‘The Smiling Death’: Selamat Tinggal Waktu

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya: “Cinta Kan Membunuh”)

 

Bawa aku terbang tinggi, hingga menembus galaksi

Bawa aku menyelusup pada kedalaman tetra hingga dunia fana ini tak ternegasi

Ya, bawa aku dan jadikan aku butiran partikel hingga inti tak terjamah lagi

Terbang dan terbang… tembus dan tembus… menuju ke langit…

 

Meski rasa bahagia menyelimuti Carla dan Ananta malam itu sepulangnya dari pesta, tapi dalam perjalanan menuju rumah mereka Carla merasakan pusing yang sangat hebat. Kepalanya seperti berputar-putar 180 derajat.

Sesampainya di rumah, tanpa sempat membersihkan riasan di wajahnya, Carla segera mengambil obat obat racikan dari dokter pribadinya yang selalu tersimpan dalam tasnya. Ia masuk ke kamar mandi. Namun itu tidak mampu mengurangi rasa sakitnya.

Brak..! Carla terjatuh di kamar mandi, kepalanya terbentur bath tub.

Ananta sempat mendengar suara seperti orang terjatuh di kamar mandi. Dan ia menemukan Carla pingsan tak sadarkan diri. Dalam keadaan bingung dan panik, Ananta langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit.

‘Carla terjatuh di kamar mandi, ia pingsan, sekarang kami di Suite Room RS Pondok Indah’

Sebuah pesan BBM dikirimkan ke Rachel. Ananta sangat butuh seseorang. Terutama seorang yang sangat dekat dengannya dan Carla.

Sulit tergambarkan bagaimana perasaan Ananta saat itu. Keresahan yang luar biasa hadir persis setelah ia mengalami momen-momen paling bahagia dalam hidupnya.

 

Manusia terbang tinggi ke angkasa..

mengalami turbulensi..

lantas jatuh terjerembab..

Sejenak kebahagiaan lekas berganti warna

Perjalanan hidup layaknya garis kurva

terkadang di balik mimpi yang menjadi nyata

ada luka yang tersimpan

kedalaman akal seakan tidak mampu mengolahnya.

Keterangan dokter membuat shock Ananta. Karena saat itu ia baru mengetahui bahwa selama ini Carla mengalami penyumbatan pembuluh darah di otaknya, dan selalu mengkonsumsi obat-obatan dari dokter. Tapi tak ada yang tau mengapa kondisi medis Carla mengalami penurunan yang tajam.

Hal yang paling buruk dari terbenturnya kepala Carla di kamar mandi adalah pecahnya pembuluh darah Carla di otak. Otak Carla bisa terendam darah. Dokter pun memutuskan untuk langsung melakukan segera CT Scan.

Ananta cemas, resah… bagai kehilangan arah… Di saat-saat itu, tak banyak yang bisa dilakukan seorang Ananta yang muda, sukses, popular, selain terus mencoba berdamai dan bernegosiasi dengan keadaan.

Tubuh Carla sama sekali tidak bergerak, tanpa kata terbaring diam. Di sisi-sisi tempat tidur rumah sakit itu ada Ananta dan Rachel, orang-orang paling dekat dengannya.

Tanpa Ananta dan Carla ketahui, ketika Rachel sering berkunjung ke rumahnya belakangan hari lalu, Rachel telah mengganti komposisi obat Carla.

Carla dan Rachel adalah sahabat karib. Sudah hal biasa, kadang Carla menginap di rumah orang tua Rachel. Begitu pula sebaliknya, Rachel menginap di rumah orang tua Carla. Bisa dibilang dimana ada Carla disitu ada Rachel, dimana ada Rachel disitu ada Carla.

Di kalangan pergaulan mereka, jika Carla tampil sendirian, teman-temannya biasa bertanya mana Rachel. Begitu pula sebaliknya ketika dalam pertemuan di HIPMI misalnya, Rachel datang sendirian, bisa memancing reaksi teman-temannya dengan pertanyaan kemana Carla

Kebiasaan itu berlanjut hingga setelah Carla menikah dan tinggal di rumah yang ia beli bersama Ananta.

Rachel bahkan lebih intensif mengunjungi Carla. Namun bedanya kali ini, Rachel tidak menginap. Pun demikian, Rachel memiliki keleluasaan waktu untuk mengganti komposisi obat Carla. Carla sama sekali tidak curiga. Rachel sahabat baiknya. Carla justru mempersilahkan Rachel menganggap rumahnya adalah rumahnya sendiri.

