Senyuman Kematian

Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

—-——

Gelap malam mencekam sebuah pulau kecil di selatan Pulau Jawa. Udara lembab mengantarkan aura yang membuat bulu kuduk merinding dalam ruang isolasi penjara.

Terdengar derap langkah kaki. Tiga orang pria berbadan tegap berseragam sipir menuju sel Gunawan. Salah satu dari pria itu membuka kunci gembok pintu jeruji besi. Seorang pria yang lain memberikan baju seragam yang sama agar dipakai Gunawan.

Keempat pria berseragam itu kemudian berjalan menyusuri lorong penjara, melewati jalan khusus yang sudah dipersiapkan. Mereka kemudian menaiki tangga yang juga sudah dipersiapkan untuk selanjutnya melompati tembok. Di balik tembok itu sudah menanti sebuah speedboat untuk mereka.

***

Namanya adalah Gunawan ketika pertama kali dilahirkan ke dunia ini. Gunawan alias Markus alias Roland alias Beno alias Wijaya alias Tommy alias Winata alias Anggoro ditandai sebagai narapidana berbahaya.

Lahir di tengah lingkaran kemiskinan, Gunawan melarikan diri dari rumah. Hidup di jalanan mempertemukannya dengan seseorang yang menawarkan pekerjaan dengan cara mudah dengan uang yang banyak. Bermacam ‘pekerjaan’ telah ia lakoni, dari mulai merampok, mencuri, dan juga memperkosa untuk bersenang-senang.

Sampai akhirnya Gunawan bertemu seseorang yang lain yang tergabung dalam mafia perdagangan obat-obatan terlarang. Gunawan ‘naik kelas’, dari penjahat jalanan yang amatir menjadi penjahat kelas atas. Ia membuang baju lusuhnya, menggantinya dengan setelan jas dan dasi. Kemana-mana ia berpenampilan rapi dan wangi, dengan pistol yang selalu terselip di saku celananya. Gunawan telah bemotamorfosa menjadi penjahat profesional dengan spesialisasi pembunuh bayaran.

Dalam melakukan aksi kejahatannya, Gunawan melakukan penyamaran dengan nama palsu, memakai wig yang berubah-ubah bentuk, bahkan sampai mengoperasi wajahnya. Keluar masuk penjara sudah biasa baginya.

Ia dikenal sebagai penjahat berotak licin. Tiga kali di rumah tahanan yang berbeda, di Bandung, Tasikmalaya dan Sumatera, ia menyuap sipir dan berhasil kabur. Butuh waktu lama bagi aparat untuk memburunya. Sampai suatu hari Gunawan ditangkap ketika sedang berada di sebuah pantai di Hawai bersama seorang perempuan. Gunawan dievakuasi ke tanah air dan dijebloskan ke dalam penjara Nusa Kambangan.

Di penjara dengan pengamanan super ketat di tengah medan yang sulit di daerah Cilacap ini, Gunawan pernah berusaha kabur. Aksinya itu dilumpuhkan petugas dengan sebuah tembakan di kaki kirinya. Sejak itulah Gunawan pincang jalannya.

Dialah pria yang puluhan tahun yang lalu berada di diskotik saat Wulan dan teman-temannya sedang merayakan pesta lepas lajang Marc. Dialah pria yang menggandeng Wulan yang dalam keadaan mabuk, memisahkan Wulan dari kumpulan teman-temannya, membawanya ke sebuah hotel. Dialah pria yang Wulan tak sempat tanyakan siapa namanya.

Deburan ombak laut di selatan Jawa melebur dengan hembusan angin kencang di pantai. Udara kebebasan mulai dibaui oleh indera penciuman Gunawan. Rencana pembebasan Gunawan memang sudah dipersiapkan dengan matang dan rapi oleh Adrianus Boy, bos-nya Gunawan.

Adrianus Boy adalah seorang konglomerat dengan bermacam-macam bisnis, dari mulai perminyakan, konstruksi, perhotelan hingga perjudian di Batam dan Macau, juga bisnis obat-obatan terlarang. Dua bisnis terakhirnya itulah sumber pendapatan terbesarnya, pundi-pundi mengalir deras ke kantongnya. Ia ‘mengangkangi’ jaringan hukum di negeri ini. Ia tanam orang-orangnya di kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Ia buai ‘orang-orangnya’ itu dari ketika jabatannya masih rendah, dengan berbagai macam kenikmatan materi. Hingga ketika orang-orangnya itu jabatannya merangkak naik dan naik sampai ke puncak, merasa berhutang budi padanya.

Adrianus harus membebaskan Gunawan karena Gunawan mengancam akan membongkar jaringan bisnis kotornya. Gunawan meminta dibebaskan dan selanjutnya diterbangkan ke Singapura.

Gunawan tertawa terbahak-bahak sambil menenggak bir lokal di speedboat, merayakan kebebasannya. Tawanya berhenti ketika salah seorang pria yang membebaskannya dari penjara itu menempelkan pistol di dahi Gunawan dengan jarak sangat dekat. Gunawan terbelalak….

*DORRR..!!!

Angin laut menghembuskan aroma darah segar saat 3 laki-laki melemparkan sesosok mayat ke lautan lepas.

***

Dengan langkah tegap berwibawa, Adrianus Boy menuju podium, siap menyampaikan pidato politiknya. Ia menebar senyum pada tamu-tamu terhormatnya yang terdiri dari para pengusaha, duta besar, pejabat termasuk gubernur.

Adrianus sangat berambisi untuk menjadi gubernur. Demi ambisi menguasai kota, ia sebarkan ratusan miliar rupiah dari bisnis kotornya ke berbagai lembaga kemanusiaan dan lembaga pendidikan.

Dalam peresmian hotel barunya malam ini, Adrianus akan menceritakan ratusan miliar uangnya yang telah diamalkan bagi kemajuan bangsa. Adrianus ingin membuat kesan betapa derwamannya ia.

Ketika Adrianus berdiri di depan podium dan mengucapkan salam, sebuah tembakan melesat dari atas menembus dadanya. Pesta mewah malam itu pun gempar seketika. Tamu-tamu undangan berlarian ke luar untuk menyelematkan diri.

***

Pagi hari di salah satu sudut kota, seorang pengemis pincang berpakaian dekil dan bertopi lusuh berhenti di sebuah lapak koran. Ia mengambil koran terbaru dan meletakkan uang recehan di tumpukan koran lainnya.

Headline berbagai surat kabar nasional hari itu adalah tentang terbunuhnya Adrianus Boy, konglomerat tersohor di negeri ini. Sesungging senyuman terbit di bibirnya. Pengemis itu kemudian menggelar koran tersebut di ujung gang, ia duduk di atasnya sambil memegangi kaleng kosong. Di depannya orang-orang berlalu-lalang.

*Kling…. Beberapa dari mereka melempar uang recehan ke dalam kalengnya.

… Pengemis itu menunduk dan masih tersenyum….

 

 

THE END

*Finale dari naskah Novel “The Smiling Death”

Terimakasih untuk seluruh para pembaca, voters, komentator, dan yang sudah share kepingan episode-episode yang telah kami buat melalui akun FB-nya.

Salam hangat dari kami berdua,

Erri Subakti & Arimbi Bimoseno

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s