‘The Smiling Death’: Semua Tanya Tertinggal Tanpa Jawaban

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya: “Mati Saat Menyentuh Bibirmu” )

 

Ananta memeluk tubuh Rachel yang menggigil kedinginan. Air mata Rachel tumpah berlinangan bersamaan dengan air hujan yang semakin menderas. Ananta memapahnya ke dalam rumah. Rachel merasakan kehangatan menjalari aliran darahnya yang tadinya beku.

Suara guruh menggelegar, halilintar berkilat-kilat menyilaukan di atas sana.

“Aku tak ingin ke sini, tapi seperti ada yang mendorongku ke sini, aku tak bisa menahan diri,” tutur Rachel dengan bibir gemetaran.

Ananta mengambil handuk dan satu set baju lalu memberikannya pada Rachel.

‘Handuk dan baju Carla…,’ kata Rachel dalam hati.

Sementara Rachel mandi, Ananta menyeduh teh hangat.

Pakaian Carla jatuh pas di tubuh Rachel. Sekilas Ananta seperti mimpi melihat Carla hadir kembali di kamar ini. Tapi sejenak kemudian bayangan itu lenyap berganti wajah Rachel.

Ananta merapikan selimut untuk Carla tidur di ranjangnya. Ia akan tidur di kamar tamu malam ini

“Istirahatlah Rachel…,” ujar Ananta sambil melangkah keluar kamar.

Tangan Rachel mencegahnya.

“Temani aku. Aku takut tidur sendirian,” pinta Rachel dengan wajah polos tanpa dosa.

Ananta tidak sanggup menolaknya. Ia memeluk tubuh Rachel, tapi wajah Carla yang membayang di kepalanya saat ia memejamkan mata.

Sampai Ananta tertidur, Rachel masih terjaga. Aura Carla masih kuat berpendar pada atmosfer kamar ini.

“… ja.. ga… A..n..an.. ta… un.. tuk.. ku…” permintaan terakhir Carla di hari kematiannya, terngiang di telinga Rachel.

‘Ya Carla, aku akan menjaganya,’ kata hati Rachel.

Pikiran Rachel bergerak sesuai kehendaknya. Sekuat tenaga ia mengumpulkan alasan-alasan pembenaran yang ia harap mampu mengelabui suara kalbunya.

‘Aku akan menjaga Ananta, Carla. Aku akan menjaganya lebih baik dari yang kamu bisa lakukan. Karena kamu tak pernah tahu, sebesar apa cintaku pada Ananta. Tak ada yang mencintainya sehebat cintaku padanya. Kamu tahu kan Carla, demi Ananta aku bisa melakukan apa saja,’ suara dalam diri Rachel.

Rachel memandangi wajah Ananta yang sedang tertidur pulas. “Aku mencintaimu dengan seluruh inderaku…,” lirih bisiknya di telinga Ananta.

***

Ananta telah bangun persis saat matahari baru saja muncul dari ufuk timur. Berjuta pertanyaan tak terjawab masih menggantung dalam benak Ananta. Dibuka jendela kamarnynya lebar-lebar, membiarkan udara segar di pagi yang masih dini masuk untuk dihirup melalui kedua rongga hidungnya.

Mengapa daun berguguran?

Mengapa akar pohon tak bisa melangkah seperti kaki manusia

untuk mengejar daunnya yang terbang ditiup angin?

Mengapa manusia lahir untuk kemudian mati?

Mengapa manusia mencinta jika harus kehilangan cinta itu

“Mengapa Tuhan menciptakan semua ini, bumi ini, kehidupan dan segala isinya,

kemudian mengambilnya kembali?”

Semua pertanyaannya tertinggal tanpa jawaban…

Ia bertanya pada matahari terbit, namun matahari hanya diam tak menjawab. Laki-laki itu bertanya pada angin, tapi anginpun tak bisa menjawab. Pohon dan daun pun senyap tanpa suara.

Matahari, angin, pohon dan daun tidak pernah merasakan lapar. Mereka tidak pernah menangis, mereka tidak pernah merasakan sakit, mereka tidak pernah ketakutan. Desiran angin mulai membelai halus di antara rambut Ananta, menenangkannya.

Ananta memutuskan hari ini akan mulai beraktivitas kembali, setelah nanti ia mengantarkan Rachel pulang ke rumahnya.

Ia melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk segera menyiapkan dirinya.

Rachel membuka mata, jendela sudah terbuka, sinar matahari menyilaukan matanya. Rachel melihat, tak ada yang berubah di dalam rumah ini, sebelum dan setelah kematian Carla.

