“… I Wish I Was Special…”

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya : “Keajaiban yang Hilang” )

 

Aku hilang… hilang arah…

Tak tahu siapa aku, siapa kamu…

Gelap… gelap… gelap…

Aku terjebak dalam kegelapan yang mencekam

 

***

Deg! Ananta merasakan dadanya naik-turun memburu karena cemas, Rachel hilang…!

Ananta menemui manajer penginapan dan mendatangi kantor polisi terdekat. Dengan jeep sewaan, Ananta bergerak dengan kecepatan rendah, menyusuri jalan-jalan. Ia pasang matanya dengan awas, seringkali ia berhenti dan bertanya pada siapa saja yang ia temui di malam selarut itu.

Ananta berhenti di depan pasar tradisional yang sepi. Ia masuk ke dalamnya. Beberapa orang sedang menurunkan bermacam sayuran dari mobil pick up bak terbuka. Kesibukan pasar untuk persiapan pagi yang sebentar lagi tiba.

Mata Ananta menyapu segala yang terhampar yang terjangkau pandangannya. Ia perhatikan satu persatu orang-orang yang dijumpainya, berharap Rachel adalah salah satunya.

Langkah kaki Ananta terhenti di dekat seorang pria berambut gondrong awut-awutan di pojok pasar, di dekat tumpukan sampah. Baju pria itu begitu kumuh, pria separuh baya yang terus saja berbicara sendiri.

“Dunia semakin tua, manusia sulit diatur, maunya menang sendiri, maunya enak sendiri, mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri, menumpuk-numpuk harta-benda untuk keluarga sendiri, tidak peduli dengan orang lain,” kata pria itu sambil tangannya menunjuk-nunjuk pada meja kosong pedagang daging.

Bau amis daging menyebar di sekitar area. Sampai Ananta pergi menjauh, pria itu terus saja berbicara. Entah siapa dia.

“Rachel, dimana kamu Rachel,” lirih suara Ananta.

Kemana kan kucari, dirimu yang telah mencuri hati

Kau datang laksana buih gelombang di pantai selatan

Kau hilang bersama dinginnya hembusan angin malam

Aku beku dalam pusaran waktu yang seolah berhenti

Penantian ini terasa sangat lama, sangat lama…

Satu menit seolah seribu tahun rasanya, rasanya…

Kembalilah, Sayang…. mari bersama merenda hari

Setapak demi setapak, kita singkap misteri hidup ini

 

Satu jam, dua jam, tiga jam, lima jam, tak ada tanda-tanda dimana Rachel berada. Rachel seperti lenyap ditelan bumi.

Pagi tiba, kehidupan baru dimulai, sekelompok anak-anak dengan pakaian seragam mengendarai sepeda menuju sekolah. Ananta berputar-putar mengelilingi kota Magelang. Ia habiskan waktu seharian hingga matahari hampir terbenam untuk blusukan ke kampung-kampung.

Tiba-tiba telepon genggamnya bergetar. Dari ujung telepon, polisi mengabarkan Rachel ditemukan di tepi pantai selatan. Ananta langsung memutar balik dan tancap gas.

Ananta menyibak kerumunan di tepi pantai. Ia kaget, ada Julia di sana. Rachel rebah dalam pangkuan Julia. Ananta melihat genangan di mata Julia. Wajah Rachel pucat pasi, tubuhnya menggigil basah. Tatapan mata Rachel kosong, tidak tahu apa-apa, tidak ingat apa-apa.

Ananta memang mengabarkan ‘hilang’nya Rachel kepada Julia sebelumnya. Begitu mendengar kabar Rachel hilang, Julia langsung terbang menyusul ke Magelang. Julia merasa ikut bertanggung jawab atas Rachel, karena perjalanan mereka juga adalah saran darinya yang mengungkapkan bahwa travelling tersebut sebagai bagian dari terapi.

Julia bergabung dengan tim kepolisian, menyisir bagian selatan Magelang, hingga perjalanan mereka sampai di Pantai Ketawang. Pantai tradisional yang sangat indah dengan deburan ombak laut selatan. Ombaknya kadang sangat besar hingga mencapai ketinggian tiga meter. Bibir pantainya sangat luas, dengan hamparan pasir yang lembut.

Segala keindahan itu tak terasakan karena di pantai ini Rachel ditemukan dalam keadaan kosong. Rachel tidak bisa ditanya, tidak bisa menjawab apa-apa. Hanya diam dengan tatapan mata hampa.

