‘The Smiling Death’: Kerudung Putih Carla

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya: “Selamat Tinggal Waktu”)

 

Hampir dua minggu Carla terbaring koma. Wajah cantiknya mulai terlihat cekung dan tirus. Selang infus dan oksigen masih menjadi teman setianya. Carla yang selalu ceria dan sinar matanya yang selalu menunjukkan keoptimisan kini hanya terpejam. Bunga lotus itu kini layu, terkulai lemah tak berdaya.

Ananta, suaminya, hampir tak pernah meninggalkan rumah sakit. Segala urusan pekerjaannya ia delegasikan pada orang kepercayaannya. Kedua orang tua Ananta dan kedua orang tua Carla bergantian mengunjungi Carla dan turut menemaninya di rumah sakit.

Sore ini Ananta sedang turun ke bawah untuk membeli makanan.

Carla ditemani orang tuanya dan Rachel, yang kini semakin sering berada di dekat Carla, dan Ananta tentunya.

Tiba-tiba dada Carla terlihat sedikit bergerak naik turun. Menyadari tanda itu, Rachel menoleh pada kedua orang tua Carla dan langsung menekan bel untuk memanggil suster. Ibu Carla menggenggam erat tangan kiri Carla. Ayah Carla bergegas menuju pintu, memanggil Ananta. Dua orang laki-laki itu segera masuk dan menghambur ke sisi-sisi ranjang.

Mata Carla mengerjap.. dan perlahan membuka mata… mulutnya sedikit terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa. Seperti ada yang mengganjal suaranya di tenggorokan. Bersamaan dengan itu suster yang masuk dan memeriksa, segera menghubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Ananta menggenggam jemari tangan kanan Carla.

Rachel memakaikan kerudung putih di kepala Carla yang lemah. Ia melakukan itu karena pesan terakhir Carla, jika saatnya tiba ia mau dalam keadaan berhijab menghadap Allah.

Ya, rahasia tentang penyakit Carla hanya Rachel yang tahu, karenanya hanya kepada Rachel, Carla menceritakan semuanya termasuk pesan-pesan terakhirnya jika ia lebih dulu meninggal.

“Sayang….?” suara parau Ibunda Carla.

Sudah sekian hari, Ibunda Carla menangis. Di tiap-tiap malamnya, ia meneteskan air mata, memohon kepada Allah untuk kesembuhan anaknya. Carla adalah bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya menetap di Mesir, kampung halaman Ayahnya. Dua kakak Carla sudah berkeluarga. Kakak sulungnya punya dua anak, dan kakak keduanya punya tiga anak.

Mulut Carla bergerak-gerak, semua orang berusaha untuk lebih mendekatkan diri pada wajah Carla, agar dapat menangkap apa yang diungkapkannya.

“Asy.. ha.. du alla…”

… kalimat Carla terhenti….

Matanya menatap Rachel, “… ja.. ga… A..n..an.. ta… un.. tuk.. ku..”

Ananta terhenyak mendengar ucapan istrinya itu.

Demikian pula Rachel.

Rachel tak kuasa menahan air matanya. Bukan air mata kepura-puraan. Sungguh, kebaikan dan ketulusan Carla telah mengoyak-oyak batinnya.

Rachel yang menjadi penyebab kondisi kesehatan Carla makin memburuk secara drastis, tapi Carla justru mempermudah jalan Rachel untuk mendapatkan Ananta. Rachel menyesal dengan apa yang ia telah lakukan pada Carla sahabat terbaiknya, namun penyesalannya datang terlambat.

Dokter bergegas masuk untuk memastikan perkembangan kondisi Carla. Tak ada perkembangan berarti.
Carla siuman sekian menit hanya untuk pamit.

“… Insya Allah kami sudah ikhlas, dokter…” ayah Carla mencoba berucap tegar.

Dokter mengangguk pelan, “Mudah-mudahan anak Bapak diberi kemudahan oleh Allah….”

Sambil terus menggenggam tangan Carla, Ananta berusaha membantu Carla membacakan syahadat di telinganya secara perlahan-lahan. Kemudian mulut Carla bergerak-gerak dengan mudah. Genggaman tangannya tampak mulai melemah. Ada butiran air mata yang bergulir dari matanya yang terpejam.

‘Sakitkah Sayang, biar aku yang menggantikanmu dalam posisi itu…,’ batin Ananta.

Penglihatan buram terhalang air mata. Wajah Carla menunjukkan kesakitan seakan sedang bertarung melepas nyawa.

Napas Carla hilang timbul… susah sekali ia bernapas…, jaraknya makin lama makin panjang. Semua yang ada di ruangan itu membaca syahadat berkali-kali. Dan akhirnya napas Carla pun terhenti.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…,” lirih suara Ananta. Ia usap lembut wajah istrinya, dari ujung dahi hingga ke ujung dagunya.

