I Just Want You To Know Who I Am

The Smiling Death

Chapter 2

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(*Sebelumnya: “Tidurkan Aku dan Bawa Ke Alam Simulakrum”)

 

“Pembalap tangguh tak lahir dari jalan yang lurus bro…” begitu hibur Rendy, sahabat masa kecil Ananta yang baru saja selesai dalam kegiatan besarnya, mengendarai mobil SUV dari Asia ke Eropa.

Ananta hanya tersenyum kecut sambil menghela napas. Meskipun Randy dan Ananta bagai ebony & ivory, banyak perbedaannya, seperti bumi dan langit hidupnya, tapi mereka saling melengkapi, layaknya gas dan rem.

Rendy bagi Ananta memang bukan saja sahabat paling dekatnya, tapi juga merupakan inspirasi bagi hidupnya. Pahit getir kehidupan telah kenyang dimakan Rendy dari semenjak kecil.

Rendy terlahir dari seorang single mother. Ibunya penjual gado-gado di terminal Senen. Mereka tinggal di kawasan padat penduduk. Mereka yang tinggal di sekeliling rumah Rendy itu beragam jenis manusia dan profesi, dari mulai sopir dan kernet bus, pengangguran, copet, preman, sampai pelacur.

Ibu Rendy sendiri menurut desas-desusnya adalah eks-PSK (pekerja seks komersial) yang sudah meninggalkan dunia gelapnya. Puluhan tahun yang lalu saat pertama kali ia hamil merupakan beban yang teramat berat baginya.

Pilihannya adalah mempertahankan janin yang dikandung, atau menggugurkannya. Untuk makan diri sendiri saja ia harus melacur, apalagi harus mempertahankan dan memelihara janin di rahimnya. Dengan cara apa ia harus membesarkan anaknya nanti? Namun pada akhirnya ia lebih memilih untuk meneruskan masa kehamilannya. Maka lahirlah Rendy.

Sejak kelahiran Rendy, ibunya segera meninggalkan dunia hitam itu. Pekerjaan apapun akhirnya dilakoni, dari mulai buruh cuci sampai penyapu jalan demi membesarkan Rendy.

Semenjak kecil Rendy sudah kenyang ‘di-bully‘, meski Randy tak pernah cengeng dan hanya menganggap ejekan itu angin lalu. Sekali dua ia sempat berkelahi karena hinaan teman-temannya tentang ‘profesi’ ibunya di masa lalu, namun selebihnya ia menjawab ejekan itu lewat kerja keras, bersahabat dengan semua orang.

Rendy tumbuh menjadi orang yang friendly, supel terhadap siapapun, kecakapan bicaranya bagus sehingga ia bisa cepat akrab dengan orang lain. Kepandaian interpersonal skill-nya itu yang akhirnya sedikit demi sedikit bisa membuka jalan kesuksesannya.

Rendy bagai benih padi yang hidup di antara lumpur pekat. Meski di sekeliling rumahnya adalah lingkungan yang lebih banyak mengajarkannya pada kriminalitas tapi ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang baik. Ini tak lepas dari kebiasaanya waktu kecil yang suka tidur di mushola terminal. Sebenarnya kebiasaan itu karena ia tidak betah tidur di rumahnya karena kepanasan. Ia memilih tidur di mushola karena lebih adem dan kipas anginnya lebih besar.

Dari situlah ia tanpa sadar mendapatkan banyak hikmah. Karena ia baru bisa tidur setelah pengajian selesai. Mau tidak mau ia ikut mendengarkan setiap bahasan dalam pengajian di mushola itu.

Saat remaja Rendy sering melakukan pekerjaan serabutan dari mulai kuli tukang galian kabel PLN, gelar dagangan kaki lima di emperan jalan, sampai menjadi calo. Calo apa saja. hingga suatu saat ia kenal seseorang yang sedang menjual mobil, lalu ia melakukan jasa sebagai makelarnya, dan di situlah awal ia menerima pendapatan dari komisi yang besar.

