Seni Menulis Novel: Outline

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Setidaknya ada tiga tipikal pembaca novel, pertama penikmat jalan cerita, kedua pencari makna, ketiga menikmati jalan cerita sekaligus memikirkan makna-makna di balik jalan cerita. Tidak menutup kemungkinan adanya tipikal pembaca lainnya, namun di sini dibatasi pada tiga tipikal tersebut saja.

Dengan menempatkan diri sebagai pembaca, setidaknya penulis otomatis belajar menjawab kebutuhan-kebutuhan tersebut di atas. Alangkah menyenangkan bila tulisan yang kita buat mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan tersebut sekaligus.

Dalam upaya menjawab kepuasan akan terpenuhinya kebutuhan pembaca tersebut, pekerjaan penulis akan dimudahkan dengan adanya outline. Outline yang terdiri dari narasi pembuka, percabangan jalan cerita tokoh utama dan tokoh figuran di sepanjang jalan dan ending sebaiknya ditentukan di awal. Outline ibarat pemandu. Di pertengahan, jalan cerita yang melibatkan banyak tokoh dengan beragam karakter dan konflik bisa berkembang kemana-mana, tapi ending-nya seperti apa sudah diketahui.

Misalnya akan membuat rangkaian novel 10 volume, secara fisik satu novel terdiri dari 50 ribu kata dengan target waktu satu bulan. Berarti 10 novel direncanakan selesai dalam waktu 10 bulan. Tema apa saja yang akan diangkat di tiap volume dituangkan ke dalam outline sebagai pemandu penulis dalam jangka waktu 10 bulan ke depan.

Setiap hari barangkali terlintas pertanyaan dalam benak penulis; mau apa lagi ya, mau ke mana lagi, apa lagi yang bisa dikembangkan dan seterusnya. Cara mudahnya, ingat saja gaya tulisan jurnalistik yang stright news dengan pakemnya 5W 1H, kembangkan itu menjadi pendekatan baru yang naratif.

Who (siapa) berubah menjadi karakter.

What (apa) berubah menjadi plot atau alur.

Where (dimana) berubah menjadi setting.

When (kapan) berubah menjadi kronologi.

Why (mengapa) berubah menjadi motif.

How (bagaimana) berubah menjadi narasi.

Bila tulisan jurnalistik ibarat potret sekali jepret, maka novel ibarat gambar yang bergerak. Rangkaian teks disusun sedemikian rupa membawa pembaca masuk lebur ke dalam cerita, ke dalam suasana, bergerak menuju suasana-suasana berikutnya yang akan terus dibangun dari hari ke hari.  Momen demi momen diciptakan sehingga novel kaya warna kaya rasa.

Durasi perjalanan tokoh-tokoh kunci dalam novel sebaiknya juga sudah ditetapkan dalam outline. Juga latar belakang tokoh-tokoh kunci tersebut. Semakin detil outline akan semakin membantu penulis untuk fokus.

 

1374115400721535144

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s