Tidurkan Aku Malam Ini, Bawa ke Alam Simulakrum

The Smiling Death

Chapter 2

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(*Sebelumnya: “Abu-abu Cinta Rachel” )

 

Dunia ini adalah fiksi, sebab yang tidak fiksi tidak bisa dituliskan…

Ketika ada tulisan tentang seseorang, meski berasal dari fakta,
sang penulis sesungguhnya sedang menuliskan imajinasinya
dengan balutan kata-kata fiksi
hasil olah pikir dan olah rasanya

Ketika sesuatu dituliskan dalam bentuk teks
ia sudah lepas dari realitas aslinya..

Dunia ini adalah fiksi, sebab yang tidak fiksi tidak bisa dituliskan…

Ombak berkejaran dan saling meraup butiran-butiran pasir pantai. Laut seakan mencoba terus menghapus segala jejak kenangan siapapun yang ingin melupakan masa lalu dan melangkah maju dengan awalan yang baru. Ananta dan Rachel tanpa alas kaki menjejak pasir pantai dan menghirup udara pagi yang segar, sesaat setelah fajar baru saja mengintip dari balik peraduannya.

Rachel tersenyum, wajahnya bersinar, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia meminta Ananta berhenti melangkah. Di depan pria yang dipujanya itu, Rachel menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.

“Kamu rasakan Ananta? Udara tidak terlihat oleh mata kita, tapi kita bisa merasakan keberadaannya. Kita menghirup udara yang sama. Kita saling terhubung melalui udara,” kata-kata Rachel, sesaat membius Ananta.

“Rachel, kamu mau cerita apa yang membuatmu histeris semalam?” Ananta merapikan rambut yang sedikit menutupi pipi Rachel.

Rachel berpikir sejenak. Dia harus berbohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang ia buat sebelumnya.

“Mungkin aku terlalu capek. Pernikahan ini sangat menyita pikiranku. Maafkan aku ya, Ananta. Aku telah memberikan kesan buruk di malam pertama kita,” Rachel memeluk pinggang Ananta, menempelkan bibirnya pada bibir Ananta. Sebentar saja, kemudian ia melepaskannya, lalu pandangannya beralih menyapu pantai.

Ananta tidak puas dengan penjelasan Rachel. “Apa ada yang kamu tutupi dariku, Rachel?”

“Ananta. Aku yang tahu apa yang kurasakan.”

***

Malam kedua, Rachel menelan obat penenang sebelum bercinta dengan Ananta. Ternyata cara itu bisa melepaskan bayang wajah Carla dari pikirannya. Rachel melakukan hal sama pada malam-malam berikutnya hingga mereka meninggalkan Bali.

Rachel mengonsumsi obat penenang tiap kali mau melakukan persenggamaan dengan suaminya. Obat penenang yang dikonsumsi tanpa aturan itu perlahan-lahan merusak metabolisme di dalam tubuh Rachel.

“Kamu bisa mati kalau caramu seperti itu, Rachel. Obat yang diminum melebihi dosis itu adalah racun. Itu sama saja bunuh diri,” dokter Andika memarahi Rachel.

Andika adalah psikiater pribadi Rachel dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan ini.

Rachel sebetulnya sedang sangat menderita tanpa ia menyadarinya. Namun, ia selalu berusaha ceria di depan Ananta.

Pada suatu malam, Rachel merasa sangat letih. Ia tidur duluan. Ananta menyusulnya, memeluknya dan menciuminya. Rachel terbangun dengan mata terbelalak lalu mendorong Ananta sekuat tenaganya.

Ananta sangat kacau pikirannya, mau mendekat untuk menenangkan, Rachel semakin ketakutan dan terus melemparinya dengan benda apa saja yang ada di sekelilingnya.

Beberapa menit kemudian Rachel sadar dan menangis. Ananta memeluknya. “Izinkan aku membantumu, Rachel. Kita ke psikiater besok ya,” Ananta berbisik lembut di telinga Rachel.

Rachel menarik diri. Melepaskan pelukan Ananta. “Aku tidak gila,” Rachel sangat tersinggung.

“Ke psikiater bukan berarti gila, Rachel. Hanya konsultasi,”Ananta meyakinkan.

“Aku tidak mau,” Rachel marah. Ia pergi ke kamar mandi dan menelan obat penenang.

***

Ananta berangkat ke kantor dengan suasana hati tak menentu. Entah kenapa, meski Rachel sudah tampak normal dan mendaratkan kecupan hangat di keningnya, Ananta tahu ada yang tidak beres dengan istrinya itu.

Paginya bertambah buruk ketika mendapat kabar Waluyo Brahman, Direktur PT Megatech Industries, yang juga Bendahara HIPMI, tewas gantung diri dirumahnya.

Saat Ananta sedang bersiap-siap melayat bersama seluruh koleganya, siaran langsung berita televisi membuat Ananta terhenyak.