Bisnis seperti itu akhirnya ia lakukan terus dan ditabungnya sebagian besar hasil komisi yang didapatnya untuk dibelikan mobil pertamanya, meski hanya mobil bekas. Keuletannya dan keseriusannya dalam dunia otomotif mengantarkan Rendy sampai ia bisa memiliki showroom mobil. Selanjutya ia kerap mengikuti berbagai kegiatan otomotif seperti balap mobil di Sirkuit Sentul, sejak itu pergaulannya semakin luas ke kalangan atas. Kemampuan lobby-nya pun semakin bagus dalam bisnisnya.

Kini siapa yang menyangka Rendy menjadi seorang yang sukses bisnisnya dan namanya diperhitungkan sebagai salah satu public figur di negeri ini.

Tamparan, cacian, hinaan, bentakan yang diterima Rendy saat menjadi kuli, sudah kenyang ditelannya. Bekerja keras yang menguras tenaga fisik di level terbawah dalam sebuah hirarki pekerjaan dijalani Rendy demi tetap melangkah untuk survive dalam kehidupan. Tidak banyak pilihan baginya untuk tetap melakukan apa yang harus dilakukan.

Dengan menghayati dan mengenal betul bagaimana perihnya menjadi buruh kasar, tidak enaknya hidup dengan segala himpitan ekonomi dan status sosial, membuat Rendy mampu memahami anak buahnya saat ia mulai membangun usahanya.

Rendy bertemu kembali dengan Ananta suatu hari di Sirkuit Sentul. Sejak itu Rendy mengajak Ananta untuk membesarkan perusahaannya. Rendy seperti pembuka jalan bagi Ananta untuk memasuki pergaulan di kalangan pebisnis tanah air. Kemampuan lobi Ananta dan keberaniannya mengambil risiko, membuat Ananta cepat dekat dengan banyak orang dari kalangan pengusaha dan politisi.

Ananta mendirikan perusahaan konsultan pengembangan bisnis dan dalam perkembangannya menangani jual beli perusahaan.

Ia juga membuat gebrakan dengan memadukan filosofi barat dan timur dalam konsep ekonomi kreatif. Ia mengimplementasikan ekonomi kerakyatan dengan mendaur ulang ‘sampah’ dijadikan berbagai produk fashion bernilai ekonomi tinggi.

Gebrakannya itu ia lakukan dengan menggandeng kementerian usaha kecil menengah dan kementerian koperasi, juga melibatkan beberapa artis papan atas sebagai ambassador-nya. Konsepnya itu menarik perhatian kalangan media. Dalam waktu beberapa tahun nama Ananta menanjak naik dan terus berkibar. Hingga perjalanan kariernya sampai di puncak ketua HIPMI.

***

Tuhan membuat jalan hidup manusia dengan cara yang menakjubkan

Terkadang kita seringkali merasakan panjangnya jarak jalan

Namun di sisi lain tidak jarang dalam sekejap kita telah sampai di tujuan

Diperlukan banyak tetes air mata sebelum Tuhan melengkapi hidup kita

***

Kini Ananta kehilangan jabatannya yang prestisius sebagai Ketua HIPMI. Hasil keputusan Kongres Luar Biasa berdasarkan suara mayoritas di HIPMI menghendaki demikian. Figur yang sebelumnya dipuja-puji bahkan namanya sempat disebut sebagai calon pemimpin masa depan bangsa, kini seperti sedang menjadi pesakitan. Sudah tak terbilang berapa banyak caci-maki dan hujatan dialamatkan kepadanya.

Ananta yang tahu betul apa itu arti aktualisasi diri, merasakan namanya hancur-lebur hingga di titik nol. Walaupun hasil otopsi menyatakan Waluyo murni bunuh diri, petugas otopsi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan selain bekas tambang yang menjerat lehernya, Ananta tetap dipanggil pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.

Kini seluruh pencapaian Ananta itu serasa dibanting ke tanah terjerembab dalam lumpur yang pekat. Ananta tiba-tiba merasa nalarnya tumpul dengan rentetan kejadian yang menimpanya. Dari kebahagiaan yang memabukan, bersatunya cintanya dengan Carla, kematian Carla yang mendadak, bertubi-tubinya fitnahan dan prasangka buruk yang dilabelkan kepadanya kemudian, sampai ia tak tau kenapa Rachel malah mementingkan urusannya sendiri di saat ia dirundung kepelikan masalah.

