‘The Smiling Death’: Sang Petualang Cinta

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya: “Kerudung Putih Carla”)

 

Laki-laki itu ‘mabuk… mabuk…’
semua ruhnya keluar dari jasad
melayang menembus medan-medan tak tersentuh
terbelah hingga menjadi titik partikel menyerupai atom

Ia sekarat… sekarat…
denyut nadinya tak berdenyut sama sekali
kebas hingga ke mana ruhnya melanglang buana

menembus inti…
mendobrak lapisan-lapisan atmosfir
begitu ringan
hangat…. tidak…
dingin…. tidak… ataukah sejuk…?
entahlah…

Laki-laki itu bernyanyi pada dunia
“Akulah yang membuat dunia berputar…
adalah kamu yang membuat dunia berputar…
kitalah yang membuat dunia ini berputar…”

namun hanya takdir yang mampu menghentikan itu semua
cengkeram kuku langit pada jasad dan ruh manusia itu menyatu…
menyatu tanpa belenggu…

bias titik sinar terang terpancar sangat indahnya
ada “rindu” yang menunggu di ujung sana
perlahan lelaki merayap ke ujung celah itu…
membuka semua ujung-ujung simpul

namun belum saatnya….
cahaya rindu itu meredup di ujung lorong cahaya
semakin redup… menjauh… hingga… hitam.. gelap…

 

Ananta, seorang pengusaha muda, intelek, populer, segalanya mampu ia raih, namun tetap seorang anak manusia tak akan mampu mengalahkan ketetapan takdir.

Hidup terus mengalir, roda terus berputar. Dari hari ke hari manusia terus mengejar harapan. Berganti tugas dan pekerjaan. Beralih dari satu jabatan dan ke jabatan lainnya. Terus mengejar harapan. Berganti prestasi dan puja-puji. Beralih dari satu cita ke cita lainnya. Terus menerus seakan tak pernah berhenti.

Montage kenangan-kenangan bersama Carla berseliweran dalam kepala Ananta. Bagaimana mereka bertemu, bagaimana mereka saling berdebat, bagaimana mereka bertengkar, dan bagaimana kenangan-kenangan indah dan bahagia terlintas seperti slide demi slide. Tiba-tiba ia teringat sebuah dongeng pada masa kecilnya.

Alkisah ada seorang ksatria yang pandai berkuda dan bermain pedang. Sang Ksatria itu adalah komandan dalam kavaleri pasukan berkuda kerajaan. Ia mampu berkuda dengan lincah dan bisa melesat secepat kilat… Karena itulah ia juga sangat diandalkan oleh kerajaan untuk berbagai macam urusan ke berbagai negeri lainnya.

Hingga suatu saat ia tercenung. Apa yang selama ini ia cari. Apa yang selama ini ia kejar…?

Sang Ksatria memang mampu berkuda dengan cepat. Tapi ia tidak banyak tahu tentang detil-detil perjalanannya. Ia kehilangan setiap momen, setiap jejak langkah kakinya. Hanya kemenangan dan kemenangan dari setiap pertempuran yang dilaluinya… tanpa pernah menghitung berapa musim telah berganti.

Itulah manusia. Secara kontinum terus meningkatkan kualitas diri hingga seperti Sang Ksatria dalam kisah pendek di atas. Tapi kemanakah kita akan menuju? Kemanakah kita akan berakhir? Adakah akhir dari semua aktivitas ini?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu tak perlu kita jawab. Hanya saja kita belajar untuk bisa melihat sesuatu ‘lebih dekat.’ Menikmati setiap jejak langkah kita…. dan menikmati berbagai ketidaksempurnaan hidup yang justru sangat indah menghiasi kehidupan.

Ananta, ’sang ksatria’ kini terhenti langkah kakinya. Ia membeku, bergeming pada noktah hitam. Tak jelas lagi apa yang dirasakan hatinya.. remukkah.. hancurkah.. bekukah… semuanya serba samar. Bagai menggenggam pasir, baur dan kabur. Cintanya yang begitu lekat dalam kenyataan, seperti mimpi ‘pangeran dan cinderella’ yang tiba-tiba menghilang bagai asap putih… lenyap tanpa bekas… Tanpa mampu ia mencegah itu semua.

Kini di tangan Ananta tergenggam lembaran-lembaran surat ‘rahasia’ dari Carla yang ditujukan untuk dirinya. Surat yang sengaja dirahasiakan Carla, dan hanya akan diberikan kepada Ananta jika Carla telah tiada. Surat-surat yang telah dituliskan Carla sejak lima bulan lalu. Dan hanya kepada Rachel ia percayakan surat-surat tersebut. Tumpukan surat-surat itu Ananta dapatkan dari Rachel kemarin.

