Sayap-sayap Kecil untuk Rachel

 

maple40

Oleh :  Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya : “Peluk Aku” )

 

Matahari sudah bersinar terang, namun Rachel enggan keluar kamar. Ia tidur meringkuk, namun matanya terbuka, tatapannya kosong.

Atas seizin Ananta, Julia memasuki kamar Rachel.

Rachel yang melihat Julia tiba-tiba melompat dari kasur, ia sontak langsung naik darah.

“Beraninya kamu masuk ke sini. Keluar!” bentak Rachel dengan matanya yang menyala.

“Apa yang kamu takuti, Rachel?” tanya Julia yang berdiri tak jauh dari tempat tidur.

“Rachel Wongso Wijoyo,” kata Julia, datar.

Ucapan datar Julia membuat Rachel mengamuk. Rachel menyapu bersih peralatan make up-nya di meja rias dengan sekali gerakan, membuat semua benda itu berhamburan ke lantai.

Julia mengalah. Ia keluar kamar.

Rachel jatuh terduduk di pojok ruangan, menangis.Kepingan buruk masa kecilnya membayang di pelupuk mata Rachel.

Banyak warna buram yang menorehkan luka di hati Rachel. Semasa kecil, Trenggono ayah angkatnya yang kaya-raya suka menghukum Rachel dalam kamar gelap ketika Rachel mendapat nilai buruk di sekolah.

“Anak bodoh! Tunjukkan Rachel itu anak seorang Trenggono!” teriak Trenggono suatu malam sembari mematikan lampu kamar, menutup pintu lalu menguncinya. Trenggono tidak peduli dengan jerit tangis Rachel. Fahira istrinya hanya bisa mengelus dada, merasa tak sanggup mencegah cara suaminya dalam mengasuh Rachel.

Trenggono selalu menekankan agar Rachel menjadi nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi yang terhebat seperti dirinya yang selalu juara satu semasa sekolah. Selalu rangking satu membuat Trenggono merasa superior dibanding teman-temannya yang lain, dan ia ingin Rachel bisa mencontoh dirinya.

Trenggono merasa wajar saja dengan apa yang ia lakukan terhadap Rachel, karena begitulah ia diperlakukan ayahnya dulu ketika kecil. Trenggono dididik dengan kekerasan oleh ayahnya, disiram air seember ketika malas bangun pagi sudah biasa baginya, dan hasilnya Trenggono menjadi orang yang berhasil. Setidaknya, begitulah menurut Trenggono.

Namun tidak bagi Rachel. Rachel tumbuh menjadi pribadi yang rumit, complicated. Apalagi setelah menemukan secarik kertas pesan dari seseorang bernama Wulandari, yang merupakan ibu kandung Rachel, ia menjadi semakin terluka dan terasing di rumahnya sendiri.

Rachel pernah kabur selama seminggu pada masa sekolah menengah atas. Ketika akhirnya Trenggono menemukannya, Trenggono memberikan ultimatum, “Sekali lagi kamu kabur, jangan pernah lagi kembali pulang ke rumah ini. Kamu tidak akan mendapatkan warisan sesen pun!”

Ultimatum yang menginspirasi Rachel untuk mendapatkan kebahagiaan dengan pemujaan berlebihan pada kebendaan. Rachel yang apabila menurut dan bersikap manis, akan membuat Trenggono dan Fahira memenuhi apa saja yang dikehendakinya. Rachel memang akhirnya tumbuh menjadi pribadi superior dan ekstrim.

“Aku ingin mati… aku ingin mati…,” teriak Rachel dengan membentur-benturkan kepalanya ke tembok.

Ananta menarik Rachel dalam pelukannya, tapi Rachel terus memberontak dan seperti memiliki kekuatan ekstra. Rachel  beranjak menuju laci meja riasnya. Diambilnya butir-butir obat-obatan yang selama ini menjadi tempat bergantungnya ia untuk lari dari problema hidup.

***

Sejak kejadian hari itu, Ananta dan Rachel berdiskusi saat malam hari, dan bersepakat agar Rachel mau melakukan therapy dengan bantuan medis secara profesional untuk kondisi kejiwaannya.

Esoknya, bersama Julia mereka berangkat ke kawasan Jawa Barat, ke sebuah rumah panti rehabilitasi dan terapi atas mental disorder. Pada sisi barat rumah besar tersebut terhampar kebun teh, perbukitan dengan lekuk-lekuk yang dihiasi hijau daun teh.

Di rumah sakit, kesadaran Rachel timbul tenggelam. Ada kalanya ia lepas kendali, ada kalanya sadar. Saat kesadaran datang, Rachel menangis dan meminta ikatan di tangannya dilepaskan.

“Aku ingin pulang, Ananta. Aku ingin pulang…,” Rachel merengek-rengek sambil berlinangan air mata.

“Iya Rachel. Di sini hanya sementara, nanti kita pulang. Aku akan menemanimu di sini,” Ananta berusaha menenangkan hati Rachel.

Julia yang bertugas di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo, mengunjungi Rachel dua kali dalam seminggu. Julia memperhatikan kondisi kejiwaan Rachel dari hari ke hari, seperti cuaca yang ekstrim. Sudah terlambat, pikirnya. Seharusnya sudah sejak lama Rachel mendapatkan konseling untuk menstabilkan kejiwaannya.

Makin hari daya ingat Rachel menurun. Terutama hal-hal yang menenangkan jiwanya semakin tertutup kabut gelap, sementara peristiwa-peristiwa traumatis, peristiwa buruk, begitu mudahnya ia ingat. Membuat Rachel mudah meluap, bergejolak hebat. Namun, karena kedua tangan dan kedua kakinya diikat, Rachel hanya bisa telentang sambil berteriak-teriak ketakutan. Obat penenang dari dokter sepertinya tidak banyak membantunya.

Namun ada kalanya Rachel begitu ceria, ia mandi lalu berdandan rapi dan mengajak Ananta berjalan-jalan di taman rumah sakit.

Bagaimana Rachel bisa begitu ekstrim ke kiri dan ke kanan dalam waktu hampir bersamaan.

“Bagaimana kantor? Kamu di sini terus?” tanya Rachel dengan wajah khawatir.

“Sudah, sudah ada yang mengurus. Tenang aja,” jawab Ananta getir.

Ananta mengendalikan perusahaannya di rumah sakit jiwa. Ia memilih kamar yang luas dan pada satu pojok ia set layaknya ruang kerja, di situlah ia bekerja dan berkomunikasi dengan orang-orang kepercayaannya.

“Bukan masalah aku tinggal di mana saja, selama ada kamu di sisiku, Ananta,” kata Rachel sambil menatap lembut pada wajah Ananta. Ananta tersenyum dengan bibir terkatup.

“Terima kasih sudah menjadi suamiku, Ananta. Terima kasih sudah menemaniku selama ini,” lanjut Rachel sambil bergelayut manja, membuat Ananta berkaca-kaca.

“Terima kasih, Tuhan. Sudah mengirimkan ’sayap-sayap kecil’ malaikat untukku…,”

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s