Seni Menulis Novel: Pertama Kali Bikin Novel

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Selalu ada yang pertama dalam segala hal, termasuk bikin novel. Bagaimana memulai menulis  novel? Ya mulai saja.

Novel adalah potongan-potongan cerita pendek yang membentuk rangkaian panjang cerita yang kompleks, saling terhubung dan diikat oleh tokoh-tokoh rekaan di dalamnya.

Semua cerpen bisa dikembangkan jadi novel.

Jadi, bagi yang pernah bikin cerpen, pasti bisa bikin novel. Misalnya, pilih salah satu cerpen yang pernah dibuat, satu cerpen yang paling memikat dan meninggalkan kesan mendalam dalam waktu yang sangat lama. Sebagai contoh, sebut saja Erri Subakti. Dari cerpennya yang berjudul Natal Terakhir, di kemudian hari Erri mengembangkan cerpen tersebut menjadi novel Salju di Bulan Juni.

Jika suatu saat novel Salju di Bulan Juni terbit menjadi buku (semoga), akan terlihat di sana Natal Terakhir telah dilebur menjadi bagian kecil dari skenario besar Salju di Bulan Juni. Tokoh-tokoh yang Erri hidupkan dalam novel Salju di Bulan Juni, tak lain dan tak bukan adalah tokoh-tokoh yang Erri ciptakan jauh-jauh hari dalam cerpen Natal Terakhir.

Dalam kurun waktu tertentu, Erri membuat kepingan-kepingan cerita pendek, menciptakan momen-momen, menciptakan konflik, menciptakan ketegangan. Jalan cerita yang dikembangkan itulah yang membuat kepingan-kepingan terus bertambah dari waktu ke waktu. Dan semua kepingan cerita pendek itu diikat oleh tokoh-tokoh yang sama, yang tokoh sentralnya adalah Reza dan Chris Peter. Dan tokoh tambahan (figuran)nya antara lain Oji, Lia, Nyoman. Nena yang termasuk tokoh utama dalam Salju di Bulan Juni adalah tokoh baru yang Erri ciptakan ketika ia memutuskan mengembangkan cerpen tersebut menjadi novel. Tidak menutup kemungkinan, Erri akan menciptakan tokoh baru dalam proses pengembangan cerita menuju target 50 ribu kata, agar kalau jadi buku beneran tidak terlalu tipis, tidak malu-maluin 🙂

Strategi Erri tersebut bisa diAmati, Tiru dan Modifikasi (ATM) oleh siapa saja yang sejauh ini sebatas membuat cerpen, dan tiba-tiba terbersit keinginan untuk mencoba membuat novel.

Atau bisa juga memulai bikin novel dengan cerita yang baru. Tetap saja, langkah pertama adalah membuat cerpen, langkah kedua adalah membuat cerpen dengan tokoh-tokoh rekaan yang sudah dituliskan dalam cerpen pertama, langkah ketiga adalah membuat cerpen dengan tokoh-tokoh rekaan yang sudah dituliskan dalam cepren kedua, dan seterusnya dan seterusnya hingga menjadi cerita yang sangat panjang dan layak disebut novel.

Bila cerpen sekali duduk habis dibaca, maka novel bisa diseling mondar-mandir ke dapur untuk membuat teh hangat, berhenti sejenak untuk makan roti, dan sebagainya. Walaupun ada juga tipikal pembaca cepat, yang dua jam saja, mungkin juga kurang dari itu, sudah menuntaskan novel setebal 500 halaman.

Di cerpen, tokoh-tokoh yang kita hidupkan tidak mengalami perubahan nasib. Nah, dalam novel kita leluasa menentukan nasib tokoh-tokoh yang kita ciptakan di dalamnya. Siapa bahagia, siapa menderita, siapa kalah, siapa menang, kapan si A sedih, kapan si A senang, kapan si A kalah, kapan si A menang, dan seterusnya.

Sebagaimana kehidupan yang tidak datar, yang tidak mungkin menyenangkan terus, tidak mungkin menyedihkan terus, begitu pula kehidupan yang kita bangun dalam  novel. Itulah mengapa, ada benarnya bahwa menulis novel adalah upaya memahami hidup dan kehidupan.

Novel yang datar itu monoton, dan itu membosankan. Bikin novel yang membuat penasaran, yang alurnya tidak mudah ditebak. Ciptakan ketegangan, kegembiraan, kelucuan, kemarahan, kecemburuan dan sebagainya. Pendek kata, semua jenis emosi manusia itu berguna dalam membuat alur cerita yang fluktuatif dalam novel. Emosi negatif, emosi positif, semuanya berguna untuk membangun gelombang cerita. Ini berlaku untuk novel yang berlatar belakang realitas manusia mapun novel fantasi.

Mengapa sebuah novel bisa begitu dekat dengan pecintanya, mampu menyentuh kedalaman hati dan pikiran pembacanya, karena novel adalah dunia pikiran dan hati, dua elemen yang melekat pada makhluk yang namanya manusia.

Oke.

Selamat mengembangkan cerpen menjadi novel.

Good luck.


Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s