Seni Menulis Novel: Faktor Kebetulan, Happy Ending, Sad Ending

 

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Dua gagasan yang ingin disampaikan dalam catatan ini, pertama adalah faktor kebetulan; kedua adalah tragic ending versus happy ending. Keduanya saling berkaitan erat sehingga akan lebih mudah mengupasnya dalam satu tarikan napas.

Apakah sang penulis akan memberikan kebahagiaan demi kebahagiaan pada sang tokoh dalam perjalanan kehidupannya, apakah sang penulis akan memberikan penderitaan demi penderitaan pada jalan cerita tokoh-tokoh rekaannya, tidak ada yang namanya kebetulan dari sudut pandang sang penulis, semua serba disengaja. Sedangkan dari sudut pandang tokoh dalam cerita, sah saja bila faktor kebetulan itu disebut ada.

FAKTOR KEBETULAN

Faktor kebetulan merupakan unsur yang penting dalam proses kreativitas pembuatan novel. Faktor kebetulan membuat denyut nadi dalam kehidupan novel terus bergerak dari waktu ke waktu, terus bergerak dari halaman satu ke halaman dua menuju halaman tiga hingga halaman ke seribu.

Faktor kebetulan juga memunculkan sensasi kejutan, sesuatu yang disukai pembaca, kata sebagian pendapat. Tapi apakah berarti jalan cerita yang flat, datar, hampir tanpa gejolak, selalu tidak menarik? Belum tentu. Ini semua hanyalah soal jenis ramuannya dan bagaimana meramunya. Ini semua hanyalah soal gaya penulisan dan selera pembaca. Setiap gaya penulisan akan menemukan pembacanya sendiri. Jadi ketika menemukan sebuah gaya dan nyaman dengan gaya itu, kenapa tidak konsisten saja. Konsistensi gaya penulisan akan mengundang konsistensi pembaca militan, demikian hukum atraktif bicara. Sedikit banyak jumlah bukan selalu menjadi masalah.

Ibarat petani, penulis novel bisa disebut petani kayu jati yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memanen hasilnya, bukan petani padi yang bisa panen tiap empat bulan sekali (tanpa memperhitungkan ancaman hama dan cuaca serta faktor x lainnya). Sehingga sudah selayaknya seorang penulis novel berpikir jauh ke depan, memiliki visi dan misi yang besarnya melebihi mimpi yang bisa dibayangkan, sehingga memiliki daya tahan yang baik untuk terus dan terus mengeksplorasi diri dan tidak mudah patah di tengah perjalanan yang mendaki dan penuh liku. Percayalah, apakah perjalanan mendaki penuh liku itu menyenangkan atau menyakitkan, itu hanya soal sudut pandang, cara pandang.

HAPPY ENDING VERSUS TRAGIC ENDING

Suka yang mana, happy ending atau tragic ending?

Terlepas suka yang mana, berakhirnya sebuah novel bukanlah akhir dunia. Selesainya sebuah novel, apakah itu tokoh utamanya mengalami tragedi atau bahagia, itu hanyalah ibarat satu babak kehidupan.  Sama seperti sekian buku biografi dibuat untuk satu orang, tetap saja sekian buku tersebut tidak akan mampu menjawab siapa dan bagaimana satu orang tersebut secara utuh.

Happy ending, benarkah happy ending? Tragic ending, benarkah tragic ending? Bila diklasifikasi contoh happy ending akan banyak sekali bentuknya, sebut saja untuk satu novel romance yang berakhir pada pernikahan tokoh-tokoh utamanya. Benarkah pernikahan itu happy ending? Ataukah pernikahan itu sebuah awal untuk memasuki kehidupan baru dengan masalah-masalah yang baru. Satu contoh tragic ending dalam novel romance misalnya diakhiri dengan kematian pasangan hidup sang tokoh utama dalam cerita. Benarkah kematian itu tragic ending? Ataukah kematian itu sebuah awal untuk memasuki sebuah kehidupan yang baru.

Karena latar belakang pemikiran yang demikianlah, sehingga saya lebih nyaman menyematkan kalimat “Never Ending Story’ di akhir sebuah novel, daripada kata “The End”.

Secara filosofis, kalimat “never ending story” selalu terbuka pada ruang-ruang baru untuk pemikiran yang baru. Akan selalu terbuka pada proses dialektika. Tidak melulu hitam putih. Kalau begini pasti tidak benar atau kalau begitu pasti benar, tidak melulu seperti itu, tapi mengedepankan eksplorasi untuk menelusuri akar sebuah permasalahan, sehingga diharapkan para pembaca mampu melihat lebih dalam dan memahami segala sesuatu apa adanya sebagaimana kualitas yang hadir. Hingga pada gilirannya, penulis dan pembaca sama-sama mengalami pertumbuhan.

*pendapat pribadi dari penyuka novel bergenre romantic dan philosophic

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s