“… Kita Cerai Saja…”

Kolaborasi karya: Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(Sebelumnya : “Dia… Siapa Dia…”)

 

Segala sesuatu terjadi tidak tiba-tiba
Selalu ada tanda-tanda yang mendahuluinya
Bagi siapa yang mampu dan mengenali tanda-tanda itu
Tak ada keraguan dalam hatinya, tak ada gundah gulana menyelimutinya

Zat-zat serotonin berlompatan di dalam otak Rachel. Ia melewati malam nyaris tanpa memejamkan mata, demi untuk menghindar dari mimpi-mimpi buruk yang kerap hadir saat ia tertidur. Happy hormone menjadi teman setianya. Obat valium yang selalu dikonsumsinya cukup membantu menstabilkan emosi Rachel untuk menyingkirkan halusinasi-halusinasi yang kerap muncul saat malam hari. Kondisi seperti ini menyebabkan Rachel mengalami mood swing yang ekstrim di pagi hari.

“Apa ini?” Rachel melempar berkas pekerjaan yang diserahkan Jimmy padanya.

Jimmy adalah staf kepercayaannya. Jimmy sangat terkejut, karena belum pernah melihat Rachel semarah itu sebelumnya.

“Kamu sudah berapa lama kerja di sini? Masak tidak bisa mengerti clue yang saya sampaikan. Rancangannya harus diserahkan ke klien besok, dan kamu membuat pekerjaan itu buruk sekali, jauh dari yang saya maksudkan,” Rachel ngomel panjang lebar.

“Sana kamu, kembali ke sekolah, dan jangan perlihatkan mukamu di depanku lagi!”

Rachel benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Ia sangat marah hanya karena Jimmy melewatkan beberapa detil pada rancangan interior yang ia buat.

Jimmy meninggalkan ruangan Rachel dengan wajah merah padam.

Setengah jam kemudian Rachel mencari Jimmy, namun Jimmy sudah pergi. Rachel menelepon Jimmy dan meminta maaf. Jimmy yang tahu bosnya itu memiliki karakter yang aneh, akhirnya bisa mengerti dan mau kembali ke kantor.

Jimmy dan Rachel duduk bersama, membahas rancangan interior yang harus sudah selesai besok.

“Aku percaya kamu, Jimmy. Kamu buatlah rancangannya, dan kalau kamu yakin sudah oke, langsung saja kamu temui Pak Donny,” Rachel menyebut nama kliennya itu.

***

Ananta terseok-seok mengatasi persoalan-persoalan yang membelit perusahaannya, Rachel semakin tidak simpati pada suaminya itu. Pesona Ananta luntur di mata Rachel. Ananta tak lebih dari pecundang di matanya kini. Entah kemana kekagumana Rachel pada Ananta, yang dulu membuatnya begitu berani dan sangat ceroboh melakukan pengkhianatan pada suara terdalam dirinya, hingga ia sanggup berbuat keji pada Carla.

Tidak ada yang aneh sebetulnya. Sesuatu yang dimulai dengan niat tidak baik, akan berakhir tidak baik pula.

“Rumah ini seperti neraka, kita cerai saja,” kata Rachel pada Ananta.

“Bukan rumah ini yang seperti neraka, mungkin ada neraka di dalam hatimu,” kata Ananta yang tampaknya mulai terpancing emosinya.

Ananta kesal. Ia yakin ada yang tidak beres dengan kejiwaan Rachel, tapi niat baiknya untuk mengantar Rachel ke dokter selalu ditolak Rachel dengan berbagai alasan.

“Kamu sangat menyebalkan, Ananta,” Rachel tidak suka dengan jawaban Ananta yang bagaikan belati ditancapkan ke dadanya.

“Jangan kamu pikir aku tidak mendengar suara-suara sumbang di luaran,” Ananta kehilangan respect pada Rachel, yang ada adalah rasa kasihan pada istrinya itu.

Kalau saja tidak ingat pesan Carla, mungkin sudah sejak lama Ananta meninggalkan Rachel. Ananta sangat menghargai permintaan terakhir Carla. Dan Ananta memaknainya, adalah sudah menjadi tugasnya untuk menjaga Rachel yang kini menjadi tanggung jawabnya. Tugasnya sebagai suami untuk memimpin Rachel. Bila Rachel tidak benar, artinya itu bentuk kegagalannya sebagai seorang suami, seorang pemimpin dalam sebuah keluarga.

Rachel syok mendengar perkataan Ananta.

“Suara sumbang apa maksudmu, Ananta?” Rachel menurunkan nada suaranya dari tegangan tinggi menuju tegangan rendah.

“Sudahlah Rachel, kita bukan anak kecil. Kita sama-sama dewasa. Kamu tahu apa yang kumaksudkan,” Ananta malas bersitegang dengan perempuan, apalagi ini istrinya sendiri.

