Dia… Siapa Dia…

The Smiling Death

Chapter 2

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

(*Sebelumnya: “I Just Want You To Know Who I Am” )

 

Senja beranjak meredup ketika sayup-sayup terdengar tangis bayi yang meyayat hati. Seorang lelaki berpenampilan kumal sejenak berhenti. Mencoba mencari lewat indera pendengarannya… suara tangis yang tak kunjung berhenti.Dari balik semak dan rerumputan, lelaki itu menemukan bayi mungil yang pucat akibat kelelahan karena menangis, lapar dan kesakitan dalam dinginnya udara di bulan Desember. Segera dilepaskannya mantel buluk yang dikenakannya untuk membebat bayi malang tersebut dalam pelukannya.Laki-laki itu membawa bayi itu pulang ke rumahnya. Dibukanya bungkusan kecil berisi beras untuk menanak nasi… sekaligus membuatkan air tajin sebagai pengganti susu untuk sang bayi.

Rachel terbangun terengah-engah… mimpi buruk itu datang lagi. ‘Aku butuh obat..’ bathinnya. Bergegas ia mencari obat-obatannya dan langsung memasukkannya ke mulutnya tanpa ia hitung berapa butir yang ditelannya.

Hidup tanpa tujuan yang jelas membuat Rachel terombang-ambing secara mental, mudah gelisah dan cemas. Secara fisik Rachel sehat, tapi jiwanya menjerit, sakit.

***

“Saya minta obat penenang yang dosisnya lebih tinggi, dok… Obat penenang ini sudah tidak mempan buat saya kayaknya,” kata Rachel sambil menyerahkan satu botol obat penenang pada Andika.

Andika menatap lurus pada Rachel.

“Rachel, kamu sudah tahu obat penenang yang dosisnya melebihi ambang batas akan membahayakan keselamatanmu.”

“Tapi obat itu sudah tidak ada dampaknya buat saya. Saya memerlukan obat yang lebih paten demi menjaga hubungan baik saya dengan suami.”

“Menjaga hubungan baik dengan suami? Apa maksudmu, Rachel?”

“Maaf, saya tidak bisa bercerita lebih banyak, dokter.”

“Rachel, dalam kasus-kasus khusus seperti kamu ini, penting adanya keterbukaan antara pasien dan dokter, sehingga saya bisa merekomendasikan obat dan threatment yang benar-benar kamu butuhkan.”

“Dokter, saya hanya butuh obat penenang dengan dosis sedikit dinaikkan. Itu saja. Saya pikir penjelasan saya sudah cukup.”

Andika merasakan kondisi kejiwaan Rachel semakin tidak sehat setelah menikah. Ia ingin membantu, sayangnya Rachel tidak mau terbuka mengenai masalah yang mengganggu hati dan pikirannya. Andika tahu, Rachel termasuk pasien yang keras kepala, dan kalau Rachel seperti itu terus, bisa jadi gangguan bipolarnya akan makin parah kemudian menjadi akut, hingga risiko terburuknya ia akan kehilangan kesadaran.

“Rachel, suamimu harus tahu keadaanmu ini. Sepuluh tahun tergantung obat penenang bukan hal yang baik. Mungkin dalam kunjungan berikutnya, kamu bisa ajak suamimu ke sini,” Andika berusaha membujuk Rachel.

“Tidak bisa. Suami saya sibuk.”

“Rachel, ini demi kebaikanmu.”

Rachel bangkit dari duduknya. Ia ambil kembali botol obat penenang yang tadi ia letakkan di atas meja.

“Saya akan mencari dokter lain,” kata Rachel, pelan dan dingin, dengan senyuman misteriusnya.

Relasi antara Rachel dan Andika memang bukan sebatas hubungan pasien dan dokter yang biasa saja. Intensitas hubungan yang terjalin selama 10 tahun membuat Andika sangat memahami Rachel. Kadang mereka seperti teman, sahabat, saling bertukar cerita dalam batas yang masih wajar.

Andika merasa selama ini Rachel cukup terbuka padanya, terutama dalam hal-hal menyangkut karier dan hubungan dengan teman kerja serta relasi bisnis yang membuat Rachel stres. Rachel memang tipikal ambisius, dan itu yang membuatnya gampang stress. Dan Andika paham kode etik kedokteran untuk menjaga privacy atau rahasia pasiennya. Tapi kali ini, terutama sejak menikah, Rachel menjadi lebih tertutup, sangat tertutup bahkan. Banyak pertanyaan Andika menggantung tanpa mendapat jawaban memuaskan dari Rachel.

