Malam Membeku

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya: “I Wish I Was Special…” )


Tiga orang tua itu diam beberapa lama, larut dalam pikirannya masing-masing, di selasar samping rumah panti rehabilitasi perawatan mental Rachel.

Selembar kertas dari Fahira menjelaskan semuanya. Tangan Wulan bergetar memegang catatan yang ia buat 37 tahun yang lalu itu.

“Ayo Bu, masuk,” ajak Ananta kepada Wulan.

Wulandari mengikuti langkah kaki Ananta bersama Julia menuju kamar di mana Rachel dirawat selama ini.

Di depan pintu kamar Rachel yang terbuka, sejenak Wulan berhenti. Dan inilah momen pertama kalinya Wulan bisa melihat anaknya kembali setelah 37 tahun ia tinggalkan seorang bayi mungil yang cantik begitu saja di samping tempat sampah pinggir jalan. Dadanya terhenyak.. dalam…

Wulan memandangi sosok dewasa anaknya, Rachel yang duduk di atas tempat tidur. Tatapan matanya kosong… Wulan ragu untuk mendekat. Air matanya kembali menetes. ‘Rachel…,’ batinnya.

Wulan melangkah pelan mendekat, lalu memeluk tubuh Rachel dengan isak tangis, “Anakku. Kamu anakku.” Wulan mengguncang-guncang tubuh Rachel namun Rachel tak bergeming.

Air mata Wulan tak berhenti berderai saat ia menatap wajah Rachel begitu lekat. Ia menyentuh hidungnya, alisnya, pipinya, dagunya, semua begitu indah. Namun mata itu, mata itu kosong, tak ada kehidupan di sana, tak ada kehidupan di dalamnya. Rachel seperti patung kristal.

“Bu, sudahlah, istirahatlah. Ibu sudah berjam-jam seperti ini. Ibu belum istirahat sejak datang dari Solo,” pinta Julia.

Wulan tidak mau pergi. Ia mau menunggui Rachel. Mau berdekatan terus dengan Rachel.

Ananta merasakan kelegaan atas pertemuan Ibu-anak itu, walau dalam kondisi yang mengguncang seperti ini.

***

Hari-hari berikutnya adalah milik Wulan dan Rachel.

Wulan membantu Rachel mandi, memakaikan bajunya, menyuapinya, menyiapkan obat, dan sebagainya. Seolah ia sedang mengurus bayinya. Ia ingin melakukan semuanya sendiri. Wulan selalu mengajak Rachel bicara, walau Rachel tidak meresponnya sama sekali. Andai saja bisa menggantikan posisi Rachel, Wulan mau menggantikannya.

Kala pagi hari, Wulan membimbing Rachel untuk berjalan-jalan di taman. Kadang berjam-jam mereka duduk di bangku taman, sementara Wulan terus berbicara di sampingnya. Namun wajah Rachel hanya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Rachel hanya terdiam lama sekali.

“Rachel, namamu Rachel, nama yang cantik. Bahkan Ibumu ini tak terpikirkan untuk memberimu sebuah nama. Ketika kamu lahir, yang terlintas di kepala Ibumu ini adalah kakek buyut Wongso Wijoyo, kakek yang sangat menyayangi ibu. Ibumu ini menanggung rasa malu, kesakitan dan ketakutan selama sembilan bulan,” kata Wulan sembari mengelus-elus jemari Rachel yang duduk di sebelahnya.

“Entahlah, mungkin kalau kamu dalam keadaan sadar, mungkin kamu sudah mengusir Ibumu ini. Ibumu ini memang jahat, kejam. Kalau saja kamu melakukan itu, Rachel, Ibu tidak akan marah, Ibu akan menerimanya, karena kamu pantas melakukannya,” ucap Wulan.

“Sungguh lucu hidup ini, Rachel. Setelah Ibumu ini meninggalkanmu dalam travel bag di tepi jalan, Ibumu ini baru menyadari bahwa kamulah hadiah terindah yang pernah Ibu dapatkan. Hari-hari berikutnya adalah hujan air mata dalam hidup ibumu ini. Setiap kali makan, ibu ingat kamu, memikirkan kamu, di mana kamu sekarang, sudah makan atau belum.”

