Antara Mimpi dan Kenyataan

Oleh :  Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

(Sebelumnya : “Little Wings” )


Pagi itu, Julia sedang menikmati egg sandwich-nya di sekitar halaman FKUI, sambil membaca kertas-kertas dalam genggamannya.

Ananta yang pagi itu memang berencana menemui Julia tiba-tiba hadir di sampingnya.

“Pagi Julia…” sapa Ananta.

Dengan agak sedikit terkejut, perempuan berambut pendek yang mengenakan kemeja putih dan blue jeans itu, langsung merapikan kertas-kertas yang dibacanya. Tapi angin meniup ketas-kertas itu hingga berterbangan. Ananta mencoba membantu memunggut setiap lembaran ke sisi Julia. Sejenak Ananta memperhatikan selembar kertas yang berisikan beberapa catatan dengan nama Rachel di atasnya.

“Pagi juga Ananta… terimakasih..” jawab Julia.

“Sama -sama..”

“Ananta… entah kenapa aku merasa memiliki keterikatan emosional dengan Rachel. Mungkin kamu memiliki pikiran yang sama denganku tentang hal ini…”

“Tentang nama belakangmu yang serupa dengan nama belakang Rachel?”

“Ya…”

“Apakah ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?”

Julia menarik nafas panjang dan mulai bertutur.

Sejak Ananta dan Rachel bertemu dengannya, keesokan harinya Julia langsung menelepon ibunya, Wulandari.

Diceritakannya bahwa ibunya yang awalnya berat untuk mengisahkan masa-masa pahit dalam hidupnya itu kemudian mulai membuka semua lembaran kelamnya.

Dengan isak tangis Wulandari sama sekali tak menyangka, dan masih bertanya-tanya apakah Rachel yang ditemui Julia itu benar-benar anaknya yang dulu ia buang.

Sejak Wulandari membuang bayinya dan bertemu dengan Bram, Wulandari hidup normal, menyelesaikan kuliah, bekerja kemudian menikah dengan Bram.

Di hati Wulan, terpatri sosok Wongso Wijoyo, kakek dari pihak ayahnya. Meski kakeknya itu meninggal dunia ketika Wulan berusia tujuh tahun, namun rasa sayang yang ditorehkan Wongso Wijoyo membekas di hati Wulan hingga ia besar. Itulah mengapa ia ingin bayi yang dibuangnya itu diberi nama belakang Wongso Wijoyo.

Hal ini yang membedakan hubungan Wulan dengan ayahnya, Prambudi, yang lebih sering bersikap galak pada anak dan istrinya. Entah apakah karena tekanan pekerjaan atau karena seringnya berpindah-pindah kota karena tugas, tanpa membawa anak istrinya, yang membuat Prambudi alpa memperhatikan anaknya. Sementara Sari, ibunda Wulan, tipikalnya nrimo secara kebablasan, tidak mampu menyelami hati anaknya, tidak bisa kritis melihat keadaan di sekitarnya. Sari mengira semua baik-baik saja.

Beberapa tahun setelah menikah dengan Bram, Wulandari tidak kunjung hamil. Tahun-tahun itu membuat Wulandari berpikir bahwa itulah karma yang harus dijalaninya. Karena itu sebagai bentuk penebus rasa bersalahnya, ia mendirikan yayasan yang bergerak di bidang parenting. Ia membuka kelas atau semacam pelatihan yang bisa diikuti oleh orang tua, siapapun, yang mau belajar bagaimana mengasuh, mengasah dan mengasihi anak dengan pola yang tepat.

Dan di tahun berikutnya akhirnya Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada Wulandari untuk kembali mengandung janin di dalam rahimnya. Itulah Julia yang sembilan bulan kemudian hadir ke dunia memberikan harapan baru dalam kehidupan Wulandari dan Bram.

Kini ayah Julia, Bram, sudah meninggal lima tahun silam. Sejak Bram meninggal, Wulan meninggalkan Jakarta, pulang ke kampung halaman kakek buyutnya di Solo. Di sana Wulan membaur dengan masyarakat setempat, mengembangkan program parenting yang sudah ia rintis sejak lama di Jakarta.