Surat-surat Carla bercerita tentang perasaan cintanya yang mendalam pada Ananta, betapa bahagia dan bersyukur ia menjadi istri Ananta. Surat Carla juga bercerita tentang penyakitnya, serta persahabatannya dengan Rachel. Dalam suratnya itu, Carla memuji-muji Rachel sebagai sahabat yang baik, dan bila ia meninggal terlebih dulu, sementara Rachel belum menikah, ia ingin Rachel lah yang menjadi istri Ananta.

***

Sementara di belahan bumi lainnya, Rachel tercenung sendirian di kamar.

‘Aku tidak bisa menerima kebaikanmu, Carla,’ kata hati Rachel.

‘Aku seperti duri dalam daging. Ibarat musuh dalam selimut. Aku begitu jahat kepadamu, tapi kamu membalasku dengan kebaikanmu. Aku tidak bisa menerimanya,’ air mata Rachel berhamburan keluar, seperti air bah yang tak terbendung.

Rachel ingat semua perbuatannya. Ketika penyakit hati berupa iri, dengki dan rasa cemburu jadi satu menggerogoti jiwanya, Rachel begitu tega menjerumuskan sahabatnya menjemput ajalnya sendiri. Cara yang sadis, halus dan perlahan-lahan, dengan cara mengubah komposisi obat Carla, mencampurnya dengan zat kimia tertentu yang seharusnya dihindari Carla.

Tak ada seorang pun yang mengetahui kelicikan Rachel.

Carla sudah meninggal dengan tenang. Rachel dihantui perasaan bersalahnya sendiri.

‘Aku tidak bisa menerima kebaikanmu, Carla,’ jerit Rachel dalam hati.

Rachel memberikan semua surat Carla pada Ananta, dan memutuskan untuk pergi jauh seorang diri.

‘Aku tidak pantas mendapatkan Ananta dengan cara seperti itu,’ desis suara hati Rachel dalam penerbangan menuju Bali.

Sebetulnya masih tersimpan ego di diri Rachel. Kalau ia benar-benar menyesali kesalahannya, ia akan membuat pengakuan dosa pada Ananta dan orang tua Carla, kemudian menyerahkan diri ke polisi sebagai bentuk pertanggungjawaban. Tapi, itu ia tidak lakukan.

Rachel memilih melarikan diri, mengasingkan diri dengan membawa segenap luka dan penyesalannya.

***

Sudah dua bulan lebih, Ananta kehilangan jejak Rachel. Tak ada yang mau memberitahu dimana Rachel berada.

Kesedihan ditinggal Carla belum terhapus, kemudian Rachel menghilang tanpa alasan yang jelas. Sementara surat Carla mendorongnya harus mencari Rachel, karena bagi Ananta, surat istrinya itu adalah wasiat.

Jaringan kolega dan networking Ananta yang kuat di berbagai lini cukup memudahkan Ananta dalam menemukan di mana keberadaan Rachel. Lima hari kemudian Ananta mendapat kabar di mana Rachel berada. Ananta segera terbang ke Bali.

“Kamu kurusan, Rachel. Ada apa denganmu? Kenapa kamu menghindariku?” beruntun pertanyaan meluncur dari bibir Ananta.

“Bukan urusanmu,” ketus Rachel menjawab.

Anehnya, sikap ketus yang ditunjukkan Rachel justru memikat hati Ananta.

“Menikahlah denganku, Rachel,” pinta Ananta.

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Kamu mencintai Carla,” sinis ucap Rachel.

Rasa sakit muncul lagi di hati Rachel, dan diam-diam Rachel merasa senang sudah bisa menyingkirkan Carla. Di sisi lain, penolakan Rachel justru membuat Ananta terobsesi untuk menaklukkan hati Rachel yang sebetulnya sudah takluk sejak lama padanya.

Aku memang petualang cinta
yang masih mencari dan belajar memaknai cinta

Aku memang berlumuran dosa
yang tak pernah merasakan kemesraan cinta sesungguhnya

Sebagian cintaku semu
berserakan di antara puing-puing dosa

Kupejamkan mata batinku
tuk menahan rasa malu

Kini, meski hanya setetes air cinta
Namun betapa indah dan memabukkan rasa itu, sayang…

Aku telah tersesat di belantara cinta
Nuraniku bertanya, jalan mana yang akan kupilih…?
Kemana lagi kan ku-alamatkan goresan cinta dan cita-cita ini?

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s