Rachel sendiri sesungguhnya telah menaruh hati pada Ananta ketika suatu hari pria flamboyan itu menginjakkan kaki pertama kali di kantor HIPMI. Kala itu enam bulan menjelang masa kepemimpinan HIPMI hampir berakhir. Waktunya mempersiapkan kandidat-kandidat ketua HIPMI yang baru.

Carla termasuk bakal calon ketua HIPMI. Rachel sebetulnya mengincar posisi strategis itu, namun ia kalah suara.

Tiba-tiba muncul kuda hitam, yaitu Ananta. Reputasi Ananta yang piawai dalam mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang hampir kolaps, disehatkan untuk kemudian dijual lagi, sudah dikenal luas.

Maka ketika sebagian anggota HIPMI mengusung nama Ananta, itu menjadi wacana yang cukup kontroversial. Mengingat Ananta merupkan anggota HIPMI yang baru saja bergabung. Ananta datang dan langsung menduduki posisi puncak, fenomena yang mengundang reaksi beragam. Namun, suara mayoritas memilih Ananta.

Intensitas hubungan Ananta dan Carla terjadi justru setelah selesainya pemilihan tersebut. Karena selanjutnya dalam pembentukan kepengurusan baru Carla juga masuk sebagai anggota tim formatur badan kepengurusan. Di situlah sering terjadi pergesekan antara Ananta dan Carla. Carla merasa Ananta selalu memojokkannya.

“Kenapa selalu saya pihak yang dipojokkan? Di sini kita bertiga, jadi kalau ada tiga pemberi keputusan, tapi saya tidak setuju, keputusan itu belum bisa dibilang sah,” debat Carla suatu saat dalam meeting untuk pengambilan keputusan.

Tapi Carla juga seorang perempuan yang sportif. Ia tak sungkan dan ragu untuk mengucapkan kata maaf jika ia salah dan memberikan ucapan selamat pada Ananta, jika memang itu yang semestinya.

Argumentasi Carla yang sering dipatahkan oleh Ananta tidak membuat Carla berkecil hati. Sikap legowo yang ditunjukkan Carla itu membuat Ananta mulai menyimpan rasa yang tidak biasa pada Carla. Hingga suatu saat ada kesempatan Ananta mengajak Carla makan malam berdua saja.

Melihat perkembangan hubungan antara Carla dan Ananta, Rachel merasa sakit hati. Rachel yang sudah terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya masih bisa menahan diri ketika kalah pamor dengan Carla dalam bursa pemilihan bakal calon Ketua HIPMI. Tapi ketika membaca sinyal Ananta cenderung tertarik pada Carla, Rachel tidak bisa menerimanya.

Bagi Rachel itu semua bagaikan petir yang menyambar-nyambar hati Rachel. Dada Rachel yang dibakar api cemburu, panas membara.

Rachel merasakan hal yang berbeda pada Ananta. Sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan dengan kata-kata. Ia merasakan getaran yang hebat setiap kali bertatapan mata dengan Ananta. Sesuatu yang tidak ia rasakan dengan pria-pria sebelumnya yang pernah singgah di hatinya.

Sudah tak terhitung berapa kali Rachel telah mematahkan hati laki-laki. Kali ini merasakan sendiri bagaimana sakitnya patah hati.

Dan kini sosok pria pujaan Rachel sedang begitu gelisahnya. Memandang kosong kekasihnya yag terbaring koma di ranjang rumah sakit dengan selang oksigen yang menutupi sebagian wajah pucat Carla

“Kamu harus kuat Ananta… aku selalu ada untukmu…” hanya itu yang terucap dari mulut Rachel.

***

Tak terhitung berapa malam telah mereka lewati dengan insomnia

Membiarkan masing-masing pikiran mereka menerabas ke segala arah

Berlarian melompati waktu.. dulu.. sekarang.. mungkin juga nanti.

Tak terhutung lintasan-lintasan dalam hati mereka yang saling bersinggungan

Terkadang bersisi-sisian, bergesekan, namun mereka terus melangkah

Inikah akhir dari semua mimpi?

atau mereka hanya pasrah ditenggelamkan takdir hari?

berlalu bersama waktu..

Rindu dan pilu itu sahabat dekat

serupa asmara dengan galaunya

serupa jaya dengan upaya

dan bahagia dengan syukurnya.

Nikmati saja keintiman dengan sang waktu..

… yang lalu telah mengantarkan mereka pada lorong ini

yang nanti bisa jadi cerita baru,

tapi saat ini bisa juga menjadi penentu,

meski ada keraguan

… akankah mereka berhenti membuat mimpi?

Tentukan saja.. pilih saja..

Katakan selamat tinggal pada waktu…

***

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s