‘The Smiling Death’: Akulah Neraka dan Surga

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya: “Sang Petualang Cinta”)

Kemarilah sayang..

Mendekatlah..

Biar kubisiki cuping telingamu dengan petuah-petuah bijak

bak orang suci

kubawakan untukmu secawan madu penawar pedih di hatimu

katarsis pemuas dahaga atas hasrat yang tak terlampiaskan

benamkan kepalamu dalam dadaku

tak perlu lagi kau malu-malu mengintip selangkanganku

biar kau rasakan surga pada panasnya neraka

Seorang pangeran dari Brunei tergila-gila pada Rachel. Sang pangeran mengejar dirinya namun Rachel memilih bersenang-senang di Bali selama sebulan dengan Roy, yang justru adalah hanya seorang akademisi di sebuah perguruan tinggi terkemuka di negeri ini. Roy secara fisik memang lebih menarik dan menggoda dibanding pangeran dari negeri tetangga itu.

Roy yang baru saja mendapatkan kompensasi dari hasil kerjasamanya dengan Bank Dunia dalam sebuah proyek penelitian tentang kesehatan masyarakat, mengajak Rachel terbang ke Papua. Dari sana mereka langsung menuju ke Raja Ampat untuk menikmati hari-hari yang memabukkan di ’surga wisata laut’ di belahan timur Indonesia.

Satu per satu hati laki-laki baik-baik terpatahkan oleh bius cinta Rachel. Rachel bagai putri salju yang menawarkan apel beracun pada kurcaci-kurcaci kelaparan.

Rachel tahu betul pesona dirinya, daya tariknya. Sex appeal-nya yang tinggi, seleranya berkelas. Pria flamboyan, playboy kacangan, amat mudah ia dapatkan. Mereka terseok-seok memuja Rachel. Bahkan pria-pria baik-baik taat norma dan nilai pun dengan mudahnya ia ‘kangkangi.’

Rachel tahu seleranya, dan ia tahu bagaimana mendapatkannya. Smart, intelek, berpenampilan anggun penuh wibawa yang tak menampilkan kesan ‘murahan’ sukses dalam usaha, dan luasnya wawasan dan pergaulan, serta dikenal sebagai salah satu sosialita yang dermawan. Itu karena Rachel cukup rajin menyumbangkan dana yang ia miliki untuk berbagai kegiatan dan yayasan-yayasan sosial kemanusiaan.

Hampir semua jenis buku ia lahap, dari mulai perkembangan dunia science terkini, sosial budaya, seni dan sastra, filsafat, bahkan politik dan ekonomi.

Rachel berpikir dan bergerak dengan logikanya sendiri. Tak peduli logika itu menabrak aturan umum yang lazim. Dan, Rachel melakukan semuanya dengan cara yang cantik. Begitu lembut dan rapi, serapi ketika ia mengubah komposisi obat Carla yang kemudian secara perlahan-lahan melemahkan syaraf-syaraf di seluruh organ tubuh Carla, hingga Carla kehilangan nyawanya.

Hubungan tanpa komitmen dengan Roy berakhir, Rachel melanjutkan petualangan cintanya dengan Ardian seorang kandidat Ph.D di Inggris. Ketika Ardian liburan ke tanah air, itu adalah waktu yang menyenangkan untuk bersama Rachel.

Rachel terobsesi pada pria-pria muda macho, intelek dan yang pasti mapan dan berkecukupan.

Kenikmatan yang tiada habisnya. Yang makin diburu, makin membuat Rachel kehausan dan kelaparan. Ingin lagi dan lagi.

ia menawarkan sensualitas mawar dengan duri tajamnya
ia menawarkan anggur segar yang menjelma menjadi cuka
ia melukiskan penjara tampak bagai kedai persinggahan

karena cinta tumpulkan logika laki-laki pintar
karena cinta mengobarkan api kesenangan
karena cinta setan berubah nampak baik
karena cinta batu cadas terlihat lembut bak mentega
karena cinta hantu berubah menjadi malaikat…

***

Rachel tumbuh besar di tengah keluarga yang serba berkecukupan dalam hal materi. Ayahnya berdarah bangsawan, dengan nama lengkap Raden Mas Trenggono Waskito. Ibunya bernama Fahira Prayitno. Pada orang tuanya, Rachel pernah bertanya mengapa namanya Rachel Wongso Wijoyo, mengapa tidak menggunakan nama besar ayahnya, Trenggono Waskito.

Pada Rachel, ayah ibunya mengatakan mereka senang dengan nama belakang Wongso Wijoyo yang mengandung makna kejayaan. Rachel tidak puas dengan jawaban orang tuanya. Rachel juga mempertanyakan kenapa tak ada gelar raden ajeng di depan namanya. Orang tuanya menjelaskan, bahwa di era modern seperti sekarang ini, gelar bangsawan bukanlah sesuatu yang penting. Tapi Rachel menginginkan gelar itu.