“Dulu ibumu ini malah menolak hadiah terindah. Entah apa yang kamu alami selama ini, hingga kamu seperti ini. Semua ini salah ibu, salahku,” bergetar suara Wulan, air matanya menetes-netes.

***

Julia tercenung di meja kerjanya. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kerusakan sudah menyebar di sel-sel syaraf otak Rachel, menutup segala celah memorinya. Rachel mengalami demensia, penurunan fungsional otak yang membuatnya hilang ingatan. Rachel tidak ingat siapa dirinya, apalagi orang lain.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Rachel yang di kala siang hari bergeming laksana patung kristal, di mlam harinya ia kerap mengalami kegelisahan. Berbagai halusinasi muncul menghampiri penglihatannya yang mempengaruhi emosi dan perilakunya. Sebuah gejala schizophrenia.

Satu malam. Lewat tengah malam, bulan masih belum terbit pada pukul dua dini hari. Tiba-tiba Rachel terbangun dari tidurnya dengan wajah ketakutan. Di sampingnya Wulan, ibunya, terlelap kelelahan.

Seperti ada suara yang memanggil, Rachel turun dari ranjang perlahan-lahan, hampir tak ada suara yang dapat membuat Wulan terbangun. Halus langkah kaki Rachel keluar dari kamar dan mengambil kunci 520i di mana Ananta biasa menyimpannya.

Langkah kakinya menuju garasi, menyalakan mobil buatan Eropa itu, kemudian melesat. Seperti kesetanan, Rachel menyetir dengan kecepatan tinggi, membelah malam Jakarta yang lengang. Tak ia pedulikan sirine polisi yang memintanya berhenti. Rachel terus melesat dengan kecepatan di atas rata-rata.

Mobil Rachel mengarah ke Puncak. Ia salip bus dan truk di depannya, membuat sopir bus dan truk itu kaget dan memaki-maki. Rachel lepas kendali, mobilnya seperti mau terbang.

Duarrrrrrrrrr…..!!!

Mobil yang dikendarai Rachel menerjang pagar pembatas jalan, terlontar jatuh membentur tebing dan berguling-guling.

 

Hati Wulan hancur berkeping-keping begitu kain yang menutupi jenazah Rachel disingkap oleh petugas rumah sakit. Dadanya bergolak hebat. Julia dan Ananta menopang badan Wulan agar jangan sampai jatuh pingsan. Rasanya sekejap saja ia dipertemukan dengan Rachel, dan sekejap saja ia sudah dipisahkan kembali dengan Rachel.

Ketika kesedihan memuncak, kesakitan yang sangat terasakan, pahit, pahit…

Tak ada yang bisa dilakukan selain diam…

Diam…

dan biarkan tangan tak terlihat merangkulmu, melepaskan segala kesedihan, kesakitan dan pahit itu…

Tenggelamkan dirimu dalam diam dan biarkan dirimu ditemukan oleh-Nya

***

‘Selamat jalan, anakku. Doa Ibu menyertaimu,’ kata hati Wulan saat mengantarkan Rachel ke dalam liang lahat.. Ia usap air matanya dengan ujung kerudung hitamnya.

Ananta memakamkan Rachel disamping makam Carla. Ia menangis tanpa suara ketika menatap makam dua orang yang dicintainya itu. Carla Indira binti Syahrir dan Rachel Wongso Wijoyo binti Trenggono. Atas kesepakatan Wulan, Fahira dan Trenggono, disematkan nama Trenggono di belakang nama lengkap Rachel untuk ditatahkan di batu nisannya.

Ananta berjalan gontai meninggalkan makam. Sepoi angin lembut mengusap helai-helai rambutnya. Beberapa kuntum bunga kamboja berguguran tertiup angin. Ananta terus berjalan…

Yang hidup akan mati

Yang datang akan pergi

Yang bertemu akan berpisah

***

(*Lanjutannya : Bumi Itu Satu )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s