Seni Menulis Novel: Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas

http://www.dreamstime.com/stock-photography-image31268322

Foto ilustrasi: dreamstime

Emosi negatif, siapa yang tidak memilikinya.

Cemburu, kecewa, marah, sedih, siapa yang tidak pernah merasakannya.

Kabar baiknya bagi seorang penulis novel, emosi negatif sama pentingnya dengan emosi positif. Keduanya sama-sama bisa dijadikan bahan bakar dalam berkreativitas. Maka kalau ada ungkapan ‘marahlah dalam karya’, ’sedihlah dalam karya’, itu memang tepat adanya.

Pada umumnya manusia lebih mudah menerima hal-hal yang menyenangkan bagi dirinya, sementara realitas di dunia ini tidak hanya berisi hal-hal yang menyenangkan saja. Menulis novel bisa menjadi sarana latihan untuk menerima hal-hal yang tidak menyenangkan, sama baiknya dengan penerimaan pada hal-hal yang menyenangkan.

Bagaimana mengubah emosi negatif dalam hal ini marah misalnya menjadi sebuah karya? Marahlah dengan otak, bukan marah dengan telanjang. Misalnya ketika emosi berada dalam level marah, bisa saja tercetus inspirasi dalam diri penulis untuk memberikan sentuhan thriller dalam novelnya, menampilkan adegan pertengkaran sengit dengan dialog-dialog yang tajam. Bisa menjadi sarana pelepasan kemarahan penulisnya. Dan sarana pelepasan kemarahan dalam novel tidak selalu harus adegan merusak seperti pertengkaran, bisa saja dibalik menjadi sesuatu yang positif misalnya ada tokoh menemukan segepok uang di tempat sampah, eforianya jadi gembira banget atau justru ketakutan, menciptakan teka-teki uang siapa itu, jangan-jangan uang pengedar narkoba atau uang hasil perampokan yang ditaruh di situ sementara untuk mengaburkan jejak. Percikan-percikan peristiwa yang diciptakan dalam novel yang semuanya itu pada akhirnya menjadi stimuli bagi kelanjutan ide cerita berikutnya. Sehingga dari hari ke hari akan selalu lahir tulisan baru, halaman novel terus bertambah, target akhir penyelesaian naskah tercapai.

Bukan ketika emosi negatif saja sebetulnya, ketika emosi positif pun penulis bisa melakukan siasat yang sama sehingga bisa produktif menulis dalam keadaan emosi apapun juga.

Ada tipikal penulis yang lebih lancar menulis ketika good mood saja. Ada juga tipikal penulis yang lancar menulis ketika bad mood saja. Konsep mindhEARt menawarkan jalan tengah bagi terciptanya ketenangan hati dan pikiran, menjaga mood dalam situasi dan kondisi apapun, sehingga langkah demi langkah dalam proses kreativitas menulis novel berjalan dengan smooth, ajek dan teratur.

Diri sendiri yang paling bisa mengenali emosi-emosi dalam diri. Dan emosi negatif tidak selamanya buruk, sama seperti emosi positif tidak selamanya baik. Emosi negatif yang berlebihan itu yang buruk. Emosi positif yang berlebihan sama buruknya dengan emosi negatif yang berlebihan.

Salam Jalan Tengah!

Selamat terus berkarya.

 

Keep Calm and Write a Novel

21.Pentingnya Membuat Target dalam Menulis Novel20.Menciptakan Alur yang Dinamis | 19.Mengembangkan Jalan Cerita | 18.Novel Ditolak Penerbit Itu Bukan Masalah | 17.Learning by Doing \ 16.Pertama Kali Bikin Novel | 15.Kalau Mood Menulis Novel Lagi Ngedrop | 14.Lebih Jauh tentang Tokoh dan Karakter (Watak)|13.Karakter Tulisan12.Durasi | 11.Siasat Mati Gaya | 10.Emosi sebagai Bahan Bakar Kreativitas | 9.Outline |8.Timeline | 7.Jangan Mau Didikte Opini Publik |6.Ingatan adalah Perpustakaan | 5.Melepas Kedirian | 4.Tokoh versus Karakter |3.Faktor Kebetulan, Sad Ending, Happy Ending |2.Dari Napas Pendek Menuju Napas Panjang | 1.Satu Titik Judul Membuka Kehidupan Baru

Page: mindhEARt Creative Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s