Cerita dari Everest

Foto Ilustrasi: nationalgeographic

 

Itu Everest, gunung tertinggi di dunia.

Ya. Banyak orang ingin ke sana. Banyak yang ingin menjamah puncaknya. Namun, tidak semua orang bisa ke sana. Dari populasi penduduk dunia, hanya sedikit yang bisa mencapai puncaknya. Everest melahirkan banyak cerita suka dan duka. Ada yang jatuh tergelincir sebelum sampai puncak. Ada yang sudah sampai puncak, kemudian jatuh terpeleset. Ada yang mendaki hingga ke puncak dengan selamat, kemudian turun gunung dengan membawa kabar menggembirakan. Betapa indah berdiri di puncak. Di matanya, dunia terlihat begitu kecil. Raganya berada di puncak, hatinya menunduk dalam hening takjub. Kemudian ia membuka jalan bagi orang-orang yang ingin mengetahui rasanya berada di puncak seperti dirinya.

Kamu tidak ingin ke sana?

Everest bukan satu-satunya puncak. Everest bukanlah tujuan. Everest adalah jalan. Apa yang akan kita lakukan setelah menjejakkan kaki di puncak Everest, itulah pertanyaan besar yang harus kita jawab. Kita tidak harus berada di sana untuk bahagia. Di manapun kita berada, apa pun peran kita dalam kehidupan, bila kita bangga dengan apa yang kita lakukan, mencintai apa yang kita lakukan, kita pasti bahagia.

*********

One thought on “Cerita dari Everest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s