Lompatan Quantum Rachel

Kolaborasi karya: Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

The Smiling Death

(Sebelumnya: “.. Kita Cerai Saja…” )

 

Dokter Julia menatap wajah Rachel. Sorotan matanya masuk pada kedalaman diri Rachel dan serasa menusuk bathin Rachel. Rachel sejenak seperti mengalami sebuah lompatan quantum yang mencelatkannya pada kepingan-kepingan hidup masa lalu yang ingin dikuburnya dalam-dalam.

Rachel berusaha menyangkal apa yang dirasakannya. Ketika Julia mengamati data pribadi Rachel, ia seperti berpikir lama dan mengajukan sejumlah pertanyaan, Rachel langsung tidak suka.

“Dokter ini kayak polisi sedang menginterogerasi tersangka,” Rachel tersenyum sinis pada Julia.

“Rachel,” Ananta menegur dengan matanya pada Rachel, maksudnya supaya istrinya itu menjaga sikapnya.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya tidak keberatan,” kata Julia menengahi, mencoba menetralisir keadaan. Ia membaca gelagat Rachel tidak suka ditegur suaminya seperti itu.

“Aku mau pulang, Ananta. Aku tidak mau meneruskan pemeriksaan omong kosong ini,” Rachel bangkit tanpa bisa dicegah lagi.

“Rachel,” Ananta mengimbangi langkah cepat istrinya.

Ananta sempat menengok pada Julia, dan Julia tersenyum dan manggut-manggut. Julia seperti ingin mengatakan, tidak apa-apa, jangan paksa istrimu. Itu isyarat yang dibaca Ananta.

Rachel berjalan cepat sepanjang lorong rumah sakit menuju lobby. Ia melangkah zig-zag melewati perempuan renta bertubuh ringkih di kursi rodanya yang sedang didorong seorang suster. Tatapan mata para pengunjung rumah sakit dengan berbagai macam pikirannya menemani gerak lincah kaki Rachel. Ia berhenti sejenak saat ada jenazah ditutupi kain putih didorong di atas ranjang menuju kamar mayat.

“Rachel,” Ananta mencengkeram lengan Rachel supaya istrinya itu berhenti dan mendengarkannya.

“Aku mau pulang. Aku mau di rumah saja. Tempat ini bisa membuatku gila beneran,” kata Rachel dengan sorot mata minta dimengerti.

Aroma obat kimiawi menyengat indera penciuman Rachel, bercampur dengan berbagai macam bau yang mengganggu rasa nyamannya. Ananta tidak tega juga menatap wajah Rachel yang memelas. Ananta tidak mau memaksakan kehendak.

Mereka pun sepakat untuk pulang ke rumah. Rachel yang menangis sepanjang jalan membuat Ananta bertambah bingung.

***

Julia melempar sejumput makanan ikan ke dalam kolam di taman depan rumahnya. Pikirannya kembali pada nama Wongso Wijoyo yang melekat di belakang nama Rachel.

Ketika pertama kali membaca nama lengkap Rachel, Julia seperti tersengat aliran listrik, nama belakang Rachel itu sama dengan nama belakangnya. Julia memperhatikan refleksi wajahnya dari pantulan bening kolam ikan, ia merasakan memiliki kesamaan rahang dengan Rachel.

Julia berusaha menepis perasaannya itu, namun semakin ditepis rasa penasarannya semakin mengganggu tidur nyenyaknya. Sepotong cerita yang masih bersemayam dalam gelap gulita sejarah hidup ibunya meyembul dalam ingatan Julia.

Puluhan tahun silam, saat itu Julia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, ibunya, Wulandari, bercerita sambil menangis, bahwa ia sebetulnya mempunyai saudara perempuan yang diberi nama belakang sama dengan dirinya.

***

Manusia memiliki apa yang disebut sebagai kehendak bebas

manusia bisa memilih jalan hidupnya sendiri

dengan melakukan ketidakberaturan hidup

Namun tetap manusia hidup di alam semesta-dan di-antaranya

Alam semesta bergerak jauh lebih dahsyat dari yang kita kira

Ada pola keteraturan dalam ketidakberaturan jalannya

Ia tak pernah berhenti di satu titik

Apa yang kita kira telah selesai

Sesungguhnya terus berkembang jauh di luar batas nalar manusia itu sendiri

***

Rachel Wongso Wojoyo adalah rahasia besar bagi Wulandari. Wulandari remaja adalah gadis muda yang gemar pergi dari party ke party dan tenggelam dalam dunia gemerlap.

