Seni Menulis Novel: Melepas Kedirian

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Novelis menghasilkan karya tulis berupa novel.

Bagaimana sebaiknya memperlakukan novelis as personal dan novel sebagai buah karya pikiran dan hati? Idealnya, tempatkan novelis as personal sebagai manusia, pandang ia sebagai manusia, tidak kurang tidak lebih. Dan novel yang merupakan buah pemikiran dan olah perasaan sudah selayaknya dimuliakan di atas kepala.

Seni menulis novel, kenapa melebar ke personality penulis dan karya tulis? Cukup relevan mengingat ada saja fenomena yang menunjukkan kekaguman yang berlebihan pada karya tulis berubah menjadi kekecewaan dan kemarahan ketika mendapati sang penulis tidak sesempurna sangkaannya. Itu tidak perlu terjadi bila menyadari bahwa antara penulis dan karya tulis adalah dua hal yang berbeda. Karya tulis begitu di-publish atau dicetak dalam bentuk buku dan menyebar luas, itu adalah kumpulan teks mati kecuali pembaca yang menghidupkannya. Sedangkan penulis adalah makhluk hidup yang belum selesai, kehidupannya masih akan terus bergulir, apa saja bisa terjadi dan tidak akan selalu bisa menyenangkan orang lain atau pembacanya.

Ketika seorang penulis memutuskan untuk menulis novel, ia serta merta akan melepaskan kediriannya. Penulis novel menciptakan banyak tokoh dengan beragam karakter dalam kehidupan yang kompleks dalam sebuah novel.

Orang yang berpikir bahwa karya fiksi sama dengan kehidupan pribadi penulisnya adalah orang yang membutuhkan pertolongan, sebab ia tidak mampu membedakan mana fakta mana fiksi.

Itulah mengapa penting untuk bersikap skeptis, yakni meragukan segala sesuatu, tidak mau menerima sesuatu dengan mudah apa adanya, tidak mau percaya begitu saja.

Skeptis berbeda dengan sinis. Kalau sinis itu kuat aroma ketidaksukaan pada figur penulis, karena dasarnya sudah tidak suka, menjadi sinis terhadap apa saja yang ditulis sang penulis. Menutup diri pada kebaikan yang ada pada diri penulis. Ini berdekatan dengan sikap apatis, sudah jelek saja bawaannya, negatif saja pikirannya. Sedangkan skeptis lebih dekat dengan sikap kritis.

Dengan meletakkan penulis dan karya tulis pada tempatnya, tidak akan kejadian perasaan tertipu atau merasa dibohongi. Kekaguman menjadi sewajarnya saja, tidak berlebihan, sehingga tidak akan ada yang namanya kekecewaan, kemarahan apalagi kebencian, sebab sudah memahami hakikat manusia.

Buat penulis fiksi yang merasa karyanya disinisi, disalahpahami hingga gangguan itu menghambat proses kreativitas dan produktifitas menulis berikutnya, pahami psikologi terbalik bahwa orang yang menyinyiri orang lain itu sebenarnya sedang menunjukkan kegelisahan hidupnya sendiri, ketidaknyamanan hidupnya sendiri. Jangan biarkan orang lain mengintervensi hidup kita, sebab hanya kita yang tahu siapa dan bagaimana diri kita. Fokus saja pada tujuan besar di depan dan pegang niat baik di awal. Jawab hinaan, gosip miring, pergunjingan dan caci-maki atau apapun itu dengan berkarya.

Kembali ke soal seni menulis novel: melepas kedirian. Ketika menulis novel, mau tidak mau seorang penulis harus melepaskan kediriannya, membebaskan dirinya, sehingga bebas menyelam ke samudera imajinasi tanpa dasar, bebas terbang menembus langit. Tak ada beban, bebas dari rasa takut. Tidak peduli dengan penilaian baik atau penilaian buruk dari orang lain atau pembacanya. Dengan jiwa yang bebas, penulis bisa membumikan bahasa langit, bebas berkreativitas apa saja.

Kebebasan sendiri maknanya bisa berbeda-beda bagi tiap penulis. Kebebasan dalam berbahasa misalnya, saya tidak akan memberikan contoh apakah sesuatu itu bahasa vulgar atau tidak vulgar, yang jelas menurut saya bahasa itu memiliki perasaan, ini urusannya dengan common sense. Dan common sense urusannya berkaitan dengan perasaan nyaman atau tidak nyaman dalam berbahasa, sehingga ukurannya memang menjadi individual, personal. Novel memang karya personal, berbeda dengan produk jurnalistik misalnya yang dipengaruhi kebijakan redaksional media masing-masing, itu karya kolektif, ada sentuhan kolektif, bukan personal. Kalau mau personal, otentik, buku-lah tempatnya, atau menulis di blog atau menulis di wadah apa saja yang memang merupakan ruang pribadi tanpa campur tangan pihak lain di luar diri kita.

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s