Dokter Andika membaca medical record milik Rachel. Dalam kunjungan sebelumnya, ia merekomendasikan Rachel untuk menjalani beberapa terapi, tapi Rachel tidak menggubrisnya. Padahal dr Andika mulai membaca bahwa ada hal-hal traumatis dalam hidup Rachel yang masih ia tutupi rapat-rapat. Tapi dr. Andika tak bisa membantu lebih jauh bila Rachel tidak mau diajak kerjasama. Rachel memang seharusnya sudah menjalani terapi intensif sejak lama, mengingat apa yang ia telah lakukan pada Carla.

‘Keadaan ini kalau dibiarkan akan semakin riskan,’ batin Andika.

***

Sementara itu perusahaan Ananta kolaps dengan utang Rp 1,6 miliar. Sebuah pukulan telak bagi Ananta di mana pada saat yang sama harus berjuang membayar gaji para karyawannya dan melunasi tagihan utang-utangnya. Kontrol biaya yang ketat pun dilakukan, Ananya sedikit demi sedikit me-restrukturisasi utang-utangnya. Bagaimana pun perusahaan harus terus bergerak meskipun dengan utang.

Bathin Ananta semakin keruh. Di saat ia membutuhkan seseorang yang ia pikir sangat mengenali dirinya sendiri dan bisa memahami kondisi kegundahannya yang amat sangat, namun di sisi lain Rachel, istrinya sama sekali tidak menunjukkan empati terhadap kondisi bathin suaminya.

Rachel malah semakin mudah tersinggung sehingga gampang marah. Ia tetap merasa dirinya kaya dan memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain. Rachel tetap dengan perilakunya  menghamburkan uang di saat suaminya sering hanya makan sekali dalam sehari, atau malah perut Ananta hanya diisi air putih seharian.

Rachel tetap merasa dirinya sangat penting dan berkeyakinan Ananta tidak akan lepas dari dirinya karena itu merupakan wasiat terakhir dari Carla. Dan kadang secara tiba-tiba ia gembira berlebihan.

Sudah cukup sering pada saat Ananta membutuhkan Rachel di malam hari untuk sebuah kehangatan cinta, Rachel malah histeris, berteriak-teriak bahkan mengamuk. Sesaat kemudian menangis tanpa sebab, dan berulangkali ia ingin membunuh dirinya sendiri atau Ananta.

Rachel semakin sering mengalami halusinasi seperti mendengar bisikan suara tapi hanya ia yang mendengarnya.

Nafsu seksual Rachel meningkat dan suka menyusun rencana yang tidak masuk akal, untuk dapat melampiaskan nafsunya pada laki-laki lain. Ia sulit menahan diri dalam hal itu.

Setiap malam, demi menghindari dari mimpi-mimpi buruknya, Rachel sengaja untuk tetap terjaga, ia sulit tidur meski sudah meminum obat penenang yang semakin tinggi dosis yang ditelannya.

***

Ia adalah… Suara

Ia menangis saat dunia tertawa
Ia terbahak saat dunia berurai air mata
Ia berteriak tapi tak bersuara

Setiap kali ia mendengar suara,
sekejap ia bagai gadis kecil yang terduduk dalam luka
terabaikan meski memiliki suara

Seperti mimpi buruk yang dialaminya

Inginnya ia melawan
meski berteriak dengan sekuat tenaga… namun tak terdengar suara
yang keluar hanya bisikan belaka.

Tak seorangpun peduli bisikannya,
Meski dalam hiruk-pikuknya kota
Tidak ada yang punya waktu untuk mendengarkan bisikan orang yang terbuang
Tertolak…
Bahkan oleh ibunya sendiri

Ialah suara tangis
Ialah perempuan yang terbuang
Ia adalah manusia yang teraniaya sejak hadir di dunia

Dia… siapa dia …
Dan jika ia tetap terkekang
maka
ia akan berhenti menjadi siapa dia

Lewat suara-suara asing ditelinga
Ia memeluk ketakutannya sendiri

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s