Peluk Aku

Oleh :  Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Sejak pertemuan dengan Julia di Departemen Psikiatri FKUI-RSCM, Rachel lebih sering mengurung diri di dalam kamar, malas makan, malas berdandan dan enggan pergi ke luar rumah.

Pada saat yang sama Ananta harus berjuang membayar gaji para karyawannya dan membayar tagihan-tagihan utangnya. Bagaimana pun perusahaan harus terus bergerak meskipun dengan utang. Dengan kontrol biaya yang ketat, Ananta dibantu oleh Rendy sahabatnya, sedikit demi sedikit me-restrukturisasi utang-utangnya dan secara bertahap memulihkan kembali usaha-usahanya yang sempat kolaps.

Di sisi lain, Jimmy, asisten kepercayaan Rachel, bolak-balik dari kantor dan rumah Ananta untuk mengurus sejumlah pekerjaan yang ditangani Rachel.

Ananta menyarankan pada Rachel untuk menjual saja perusahaannya kalau ia sudah malas-malasan mengurusnya, sebelum benar-benar jatuh bangkrut. Rachel menerima saran itu. Selebihnya, Rachel tidak menanggapi pertanyaan Ananta terkait hal-hal yang membuatnya sangat berubah akhir-akhir ini.

Hari terus berganti, Ananta sangat memerlukan bantuan profesional untuk mengatasi persoalan psikis Rachel. Istrinya itu semakin pendiam namun secara tiba-tiba bisa menunjukkan sikap yang sangat agresif. Marah sedikit saja, Rachel dengan mudahnya melempar gelas atau benda apa saja yang sedang berada di dekatnya.

Ananta lantas menelepon Julia, memintanya untuk datang ke rumah, untuk melakukan pendekatan secara perlahan-lahan pada Rachel.

“Gangguan bipolar membuat mood swing pada seseorang. Mood yang tidak tidak menentu, bisa berayun dari yang paling rendah (depresi) ke yang paling tinggi (mania). Seseorang yang mengalami bipolar disorder kadang saat tertentu bersikap normal saja tapi bisa tiba-tiba berubah sikapnya menjadi sangat ekstrim sehingga disebut manik depresif…, “dr. Julia menjelaskan hasil diagnosanya tentang Rachel kepada Ananta.

Julia melanjutkan, “… Pada fase mania, penderita bipolar disorder dapat menjadi hiperaktif dan tidak bertanggung jawab. Dan pada fase depresi sulit sekali untuk mengerjakan apapun… Rachel butuh terapi sesegera mungkin…”

Rachel menganggap sepi kehadiran Julia, bahkan mengusirnya. Sikap yang membuat Julia semakin yakin bahwa Rachel memang sakit dan sangat membutuhkan pertolongan.

“Kamu masih saja datang. Aku sudah bilang kamu tidak perlu ke sini lagi!” sambut Rachel pada Julia.

“Jangan terlalu serius, Rachel. Mungkin kita bisa ngobrol ringan layaknya teman, sahabat,” kata Julia, tersenyum.

Julia berusaha mengambil hati Rachel. Penolakan Rachel membuatnya semakin ingin mendekatinya.

“Kamu cocoknya berteman dengan orang-orang gila itu. Jangan coba-coba menarikku ke kumpulan orang gila dalam kerangkeng itu!”

“Mereka tidak seperti yang kamu pikirkan, Rachel. Mereka tidak gila, hanya ada sebagian yang terganggu jiwanya, tingkat gangguan juga berbeda-beda pada tiap orang…”

“Terserah kamu. Aku tidak mau tahu!” Rachel meninggalkan Julia di ruang tamu. Rachel masuk kamar dan membanting pintu.

Ananta menarik napas perlahan, melihat semua adegan di depan matanya itu.

“Semoga dokter tidak kapok untuk ke sini lagi,” kata Ananta pada Julia.

“Dia membuang obat yang dokter berikan,” lanjut Ananta.

Ananta tidak tahu, Rachel lebih percaya obat yang ia dapatkan dari dr. Andika.

Pada Ananta, Julia menjelaskan apa-apa yang sebaiknya Ananta lakukan dalam periode awal ini. Ananta harus menjaga suasana hati Rachel agar tetap dalam keadaan stabil. Rachel harus dijaga rasa aman dan nyamannya.

Rachel seperti menjadi pusat. Ananta berusaha keras membagi waktu dan perhatian secara bijak antara untuk Rachel dan untuk perusahaannya yang sedang dalam masa pembenahan. Sering Ananta membawa pekerjaan ke rumah, agar lebih bisa memantau Rachel yang kondisi emosinya cepat berubah-ubah.

Ananta menyediakan seorang suster dan seorang security untuk mengantisipasi keadaan yang kritis. Sebab walaupun Rachel meyakinkan Ananta bahwa dirinya baik-baik saja, Ananta tidak percaya. Ananta merasa, tinggal menunggu waktu untuk sebuah ledakan besar, entah apa itu masih ada semacam kabut yang menghalangi pandangan batinnya.

Hati Ananta hancur melihat Rachel menangis di ujung ranjang. Rachel menangis tanpa bisa ia tanya apa sebabnya. Rachel sangat tertutup, tidak mau bercerita apa yang membuatnya menangis di malam-malam yang sepi. Anehnya, Ananta menjadi bertambah rasa sayangnya pada Rachel.

‘Carla, apakah ini yang kamu maksudkan bahwa Rachel butuh pertolongan,’ kata hati Ananta.

“Tidak harus sekarang. Kuharap ada saatnya kamu mau berbagi apa yang kamu rasakan padaku, Rachel,” bisik Ananta di telinga Rachel.

Bagaimana Ananta bisa percaya suara-suara sumbang yang beberapa waktu lalu ia dengar, bila kini di depan matanya Rachel menangis seperti bayi tanpa dosa. Rachel itu babyface, sulit baginya percaya Rachel bisa melakukan sesuatu hal di luar batas. Tapi semua itu sudah tidak penting lagi dibahas, pikir Ananta, kesehatan mental Rachel kini merupakan prioritas baginya.

“… Ananta…, peluk aku…” ucap Rachel lirih.

Ananta memeluk Rachel, membelai rambutnya, membiarkan Rachel menangis tergugu di dadanya. Ananta berjanji akan selalu ada untuk Rachel.

***

It’s hard for two people to love each other when they live in two different worlds…

But when these two worlds collide and become one…,

that’s what you call : “you and I…”

***

*Bersambung…. : “Sayap-sayap Kecil Malaikat untuk Rachel”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s