Bumi Adalah Ibuku, Angkasa Adalah Ayahku

Kolaborasi karya: Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

The Smiling Death

(Sebelumnya:Lompatan Quantum Rachel)

 

Aku belajar dari karang
yang tak luka ditampar lidah gelombang

Aku belajar dari embun
yang ikhlas untuk luruh dari ujung daun

Aku belajar dari waktu
tentang sabar dan setia dalam menunggu

Namun aku tak pernah tahu…

bagaimana belajar menyusun mimpi
yang menjelmakan ada dan tiada…

 

Dua lelaki itu terdiam. Sesaat setelah Wulan mengatakan dirinya hamil.

Chris dan Rizal adalah teman terdekat Wulan yang bisa ia percaya. Keduanya merupakan teman ‘dugem’ Wulan. Meski begitu mereka berdua sangat setia kawan dan memiliki solidaritas untuk membantu jika ada temannya yang berada dalam kesulitan.

“Aku mengerti jika diantara kalian tidak ada yang mau menikahiku dan menjadi ayah dari anakku kelak. Aku sadar bahwa pernikahan bukanlah hal main-main. Ini soal hidup untuk masa depan. Dan kita yang selama ini hidup dengan ‘nikmati hari ini, lupakan masa depan’ tak mudah jika mendadak harus mengubah haluan… tapi sungguh ini sangat berat buatku…” isak Wulan di depan kedua teman laki-lakinya.

Lanjutnya, “… tapi aku minta tolong jika saatnya bayi yang di dalam kandunganku ini harus lahir, bantu aku untuk membawaku ke rumah sakit dan mengurus hal-hal yang berkaitan dengannya… nanti setelahnya, aku tidak akan merepotkan kalian lagi…”

***

Hari pertama di sembilan bulan usia kehamilan Wulan telah lewat, nampaknya bayi dalam kandungannya sudah tidak ingin berlama-lama berada dalam rahimnya.

Di sebuah ruang persalinan RSUD di kawasan Bogor, dini hari pukul dua malam, pecahlah tangisan seorang bayi cantik dengan selamat. Raut wajah Wulan yang sebelumnya menunjukkan kesakitan yang amat sangat mendadak berubah terang seperti atlet olimpiade yang memenangkan medali emas, setelah berbulan-bulan sebelumnya ditempa berbagai  pressure mental.

Sejenak Wulan begitu amat sangat kelelahan dan ia tertidur pulas saat bibir mungil bayinya pertama kali menyentuh payudaranya.

Hari masih sangat pagi saat Wulan terbangun. Sedikit tertatih ia berusaha jalan untuk mencari suster dan menanyakan bayinya.

Ternyata dari keterangan suster jaga pagi itu, Chris dan Rizal telah mengurus segala administrasi kelahiran bayinya. Bahkan kedua teman dekatnya itu pun telah mengurus soal ‘surat penjaminan’ agar Wulan bisa segera pulang dari rumah sakit, dan tak perlu berlama-lama ada di sana.

Perasaan yang sangat aneh begitu melingkupi diri Wulan. Di saat ia begitu berbahagia menggendong anaknya sendiri namun di saat yang sama ia berjalan gontai keluar dari rumah sakit, ingin dibawa kemana ia bersama bayinya itu.

Wulan keluar menuju mobilnya di parkiran rumah sakit. Roda-roda Civic menyusuri jalan-jalan kota Bogor tak tentu arah. Sejenak Wulan akhirnya berhenti pada jalan yang masih sangat sepi. Dadanya bergoncang, tangisannya membuncah.

Setelah air mata Wulan reda menetes, bayinya yang terbungkus kain bedong tebal ia masukkan ke dalam travel bag yang juga berisi berbagai perlengkapan bayi, pakaian, popok, dan sebagainya. Wulan menyelipkan surat lahir dari rumah sakit yang masih kosong datanya tentang siapa nama bayi dan orang tuanya, serta secarik kertas bertuliskan :

‘Tolong jaga anak saya ini. Saya hanya anak muda yang ceroboh. Saya tidak tahu bagaimana menjaga bayi ini. Tolong siapapun nama bayi ini nantinya, sematkan nama Wongso Wijoyo di belakang namanya. Wongso Wijoyo adalah kakek buyut saya, yang sangat mencintai saya dan saya sangat mencintainya.’

Wulan kembali ke villa, membersihkan diri, kemudian pulang ke rumah orang tuanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

“… maafkan ibumu ini sayang… semoga malaikat-malaikat Tuhan selalu menjagamu dan kamu akan berada di tangan orang yang lebih baik untuk mendidikmu….”

***

Masih 3 jam lagi matahari akan menampakkan sinarnya ke bumi. Lelaki paruh baya itu sudah bangun dari tidurnya yang beralaskan tikar lusuh. Ia lantas melangkahkan kaki ke mushola kecil di ujung gang untuk mengambil air wudhu dan sholat 2 rakaat.

Surono namanya, ia adalah seorang pemulung yang sehari-harinya mengais-ngais sampah, mengumpulkan barang-barang bekas yang masih bisa didaur-ulang. Alat kerjanya hanya sebuah gerobak kayu. Setiap harinya gerobak itu akan dipenuhi dengan beraneka barang bekas, seperti kertas koran, buku, kaleng bekas minuman dan lain-lain.