Carla seperti sedang tertidur nyenyak. Dengan mata terpejam, Carla seperti sedang tersenyum. Begitu damai.

***

Carla sewaktu kecil merupakan perempuan yang tomboy. Ia berani melawan laki-laki yang kadang melakukan bullying baik terhadap dirinya sendiri atau pun kepada anak perempuan atau anak yang lemah lainnya. Meski begitu Carla seorang anak yang setia kawan, tidak memandang perbedaan berbagai latar belakang ekonomi, status sosial, agama, suku dan bangsa. Carla yang berhati mulia, aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

Suatu hari sebelum hadir Ananta, Rachel sempat bertanya kepada Carla ketika Carla membeli beberapa set baju muslimah di Thamrin City.

“Kamu mau pakai jilbab?” tanya Rachel.

“InsyaAllah,” jawab Carla sambil tersenyum, “tapi ini bukan untukku kok. Ini untuk Bu Yati yang berjualan di warung belakang kantor.”

Dan keesokannya Rachel dan Carla menyempatkan diri ke warung di belakang kantor mereka saat makan siang. Namun, warung Bu Yati sedang tutup.

“Bu Yati kemana, Pak Min?” tanya Carla pada Pak Min penjual mi ayam.

“Oh.. kata Nana, anak saya yang tadi pagi sempat ke rumahnya, Bu Yati sedang sakit.” jawab Pak Min.

“Di mana rumahnya, Pak?”

“Dekat kok.. tuh belok ke gang situ.., kalau Ibu mau ke sana.. biar nanti diantar Nana, anak saya,” Pak Min menawarkan bantuannya.

Rachel dan Carla tanpa ragu melangkahkan kaki memasuki gang yang ditunjukkan Pak Min, diantar Nana.

Sambil jalan Nana bercerita, “Bu Yati dari kemarin muntah-muntah.”

“Sudah dibawa ke dokter?” tanya Carla.

“Ke Puskesmas. Dokter di Puskesmas menyarankan untuk berobat ke rumah sakit, tapi belum,” jawab Nana.
Sesampainya di rumah petak yang kusam, Carla dan Rachel menemukan Bu Yati yang terbaring lemah di kasur yang digelar begitu saja di lantai yang dilapisi karpet plastik yang sudah usang. Satu ruangan berukuran 3 x 3 meter untuk istirahat, sekaligus ruang tamu merangkap dapur. Ada pintu kecil di bagian belakang menuju kamar mandi berdinding kayu bekas.

Tanpa pikir panjang Carla dan Rachel segera mengajak Bu Yati ke rumah sakit terdekat.

Selang beberapa hari Bu Yati sehat dan kembali berjualan di warungnya. Namun, sebulan kemudian Bu Yati meninggal dunia di rumahnya, persis setelah Bu Yati salat malam.

Peristiwa itu terpatri di hati Carla. Dan, sejak itu Carla semakin giat mengajak para pengusaha yang tergabung di HIPMI untuk lebih memberikan perhatian pada kaum miskin perkotaan, terutama pada perempuan seperti Bu Yati.

Usaha Carla ada hasilnya. HIPMI kemudian mengalokasikan sejumlah anggaran untuk menyelenggarakan pelatihan usaha kecil menengah, dan memberikan pinjman modal usaha dengan sistem pembayaran yang ringan, dengan bunga nol persen. Program ini utamanya ditujukan bagi kaum perempuan kota yang hidupnya di bawah garis kemiskinan.

Dan Carla berjanji pada dirinya sendiri, akan memakai hijab sebelum napas terakhirnya. Ia ungkapkan isi hatinya itu pada Rachel.

***

Tanah merah di makam Carla yang bertaburan bunga mulai basah oleh rinai hujan. Pekuburan sudah sepi. Ananta masih enggan untuk pulang. Rachel masih di sisi Ananta.

“InsyaAllah Carla sudah tenang…,” hibur Rachel pada Ananta, “Carla begitu pasrah dan tawakal kepada Allah dengan penyakitnya.”

Ananta mengangguk dan mulai bangkit melangkah menjauhi makam istrinya. Dadanya tetap bergolak… air matanya tak bisa dibendung, terus mengalir sejak jenazah Carla memasuki liang kuburnya.

Sejak menderita penyakitnya, Carla tak pernah menampakkan keputus-asaan. Dia tetap optimis, “Allah memberikan penyakit sebagai ujian, maka aku harus lulus, dan tawakal untuk jadi pemenangnya,” ucap Carla suatu kali pada Rachel.

Sosok perempuan tangguh itu telah pergi. Perempuan pejuang itu telah tiada. Pergi tanpa beban dan tanpa keputus-asaan. Pergi meninggalkan kesan dan cinta yang mendalam di hati Ananta.

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s