Seni Menulis Novel: Menciptakan Alur yang Dinamis

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Suatu kali saya menonton sinetron atau FTV (film televisi), lupa, judulnya apa juga lupa. Tokoh-tokohnya itu duduk terus ngobrol, lamaaa banget. Kesan yang saya tangkap adalah alur yang statis dan membosankan. Saya tidak tahan untuk meneruskan acara menonton. Rasanya pengin mengunyah remote control saking bosannya, eh nggak ding 🙂 cukup matikan teve, masalah selesai.

Kali lain saya menonton film Hollywood, lupa judulnya, tapi rata-rata yang saya tonton itu menyajikan alur yang dinamis. Tokoh-tokohnya itu tidak cuma diam terus ngobrol, tapi ada aktivitas yang menyertai obrolan itu. Misalnya saja berjalan terburu-buru ke arah dapur, kemudian terima telepon sambil mencuci piring. Ya seperti itu, tampak sibuk, tampak dinamis. Saya suka yang model kedua ini.

Dalam membuat novel, kita punya wewenang penuh. Mau bikin alur statis, silahkan. Mau bikin alur dinamis, silahkan juga. Suka-suka aja 🙂

Contoh alur yang dinamis:

Suatu sore di musim dingin, Panji meninggalkan hotel…. Pergi ke toko yang khusus menjual bahan makanan dan rempah-rempah asli Indonesia. Panji membeli bawang putih, bawang merah, cabe rawit, sawi hijau segar, terasi, bakso, dan sosis. Panji juga membeli daging yang akan dibuat rendang khas restoran Padang. Khusus sore ini, Panji janji pada Salwa untuk membuatkan nasi goreng.

Setelah membayar di kasir, Panji kembali lagi ke dalam toko. Dia hampir lupa, Salwa minta dibawakan sepuluh bungkus mi instan. Panji berjalan ke deretan rak aneka makanan instan, mengambil sepuluh bungkus mi instan, memasukkannya dalam keranjang.

Di apartemen yang terletak di…. Salwa tinggal bersama Larasati. Sore ini Larasati sedang pergi ke rumah Charles, sepupunya di……

Salwa menyiapkan nasi di dapur. Dan ketika bel berdentang, dia tahu Panji yang datang. Salwa berlari membukakan pintu.

“Met sore, Sayang,” Panji tersenyum cerah, dan mengangkat dua tentengan belanjaan tinggi-tinggi.

“Sore,” Salwa membalas senyuman sang pangerannya itu, menutup pintu dan membantu membawakan tentengan belanjaan ke dapur.

Panji melepas jaket dan meletakkannya di tiang gantungan di pojok ruangan, kemudian bergegas menyusul Salwa di dapur.

“Doa restu orangtua itu penting, Salwa,” ujar Panji sembari mengiris bawang merah.

“Sudah tahu. Tapi, doa restu dari orang tua macam apa?” perhatian Salwa tetap pada sosis yang sedang diirisnya.

“Kamu tidak suka perbuatan papimu, itu bagus. Tapi, kamu jangan membenci papimu,” Panji mengupas bawang putih.

“Apa aku tampak membencinya?” selesai mengiris sosis, Salwa lanjut mengiris bakso.

“Kamu tidak pernah menemuinya. Artinya apa? Papimu harus tahu kita akan menikah,” Panji memasang wajan di atas kompor, memasukkan mentega ke dalamnya, menyalakan kompor.

“Kamu sudah tahu keadaan papiku,” Salwa memberikan wadah berisi bumbu yang sudah diiris-iris pada Panji.

“Setidaknya, kita akan menemuinya sebelum hari H,” Panji memasukkan semua bumbu itu ke dalam wajan yang menteganya sudah mencair, dan mengoseng-ngosengnya.

“Dia tidak akan mengerti. Percuma. Dia tidak mengenali siapapun, bahkan dia tidak mengenal dirinya sendiri,” Salwa memberikan wadah berisi irisan bakso dan sosis pada Panji.

“Tidak apa-apa. Kita akan temui dia,” Panji memasukkan semua irisan bakso dan sosis ke dalam wajan.

Salwa memasukkan irisan sawi hijau ke dalam wajan. Panji mengoseng-ngosengnya. Setelah semua layu, Salwa memasukkan nasi ke dalam wajan. Panji mengaduk-aduknya hingga bumbu dan semua bahan meresap. Aroma harum dari nasi goreng yang mengepul-ngepul memenuhi ruangan dapur. Panji mematikan kompor.

“Apa aku anak durhaka?” Salwa murung sembari mengambil dua piring dan sendok garpu dari rak.

Panji mendekati Salwa, memeluk pinggangnya dari belakang, “Enggak, Sayang. Kamu hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan,” bisik Panji ke telinga Salwa.