Barang-barang tersebut akan disetorkannya pada Alimin selepas siang nanti. Alimin akan menimbang barang-barang yang dikumpulkan Surono dan menggantinya dengan sejumlah uang sesuai harga yang disepakati bersama. Begitulah Surono mendapatkan uang untuk menafkahi istri dan anaknya yang tinggal di desa. Selanjutnya Alimin akan mendaur ulang sampah dari Surono dan Surono-surono yang lain, menjadi barang pecah-belah kebutuhan rumah tangga.

Selepas subuh, awan cumulus nimbus menutupi langit sehingga cahaya mentari sedikit redup. Lampu jalan masih belum padam, langkah kaki Surono menyusuri jalanan kota.

Sayup-sayup terdengar suara tangis bayi yang meyayat. Tangis bayi yang seakan telah lama kelelahan dan tanpa kehangatan. Insting Surono meraba-raba di antara dinginnya udara pagi, dari mana suara tangisan pilu itu berasal.

Mata Surono terpaku pada sebuah travel bag yang terlihat masih sangat bersih, namun ada di sebelah tempat sampah di pinggir jalan. Dari dalam travel bag tersebut, ternyata ada bayi mungil yang cantik terengah-engah menangis.

Dengan agak sedikit panik dan rasa kepeduliannya, Surono segera membawa bayi dalam travel bag itu ke atas gerobaknya lalu mencari panti asuhan di sekitar wilayah itu.

Ternyata panti asuhan itu sangat jauh, tapi Surono sudah berniat akan mengantar bayi itu ke panti asuhan. Ia tidak pedulikan rasa letih, dan keringat yang terus menetes di punggung dan dahinya. Sesampainya di panti asuhan, Surono menjelaskan kronologis penemuannya kepada petugas panti asuhan.

***

Selang sebulan kemudian panti asuhan itu kedatangan tamu, sepasang suami istri, Trenggono dan Fahira yang tidak kunjung punya anak setelah menikah selama sebelas tahun. Trenggono adalah seorang pengusaha rekanan dari Pertamina.

Fahira jatuh hati pada bayi mungil nan cantik yang sedang tidur nyenyak di dalam boks bayi yang ditemukan di tempat sampah itu. Akhirnya Fahira dan Trenggono bersepakat untuk mengadopsi bayi itu. Kepada Trenggono dan Fahira, petugas panti asuhan memberikan surat berisi tulisan tangan Wulan. Trenggono dan Fahira memperhatikan catatan itu. Mereka kemudian memberikan nama Rachel Wongso Wijoyo pada bayi cantik itu.

Bayi mungil itu kini tinggal di rumah mewah. Nutrisi untuknya pun tercukupi. Susu formulanya merupakan susu impor yang paling mahal.

Musim pun berganti, tahun demi tahun Rachel kecil tumbuh dengan kecerdasannya yang luar biasa. Banyak orang yang sering memuji Rachel sebagai anak yang cantik dan pintar.

Tapi tak pernah ada yang tau, Rachel kecil ternyata menyembunyikan kegelisahan bathinnya sendiri. Ada kegelisahan yang tidak ia mengerti. Seperti ada luka di hatinya yang tidak pernah ia sendiri ketahui ‘luka’ apa itu. Kadang Rachel merasa dirinya ‘tertolak’ lahir ke dunia.

Itu sebabnya sejak kecil Rachel selalu menyibukkan diri dan berkonsentrasi dengan berbagai aktivitas akademik saja. Trenggono dan Fahira pun tidak pernah menceritakan apapun kepada Rachel mengenai asal-usulnya.

Hingga suatu hari di masa remaja Rachel, ia menemukan selembar kertas catatan di dalam laci dalam lemari Fahira. Dan sejak saat itu akhirnya ia tau mengapa selalu ada rasa gelisah di dalam bathinnya, seperti anak yang ‘tertolak’.

Hati Rachel hancur membaca catatan itu. Rachel merasa dibuang. Ia merasa kelahirannya tidak diharapkan. Ia tidak mau menanyakan perihal kertas catatan itu pada Trenggono dan Fahira. Rachel pernah sekali dua kali bertanya dengan cara lain, tanpa memberi tahu bahwa ia sudah mengetahui lembar catatan itu. Trenggono dan Fahira menutupinya, meyakinkannya bahwa Rachel adalah anak kandung mereka, dengan menunjukkan akte kelahiran yang menerangkan bahwa Rachel adalah anak kandung Trenggono dan Fahira.

Sejak itu Rachel menyimpan sendiri luka dan sakit hatinya. Kini kesibukannya tidak lagi berkutat pada buku-buku saja, ia mulai masuk pada gaya hidup “buku, pesta, dan petualangan cinta,” demi untuk lari dari kegelisahan bathinnya.

***

Bumi adalah ibuku
Angkasa adalah ayahku
Malam adalah selimutku
Bintang-bintang adalah perhiasanku
Rintik-rintik hujan adalah tangisku
Purnama adalah bidadariku
Rerumputan adalah sahabatku

Aku adalah kasat mata
Hanya sebuah jiwa yang melayang-layang di angkasa…

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s