‘The Smiling Death’: Rachel, Satu Senyuman Satu Pria Patah Hati

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

Chapter 1

(Sebelumnya : “Malam Pertama”)

Cinta, yang begitu menggairahkan dan menyakitkan
hanya itu yang engkau tawarkan dari misteriusnya duniamu…

kau, kerap menyakiti…
kau, dengan segala pesona dan tipu dayamu…
kau, sejuta rasa namun penuh bisa dan mematikan…
merahmu bak racun bagi jiwa yang kau benci dan ingin kau hancurkan
dan sungguh merahmu bak manisnya anggur

bagi jiwa yang sungguh ingin kau cengkeram hatinya…

 

Ananta memeluk Rachel dari belakang, mencium rambutnya. Rachel yang membelakangi Ananta berusaha menguasai dirinya. Ananta mengelus-elus lengan Rachel. Ia bingung, kecewa. Ia menunggu Rachel mengatakan sesuatu. Kalaupun tidak, Ananta bisa menunggu sampai besok pagi. Kalau sudah tenang, tentu akan mudah bagi Rachel untuk bercerita, begitu pikir Ananta.

Ananta duduk di tepi ranjang, sangat khawatir dengan keadaan Rachel.

“Rachel, kamu mau cerita apa yang terjadi?”

Rachel berbaring menghadap tembok, membelakangi Ananta. Ia tidak berani melihat wajah Ananta.

Sebenarnya Rachel ingin mencium Ananta, atau setidaknya mencium keningnya, tapi ia takut wajah Ananta tiba-tiba berubah menjadi wajah Carla.

“Aku perlu ke kamar mandi dulu…” desah Rachel lirih dan gontai.

“Mari kuantar…” Ananta masih mengkhawatirkan kondisi istrinya.

“Tidak… biarkan aku sendiri dulu…” balas Rachel menolak.

Di kamar mandi, Rachel mencari botol krim pembersih wajah di antara deretan botol perawatan tubuh. Tapi ia bukan ingin membersihkan wajahnya dengan krim tersebut. Itu adalah botol bekas yang di dalamnya tersimpan obat penenang.

Ia tidak menghitung lagi berapa butir yang ia keluarkan dari botol tersebut. Langsung saja ia telan masuk ke dalam kerongkongannya.

Ananta tidak pernah mengetahui Rachel sudah sejak lama mengalami ketergantungan dengan obat penenang. Obat itu membuatnya tersugesti untuk rileks, lepas dari ketegangan, walaupun sifatnya hanya sementara.

Rachel membasuh wajahnya dengan air hangat di wastafel di depan dinding cermin.

’Dia sudah mati!’ teriak Rachel dalam hati, meyakinkan dirinya sendiri.

Rachel memandangi wajah cantiknya di cermin, dan ia tersenyum puas. Puas karena telah memiliki Ananta, pria yang membuatnya tergila-gila setengah mati. Ananta adalah pria yang membuatnya berhenti menebarkan senyuman maut dalam petualangan cintanya.

Satu senyuman satu pria patah hati, itulah gambaran seorang Rachel.

Rachel dengan penampilannya yang anggun bak flaminggo, mempesona bak mawar merekah, dan dengan cara bicaranya dalam tatanan kalimat yang santun dan penuh wibawa, sungguh merupakan gambaran seorang perempuan modern yang mandiri dengan kemampuan leadership yang kuat.

Pancaran aura kewanitaan saat ia memasuki sebuah ruangan, selalu akan mengundang mata lelaki menatapnya dengan dada berdegup kencang. Membuat para pria bertekuk lutut di bawah kakinya menjadi hal yang mudah untuk ia lakukan. Bukan dengan ‘tangan besi’, justru dengan halusnya budi pekertinya.

Tanpa Rachel sadari, ia kena batunya dalam perjumpaannya dengan Ananta.

Keluar dari kamar mandi, Rachel langsung naik ke ranjang dan menarik selimutnya, ia terpejam…

Rachel diam saja. Ananta curiga Rachel bisa tidur secepat itu. Ananta mengangkat badannya sedikit, melihat wajah Rachel. Ananta kembali ke posisi semula, meletakkan tangannya di perut istrinya. Ananta berusaha tidur.

Rachel membuka mata. Pandangannya menembus tembok di depannya, kembali ke malam pesta kalangan terbatas pernikahan Ananta dan Carla.

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s