‘The Smiling Death’: Cinta Kan Membunuh

 

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Kisah sebelumnya)

 

dia…,
gadis di ujung pelaminan itu
berbalut putih
gaun pengantin
mempesona bak aroma lily champa yang menguar kala itu
mengucap janji setia
dengan belahan jiwanya yang nampak serasi
namun akankah sebuah cinta sejati
bersama hingga selamanya?

 

Carla, adalah seorang perempuan cerdas dan mandiri. Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di berbagai kota dan negara, karena mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai diplomat dari satu negara ke negara lainnya.

Carla menamatkan High School-nya di Ithaca, New York, Amerika Serikat. Lalu ketika ayahnya ditugaskan de Indonesia, Carla pun melanjutkan studinya di Kota Bandung, yaitu di sebuah institut teknologi terkemuka di negeri ini. Di sanalah ia aktif berorganisasi dan berprestasi dalam bidang akademik. Ia termasuk sosok wanita yang pandai bergaul, banyak mahasiswa menjadi temannya. Pergaulannya luas namun dengan tidak melupakan untuk membaca banyak buku pengetahuan sebagai santapan sehari-hari.

Carla yang pernah menyabet predikat Miss University, sebenarnya tidak pernah menomorsatukan penampilan namun tidak menomorduakannya. Menarik. Satu kata ini yang dijadikan sebagai pijakan untuk selalu memberi kesan mendalam atas penampilan dirinya. Menurut wanita yang senang lukisan ini, perempuan harus pintar dan sekaligus harus menarik.

‘Aku sangat suka memberi kesan dari penampilan yang rapi. Tapi juga harus dibarengi dengan cantik di dalam (inner beauty) yaitu hati yang baik.’ ujarnya suatu waktu kepada Rachel, sahabatnya.

Malam itu Ananta dan Carla adalah pasangan yang paling berbahagia. Carla memakai gaun putih berbahan lace yang klasik namun elegan. Sebuah gaun selera ‘ratu’. Carla menggandeng mesra lengan Ananta yang memakai stelan jas rancangan designer terkenal. Mereka menyapa hangat sahabat-sahabatnya.

Hadir beberapa duta besar dan pasangannya dari berbagai negara, mereka sahabat orang tua Carla. Hadir juga para pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, di mana Carla dan Rachel sudah 2 tahun menjadi anggotanya. Mereka sahabat Ananta, juga sahabat Carla dan Rachel, apalagi sejak tujuh bulan ke belakang, Ananta telah terpilih sebagai Ketua Umum HIPMI.

Memang sesungguhnya secara resmi Ananta dan Carla telah sepekan sah menjadi suami istri. Namun untuk beberapa kolega dan rekanan bisnis, mereka sengaja melangsungkan sebuah pesta untuk kalangan terbatas saja. Carla yakin pesta akan berjalan sempurna karena ia telah menunjuk orang yang tepat sebagai ketua panitia, yaitu Rachel, sahabat yang sangat ia percayai.

Bersahabat dengan Carla selama dua tahun cukup bagi Rachel untuk mengetahui segalanya tentang Carla. Sehingga Rachel betul-betul paham apa yang Carla inginkan dalam pestanya dan apa yang tidak ia suka dan hindari untuk hidangan jamuan makan malamnya di sebuah hotel bertaraf international.

Ia memastikan orang-orangnya bekerja dengan cermat, memastikan kualitas hidangan sampai tata letak meja dan kursi. Ia menentukan siapa duduk di mana. Rachel mengatur segalanya.

Carla dan Rachel memiliki profesi yang sama, yakni desainer interior. Keduanya dipertemukan dalam satu proyek mendesain hotel baru. Sejak itu mereka bersahabat dan kemudian aktif bersama dalam pergaulan pengusaha muda negeri ini.

Carla dan Rachel memiliki minat dan visi yang sama dalam hal pemikiran. Tapi mereka selalu berbeda cara saat mewujudkan satu tujuannya. Perbedaan di antara mereka yang kontras itu selama ini malah membuat mereka saling melengkapi satu sama lain.

Seperti misalnya Carla yang lebih simple dalam berpenampilan, namun aura kecantikan dan keanggunannya tetap terpancar dari dalam diri, Rachel malah selalu tampil glamour. Ia betul-betul menunjukkan kelas sosialnya dalam masyarakat.

Rachel adalah seorang trendsetter dalam hal berpenampilan. Ia pengikut trend mode yang super loyal. Kekayaan ayahnya yang bekerja di perusahaan minyak multinasional, rekanan Pertamina, dan juga penghasilannya sebagai desainer interior, mampu memenuhi segala kebutuhan mewah Rachel. Ayahnya sangat sayang dan memanjakan Rachel. Apa saja yang diminta anak sematawayangnya itu diturutinya.

Rachel, dengan berbalut soft gold dress yang elegan dengan sepatu warna senada, menebar senyum paling indah pada semua orang, namun hatinya meradang. Hatinya bagai terbang menembus awan kelabu…

Dalam hidup ini sangat jarang sekali kita memiliki kesempatan bertemu dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita pula. Jadi ketika kesempatan itu datang, jangan dilepaskan. Kesempatan itu mungkin tak akan datang kembali. Lebih baik kehilangan kebanggaan diri kita demi orang yang kita cintai, daripada kehilangan cinta demi kebanggan diri sendiri.

Begitu bisik bathinnya…

Rachel sebagai sahabat paling dekat Carla, tahu betul rekam jejak medis Carla. Selama ini Carla sebenarnya mengalami penyumbatan pembuluh darah di otaknya. Sejak hasil CT Scan dan vonis dokter menyebutkan hal itu, Carla secara rutin meng-konsumsi obat dari racikan dokter pribadinya.

Dan sejak undangan pernikahan Carla dan Ananta diterima di tangan Rachel, sejak itu pula Rachel secara bertahap mencampurkan, bahkan mengganti obat racikan untuk Carla dengan obat lain. Yaitu obat yang justru memicu kambuhnya vertigo Carla. Maka sejak itu bukan sekali dua kali Carla sering terjatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.

’Ananta cuma untuk Rachel… dan aku untuk Ananta…,’ kata Rachel dalam hati.

Meski pada akhirnya pesta berlangsung lancar dan meriah. Carla sangat puas dengan segalanya. Ia memeluk Rachel dan mengucapkan terimakasih atas apa yang telah Rachel lakukan untuknya dan Ananta malam itu. Senyum dari bibir Rachel mengembang gembira menyambutnya.. tapi hatinya membisu.. jiwanya gigil membeku….

Terlebih saat Ananta melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukan Carla pada Rachel. Ananta betul-betul merasa bahagia atas pesta pernikahan dengan orang yang dicintainya, dan penyelenggaraan pesta oleh sahabat dekatnya, Rachel.

Pada momen itu waktu terasa berhenti untuk Rachel… ia ‘tersesat’ entah berada di mana…. lirih hatinya menyanyikan syair sendu…

 

‘Aku berlari dan terus berlari…
menerjang badai
menembus hujan

Kakiku menjejak bumi
tapi anganku terbang ke awang-awang
Hatiku beku saat ku tahu kau memilih dia yang menjadi pendampingmu

Malam ini kau terlihat tampan sayang…
namun bukan untukku.
Langkah kakimu tak mengantarkanmu ke ujung di mana aku menunggumu dengan cincin pernikahan itu

Ini sebuah episode kelabu
entah kemana aku akan membawa cinta dan sakit hatiku lagi…’

***

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s