Reni istri Waluyo bercerita sambil menangis. Menurut penuturannya, beberapa hari ini suaminya pernah bercerita bahwa ia ditekan oleh Ananta pemilik Grup Schiller & co. yang ingin mengambil alih PT Megatech sebagai ‘kompensasi’ atas suaminya yang kini menjabat sebagai bendahara HIPMI.

“Apa ini?!” lirih Ananta berujar sambil setengah menahan geram.

Semua orang menatap Ananta. Entah apa yang terpikirkan di kepala mereka.

“Kita berangkat…!” Ananta melangkah tegap, tidak menghiraukan tatapan penuh tanda tanya orang-orang di sekelilingnya.

Bagi Ananta, yang mendesak sekarang adalah melayat Waluyo. Ananta siap mengambil risiko didamprat istri Waluyo yang tampak sangat marah dan terpukul ketika diwawancarai reporter teve tadi.

Ananta tahu, ada intrik-intrik yang sedang berlangsung di dalam lingkaran dekatnya dan mungkin juga melibatkan persaingan bisnis di luar. Selain menjabat direktur PT Megatech, Waluyo juga aktif dalam dunia politik.

Bad news is good news. Para pewarta berita dan netizen dari berbagai kalangan secara berangsur-angsur langsung saja meramaikan berbagai opini, isu dan ‘teori-teori konspirasi’ mengenai kejadian tersebut. Media sosial ramai memperbincangkan isu yang bercampur baur antara fakta dan kepingan-kepingan imajinasi khalayak.

Salah satu cerita yang bertebaran di internet adalah tentang bagaimana perusahaan yang dipimpin Waluyo itu sedang mengerjakan proyek penelitian tentang bluetooth yang bisa mengantarkan listrik bagi sekitarnya. Hingga untuk men-charge handphone atau gadget, tak perlu repot untuk menggunakan kabel. Keberhasilan dari proyek tersebut konon sudah mencapai 70 %.

Penemuan yang spektakuler ini tentu saja akan membantu penghematan listrik dan produknya bisa menjadi sejarah dunia. Terbayang kesuksesan besar dan tentu saja profit yang akan diraup jika proyek ini berhasil.

Waluyo memang sosok yang ambisius. Tapi itulah yang mengantarkannya pada banyak kesuksesan, termasuk bergabung sebagai bendahara HIPMI di bawah kepemimpinan Ananta.

Isu yang berkembang adalah bahwa Ananta menginginkan proyek itu nantinya ada dalam  ‘tangannya.’

***

Meski malam sudah semakin larut tapi langit masih belum menampakkan adanya cahaya bulan malam ini. Entah dirampok siapa sang rembulan saat ini. Ananta melepas penat duduk di serambi belakang rumahnya.

Di layar monitor iPad Ananta berseliweran beragam tulisan yang berhubungan dengan kematian Waluyo dan kaitannya dengan dirinya sebagai Ketua HIPMI. Dibantingnya begitu saja produk bergambar ‘buah kegigit’ itu ke atas kursi serambi, seraya bangkit dari duduknya.

Berbagai berita itu bagai fragmen-fragmen yang dituliskan berulang-ulang, diduplikasi, di-daur begitu banyaknya di dalam satu ruang dan waktu yang sama. Dan memaksa sosok Ananta masuk ke dalam sebuah alam yang disebut “Alam Simulakrum”.

Jean Baudrillard, seorang pakar teori kebudayaan, filsuf, dan sosiolog Perancis pernah menuliskan bahwa, Alam simulakrum adalah alam meleburnya realita dan ilusi, diakibatkan oleh fantasi yang diduplikasi berulang-ulang dan berlipat ganda, akhirnya obyek yang nyata pun tak jelas lagi.

Berita-berita tentang Ananta ‘di-mediakan’ secara over exposed lewat televisi dan internet. Ananta seperti menjadi bagian dalam sebuah dunia simulasi. Bagaimana fakta yang sebenarnya kini telah menjadi bola liar yang menggelinding membentuk ‘pseudo environment’ (lingkungan palsu) pada benak khalayak. Dan kini gambaran tentang realitas yang ada di benak masyarakat menjadi tak jelas lagi…

***

Tiba-tiba Ananta sangat rindu Carla… Di saat-saat seperti ini, Carla meski kadang tanpa kata dan hanya melalui senyuman saja, seperti pengobat bathin bagi Ananta. Dengan memeluk Carla, entah kenapa segala beban problema hidup seakan mendadak lenyap menjadi abu dan tertiup angin.

Tak berbilang sudah

berapa malam t’ah ku lewati

dengan menyebut namamu

dalam setiap titipan do’aku

andai aku bisa berbisik di telingamu,

“aku ingin kau temani tidurku malam ini.”

sebelum ku terjaga dari tidurku esok hari

dan tak lagi kutemukan dirimu di sisiku

salahkah aku jika malam ini aku meminta kau antarkan ku ke peraduanku

mencari mimpi indahku, menyesap hela nafasmu, dan mencium aroma wangi tubuhmu…

aku ingin kau temani dan tidurkan aku malam ini

meski hanya dalam alam simulakrum…

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s