Selamat Tinggal Masa Lalu

Oleh :  Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya: Bumi adalah Ibuku, Angkasa adalah Ayahku )

 

Perempuan usia dua puluhan itu menatap kosong ke arah tempat pembuangan sampah… Hatinya remuk redam, sepanjang hari ia tak mampu betul-betul melepas lelah dan beristirahat dengan nyaman. Ia gundah akan apa keputusan yang telah dibuatnya tadi pagi.

Wulan kembali ke tempat pembuangan sampah itu, ingin mengambil bayi yang telah dibuangnya. Namun Wulan kehilangan jejak.

Cahaya kemerahan matahari berganti jingga dan mulai meredup. Seiring doa yang ia panjatkan ke langit untuk keselamatan anak kandungnya yang ia sia-siakan begitu saja pagi tadi.

aku mendengar…
ia menangis merindu kehangatanku

aku merasakan
ia berteriak memanggil namaku

karena ruhnya separuh milikku

tak akan ada yang mampu untuk mengerti
tak akan ada yang bisa memahami
karena ini hanya lukaku sendiri

peluklah aku dalam bayanganmu
ingatlah aku dalam ragamu
dan akan kutaburi hidupmu dengan puji-puji syair doaku
karena hidupku t’lah kupertaruhkan untuk memberimu napas dalam kehidupanmu.

***

Beberapa hari dan minggu setelahnya, Wulan kerap kembali tempat pembuangan sampah itu, dan ia memang telah kehilangan bayi yang dibuangnya. Berulan-bulan Wulan sempat menjalani masa seperti orang gila. Ia berkeliling kota, turun ke jalan, melihat-lihat anak jalanan, berharap menemukan seorang anak perempuan kecil yang akan ia yakini sebagai bayinya. Namun hasilnya nihil.

Wulan terduduk lesu pada sebuah halte bus. Matanya kembali basah, meski tak ada air mata yang menetes karena kini batinnya yang menangis.

Tepat di bawahnya duduk 3 bocah imut berusia sekitar tujuh tahunan sedang makan nasi bungkus lauk tahu dan sayur daun singkong. Satu nasi bungkus melawan tiga mulut kelaparan, pertandingan tak seimbang itu berlangsung hanya dalam waktu satu menit, nasi bungkus KO, ludes oleh tiga bocah ingusan itu.

Panasnya mentari siang itu yang membakar aspal dianggap hanya seperti hujan salju oleh bocah-bocah berkulit legam dan berambut pirang terbakar ultraviolet itu. Pemandangan yang sangat kontras dengan wajah-wajah para pengendara berdasi di dalam mobil ber-AC yang sibuk bersungut-sungut tidak jelas, mengutuki keadaan.

Tiba-tiba salah satu dari mereka memberikan sebuah bungkusan nasi ke arah Wulan dengan tangan mungilnya sambil berujar, “Tante kenapa? lapar ya..? gak punya uang..? Ini masih ada satu bungkus nasi lagi…, tadinya ini untuk nanti sore.. tapi kalo tante mau.. ambil aja.. nanti kami bisa cari uang lagi untuk beli…”

Bocah itu menatap Wulan dengan bola matanya yang berbinar lugu dan ceria disertai dengan senyuman manis.

Sungguh itu adalah senyuman terindah yang kontan menguyur hatinya menjadi sejuk. Senyuman yang menjadi titik balik kehidupan Wulan selanjutnya.

***

(*Sambungannya ke sini: Selamat Datang Cinta )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s