Seni Menulis Novel: Tokoh vs Karakter

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

“Life’s like a piano. The pleasures are the white keys and the sorrows are the black keys. In the end, they work together to play beautiful melody called life.” 

Menciptakan tokoh rekaan dalam novel itu seperti bermain piano. Untuk satu tokoh protagonis sekalipun, tidak mungkin tuts putih saja yang terus-menerus ditekan. Demikian pula ketika menghidupkan tokoh antagonis, tidak mungkin tuts hitam saja yang ditekan terus-menerus. Walaupun katakanlah sangat ingin membuat tokoh putih seputih terang-benderang, tidak akan mungkin bisa. Demikian juga ketika ingin menciptakan tokoh hitam legam, walaupun sangat ingin juga tidak mungkin bisa.

Untuk menyebut contoh mudah sebagai pembuktian sambil jalan, kalau pernah melihat tokoh yang dimaksudkan protagonis dalam sebuah tontonan di televisi, tapi hidupnya terantuk batu melulu, itu membuat si tokoh baik tampak bodoh, dan itu sudah otomatis dua sisi hitam-putih melekat dalam diri si tokoh, kelebihannya katakanlah ia baik, dan kekurangannya adalah ia bodoh. Kelebihannya sekaligus adalah kekurangannya. Bicara novel, kenapa mengambil contoh tontonan di televisi? Masih bisa diterima sebab keduanya memiliki kesamaan, yaitu bahan bakunya sama-sama cerita fiktif, rekaan belaka.

Seperti kehidupan, novel tidak akan jalan tanpa kehadiran dualisme tokoh, tokoh baik dan tokoh buruk. Dan tiap tokoh tidak akan jalan tanpa dualisme dalam diri masing-masing tokoh, yakni kekuatannya dan kelemahannya.

HARDWARE DAN SOFTWARE

Akan baik sekali bila di dalam novel mampu mendetilkan ciri-ciri fisik (hardware) si tokoh, sama detilnya dengan penggambaran isi kepala dan dada (software) si tokoh tersebut. Perlu dijaga irama tulisan agar jangan sampai terjebak pada keasyikan bicara fisik hingga lupa esensi. Penggambaran hardware dan software bisa melalui dialog dan atau narasi.

Hardware merujuk pada segala sesuatu yang bisa dilihat, diraba, disentuh, bisa dalam bentuk deskripsi dari ujung rambut sampai ujung kaki, busana dan cara berbusana dan segala aksesori yang melekat pada si tokoh. Misal ciri khusus si tokoh suka memakai kalung dengan inisial namanya atau nama ibunya atau nama siapa saja yang disayanginya. Hardware juga merujuk pada deskripsi tempat tinggal, lingkungan dimana si tokoh tumbuh dan berkembang, juga situasi sosial politik ekonomi yang melatarbelakangi kehidupannya. Akan banyak sekali kalau diurai satu persatu, yang praktis sih gunakan seperlunya sesuai konteks, sesuai sudut pandang yang hendak ditekkankan.

Software merujuk pada sifat yang dilekatkan pada si tokoh, ini terkait emosi dan fluktuasinya, juga cara berpikirnya dalam menangani persoalan-persoalan yang dihadapi dalam hidup ini. Software juga mencakup soft skill, hubungan interpersonal dengan orang-orang di lingkungannya, juga kemampuan si tokoh dalam berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Bagaimana software si tokoh itu bisa ditunjukkan melalui dialog dan narasi.

Selayaknya hidup ini yang dinamis, tidak statis, seiring perjalanan waktu hardware dan software tokoh rekaan dalam novel bisa saja berubah, namun tentu tidak akan menyimpang jauh dari ciri fisik yang mendasar, juga sifat dasarnya sejak awal.

Praktik selalu berkembang lebih cepat daripada teori. Dan kadang lebih sulit menulis teori yang njelimet, dan bagi praktisi memang akan lebih mudah langsung praktik saja.

Bila teori justru menggelapkan,  memasung kreativitas dan imajinasi, lempar saja teori ke keranjang sampah, dan just do it!

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s