Seni Menulis Novel: Siasat Mati Gaya

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Ketika novel sudah berkembang sedemikian rupa, percabangan ranting jalan cerita menjalar kemana-mana, bersamaan dengan itu pula bisa jadi muncul banyak tokoh baru dengan beragam karakter dan beragam latar belakang. Pada titik ini mungkin seorang novelis mengalami apa yang namanya mati gaya, ‘Aduh bagaimana ini, mati aku’, oleh karena pengetahuan yang terbatas. Misalnya mau mengangkat tentang sosok nelayan, apalagi kalau mau lebih jauh mendeskripsikan detil seluk-beluk pekerjaannya, tantangan-tantangan yang dihadapinya di tengah laut, sedangkan si novelis dalam keseharian jauh dari kehidupan nelayan. Di sini artinya sudah muncul kebutuhan untuk melakukan riset.

“Riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, teori dan hukum serta membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan tersebut. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan suatu koleksi informasi menyeluruh mengenai suatu subyek tertentu, dan biasanya dihubungkan dengan hasil dari suatu ilmu atau metode ilmiah. Kata ini diserap dari kata bahasa Inggris research yang diturunkan dari bahasa Perancis yang memiliki arti harfiah “menyelidiki secara tuntas”.” – wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Semendalam apa riset yang akan dilakukan, tentunya disesuaikan saja dengan kebutuhan novel. Praktik simpelnya, mendatangi tempat-tempat yang relevan, berbicara dengan orang-orang yang relevan. Dengan cara ini, novelis tidak akan mati gaya lagi, tidak akan terlalu lama berhenti pada suatu jeda stagnasi. Dan dengan metode ini juga, tentu novel yang kita bangun akan jauh lebih hidup, lebih nyata.

Pada akhirnya seorang novelis akan tumbuh bersama masalah-masalahnya yang ditemui di sepanjang perjalanan penulisan. Masalah-masalah yang menunjukkan padanya pada kebutuhan-kebutuhannya, yang pada gilirannya mengantarkannya pada jawaban-jawaban.

Selamat Terus Berkarya

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s