‘The Smiling Death’: Work Hard Play Hard

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya:“Akulah Neraka dan Surga” )

 

aku laut, ombak dan badai…
aku diam seribu diam tanpa tanya dan hanya bungkam
aku bersajak kepada rembulan malam
ku bagi bersama cengkrama camar lautan

aku laut, ombak, dan badai…
aku berkata, bersuara dan aku tertawa
aku bersajak kepada bintang-bintang malam
dan aku berbagi bersama seisi semesta alam

aku laut, ombak, dan badai…
aku berteriak dan aku menangis
aku bersajak hanya kepada bentangan langit dan pijakan bumi
dan selalu akan terus selalu ku bagi bersama udara angin dan topan

aku laut, ombak dan badai…
dan kini aku hanya berupa deburan buih di bibir pantai…

aku laut, ombak dan badai….
kutelusuri gemerincing jejak langkah kakimu bersama hembusan angin malam…

 

“Pulanglah Ananta, lanjutkan hidupmu. Aku mau sendirian di sini,” kata Rachel. Ia berdiri di balik jendela besar, pandangan matanya menatap laut lepas.

Seperti laut yang tak bisa diduga kedalamannya, demikian pula dengan Rachel yang tidak mudah ditebak.

Ananta sudah menjelaskan semuanya, bahwa Carla yang menginginkan mereka bersatu. Namun, sepertinya itu tidak mampu meluluhkan kekerasan hati Rachel.

Rachel sebetulnya sangat senang Ananta menemuinya, ia merasa tersanjung Ananta mencarinya, namun ia dicekik oleh egonya sendiri. Rachel dicekam sakit hati. Ananta ingin menikahinya karena permintaan Carla, baginya itu adalah sebentuk penghinaan yang merendahkan harga dirinya yang dipatok terlalu tinggi.

‘Akan kubuat kamu bertekuk-lutut di kakiku, Ananta. Menyembah-nyembah padaku, memohon-mohon padaku, mengemis cinta padaku, karena memang sudah seharusnya begitu,’ suara Rachel yang berasal dari ruang paling gelap dalam dirinya.

Ananta melangkah keluar dari bungalow. Ia memilih menghabiskan malam hanya ditemani debur ombak dan angin malam.

Lingkaran cinta ini membuat semuanya menderita. Tak ada yang kalah, tak ada yang menang. Yang kalah jadi abu, yang menang jadi arang.

Keyakinan Ananta goyah. Di saat ia mulai menemukan tujuan hidup, badai datang menghantam dalam bentuk kematian Carla, perempuan yang mengajarinya arti cinta. Logikanya seketika tumpul, namun ia bertekad akan meraih hati Rachel bila itu bisa membahagiakan Carla.

Ananta ingat suatu hari sebelum menikah, Carla pernah mengatakan padanya. “Rachel butuh perhatian. Ia sudah terlalu lama menangis. Ia butuh bantuan, perlu ditolong.”

‘Apa maksudmu, Carla. Aku tidak mengerti,’ batin Ananta.

Ananta yang memukau di dalam rapat-rapat pemegang saham, kini seperti anak kecil yang menangis karena kehilangan mainan kesayangannya. Seperti saat ia duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar di Jakarta, mobil-mobilannya yang baru dipatahkan Rendy, teman mainnya.

Ananta sangat kecewa. Ibunya menasehati kala itu, “Itu adalah pelajaran kehilangan untuk menguji keikhlasan hatimu. Dalam hidup, manusia akan dihadapkan pada kehilangan demi kehilangan. Kalau sudah memahami hakikat bahwa manusia sejatinya tidak memiliki apa-apa, maka manusia tidak akan merasa kehilangan, dengan demikian tidak akan merasakan kekecewaan.”

***

Halimah Sayyidina, Ibunda Ananta, adalah seorang guru yang juga seorang penari. Suatu hari Halimah yang tergabung dalam misi kesenian Indonesia, menari bersama 14 anggota kelompok sanggar tari di Nord Rhein Westfalen, Jerman. Mereka membawakan berbagai tarian tradisional Indonesia. Meski berdarah minang, Halimah tidak saja piawai mementaskan tarian minang, Ia pun mampu menarikan berbagai tari-tarian tradisional lainnya.

Brühl, kota kecil 17 kilometer di selatan Kota Köln adalah tempat di mana Halimah bertemu dengan Mikhail Schiller, pria Jerman berdarah Turki. Mikhail adalah seorang pegawai di museum lukisan. Ia berada di antara ratusan pengunjung yang memadati Gedung Galerie am Schloss.

Di antara rinai hujan dan dinginnya udara kota Brühl, dua hati saling terkait, Halimah dan Mikhail. Seusai pementasan keduanya berkenalan dan di sebuah cafe.

Jarak dan waktu tidak lagi menjadi halangan. Pertemuan itu berlanjut dengan hubungan jarak jauh melalui surat-menyurat. Sampai akhirnya mereka memutuskan menikah. Mikhail dan Halimah berbulan madu di Jakarta, dan ketika Mikhail kembali ke Jerman karena harus bekerja, Halimah positif hamil.