Seorang nelayan menyaksikan Rachel berendam lama sekali di tepi pantai itu. Lambat laun Rachel menuju tengah laut. Nelayan yang bernama Taufan itu dengan sampan kecilnya mendekati dan menarik Rachel.

“Bahaya sekali, dia bisa terseret ombak yang ganas,” terang Taufan pada Ananta.

Ananta mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang diberikan Taufan pada Rachel.

Saat itu juga Rachel dievakuasi ke rumah sakit jiwa di tepi lereng gunung, di antara bukit perkebunan teh di kawasan Jawa Barat, dimana selama ini ia dirawat.

***

Sebentar terang, sebentar gelap…

 

Pendar terangmu menyilaukan mata, lalu kamu padam, padam…

 

Ananta terhenyak, Rachel benar-benar sudah kehilangan kesadarannya. Rachel kadang menangis, tersenyum dan tertawa tanpa sebab. Rachel benar-benar tergantung orang lain kini, untuk makan dan membersihkan diri saja harus dibantu suster. Jaringan syaraf di otak Rachel mengalami gangguan yang parah, hang.

“Lakukan yang terbaik, dok. Saya mencintainya. Saya tidak mau kehilangan harapan,” kata Ananta pada Julia.

Begitu Ananta keluar dari ruangannya, Julia membiarkan buliran air matanya mengalir. Julia mengerjap-ngerjapkan matanya, menghalau duka.

Rachel kini bukanlah orang lain bagi Julia. Ia melihat banyak persamaan antara Rachel dan Wulandari. Golongan darah mereka sama. Gestur tubuhnya juga sama. Semakin sering Julia mengamati Rachel, ia seperti melihat Wulandari muda.

Julia merasa tak ada waktu lagi untuk menunda-nunda menyampaikan apa yang diketahuinya ini pada ibunya, Wulandari. Julia akhirnya menceritakan semua yang dirasakannya pada Wulan melalui telepon.

Mendengar penuturan Julia, Wulan merasakan seolah bumi berguncang, bulu kuduknya merinding, telepon lepas dari genggamannya, matanya berkunang-kunang. Sebelum ambruk karena pingsan, tangannya meraba-raba meja, memegang ujung meja dengan kuat. Wulan menyenderkan punggungnya pada senderan kursi.

‘Anakku, anakku,’ batin Wulan.

Rasa lega, kegembiraan yang meluap mewujud dalam air mata yang tumpah. Wulan merasa inilah jawaban atas doanya pada tiap-tiap malam, doa sepanjang musim. Dalam hati kecilnya, Wulan sangat ingin bertemu bayinya itu. Bayi satu-satunya yang pernah ia kandung dan lahirkan. Keputusan impulsifnya di masa muda menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Setengah limbung, ia melangkah ke kamar mandi, mengambil air wudhu kemudian melakukan sujud syukur. Ia tumpahkan air matanya di atas sajadah. Satu-satunya tempat dimana ia merasa bebas menumpahkan isi hatinya, pikirannya. Wulan menempelkan dahinya di atas sajadah dalam waktu yang lama.

‘Andai aku bisa memutar waktu, tak akan kulakukan tindakan bodoh itu. Terima kasih Tuhan, Engkau penjawab segala jerit tangis hamba-Mu yang hina ini,’ batin Wulan bersuara, berusaha menguasai diri.

***

“Ibu?” Julia terkejut, begitu membuka pintu, ternyata Wulan yang mengetuk pintu.

Julia memeluk Wulan erat, “Kenapa Ibu tidak menungguku?” Julia sudah janji akan menjemput Wulan esok lusa.

“Antarkan Ibu ke rumah orang tua Rachel,” pinta Wulan dengan suara menyayat hati.

Julia memandangi wajah Wulan. “Ibu baru datang, nanti sore ya?”

“Kalau kamu tidak mau mengantar, Ibu pergi sendiri,” kata Wulan dengan wajah kecewa.

“Bukannya tidak mau, Bu. Oke, tunggu sebentar,” Julia bergegas ke kamar, berganti baju dengan cepat.

Menyangkal keberadaanmu sama dengan menyangkal keberadaanku

Cukup sudah penyangkalan ini, aku menerimamu sebagaimana kuterima diriku

Kamu bagian dari diriku, anakku… maafkan ibu… pantaskah aku disebut “Ibu…”

****

(Bersambung : “Malam Membeku” )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s