Orang tua Rachel menyembunyikan sesuatu dari Rachel. Demikian juga dengan Rachel, ada sesuatu yang ia sembunyikan dengan rapi dalam dirinya. Tak mudah menembus kedalaman hati Rachel. Ia penyimpan rahasia yang ulung. Mempunyai ruang rahasia dalam dirinya, sebuah ruang yang ia kunci, lalu kunci itu ia buang ke laut.

Rachel menampilkan citra dirinya sebagai seorang putri dari kalangan bangsawan. Ia belajar menari dan mengikuti kelas kepribadian. Ia mengatur gestur, gerak-gerik tubuh dan tutur bahasanya demikian halus selayaknya putri keraton.

Rachel menaati etika makan seperti yang diajarkan dalam kelas kepribadian. Ia memilih busana bermotif lembut dan model yang anggun. Ia mendesain sendiri hampir semua busana yang dipakainya. Rachel menempuh pendidikan desain interior di Australia. Pun, dia sangat berbakat merancang busana. Ia pakai sepatu, tas dan gadget yang warnanya senada dengan busana yang sedang dikenakannya.

Sosoknya yang menonjol di berbagai pesta sosialita, selalu menarik perhatian fotografer. Tidak mengherankan bila kemudian wajah cantik dan penampilannya yang menjadi trendsetter di lingkup pergaulannya sering mewarnai majalah-majalah wanita kelas atas.

Loyalitasnya pada brand-brand yang mendunia, dan koleksi parfumnya yang selemari menginspirasi wartawan mode untuk mewawancarainya secara khusus.

Rachel begitu apik menata semua koleksi yang menunjang penampilannya. Sepatunya berderet rapi dalam satu lemari khusus. Buat tas, ia juga sediakan satu lemari khusus. Rachel memiliki tiga lemari besar khusus untuk busana pribadinya.

Sampai suatu hari Rachel bertemu Carla dan itu mengubah banyak hal pada diri Rachel.

Ketika itu Rachel dan Carla yang sama-sama desainer interior mendapat proyek mendesain sebuah hotel baru, hotel berbintang lima.

Mereka harus bicara untuk menerjemahkan keinginan pemilik hotel. Usai meeting dengan pemilik hotel, Carla mengajak Rachel mengunjungi penderita HIV/AIDS di sebuah pusat rehabilitasi.

Rachel sebetulnya malas karena sudah membuat janji dengan Ardian, tapi demi sukses kerja sama mendesain hotel, Rachel akhirnya mengiyakan ajakan Carla.

Di pusat rehabilitasi itu, Rachel melihat banyak bayi yang menderita HIV/AIDS. Bayi-bayi yang dilahirkan oleh orang tua yang salah satunya atau keduanya mengidap HIV/AIDS. Bayi-bayi yang tinggal menghitung hari menuju kematiannya.

Rachel juga melihat perempuan-perempuan penderita HIV/AIDS. Mata mereka kosong, seperti sedang menunggu kematian. Rachel tidak berani mendekati mereka. Ia melihat dari pintu dan kemudian mundur teratur, duduk di ruang tunggu.

Rachel sempat melihat bagaimana Carla menggendong bayi-bayi itu. Bahkan Carla tanpa canggung mencium seorang bayi yang tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit tipis. Carla membelai rambut bayi yang malang itu.

Pemandangan itu menggugah hati Rachel untuk menghentikan petualangan cintanya. Mengerem hasratnya untuk memburu pria-pria borjuis yang memiliki kesenangan yang sama, yaitu sex for fun.

Rachel merasa kosong. Ternyata ia tidak pernah memiliki seseorang, seorang pria yang benar-benar menyentuh hatinya. Ketika rasa itu ia temukan pada diri Ananta, ternyata Ananta memilih Carla, itu bagi Rachel bagaikan membangunkan macan tidur yang bersemayam dalam dirinya.

aku hanyalah kupu-kupu kecil yang terbang sebagaimana kehendaknya
dari satu kuntum bunga ke kuntum bunga lainnya
aku hanyalah kunang-kunang yang kecil dan terlihat rapuh
kadang ada…,  tak jarang aku lenyap pula

bening… hening…
sendiri tak bergeming
lenting demi lenting menghitung tiap selentingan

semua sudah menjadi ketentuan yang tak mungkin disanggah lagi
entah itu oleh ku atau oleh mu

terhempas oleh angin dan air

pudar… pudarlah aku
bersama angin
bersama badai
hingga berserak tak berbekas

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s