Foto pernikahan Carla-Ananta dalam bingkai besar masih terpajang di tempat yang sama, di dinding kamar. Begitu pula foto-foto Carla-Ananta dalam berbagai momen, masih tertata rapi di salah satu meja hias di pojok ruang tamu. Benda-benda Carla ya ia hapal betul detilnya, semua masih ada. Satu-satunya yang tidak ada adalah tubuh Carla.

Rachel tidak suka melihat kenyataan ini. Tapi ia harus bersikap sopan untuk menjaga perasaan Ananta, seorang pria yang membuatnya tega melenyapkan nyawa manusia seperti dirinya, yaitu Carla.

Rachel menemui Ananta di dapur baru saja selesai menuangkan nasi goreng ke dua buah piring. Ia melipat kedua tangannya dan bahu kanannya bersandar pada tepi dinding dapur. Kancing piyama Carla yang dikenakannya terbuka di bagian atasnya.

“Tak ada yang berubah di rumah ini,” kata Rachel, datar dan hambar.

“Ya, tak ada yang berubah,” kata Ananta.

Ananta tidak tahu, ucapannya itu sangat melukai hati Rachel.

“Habis sarapan, aku antar kamu pulang,” kata Ananta.

Sebetulnya Rachel tidak ingin kemana-mana. Ia merasa nyaman di rumah ini, merasa nyaman berada di dekat Ananta.

“Maafkan aku Ananta, aku sudah bersikap tidak tau malu,” kata Rachel berdiri mematung, berjarak dua meter dari Ananta yang duduk di kursi makan.

Ananta mendekatinya, “Hei Rachel, kamu tidak perlu minta maaf. Tak ada yang salah, tak ada yang perlu dimaafkan.”

“Seharusnya Carla yang menemanimu saat ini,” Rachel memancing-mancing, ingin tahu isi hati Ananta.

“Carla sudah pergi mendahului kita. Takdir kematian tidak bisa kutawar namun spirit Carla hidup selamanya di hatiku, di hati kita. Hatiku dan hatimu. Carla sangat membanggakanmu, Rachel.”

Seharusnya apa yang dikatakan Ananta membuat Rachel senang, namun justru kebencian Rachel pada Carla kian bertambah. Ia benci karena mengetahui begitu dalam perasaan cinta Ananta pada Carla. Cemburu butanya telah bertumbuh menjadi kebencian dan dendam kesumat. Tanpa Rachel sadari, kebencian dan dendam kesumatnya itu telah menggerogoti jiwanya sendiri.

‘Bahkan kamu sudah mati pun masih menguasai hati dan pikiran Ananta,’ hardik Rachel dalam hati ditujukan pada Carla.

“Aku sengaja datang ke sini karena mendengar kabar bahwa kamu ‘menghilang’, tak ada di kantor atau tak terlihat di mana-mana. Dan kamu pun tak bisa dihubungi oleh siapapun. Apa kamu mau hidup terperangkap terus dalam bayang-bayang Carla, Ananta? Mengurung diri sendiri dalam rumah ini… sampai kapan?” Rachel tak sanggup menutupi kekesalan hatinya.

Ananta hanya tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan Rachel, sambil mempersilahkan Rachel duduk untuk sarapan bersama.

Rachel melanjutkan bicaranya, “Tak semua tanya harus ada jawab di dunia ini. Warum ist die Banane krumm? Mengapa pisang melengkung? Seperti mengapa Carla harus tiada dan kita mesti bersama. Seperti mengapa aku mencintaimu…”

***

Hidup ini laksana gelombang

lahir, tumbuh, jenuh dan runtuh, itu sudah pasti

Kamu bisa memilih untuk menghindari keruntuhan

dengan mencium tanda-tanda keruntuhan

lalu kreatif merekayasa keadaan.

dan berusaha menghindar, mengadakan pembaharuan.

Tapi semesta begitu kaya akan hidangannya…

Keruntuhan bukan berarti akhir dari kehidupan

Di titik paling rendah, habis hingga ke dasar,

tidak ada jalan lain kecuali “jalan ke atas”

Sama halnya saat hidup sudah mencapai puncak,

tidak ada jalan lain kecuali jalan turun.

Maka lepaskan dekapanmu pada “jejak bayangan” yang terlah berlalu…

peluklah “kehidupan..”

dan kecap segala cita rasa yang ditawarkan semesta untukmu

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s