Rachel menangis begitu saja. Tangisan sesenggukan seperti anak kecil. Ananta menyediakan bahunya, memeluknya.

“Aku ingin membantumu, Rachel. Tapi pertama-tama, kamu harus bersedia membantu dirimu sendiri.”

“Iya Ananta. Aku akan menurutimu sekarang. Aku tidak akan membantah lagi. Maafkan ucapanku tadi, aku tidak sungguh-sungguh ingin berpisah denganmu. Aku tidak mau kehilanganmu,” tangis Rachel makin deras.

Ananta tidak heran. Ia sudah hapal tabiat istrinya itu, sedikit-sedikit mengajak pisah, sedikit-sedikit minta maaf.

***

Kecantikan Rachel merupakan manifestasi dari indahnya dunia. Sosok kesempurnaan makhluk hidup yang berjalan di atas muka bumi yang terbentuk atas menyatunya partikel-partikel atom pada fisiknya. Ia menari seperti merpati dan bersikap anggun bak flamingo.

Di sisi lain ia bukanlah sosok yang lemah. Ia mampu melakukan manuver dengan kepintarannya bagai ular berbisa yang mematikan. Dengan karakteristik seperti itu Rachel terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tak mudah bagi orang lain untuk bisa masuk ke dalam dirinya. Rachel melapisi kediriannya dengan tabir yang tebal dan berlapis-lapis tebal. Tak mudah tembus bagai kulit atau cangkang kura-kura.

Rachel yang ‘canggih’ menyamarkan kegelisahan hatinya yang tak pernah terungkap, yang tak pernah dicarikan jawab, semakin lama semakin tidak mampu menyembunyikan sosok lain dalam dirinya. Sosok lain yang cenderung merusak dirinya sendiri. Sosok lain yang mengipas-ngipasi hasratnya untuk terus dan terus memenuhi keinginannya.

Semakin ia berlari ke luar dirinya, mencari kesenangan-kesenangan sesaat bersama orang lain di luar dirinya, itu bagaikan dirinya sedang menyiram bensin pada aliran darahnya. Hawa panas makin menjalari hati dan pikirannya. Lama-lama, ia sendiri tak sanggup menutupi pantulannya. Rachel menjadi mudah marah, mudah meledak, di rumah ataupun di kantor. Sedikit saja sesuatu menyulutnya, keluarlah sisi temperamentalnya.

Dari balik pantulan cermin, Rachel melihat tampilan sosok dirinya sendiri. Semuanya telah terlihat sempurna dengan kecantikan dan segala yang melekat pada tubuhnya. Tapi ia mulai melihat ada sesuatu yang lain. Meski samar, ia merasa melihat sosok asing! Sosok yang bukan dirinya sendiri.

Sosok perempuan dewasa yang terus menerus berlari seiring kecepatan waktu itu sendiri. Berlari terus seakan tiada pernah lelah itu datang. Ingin rasanya ia berhenti sejenak dan menjadi dirinya sendiri. Diri yang sangat kekanak-kanakan, tertawa terbahak-bahak, bermain dalam hujan, menari di atas meja hingga letih dan terlelap dalam pelukan hangat ibunya, yang tak pernah didapatkannya. Kini ia merasa begitu kering….

Dilepasnya stiletto dari kakinya dan dilemparkannya….., PRANG..!!! Pecahlah cermin di hadapannya.

Berlutut ia melihat kepingan-kepingan cermin tersebut. Namun yang dilihat dari pantulannya adalah sosok anak kecil yang menangis di dalam sebuah ruang gelap….

Aahhh.. tidak..! Mimpi buruk itu hadir lagi… rasa traumatis yang bertahun-tahun ia coba untuk kubur dalam-dalam, hingga tak lagi ada jejak memory yang tertinggal dalam hidupnya.

***

Ananta berbicara dengan penuh kasih sayang mengajak Rachel mau menurutinya untuk berkonsultasi dengan psikiater. Rachel merasa aman dan nyaman. Mengamati emosional Rachel sejak menikah yang fluktuatif secara tajam, Ananta berpikir untuk mengajak Rachel memeriksakan diri ke Departemen Psikiatri FKUI-RSCM.

Ada perasaan aneh yang menjalar dalam diri Rachel saat bertemu dr. Julia yang melayani konsultasi mereka di RSCM. Sesuatu yang merambati seluruh aliran darahnya. Namun Rachel tak tau rasa apa itu. Sensor-sensor alam bawah sadar Rachel seakan menangkap sesuatu. Seperti aliran sungai menderas yang akhirnya bermuara ke lautan.

***

Kita semua saling terhubung
Secara biologis pada sesama manusia
Secara kimiawi pada bumi dan seisinya
Dan secara atomik pada seluruh alam semesta

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s