Suatu malam Wulan ikut merayakan pesta lepas lajang Marc, salah satu temannya yang berkebangsaan Belanda, di sebuah diskotik. Malam semakin larut, pesta semakin gila, Wulan yang tengah mabuk berkenalan dengan seorang pria. Pria yang tidak sempat ia tanyakan namanya itu membawa Wulan ke sebuah hotel. Dan terjadilah apa yang terjadi.

Wulan bangun di pagi hari dalam keadaan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Tak ada siapa-siapa di kamar itu. Wulan ingat wajah pria itu, pria yang ia bahkan tidak tahu siapa namanya, telah merenggut kesuciannya. Wulan sempat mengatakan ‘jangan’ dengan suaranya yang lemah, namun alkohol telah menguasai kesadarannya. Wulan sudah ‘habis’ malam itu.

Selang dua bulan kemudian, Wulan tak mendapati dirinya mengalami menstruasi. Dengan perasaan was-was, Wulan pergi ke apotik, membeli test pack.

Esok paginya dengan pikiran yang berkecamuk, Wulan bangun dari tidurnya dan segera menuju kamar mandi untuk menguji test pack yang ia beli.

Diketuk-ketuknya test pack yang untuk kemungkinan adanya kesalahan, namun garis-garis pada test pack itu tetap menunjukkan tanda positif. Wulan terhenyak di dalam kamar mandi. Tubuhnya lemas bersandar pada dinding porselen kamar mandi. Air matanya mulai mengalir, dadanya bergoncang, dan isak tangis tumpah seiring derai suara air yang keluar dari shower.

Wulan tidak berani cerita pada orang tuanya. Ayahnya seorang tentara yang sangat keras menerapkan aturan di dalam rumah. Wulan tak sanggup membayangkan kemarahan macam apa yang ia akan terima dari ayahnya.

Wulan yang berstatus mahasiswa perbankan tingkat empat itu berbohong pada orang tuanya. Dengan alasan magang untuk kepentingan kuliah, Wulan menghilang selama setahun. Wulan bersembunyi di sebuah villa di Puncak, Bogor.

Berkali-kali Wulan sempat berniat menggugurkan kandungannya dengan meng-konsumsi bermacam obat dan buah-buahan yang bisa menggugurkan janin dalam kandungan, tapi semua cara itu tidak mempan. Akhirnya Wulan membiarkan kehamilannya berkembang terus tanpa ia tahu apa yang ia akan lakukan dengan bayinya jika kelak lahir.

***

aku bingung… aku lelah… aku pasrah
olehmu, olehnya, oleh dia, oleh mereka
di mana kini, di mana suara-suara itu

desau angin…?
gemericik air…?
daun rontok…?
bukan.. bukan itu suara yang kucari…

meski riuh dan simpang siur terdengar
namun tak tersimak satu pun suara yang kucari

apakah ini…? apakah ini suara itu..?

ini, ini, ini, ya… ini yang ku cari
suara hati… suara hatiku… suara tangisku…

ku pendam sendiri… ku pikul sendiri… ku remuk sendiri
sepi… sepi… sepi…. hanya simpuh sepiku…

bulir bening air mataku tak mungkin ku redam
ku sembunyikan, ku matikan, ku tinggalkan

bening… hanya ku cari bening…. hanya kupinta bening
untukku bening itu, untukku lagu sendu itu

aku diam tanpa suara
aku bisu tanpa berkata
aku mati tanpa rasa
aku lelah tanpa terasa
aku buta dan nestapa
hilang… hilang… hilang

terbang… jauh melayang ke awang-awang
bersama debu, bersama bulan, bersama bintang…

aku menari bersama ilalang…
aku bersembunyi di balik gersang
dan aku mencinta dengan penuh kesakitan

aku ya aku
seribu tanya dusta dan kebenaran…

aku ya aku
seribu bisu hanya aku yang tahu….

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s