Keajaiban yang Hilang

Oleh :  Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

(Sebelumnya : “Antara Mimpi dan Kenyataan” )

 

Cinta ini sakit, sakit…

Menumpahkan air mata, meruntuhkan Tembok Raksasa China

Mengobarkan rindu dendam, membakar batu Petra di Yordania

Mendidihkan darah Fir’aun, meluluhlantakkan Piramida Agung Giza

Kudaki gunung tua Machu Picchu di Peru, namun tak kutemukan dirimu di puncaknya

Kutelusuri Chichén Itzá di Meksiko, tak jua kutemukan cinta

Kuberlari mengelilingi Koloseum di Roma, yang kudapatkan hanya luka, pedih…

Kecantikan Taj Mahal bertabur kristal berlian di India menghentikan langkahku

Ingin kusudahi sakit ini, luka ini, pedih ini…

***

Rachel membolak-balik brosur tujuh keajaiban dunia yang baru saja diperlihatkan Ananta kepadanya. Tak tanggung-tanggung rencana travelling yang dipilih Ananta adalah membawa Rachel ke tujuh tempat keajaiban dunia.

“Kita akan mengunjungi semua tempat ini?” tanya Rachel tak percaya.

“Ya,” jawab Ananta, tersenyum dengan mata berbinar. “Kamu suka?” tanya Ananta balik.

Rachel menoleh pada Ananta, tersenyum mangut-manggut. “Ya, suka.”

Tempat pertama yang mereka akan tuju adalah Candi Borobudur. Walaupun hasil polling yang dilakukan oleh yayasan New 7 Wonders membuat Candi Borobudur tergusur dari daftar tujuh keajaiban dunia, itu tidak berpengaruh apa-apa bagi Ananta. Ananta tetap menganggap Candi Borobudur adalah bagian dari tujuh keajaiban dunia.

Tiba di Magelang, Jawa Tengah, Ananta dan Rachel mencari penginapan yang berlokasi tak jauh dari Candi Borobudur.

Ananta sengaja menyusun jadwal bertepatan dengan Hari Waisak. Ini adalah kedua kalinya bagi Ananta berkunjung ke Magelang bertepatan perayaan upacara Waisak. Malam nanti merupakan puncaknya, Ananta ingin menunjukkan sesuatu yang menakjubkan pada Rachel.

“Sudah siap?” tanya Ananta pada Rachel yang tampak cantik walaupun sedikit pucat, dengan long dress hijau lumut.

Rachel mengangguk dengan gerakan yang kaku.

“Nanti sampai lewat tengah malam, kamu akan kuat, kan?” tanya Ananta, khawatir.

“Kepalaku agak pusing. Tapi, kupikir aku akan baik-baik saja,” jawab Rachel.

Diambilnya dua butir pil dan satu kapsul untuk diminum Rachel. Ia memasukkannya ke mulutnya kemudian mendorongnya dengan segelas air putih.

Sesampainya di Borobudur, mereka membaur dengan ribuan orang, umat Budha dari berbagai negara dan wisatawan yang khusus datang untuk melihat ritual sakral itu. Seperti lautan manusia di tengah keheningan. Doa-doa memancarkan energi positif yang sangat kuat.

Rachel merasa takjub. Ia melihat semua orang demikian khusyuk, membuatnya gemetaran. Matanya enggan berkedip manakala ribuan lampion berwarna kuning kemerahan beterbangan di udara mengantarkan doa-doa, menembus langit pekat berhiaskan cahaya bulan purnama.

Rachel merasakan badannya panas dingin. Ananta menuntunnya keluar dari keramaian, menjauh dan mencari tempat yang lebih sepi. Di bawah taburan bintang bagai glitter yang menghiasi gelapnya langit malam, Ananta mengajak Rachel berdoa bersama.

“Aku manusia berlumur dosa,” lirih suara Rachel.

“Siapa manusia yang tidak punya dosa,” kata Ananta.

“Dosa besar. Dosa besarku banyak sekali, tak termaafkan,” akhirnya tangis Rachel pun pecah. Rachel memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit dan ingin meledak.

Ananta mendekap erat Rachel, mencium rambutnya dengan lembut, dan membimbing Rachel menuju mobil. Mereka kembali ke penginapan. Rachel harus minum obat dan istirahat.

***

Keesokan harinya, kondisi Rachel memburuk. Ananta memutuskan tidak melanjutkan perjalanan.

“Lupakan tujuh keajaiban dunia. Aku tidak ingin kemana-mana. Kamu adalah keajaiban bagiku,” kata Rachel pada Ananta. Suaranya lemah, air matanya menetes.

“Oke, kita akan kembali ke Jakarta. Kesembuhanmu adalah keajaiban. Aku ingin kamu sembuh. Aku ingin kamu sehat dan ceria seperti dulu,” lirih suara Ananta di telinga Rachel.

Rachel merasa hangat dalam pelukan Ananta.

Andai aku mati esok pagi

Tak kan ada yang kusesali

Sebab kamu yang kucintai

Ada di sisiku malam ini

‘Aku manusia yang tidak diharapkan, tidak dicintai. Apa itu bahagia, omong kosong semuanya!’ jerit Rachel dalam hati.

Rachel gelisah, tidak bisa tidur. Ia lepaskan pelukan Ananta, turun dari tempat tidur, keluar kamar, berjalan menyusuri jalan sepi. Di atas sana langit gelap tanpa bintang. Rachel terus berjalan tanpa tahu kemana tujuannya.

***

Ananta bangun dan terperanjat mendapati tak ada Rachel di sisinya. Ia bangkit, melihat jam tangan di atas meja, jam dua belas lewat sepuluh menit. Ananta memeriksa kamar mandi dan seluruh area penginapan, tak ada Rachel.

Rachel hilang!!!

(Bersambung : “… But I’m a Creep…” )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s