‘The Smiling Death’: Malam Pertama

The Smiling Death

Chapter 1

Oleh : Arimbi Bimoseno & Erri Subakti

 

 

Rachel memakai lingerie terbaik yang paling ia sukai. Lingerie merah satin yang menutup tubuhnya dari batas dada hingga se-paha. Ia biarkan rambut panjangnya yang bergelombang tergerai, menjuntai indah. Ia semprotkan parfum di balik kedua telinga dan di pergelangan tangannya.

Ini malam pertama yang sudah lama dinantikan Rachel. Ia ingin memberikan kesan istimewa tak terlupakan pada Ananta, suaminya.

Rachel telah mempersiapkan segalanya. Memasang sprei berbahan katun Jepang bernuansa merah menggairahkan, satu set dengan sarung bantalnya yang bermotif hati. Tak lupa ia nyalakan lilin aromaterapi.

Lampu kecil redup di pojok tempat tidur ia nyalakan. Lampu besar di kamar ia matikan. Ananta masih membersihkan diri di kamar mandi. Rachel sudah tak sabar menunggunya.

‘Ini akan menjadi malam paling romantis..,’ Rachel tersenyum penuh kemenangan.

Ananta keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya saja. Ananta yang berpostur tinggi dengan wajah campuran Indo dari Ibunya yang berdarah Minang dan Ayahnya yang berasal dari Jerman keturunan Turki, mampu membuat banyak perempuan terpikat. Ditambah lagi dengan gaya cueknya yang khas, namun kesan intelek tidak pernah lepas darinya.

Kilap dada bidang Ananta yang terkena pantulan cahaya redup kamar semakin membuat Rachel ingin segera ada dalam dekapnya. Aroma sabun mandi khas laki-laki memenuhi ruangan. Rachel tersenyum nakal penuh gairah memandang Ananta.

“Rachel, kamu cantik sekali…,” Ananta mengecup lembut bibir Rachel kemudian membopong tubuh istrinya ke atas ranjang.

Ananta memulai dari kecupan di kening… turun ke hidung.. sambil tangannya melepas juntaian lingerie yang melilit tubuh Rachel… dan saat Ananta mau melumat bibir Rachel, tiba-tiba mata Rachel terbelalak.

Rachel mendorong tubuh Ananta sekuat tenaganya.

“Aaarrghh..!!!”

Rachel histeris, ia melompat dari ranjang, meraih benda sekenanya di meja rias, lalu melemparkan ke arah Ananta. Sebuah gunting teraih di tangannya dan Rachel mulai mengacung-acungkan gunting itu ke arah Ananta sambil tetap histeris, “Pergi kamu! Pergi..!!”

Rachel berjalan mundur hingga punggungnya menempel di sudut dinding kamar.

“Rachel?” Ananta sontak sangat heran melihat raut wajah istrinya yang panik dan amat ketakutan.

“Pergi!” Rachel kembali menghardik Ananta.

Imaji yang tampak di mata Rachel adalah Carla, mantan istri Ananta. Wajah Carla dengan senyum manis dan anggunnya begitu lekat di mata Rachel. Persis saat Ananta mulai mengecup bibir Rachel, saat itu pula wajah Carla nampak begitu dekat bersentuhan dengan wajah Rachel. Bahkan Rachel seakan mendengar hela napas Carla dan mencium wangi aroma tubuh Carla yang sudah meninggal.

“Tidak… tidak… tidaaaaaakkkkkkkk!” Rachel menjerit histeris.

Perlahan-lahan di mata Rachel, bayangan wajah Carla lenyap, berganti wajah Ananta seutuhnya.

Rachel melepaskan gunting dari tangannya. Tubuhnya terkulai layu. Ia jatuh terduduk dengan menahan sesak di dada. Wajah ketakutannya berganti serupa bayi yang bersedih tanpa dosa.

Spontan Ananta mengambil selimut dan mencoba memeluk dan menutupi tubuh Rachel.

Rachel memeluk erat Ananta, membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya itu, menumpahkan air matanya di sana.

Malam pertama yang romantis berubah menjadi histeris.

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s