adalah adanya ketegangan, alur cerita tidak mudah ditebak, penokohan tidak hitam-putih. Tokoh protagonis tidak selalu putih, tokoh antagonis tidak selalu hitam. Mungkin karena begitu manusiawi, begitu alamiah, sehingga novel ini mampu menyentuh kesadaran manusia yang paling dalam.
 
Tentang ronggeng sendiri terasa absurd, terutama bagi yang belum tahu atau belum pernah mendengarnya, tapi ternyata ada atau mungkin pernah ada. Persinggungan tokoh-tokoh utama dengan peristiwa tregedi kemanusiaan 1965 ditulis secara mengalir alamiah, tidak mengesankan dibuat-buat. Ketika membaca novel serasa membaca kisah nyata, disitulah letak keberhasilan pengarangnya.
 
Rasanya akan menyesal jika melewatkan satu kata pun dalam novel ini. Ahmad Tohari memang layak mendapat gelar sastrawan. Beruntung telah membaca novel ini, walaupun mungkin bisa disebut terlambat mengingat sejarah tahun penerbitan awalnya.
 
Pasti ada yang bisa menggambarkan jauh lebih baik tentang kehebatan novel ini. Yang sudah membaca novel ini, bagaimana pendapat Anda?
 
#MustRead #InspirasiMenulisNovel