Karena keadaan dan kesepakatan, untuk sementara waktu mereka terus menjalani hubungan jarak jauh.

Saat Ananta kelas lima sekolah dasar, Halimah membawanya pindah ke Jerman. Ananta melanjutkan sekolahnya di sana hingga menamatkan kuliah bisnis.

***

Lahir dari orang tua dengan tingkat ekonomi rata-rata sebagaimana orang kebanyakan, Ananta terbiasa bekerja sejak belia. Ia pernah berjualan kaos, bekerja paruh waktu menjaga loker di kolam renang, bekerja di pabrik sepatu. Baginya tiada hari tanpa bekerja keras.

Work hard play hard. Ananta bekerja sangat keras tapi selepas pekerjaannya ia juga bersenang-senang seakan akan hidup seribu tahun.

Tamat kuliah, Ananta mulai bekerja pada bidang keuangan di sebuah bank di Islandia, Landsbankinn. Dari pendapatan hasil kerja kerasnya ia menginvetasikan pada stocks exchange. Ananta adalah seorang yang berani mengambil risiko namun cermat dalam analisis ekonomi dan fluktuasi saham. Ia berani mengetatkan ikat pinggangnya jika analisisnya mengakibatkan lost yang besar namun tak jarang ribuan Euro masuk pada rekening tabungannya jika mendapatkan profit yang besar.

Kecakapannya dalam bidang keuangan ini membuat seorang milyuner Islandia meliriknya untuk menjadikan Ananta sebagai konsultan keuangannya. Jutaan dollar diinvestasikan pada saham-saham blue chips. Jutaan dollar pula dibelanjakan oleh sang milyuner untuk membeli berbagai kemewahan, privat jet, yacht mewah, penthouse di Manhattan, dan banyak lagi. Ananta begitu menikmati hidup sebagai hedonis papan atas Eropa.

Tapi.. “.. nothing comes without consequences…” Ananta tahu betul sebenarnya bagaimana selama ini sumber-sumber keuangan para kapitalis itu berputar.

Kapitalisme yang mendorong deregulasi pemerintah di berbagai bidang, termasuk pada bidang perbankan, telah membuat bank-bank kecil di Eropa yang meminjam dana ratusan milyar dollar AS untuk membuka cabang di beberapa negara.

Para pengusaha-pengusaha besar Eropa meminjam puluhan juta dollar untuk menghujani mereka dan para bankir dengan uang.

Terjadi massive bubble. Ekonomi yang terlihat besar namun sebenarnya tidak ditopang oleh pondasi ekonomi keuangan yang kuat.

Krisis ekonomi menghentak Eropa tahun 2008. Lebih dari 10 juta orang kehilangan tabungan, pekerjaan dan bahkan rumah.

“… the Economic is dead…” ujar bathinnya Ananta jenuh dengan hidupnya. Ia telah melihat busuknya sistem keuangan ekonomi modern. Ananta kemudian memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya. Ia gunakan tabungannya untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Travelling, ia mulai menjelajahi banyak negara di Asia. Menjalani kehidupan ala backpacker, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Ketika kakinya menginjak Indonesia, ia melihat begitu banyak hal yang ‘menjungkirbalikan’ logika di kepalanya selama ini. Perjalanannya ke banyak daerah di Indonesia berhasil menyentuh sisi spiritualitas dirinya.

***

Kita telah belajar bagaimana mencari uang, tetapi bukan kehidupan.

Kita telah melipatgandakan barang milik kita tetapi mengurangi nilai kita.

Kita mengeluarkan uang lebih banyak tetapi memiliki lebih sedikit

Kita membeli lebih banyak tetapi menikmati lebih sedikit.

Kita minum dan merokok terlalu banyak, sedangkan berdoa terlalu jarang.

Kita telah melakukan hal-hal besar, tetapi bukan hal-hal yang lebih baik.

Dalam waktu 1 menit pendapatan sebuah perusahaan multinasional bertambah puluhan ribu US dollar.

Sementara setiap 3 menit seorang balita meninggal dunia.

Setiap 5 menit seorang anak di bawah tiga tahun kehilangan nyawa akibat diare.

Setiap jamnya, seorang anak kehilangan ibunya karena komplikasi persalinan dan kelahiran.

Setiap 3 jam, seorang bayi baru lahir menjadi HIV positif.

Ini adalah era di mana orang besar dengan karakter yang kecil

Ini adalah era di mana keuntungan yang tinggi namun rasa kemanusiaan yang rendah

Ini adalah era di mana moralitas mudah dibuang, one night stand, dan pil-pil yang melakukan segalanya dari menceriakan, menenangkan, sampai membunuh.

Ini adalah era dimana banyak barang di etalase showroom dan tak ada stok dalam ruang persediaan.

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s