Membaca Ulang dalam Proses Editing

1

Foto ilustrasi: DivergentSeries

Seiring perjalanan waktu menulis novel, lalu membaca kembali tulisan yang sudah kita buat sendiri, akan timbul kepekaan. Misalnya akan muncul pertanyaan, “Apakah alurnya tidak terlalu terburu-buru?,” atau, “apakah alurnya tidak terlalu lambat?” atau, “Kenapa tidak bisa detil?” atau, “Kenapa karakter si tokoh tidak keluar?” atau, “Kenapa sulit sekali menggambarkan ciri fisik tokoh-tokoh?” atau, “Kenapa rasanya malas sekali membuat detil?” dan sebagainya pertanyaan-pertanyaan otokritik yang berguna untuk memperbaiki tulisan sendiri dalam proses editing.

Melelahkan? Iya kadang-kadang. Tapi, semua itu harus dilalui. Kalau kita malas membaca tulisan sendiri, bagaimana dengan orang lain, apa tidak lebih malas membacanya. Seburuk apa pun tulisan di tahap pertama, akan selalu ada gunanya. Tulisan awal adalah bahan mentah. Seperti orang yang mau memasak, tanpa bahan mentah, tidak akan ada yang bisa dimasak.

Tidak ada cerita sekali memasak langsung enak. Sebuah resep mesti melalui beberapa kali uji coba hingga menghasilkan formula yang pas. Mungkin ada kasus khusus yang sekali jadi, tapi pasti ada penjelasan untuk hal semacam itu.

Yang penting disadari. Semakin banyak menulis, kita akan semakin tahu kekurangan/ kelemahan kita, kelebihan/ kekuatan kita. Memang tidak akan pernah ada tulisan yang sempurna. Tapi, kita tidak bisa menyembunyikan kemalasan/ keengganan di balik klaim tersebut.

Memang menulis adalah perjalanan individual. Kita sendiri yang tahu yang sejatinya di balik sebuah tulisan.

Menarik menyimak proses yang harus dilalui Veronica Roth dalam penciptaan Divergent.

Dalam pengantar FOUR, Roth bercerita:

“Awalnya aku menulis Divergent dari perspektif Tobias Eaton, seorang bocah lelaki Abnegation yang mengalami masa sulit dengan ayahnya dan mendambakan bisa bebas dari faksinya.

Aku mengalami kemacetan setelah menulis tiga puluh halaman karena naratornya tak cocok dengan cerita yang ingin aku kisahkan.

Empat tahun kemudian, saat aku membaca kisah ini lagi, aku menemukan karakter yang tepat untuk mendorong kisah ini agar terus maju. Kali ini seorang gadis Abnegation yang ingin menemukan dirinya. Tapi, Tobias tak pernah menghilang – dia masuk ke cerita sebagai Four, instruktur, teman, kekasih, dan pasangan setara Tris.

Four selalu menjadi karakter yang ingin aku kembangkan karena dia selalu terasa hidup bagiku saat dia muncul di tulisan. Dia sangat kuat bagiku terutama dari caranya terus mengatasi kesulitan, dan bahkan di beberapa kesempatan, dia justru berkembang karena kesulitan itu.”

Dengan membaca pengalaman Roth, semoga proses editing menjadi masa-masa yang tidak kalah menyenangkannya dengan proses penciptaan cerita di awal.

Happy Writing!

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)| 13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik | 6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter | 3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s