‘The Smiling Death’: Abu-abu Cinta Rachel

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya: “Warum ist die Banane Krumm” )

 

Ingin aku bercinta dan lebur dalam segala rasamu
mungkin tak terlihat layak ku untukku
namun dengan yakin dan sungguhku
Kau pasti tak kan menolakku

Sejak malam itu Rachel mulai menunjukan sikap sebagai seseorang yang memberikan uluran tangan kepada Ananta di saat Ananta sedang terpuruk dan seperti kehilangan arah.

Kepergian Carla memang meninggalkan luka di hati Ananta. Ia seperti layangan putus… pikirannya terbang ke sana ke mari tanpa tau mau dibawa kemana lagi langkah hidupnya.

Rachel yang mengetahui kondisi tersebut mulai membuat Ananta menjadi semakin senewen. Saat Ananta mengajak Rachel untuk menikah sebagaimana pesan terakhir Carla, Rachel malah menghindar dan seakan bersikap enggan. Tapi di waktu lain saat Ananta sedang resah, Rachel muncul dengan ‘obat penawar luka’nya.

Hidup dengan Ananta adalah impian Rachel sejak lama, sejak dalam pandangan pertamanya. Dengan gairah seksual Rachel tinggi, terkadang ia suka memancing Ananta untuk memeluknya.., mencium aroma tubuhnya. Ananta sesungguhnya bukanlah laki-laki yang begitu saja tergoda dengan hasrat seksual semata, namun begitu Ananta mulai terbawa suasana, Rachel malah menolaknya.

Sikap Rachel itu membuat Ananta yang mulanya biasa saja terhadap Rachel, kian hari malah menjadi ‘terikat dan terbelenggu.’

Cinta yang sudah tertanam kuat di hati Ananta adalah cintanya kepada Carla. Dan cinta itu yang selalu ingin dirobohkan oleh Rachel.. selau mau dipangkas.. dia sangat benci masih ada cinta Carla di hati Ananta. Secara perlahan Rachel mulai menancapkan kuku-kuku cintanya di hati Ananta. Secara perlahan.. haluuss. sekali…

Walau kadang perasaan bersalah pada Carla menyelinap di hati Rachel, rasa itu tidak seberapa dibanding perasaan senang karena telah memenangkan pertarungan yang ia ciptakan sendiri. Ada bagian dalam diri Rachel, menyakiti hati orang lain membuatnya senang, membuatnya merasa superior, dan ia bangga bisa melakukan itu.

Rachel mampu menutupi tabiat buruknya itu dengan kemasan kelembutannya, kelenturan bahasa tubuhnya, kehalusan tutur katanya, sehingga tak mudah bagi orang lain membacanya, termasuk Ananta sekalipun.

Kini tak ada lagi rintangan bagi Rachel untuk mendekati Ananta. Jalan terbuka lebar untuknya. Apalagi permintaan terakhir Carla bagaikan lampu hijau yang melapangkan segalanya bagi bersatunya Rachel dan Ananta.

Ananta yang tadinya sangat mencintai Carla dengan kuat, tanpa terasa hatinya kini ada dalam cengkeraman Rachel yang telah menancapkan cintanya.

Cinta Ananta kepada Carla adalah ketulusan cinta…

Sedangkan cinta Ananta kepada Rachel adalah “bius cinta yang melumpuhkan…”

Ananta keracunan, dan penawarnya hanya pada Rachel…

Ananta jatuh luruh bathinnya, yang selama ini kehilangan arah secara perlahan ‘dituntun’ oleh Rachel. Ananta melihat Rachel menuntunnya ke arah ‘terang..’

Rachel telah lama mempelajari segala hal yang membuat Ananta senang. Dari mulai makanan kesukaan Ananta, hobinya, kebiasaan-kebiasaannya. Berbekal itu semua, Rachel tahu bagaimana menghujani perhatian pada Ananta, sehingga lambat laun Ananta luluh hatinya dan tumbuh rasa cintanya pada Rachel. Mereka sudah membicarakan jadwal pernikahan dan mempersiapkan segala sesuatunya.

Rachel ingin melenyapkan semua kenangan tentang Carla dari benak Ananta. Dengan caranya, Rachel bisa meyakinkan Ananta untuk mengganti benda sekecil apapun di dalam rumah Ananta yang identik dengan Carla.

“Ayolah Ananta, ini demi kebaikanmu, atau pernikahan kita batalkan, karena aku tak mau hidup di bawah bayang-bayang Carla. Masa lalu adalah masa lalu. Kita hidup di masa kini dan masa depan,” kata Rachel.

Secara halus dan perlahan Rachel mulai menunjukkan bahwa hanya dialah yang bisa mengatur-ngatur hidup Ananta, layaknya kekasih..

Seisi rumah Ananta benar-benar ‘dibershkan’ dari segala memory tentang Carla. Apapun yang berbau Carla dan akan mengingatkan Ananta tentangnya, disimpannya rapat-rapat ke dalam gudang. Rachel mengubah semua dekorasi ruangan di rumah Ananta. Interior yang serba baru dan membuat Ananta fresh dan tidak terpenjara akan bayang-bayang masa lalunya dengan Carla. Ananta serasa menemukan hidupnya yang baru. Seakan terlahir kembali.

Bagi Ananta, menikahi Rachel merupakan perwujudan wasiat dari Carla. Lagipula juga pikir Ananta kemudian, ia tidak memerlukan benda apapun untuk membuatnya ingat pada Carla. Ia telah memahat nama Carla dalam hatinya, tak ada yang bisa menghapusnya.

***

Jauh dari hiruk pikuk keramaian, 63 km ke arah timur dari Kota Denpasar, Bali, dua insan mengikat janji pernikahan. Tepatnya di sebuah Bungalow di daerah Candidasa. Bungalow milik Rosemary, seorang berkebangsaan Australia yang telah puluhan tahun menetap di Indonesia. Ia merupakan salah seorang sahabat Ananta.

Disaksikan deburan ombak, hembusan angin laut, dan sinar surya yang mulai memendarkan cahaya jingganya pada langit, Ananta dan Rachel telah resmi menjadi sepasang suami istri. Sebuah perhelatan pernikahan sederhana namun sangat romantis yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat dari keduanya. Mereka berencana menghabiskan waktu seminggu di sana, sekaligus untuk berbulan madu.

Bulan madu yang dimulai dari malam pertama itu bagaikan horor bagi Rachel. Entah bagaimana malam-malam berikutnya.

***

cintaku serasa abu-abu

hitam-putih baur dalam jalan hidupku

namun kau tetap tak perduli itu

kau tetap perlihatkan putihnya rasamu….

End of Chapter 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s