***

Jiwa Ananta dan Rachel seperti tidak bisa menyatu. Mereka kadang seperti terjebak dalam situasi badan satu rumah namun jiwa terpisah. Seperti ada dinding tebal yang sulit ditembus di antara keduanya sehingga mereka tidak mudah melebur. Tak Ada chemistry antara Ananta dan Rachel. Tidak ada kesesuaian jiwa. Kadang mereka seperti hidup dengan dunianya masing-masing.

Ananta dan penyangkalannya. Dalam situasi tertentu, ketika sisi melankolisnya sedang menguasai, ia seperti tidak bisa menerima kepergian Carla. Ia tidak akan lupa, dalam situasi-situasi tertentu yang sulit, Carla hadir memberikan dukungannya secara penuh, berdiskusi panjang lebar untuk mencari jalan keluar bersama.

Sehalus apapun Ananta menyimpan itu semua di dalam hatinya sendiri, Rachel yang pikirannya tajam dan mempunyai ‘banyak pengalaman’ bisa merasakannya.

‘Kupikir menikah dengan. Ananta, aku akan bahagia, lepas dari semua masalah, ternyata tidak. Ternyata itu hanya ilusi,’ batin Rachel.

Rachel yang kadang berjalan dengan logikanya sendiri, logika yang menabrak-nabrak pun ia jalani, kadang merindukan kebebasan sesuai versinya, kebebasan semu. Rachel yang mudah mendapatkan apa yang ia ingini, yang mudah pula bosan.

Di saat opini publik seperti memojokkan Ananta, menjadikan Ananta sebagai ‘tertuduh yang brengsek’ yang terhakimi, Rachel memilih terbang ke Negeri Kanguru untuk mengikuti konferensi yang diselenggarakan Asosiasi Desain Interior Internasional.

Rachel seperti tidak memiliki kepekaan. Tidak tahu bagaimana berperan sebagai seorang istri yang adalah sparing partner suami. Rachel merasa, masalah Ananta bukanlah urusannya. Rachel tidak mampu menghayati makna ‘janji sehidup semati dalam suka dan duka’. Rachel hanya mau bagian yang menyenangkannya saja.

Di Aussie, Rachel bertemu Tommy, seorang desainer interior asal Indonesia yang menetap di sana. Mereka cepat akrab. Pesona senyum Rachel begitu mudahnya melumpuhkan logika Tommy. Mereka melakukan apa yang namanya sex after lunch.

Ya, bagi seorang Rachel, apapun bisa ia lakukan. Bagi seorang Rachel, bersatunya tubuh dengan orang lain bukanlah sesuatu yang sakral. Kadang ketika suasana begitu melenakannya, ketika situasi kondisinya ‘mendukung’, ritual itu tak lebih dari sarana pelepas penat, ajang rekreasi. Tak lebih dari itu.

***

Di luar sana

wajah Jakarta dengan gemerlapnya

seakan tak pernah lelah berpendar…

manarik laron-laron ‘tuk menghampiri

tak peduli sayap-sayap mereka patah dan terluka

ketika nafsu duniawi lebih menyeruak dibanding rasa syukur dalam hati

demi menjamah Jakarta yang telah lama luka oleh tamparan zaman…

***

Malam itu Rendy sengaja mengajak Ananta pergi ke luar kota dengan Land Cruiser-nya ke kawasan Sukabumi untuk mencari udara segar sambil membuang suntuk. Kalimat-kalimat dari sahabatnya itu sedikit meguatkan mental Ananta.

“Bukannya dulu lo jago main saham? Lo sendiri tau kan bahwa keterpurukan adalah signal akan peningkatan derajat. Nilai saham yang terpuruk justru malah bisa mengundang para buyer untuk membeli saham tersebut. Hingga trend naik terjadi dan peningkatan harga saham itu memicu banyak orang untuk turut melipatgandakan keuntungan,” Rendy nyerocos.

“Seburuk apapun kondisi kita saat ini, ingat aja kita berasal dari sesuatu yang ‘bukan apa-apa’, kita hanya berasal dari setitik mani, tapi kini lihatlah diri kita sendiri… we’re not a loser..! We are a winner since the beginning…

“Kita tidak pernah tahu seberapa kuat kita, sampai kekuatan itu sendiri adalah satu-satunya pilihan yang kita miliki. Maka tetaplah berlari… selesaikan sampai finish meski hina dan caci maki menyertai…”

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s