Dalam hati, bertambah kekaguman Salwa pada Panji, lelaki yang ditemuinya di sebuah seminar pariwisata di Amsterdam setahun silam. Lelaki yang menyihirnya, yang membuatnya jatuh cinta sekaligus ketakutan pada pandangan pertama.

Dalam seminar bertema…. itu, Panji adalah salah satu pembicara bersama beberapa pembicara dari berbagai negara.

Di depan audiens, Panji menjelaskan kekayaan pariwisata Indonesia. Pada layar proyektor, dia menunjukkan berbagai tempat wisata di tanah air yang direkomendasikan untuk dikunjungi.

Salwa duduk bersama ratusan peserta seminar. Salwa yang bekerja di perusahaan travel, merasa penting untuk mengikuti seminar itu. Salwa senang melihat kepiawaian Panji dalam memberikan presentasi. Panji tampak menguasai apa yang dia sedang bicarakan. Diam-diam, kerinduan pada Indonesia mengusik hati Salwa.

Salwa ingat betapa menyenangkannya liburan di Bali bersama Larasati dan Danu. Kala itu Salwa yang baru berusia tujuh tahun sedang diajari berenang oleh Danu. Mengapung di atas air dengan ban yang menyangga badannya, tangan Salwa bergerak-gerak cepat membelah air, sebagian air itu mengenai mata Danu. Keduanya tertawa-tawa gembira. Dari kejauhan, Larasati terjun bebas ke dalam kolam dan berenang cepat mendekati Danu dan Salwa.

Ketika layar proyektor dimatikan oleh Panji, Salwa kembali fokus ke masa kini.

Seminar telah selesai.

Salwa berjalan cepat mendekati Panji yang tampak serius di depan laptopnya.

Panji yang sedang menekan tombol shutdown, mendongakkan wajahnya. Dia terpukau pada perempuan yang berdiri di depan mejanya. “Kamu Salwa?” kata Panji sebelum Salwa membuka mulut.

Salwa diam karena terkejut. Dia menurunkan tangannya yang memegang kartu nama.

“Kamu Salwa anaknya Danu Bismaka?” Panji menegaskan.

Salwa tidak senang ada yang mengenalinya sebagai anak Danu Bismaka. Dia berlalu begitu saja, membatalkan niatnya untuk berkenalan dengan Panji.

Panji refleks berlari mengejar Salwa. “Tunggu. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?”

Salwa diam terpaku dihadang Panji sedemikian rupa. “Ini kartu nama saya,” Salwa mengangsurkan kartu namanya.

Panji menerimanya dan buru-buru merogoh saku kemejanya, membuka kotak kecil, mengambil satu kartu nama dan menyerahkannya pada Salwa.

“Presentasi yang bagus, saya suka,” Salwa memuji dengan sikap formal, kemudian berjalan cepat-cepat.

Panji bengong. Sejurus kemudian dia mengamati kartu nama Salwa.

Dia masukkan kartu nama itu ke dalam sakunya, kemudian bergegas merapikan tas dan kembali ke hotel….., bersama Pradipta partner-nya.

“Kamu yakin itu Salwa anaknya Danu Bismaka?” Pradipta mengecilkan volume televisi di kamar hotel.

“Yakin banget. Dan anehnya, begitu aku melihatnya, aku langsung teringat pada perempuan yang kulihat dalam mimpiku. Aku jatuh cinta pada perempuan dalam mimpiku itu, perempuan yang aku tidak tahu siapa namanya,” Panji menyalakan pemanas untuk membuat teh hangat.

“Gila lu Ndro, eh Nji. Sampai segitunya,” Pradipta membuka kopor untuk berkemas-kemas. Malam nanti mereka harus terbang ke Jakarta.

“Ini memang tidak masuk akal. Mimpi itu sudah lama, tapi masih teringat jelas sampai sekarang. Gue gak jadi pulang malam ini,” Panji mengaduk teh dan meminumnya.

“Bener-bener kesambet jin Amsterdam lo,” Pradipta melipat kaos bekas pakai. Lipatan yang tidak terlalu rapi, dan memasukkannya dalam kopor.

“Lo duluan aja, gue nyusul setelah ketemu Salwa,” Panji duduk bersila di atas kasur sembari ngemil biskuit.

“Lo nggak bisa seenaknya. Lo kerja sama orang,” Pradipta menutup resleting kopornya.

“Itu bisa gue atasi. You know, this is miracle. Gue rela mengambil risiko apa pun demi perempuan yang selama ini bagaikan misteri,” Panji meraih kartu nama Salwa dan mengecupnya.

“Itulah kelemahan lo. Lo lemah kalau sudah menyangkut perkara cinta.”

***

Contoh itu saya cuplikkan dari draft novel berjudul Roller Coaster yang sedang saya buat dan belum selesai. Masih mentah dan acak-acakan 🙂 tapi saya sudah berani menyertakannya dalam tulisan ini. Ya sudah, tidak apa-apa, ini hanya catatan harian.

Selamat menulis dan tetap semangat!

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau MoodMenulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s