Dua tahun berikutnya, Wulan mendirikan taman kanak-kanak. Wulan menikmati momen berada di tengah anak-anak yang banyak, dengan cara itulah ia meredam emosi negatifnya di masa yang lalu, dimana ia telah membuang anak kandungnya sendiri.

“Semua orang menjalani karmanya sendiri-sendiri…”

Ananta terdiam cukup lama. Matanya memandang jauh entah kemana saat mendengar penuturan Julia.

“Ah.. ini, aku temukan beberapa obat-obatan yang nampaknya sering dikonsumsi oleh Rachel selama ini. Aku curiga ia begitu ketergantungan dengan obat-obatan yang diminumnya. Dan ini ada beberapa resep dari dokter yang sulit aku baca.” Ananta memecah kebisuannya sendiri.

Jula melihat catatan resep dokter yang diberikan Ananta. Nampaknya ia kenal dengan goresan tanda tangan dan tempat praktek dokter yang memberikan resep obat tersebut.

“Hmm… nampaknya ini merupakan resep dari dokter Andika, kolegaku. Baiklah, nanti saat makan siang aku akan menemuinya dan menanyakan semua hal tentang catatan medis Rachel pada Andika… um.. 5 menit lagi aku harus mengajar.. aku akan menghubungimu jika ada perkembangan lebih lanjut, Ananta..”

Julia beranjak dan melangkah cepat memasuki koridor kampus. Ananta masih berdiam di tempat, menatap punggung Julia yang menjauh. Ia baru bangkit saat sosok Julia berbelok dan menghilang dari pandangannya.

***

“Ia tak mau mendengarkan saranku Julia. Aku sudah memperingatkannya bahwa ia harus melakukan terapi sesegera mungkin…” jelas dr Andika kepada Julia.

“Ya.. Rachel malah menjadi addicted dengan obat-obatan penenang itu.. dan itu semakin menurunkan kondisi kejiwaannya sekarang. Kini Rachel berada di panti rehabilitasi gangguan jiwa di daerah Bogor… Dan terakhir kulihat kondisinya lebih baik dari sebelumnya,” tambah Julia.

“Menurutku, terapi yang terbaik itu sebaiknya Rachel berada dalam lingkungan orang-orang terdekatnya yang mempunyai cinta yang tulus terhadapnya. Mendengar kisah latar belakang Rachel, ia membutuhkan orang-orang yang menerima ia apa adanya. Ia mengalami pengalaman traumatik dalam batinnya jika ia merasa ‘ditolak’ oleh orang-orang terdekatnya sendiri…” terang Andika.

“Tapi tak mungkin Ananta, suaminya, mampu untuk mengatasi Rachel sendirian…” Julia berkata pelan.

“Karena itulah kita bantu mereka… Kini Rachel ada dalam penangananmu.. Aku yakin kamu tau treatment seperti apa yang seharusnya kamu berikan untuk Rachel… Saranku… biar Rachel menikmati indahnya hidup… mm.. mungkin liburan atau jalan-jalan bersama suaminya.. travelling ke tempat-tempat yang indah…”

“Ya.. aku pun berpikir demikian…, hmm.. baiklah.. aku akan segera bicara dengan Ananta..”

***

Ananta melalui hari-hari yang melelahkan, menemani Rachel dengan suasana hatinya yang turun-naik secara sporadis. Kadang Ananta merasakan dunia ini gelap, entah apakah masih ada setitik cahaya di ujungnya nanti. Saat sulit seperti itu, Rendy datang mengajak Ananta ke restoran hotel yang mewah.

“Ada perayaan apa nih..?”

“Haha… kabar gembira my brother.. kabar yang sangat bagus…” Rendy lantas megeluarkan i-Pad-nya dan mulai browsing. Lalu ia menunjukkan sebuah berita di internet pada Ananta.

Awalnya muka Ananta terkejut, namun senyum lebar langsung mewarnai wajahnya.

“Gilaa…! Hebat..! dahsyat kawan… are you sure ‘bout this? Luar biasa.. hahaha.. congrats.. yes.. we did it! Kita berhasil ‘menampar’ mereka-mereka yang sinis terhadap kita. Kita akhirnya membungkan sorotan media melalui kerja keras kita.., kerja kerasmu bro..!”

