Bumi Itu Satu

Oleh: Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Ananta menggendong anak balita perempuan yang tewas tertimbun reruntuhan puing-puing bangunan 3 lantai di Gaza. Sebuah rudal yang telah menghancurkan bangunan itu. Ada memar di wajah Ananta akibat hantaman benda tumpul yang keras, tapi darah dari hidungnya sudah mengering bercampur debu.Ananta membawa gadis mungil tanpa nyawa itu ke tepi jalan, memasukkannya ke dalam kantung mayat, berjejer dengan belasan mayat yang lain. Bersama relawan lain dan petugas gabungan Tim Search and Rescue, Ananta mengevakuasi korban yang terluka parah dan tewas.

Penampilan Ananta sudah sangat berubah, rambutnya gondrong, kumis dan jenggotnya tumbuh, sudah berbilang bulan ia tidak mencukurnya.

***

Bumi ini satu, tak peduli di mana kamu berada…
bila kamu berguna bagi kehidupan, itulah hakikatmu yang sebenarnya…

Ananta telah menjual seluruh aset yang dimilikinya dan akan travelling menuruti langkah kakinya. Ia pergi ke Citarik, bermain rafting, lalu ke Bali menantang ombak di tengah lautan, bermain jet ski, menyelam ke dasar samudera di Bunaken, mendaki Gunung Bromo, dan menyusuri ujung Sumatera dengan sepeda gunung.

Setelah menjelajahi berbagai pelosok nusantara, Ananta terbang ke Jepang, ia bermain snowboard di Nagano. Salju dan sakura mengingatkan Ananta pada Carla.

“Salju dan sakura tak mungkin bersama. Kalau mereka memaksa, mereka akan mati,”

‘Ya Carla, kamulah sakura itu. Dan akulah saljunya,’ batin Ananta, pedih.

Perjalanan Ananta sampai di Jerman. Ananta mengunjungi kedua orang tuanya, Mikhail Schiller dan Halimah Sayidina. Ananta mengundang beberapa teman ke rumah untuk makan malam bersama dengan menu hidangan buatan ibunya.

Petualangan Ananta berhenti di negara konflik Palestina.

***

Ketika sedang berusaha mengeluarkan seorang Ibu yang telah meninggal terkubur reruntuhan, Ananta menemukan botol bening yang tebal berisi kertas yang digulung hingga kecil. Seperti surat dalam botol.

Ananta mengeluarkan kertas itu, sebuah surat cukup panjang yang ditulis dalam bahasa Arab.

———

Assalamu’alaikum wr. wb.

Aku yakin banyak orang yang akan mendengarkan kata-kataku ini. Dan juga yakin, sebagian besar dari Anda peduli tentang kami, atau mau peduli tentang penderitaan kami.

Untuk itulah Anda membaca surat ini. Aku ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas perhatian Anda.

Kami menyambut hari dengan memastikan bahwa kami memiliki cukup cadangan air untuk diminum. Namun, listrik padam, sehingga kami tidak bisa memompa air.

Aku juga harus memastikan ketersediaan stok makanan untuk anak-anak karena sulitnya mencari kebutuhan pokok. Sebab, tentara Israel telah membunuh penjual makanan yang biasa datang ke tempat kami. Israel juga telah membunuh tukang air keliling yang tiap pagi lewat di kampung.

Aku juga takkan membiarkan suami pergi mencari air atau makanan. Karena kuyakin, bila suamiku nekat pergi ke pasar, dia tak bakal kembali lagi. Sebab, jika drone (pesawat mata-mata Israel) melihatnya membawa kantong makanan, ia dijadikan sasaran tembak.

Drone Israel akan menganggap suamiku—yang menggotong karung di pundaknya—sebagai ancaman. Padahal, dia mungkin hanya membawa kentang atau tomat. Dan aku pun bakal hidup sendiri tanpa suami dan kekasih hati.

Di malam hari, aku mengajak anak-anak tidur bersama dalam satu ruangan. Aku berkisah kepada mereka tentang kekejaman perang dan menjawab setiap pertanyaan mereka tentang serangan brutal Israel.

Ketika anak-anak telah tidur pulas, kupandang wajah-wajah mereka yang polos di balik kegelapan. Maaf jika lancang… aku seolah-olah melihat calon-calon korban pembantaian di wajah anak-anakku.

Aku teringat wajah bocah-bocah yang jadi korban pembunuhan serdadu Israel, dan membayangkan tubuh anak-anakku bersimbah darah atau hancur di bawah puing-puing.

Aku menangis, tersedu, terisak… dan berdoa kepada Allah agar menjaga keselamatan anak-anakku. Atau jika memang Allah mau mengambil nyawa mereka, hendaknya Dia memberikan kematian yang indah agar mereka tak merasakan perihnya sakaratul maut.

Aku juga selalu membawa KTP kemana-mana, setiap saat. Dengan demikian, jika aku mati nanti, mereka akan tahu ada lagi seorang Palestina yang telah mengorbankan darahnya demi tanah air. Di lain pihak, entah mengapa, aku yakin setiap tetes darahku telah menjadi incaran Israel.

Yang kuharapkan dari orang-orang yang mendengarkan kata-kataku ini… untuk bersikap seolah-olah mereka berada di posisi kami. Merasakan sakitnya perang, mendengarkan dentum roket dan bom di atas kepala, menanti kematian yang datang menghampiri detik demi detik.

Walau demikian, aku yakin mimpiku menjadi nyata, suatu saat nanti. Aku hanya berharap darimu, dari Anda semua, bantulah kami mewujudkan impian itu. Bangkitlah bersama-sama, hadapi pemerintah Anda, pemerintahan yang bisu tanpa suara. Katakan kepada mereka, “Sebagai manusia kami juga punya hak untuk hidup, melawan, dan menang. Kami akan menang, suatu hari nanti!”

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Suheila al-Dallu

Jalur Gaza, Palestina

———

Setelah diidentifikasi, Suheila al-Dalu adalah salah satu dari jenazah yang berada dalam kantung mayat di pinggir jalan itu.

Sebagian orang meninggal sambil mengerang
mengeluhkan rasa sakit mereka
Tapi anak-anak hanya diam
Mereka mati dalam kebisuan
bagai daun-daun yang berterbangan tertiup angin….

 

(Sambungannya : Kepingan Senja di Yerusalem)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s