Selamat Datang Cinta

Oleh :  Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

Sebelumnya : Selamat Tinggal Masa Lalu

 

Saat masa-masa Wulan sering memperhatikan anak-anak jalanan itulah akhirnya Wulan sampai menelusuri di mana mereka tinggal.

Suatu malam, di sebuah restoran fast food di pusat kota. Seorang bocah dekil kerepotan membawa bungkusan paket makanan yang baru saja dipesan oleh seorang pemuda. Secara spontan Wulan mencoba membantu anak tersebut membawakannya.

“Biar saya bantu ya…, mau dibawa ke mana dik..?”

Pemuda yang baru saja selesai membayar pesanannya itu kemudian menoleh.., “.. oh.. terimakasih.., ini mau kita bawa ke rumah singgah…, kasihan ada sebagian mereka yang belum makan.. menjelang tengah malam seperti ini, kadang hanya restoran fast food seperti ini yang masih buka…, kalau kamu mau ikut mampir, boleh saja.. yuk…”

Mereka pun berkenalan. Bram namanya. Ternyata ia yang menyediakan rumah singgah bagi anak-anak jalanan tersebut.

Bram ternyata seorang yang juga baru saja menemukan titik balik dalam hidupnya. Namun berbeda dengan Wulan yang melalui keterpurukan, Bram justru melakukan sesuatu yang berbeda.

Bram sebelumnya adalah pemegang posisi penting pada sebuah perbankan asing. Namun kehidupannya hampa. Ada pertanyaan yang selalu mengganjal dalam pikirannya, yaitu tentang “untuk apa ia dilahirkan ke dunia..”

Hingga berbagai tumpukan buku-buku filsafat dan agama ia lahap, namun akhirnya ia menyadari sesuatu bahwa melalui perbuatan nyata yang tuluslah masing-masing kita memiliki tugas hidup di dunia ini.

Sejak itu ia tanggalkan jabatan pekerjaannya, dan mulai mengelola rumah singgah untuk anak jalanan. Kelaparan dan kehausan dengan uang tak seberapa sudah menjadi hal biasa yang harus dijalani Bram kemudian.

Mendengar kisah hidup Bram, Wulandari pun memberanikan diri untuk berterus terang. Wulan menceritakan masa kelamnya pada Bram. Wulan menceritakan semuanya, termasuk malam pesta gila yang berakhir di hotel itu.

Hati Bram berdebar menahan emosi mendengar penuturan Wulan. Tapi pada akhirnya Bram bisa mengerti, dan menerima apa adanya ’siapa’ Wulan. Wulan merasa bersyukur mendapatkan kekasih yang menerimanya apa adanya.

“Bukanlah apa yang telah kamu perbuat dahulu yang penting, melainkan apa yang akan kamu lakukan setelah ini.. dan siapa kamu saat ini dan esok hari…”

***

*Lanjutannya : “Peluk Aku”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s