Seni Menulis Novel: Mengembangkan Jalan Cerita

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Pernahkah Anda merasa kesulitan mengembangkan jalan cerita? Saya pernah, sering dan sampai sekarang pun kadang mengalaminya. Merasa kesulitan mau dibawa kemana lagi ya ceritanya supaya jalannya menjadi panjang, panjang dan panjang.

Jalan cerita awal sudah dibuka, ending-nya sudah ditentukan, tapi kan di tengah perjalanan itu si tokoh-tokoh harus dibuat berjalan kesana kemari supaya ceritanya panjang, supaya ceritanya bercabang-cabang, tidak linear, supaya seru, supaya ada yang diceritakan.

Untuk memecahkan kesulitan tersebut, saya berusaha mengenali karakter dasar tulisan saya. Saya berangkat dari tulisan-tulisan pendek, terbiasa menuliskan hal-hal pokok yang esensial saja. Buat saya, jalan cerita tidak terlalu penting. Tapi ketika saya memutuskan menulis novel, saya harus menganggap penting jalan cerita. Kalau tidak, tulisan saya akan mandek di tengah jalan, tidak bergerak kemana-mana.

Dibutuhkan keberanian untuk menggores dan terus menggores agar cerita yang sudah dimulai itu berkembang hingga garis finish di 50 ribu kata (standar fisik novel). Memang kuantitas halaman bukan segala-galanya, tapi kalau kualitas isi dan kuantitas halaman diusahakan tampil secara maksimal dan beriringan, tentu itu akan mendatangkan kepuasan batin tersendiri.

Di meja saya sekarang ada novel terbaru J.K. Rowling, The Cuckoo’s Calling: Dekut Burung Kukuk, 520 halaman: 23 cm. Baru saya baca beberapa halaman, dan terkagum-kagum dengan kemampuan detil penulisnya dalam bercerita.

Saya percaya, salah satu cara melatih kemampuan mengembangkan jalan cerita dalam novel adalah dengan membaca novel tebal yang detilnya mengagumkan.

Dengan cara itu, semoga impuls-impuls saraf di kepala terbuka, semakin lebar dan semakin luas jangkauannya, sehingga terbawa refleks dalam menulis yang detilnya lebih baik dari waktu ke waktu.

Satu lagi, kadang dalam proses mengembangkan cerita, seperti berhenti di persimpangan jalan. Mau dibawa kemana ya si tokoh A ini misalnya, rasanya mau ke sana deh, tapi… enaknya ke sini deh. Pernah mengalami hal demikian? Saya pernah. Kalau terjadi hal seperti itu, pilih saja salah satu dan jalan. Yang penting adalah jalan. Jangan sampai gara-gara itu, proses menulis malah berhenti. Tentukan saja pilihan dan jalan.

Selamat jalan!

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing | 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s