Seni Menulis Novel: Jangan Mau Didikte Opini Publik

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Di era digital telah terjadi apa yang namanya ledakan informasi.

Ketika gadget berada di tangan, dunia dalam genggaman. Bagaikan air bah, setiap menit muncul informasi terkini dari berbagai portal berita dan media sosial. Itu semua bisa menjadi sumber inspirasi bagi kepentingan novel. Namun satu hal, jangan mau didikte opini publik. Informasi dari manapun, sebanyak apapun bisa menjadi sampah atau berlian, tergantung kehendak pengguna informasi tersebut.

Sebagaimana jenis bacaan yang lain, novel juga mengenal trend. Apakah mau mengikuti trend dengan berbagai alasan yang mengemuka dalam opini publik, atau menciptakan trend dan maju dengan alasan sendiri, dengan keyakinan sendiri, dengan kepercayaan sendiri, dengan keberanian sendiri, dengan perhitungan sendiri, bebas saja mau pilih yang mana.

Kita menulis novel untuk apa dan dimaksudkan untuk jangka waktu berapa lama. Apakah untuk dibaca cepat dan tahu-tahu selesai, menghapuskan dahaga hasrat sesaat dan setelah itu sudah. Atau membuat novel yang tidak lekang oleh zaman, selalu relevan sepanjang zaman sehingga pembaca dengan senang hati mengoleksinya untuk dibaca-baca ulang di lain kesempatan. Tidak ada masalah dengan dua maksud tersebut, itu semacam pilihan saja, bukan untuk dibanding-bandingkan dengan meninggikan yang satu dan merendahkan yang satunya.

Memang novel bagaimanapun bentuknya baik secara eksplisit maupun implisit akan menjemput takdirnya sendiri. Namun, tentunya penulis novel yang membangun pondasi isi sudah membuat standar di awal, tahu untuk apa dan untuk berapa lama novelnya tersebut dibuat, untuk kepuasan jangka pendek atau kepuasan jangka panjang. Walaupun setelah novel diluncurkan ke tengah publik, penulis tidak punya kuasa lagi mengendalikan efeknya. Ketika sebuah novel sudah berada di tengah publik, ia milik publik. Penulis berada di tepi lapangan, menjadipenonton.

Banyak jenis novel yang bisa dipilih dan dieksplorasi. Di antaranya novel spiritual, novel religi, novel filsafat, novel psikologi, novel pendidikan, novel kedokteran, novel lingkungan hidup, novel sains, novel sejarah, novel kriminologi dan sebagainya.

Lalu dimana letak romansanya? Romansa tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, sehingga balutan romansa hubungan antarmanusia bisa masuk ke dalam semua jenis novel. Romansa adalah bagian dalam hidup manusia, namun bukan satu-satunya. Romansa bisa menjadi pengikat antarplot, pengikat jalinan cerita.

Novel juga mengenal segmentasi usia; anak-anak, remaja, dewasa atau untuk semua umur.

Temukan posisi yang paling nyaman dimana kita menjejakkan kaki dan siap terbang tinggi.

Selamat terbang.

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s