Seni Menulis Novel: Ingatan adalah Perpustakaan

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Lahir, hidup dan mati, itulah siklus alamiah yang pasti dilalui oleh setiap manusia.

Dunia ini adalah ruang kelas, yang masa belajarnya dimulai sejak kelahiran dan akan berakhir ketika kematian datang.

Berapa lama kita telah hidup di dunia, itu semua adalah pelajaran. Apa yang kita rasa dan pikirkan sejak lahir hingga kini sejauh ingatan, itu semua adalah referensi yang siap kita unduh kapan saja untuk bekal menulis novel.

Dari lahir hingga kini, dari masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa, kita bertemu dengan orang-orang, kita mendengar (membaca) hal-hal, kita berbicara (menulis) hal-hal, kita melihat keadaan-keadaan, kita dipertemukan dengan situasi kondisi beragam, itu semua merupakan bahan riset yang siap kita unduh kapan saja untuk kita tuang dan kembangkan dalam novel.

Semua yang melingkupi kita adalah simbol yang berbicara bagi yang mendengarkan, dan itu semua bisa menjadi bahan untuk novel.

Siapapun, apapun, bagaimanapun, kapanpun dan dimanapun adalah guru kehidupan yang siap memberikan pelajaran untuk dituangkan ke dalam novel.

Ingatan kita adalah perpustakaan kita.

Pengalaman dan perasaan kita adalah referensi kita.

Itulah mengapa semua penulis novel tidak akan pernah kekurangan bahan tulisan. Mengingat pengalaman dan perasaan tiap orang itu berbeda-beda, satu dengan yang lain tidak ada yang sama persis.

Semua bahan tulisan sudah tersedia, kita tinggal memetiknya. Yang kita butuhkan hanyalah duduk tenang, diam hening dan biarkan tangan kita digerakkan oleh-Nya.

Duduk tenang, diam hening dan menulis.

Menulis karena ingin menulis.

Menulis dalam bahagia, bahagia dalam menulis, hingga tidak tahu lagi mana yang terlebih dulu hadir, menuliskah atau bahagiakah.

Hingga menulis menjadi refleks, menjadi spontan.

Saat bad mood adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat good mood adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat sedih adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat senang adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat malas adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat rajin adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat tidak bersemangat adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat bersemangat adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat marah adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat tenang adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat cemburu adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Saat tidak cemburu adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Semua saat itu adalah bentuk emosi di dalam diri yang bergerak fluktuatif. Semua keadaan di dalam diri itu diperlukan dan itu merupakan bahan bakar dalam menulis yang membuat novel kita menjadi bergelombang. Seperti jalannya hari-hari yang telah kita lalui, bukankah senang dan susah datang silih berganti, begitu pula sebuah novel yang bercerita tentang kehidupan manusia.

SEMANGAT YANG HILANG YANG KEMBALI

Tak ada yang lebih menyedihkan selain kehilangan semangat.

Apa jadinya petani yang menggantungkkan cangkulnya. Apa jadinya pebulutangkis yang menggantungkan raketnya. Apa jadinya penulis yang menggantungkan penanya.

Mungkin ada rencana lain. Tak ada yang keliru dengan itu sepanjang diri ini menyadarinya.

Dan bagi yang memiliki passion yang kuat dalam menulis, semangat yang hilang juga adalah sesuatu yang manusiawi. Bisa jadi itu merupakan sinyal untuk berhenti sejenak, memikirkan kembali perjalanan yang telah ditempuh, sudah tepatkah arahnya, sudah tepatkah cara mencapainya. Sejenak memberi jeda kepada diri sendiri, bertanya kepada diri, mau apa mau kemana, benarkah hal yang dilakukan kini merupakan impian terbesar dalam hidup.

Setiap orang tentu memiliki kegandrungan terhadap sesuatu, misalnya seorang penulis ingin menyenangkan hati ibunya. Keinginan menyenangkan hati ibu bisa dikembangkan menjadi keinginan untuk menyenangkan hati banyak orang. Dengan keinginan seperti itu, seorang penulis yang sedang kehilangan semangat tentu tidak akan berlama-lama membiarkan diri berada dalam situasi kehilangan semangat. Ia tahu ia harus bekerja keras untuk menjemput impiannya. Ia terus bergerak maju mendekati tujuan. Walau pada akhirnya katakanlah tujuan itu tidak sampai, ia tidak akan menyesal sebab ia tahu telah melakukan yang terbaik secara maksimal.

Bagaimana bila dalam kondisi stagnant, merasa menghadapi kebuntuan, beku, mandek saat memulai tulisan baru?

Keadaan itu juga adalah bentuk rasa, namun sepanjang hasrat menulis itu menggelora di dalam dada, maka akan selalu lahir tulisan baru. Kuncinya sama, duduk tenang diam hening, perhatikan percabangan gagasan yang lalu lalang di kepala, putuskan untuk memilih satu di antaranya dan jalan ke depan, jangan berhenti, jangan mundur, jangan menengok ke belakang lagi.

Ingat, langit tidak selalu biru.

Daun tidak selalu berwarna hijau.

Mendung tidak selalu akan turun hujan.

Menulis adalah jalan, bukan tujuan.

Selamat jalan.

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s