Ananta menyalami erat Rendy sahabatnya itu. Ternyata berbulan-bulan Rendy berjibaku untuk mengatasi persoalan-persoalan dalam bisnis Ananta yang ada di titik nol, bahkan minus. Ananta yang usahanya harus megap-megap karena tumpukan utang yang banyak. Kontrak-kontrak kerjasama yang batal akibat berita-berita miring akan dirinya, sedangkan kucuran dana atas pinjaman perbankannya harus tetap dibayarkan dan juga membayar gaji para karyawannya. Ananta hampir tak memiliki dana untuk hidupnya sendiri, meski ia masih memiliki beberapa asset tak bergerak.

Dengan kontrol biaya yang ketat, mereka pun sedikit demi sedikit me-restrukturisasi utang-utangnya dan secara bertahap akhirnya bisa mendapat keuntungan.

Berita yang ia baca melalui i-Pad Rendy adalah mengenai mencuatnya sektor bisnis property ‘Small Office Home Office’ (SOHO) yang ditangani Rendy. Rendy mempu melihat bahwa kian hari kian banyak entrepreneur muda yang bekerja hanya dari rumahnya saja yang juga berfungsi sebagai kantor. Mereka-mereka adalah kaum professional muda yang berwirausaha dengan mengutamakan kualitas kerja, bukan berdasaran absensi masuk ke kantor.

“Tapi bukan soal itu aja bro.. nih ada satu lagi.” Rendy lantas mulai bercerita bahwa sejak kematian bendahara HIPMI, ia penasaran dengan apa yang terjadi. Lewat berbagai peyelidikan dan jaringan yang ia miliki di dunia bisnis dan politik, Rendy berhasil menemukan saksi yang mengakui sebagai salah satu pelaksana untuk membuat ‘seknario’ bunuh dirinya bendahara HIPMI itu.

Saat pengakuannya kepada Rendy, si saksi tersebut terlihat sangat depresi, dihantui rasa bersalah atas keterlibatannya dalam konspirasi yang ia lakukan. Namun sayangnya sebelum tuntas Rendy bisa membuktikan itu semua, si saksi tak lama ditemukan mati bunuh diri lompat dari lantai 25 apartemennya di Jakarta Barat.

Rendy melihat celah untuk melempar sebuah propaganda ‘serangan balik’. Dari beberapa pengakuan saksi yang ia temui, Rendy lantas membentuk ‘tim issue’ dan mulai menguak berbagai dugaan-dugaan akan konspirasi yang terjadi merujuk pada kematian bendahara HIPMI, dan sekaligus mencoba meng-counter issue-issue keterkaitan Ananta akan kasus tersebut.

Lewat berbagai opini yang dilemparkan ke publik, meski kematian itu masih misteri tapi akhirnya khalayak mampu memahami bahwa Ananta sama sekali tidak ada kaitannya apalagi terlibat atas kasus kematian bendahara HIPMI. Nama baik Ananta mulai pulih.

Mendengar semua keterangan Rendy, rona cerah semakin tampak dalam diri Ananta.

“I don’t know what to say…. Ren…, you’re the best..!”

“Antara mimpi dan kenyataan, ada yang namanya kerja keras. Berjalanlah di atas kerikil itu dan yakinlah waktu akan mengubahnya menjadi debu yang sangat halus dan memuluskan jalan kita untuk melangkah lebih jauh dari yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya…”

“Kau ambil deh semua bisnisku itu.., aku mau keliling dunia…!” antusiasme akan hidup mulai nampak di wajah Ananta.

“Hahaha… tenang aja bro.. kamu ajak Rachel travelling sana sekaligus untuk terapi… tapi jangan sampai mati dimakan singa Afrika ya…” seloroh Rendy.

Malam itu meski tak terlihat bintang di atas langit kota Jakarta, tapi kini ada semangat yang berbinar dalam diri Ananta. Tak sabar ia ingin segera merencanakan travelling-nya bersama Rachel.

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s