‘The Smiling Death’: Mati Saat Menyentuh Bibirmu

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya: “Work Hard Play Hard” )

 

If you were a tear in my eye…

I would never cry… for fear of losing you…

But if I could be your tears

I would be born in your eye

live in your cheek

and die at your lips…

[Jika kamu adalah tetes air mata,

aku tak akan mau menangis.. karena takut kehilanganmu…

tapi jika aku menjadi air matamu,

aku terlahir dari indah matamu

hidup di atas pipimu

dan mati saat menyentuh bibirmu..]

Dua hari berselang sejak Ananta kembali ke Jakarta. Setelah ia gagal membujuk Rachel untuk menikah dengan dirinya, Ananta hanya berdiam diri di rumahnya. Semua alat komunikasi ia matikan, gadget, bahkan TV pun enggan ia nyalakan.

Dadanya seakan penuh… hatinya terasa sesak.. sakit sekali. Rasa bagaimana ia harus terus melanjutkan hidup seperti biasa tanpa Carla.

Text BBM dari Rendy sahabatnya diacuhkan saja.

“Bro, are you okay? Sekarang kita sudah sampai Thailand nih… dalam perjalanan menuju Laos… wah banjir sob… ternyata gak cuma Jakarta aja yang ngalamin banjir… hahay…”PS: jangan mati dulu.. kalo mau bunuh diri tunggu gue pulang..

Rendy adalah teman masa kecil saat Ananta masih bersekolah dasar di Indonesia. Dulu Rendy pernah mematahkan mobil-mobilan Ananta, tapi kini Rendy telah bermetamorfosis menjadi pengusaha otomotif. Ia pun dikenal banyak kalangan sebagai seorang adventurer.

Saat ini Rendy sedang memimpin Tim Ekspedisi mengendarai mobil melintasi 2 benua, Asia-Eropa. Hal ini dimaksudkan sebagai ajang promo sekaligus pembuktian atas ketangguhan mobil SUV terbaru dari produsen otomotif Jepang, di mana perusahaan Rendy adalah pemegang lisensi utamanya di Indonesia.

***

Di luar sana, langit seakan mengkhianati Ananta. Biru berganti dengan abu-abu. Tak ada cahaya. Seakan tak ada harapan.

Udara dingin menusuk, hanya irama rintik hujan sebagai teman. Getir. Seperti hati Ananta yang kini mulai meletup, tak sanggup lagi menanggung lebih dari apa yang sanggup ia tanggung.

Pelan-pelan, air matanya meluncur dengan hangat. Satu. Dua. Kemudian menderas. Menumpahkan semua yang tersisa. Mencoba menghalau semua yang menyakitkan. Meraup asa yang tersisa. Kecil memang, malah hampir tak ada.

Apa yang dapat hujan perbuat untuknya. Tepatnya, apa yang dapat hujan perbuat untuknya agar ia dapat menemui seseorang yang dirindui. Tak ada. Bahkan untuk satu langkah kecil sekalipun. Bahkan hingga kini. Sampai saat ini.

Hujan mungkin saja dapat membawakan pelangi

Tapi pelangi itu tidak abadi

Ia akan hilang.

Hujan dapat membawa angin sejuk untuk beristirahat dari penat.

Namun cahaya matahari akan segera melenyapkannya.

Hujan dapat membawakan hijaunya daun,

cokelatnya tanah,

dan perpaduan bau keduanya yang menguar,

membawa ke alam pedesaan.

Tapi asap polusi akan segera melenyapkannya dalam hitungan detik.

Tak ada yang abadi, tak ada yang abadi.

Hujan hanya bisa mengolok-olok dengan butiran beningnya yang gemerisik. Karena hujanlah yang telah mengingatkan dirinya dengan Carla.

“Suatu saat nanti, kau akan merindukan hujan. Bila kau merindukanku, rindukan pula hujan. Maka saat itu, aku akan hadir bersama derasnya air hujan…”

Kembali kalimat itu hadir dalam pikirannya. Bathinnya berteriak. Cukup sudah. Ia mulai muak dengan hujan.

Aku berlari menembus hujan

kencang dan amat kencang

Seluruh tubuhku menggigil,

saat ku tahu kau diam terbujur kaku.

kau tetap terlihat cantik sayang…

amat cantik, namun kini hanya tertinggal jasad saja

Jasadmu beku.. sebeku hatiku saat ini

Kini aku kembali pulang,

setiap sudut aku menyapa dan ku aromai rasamu.

Mungkin Tuhan Maha Pencemburu,

Dia lebih menyayangimu….

Aku tak pernah tahu cerita apa yang Tuhan persiapkan untukku.

Hujan masih mengguyur bumi. Udara dingin tak juga beranjak. Dari balik kaca jendela yang berembun, Ananta memandang kosong titik-titik air yang jatuh.

Tak cukupkah hujan berhenti sejenak, bahkan untuk membawakan secercah sinar pengharapan yang ada dalam kuatnya sinar mentari?

Pada buram matanya, lamat-lamat Ananta melihat sosok perempuan berdiri dalam gigil di halaman depan rumahnya. Perempuan itu menyesapi hujan yang terus membaluri tubuhnya. Perutnya dingin, perih.

“Rachel?!”Suara Ananta meluncur sedingin es. Ia bertanya pada diri sendiri.

Perempuan itu semakin menggigil. Ia mulai kejang… dan semuanya begitu dingin… sampai gelap menyelimutinya.

Terdengar sayup teriakan di antara deras hujan, “Rachel..!”

***

Hujan ada untuk melenyapkan duka.

Ia hadir ketika hati sedang gersang.

Hujan ada untuk menentramkan hati,

dan mendinginkan pikiran.

Kau akan merasa nyaman di kala kau sedang kecewa, atau marah.

Karena kau tidak dapat mengingkari rasa itu.

Tidakkah kau lihat anak-anak kecil mandi dan berlarian di bawah hujan?

Itu karena mereka merindukannya

Mereka percaya bahwa hujan menyenangkan.

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s