After All That We’ve Been Through

“Saudara Ananta ini dari dulu memang selalu mendominasi pembicaraan dalam diskusi. Saya tau, Anda lama hidup di negara-negara barat. Tapi di sini berbeda. Di sini lawan bicara Anda bisa tersinggung jika Anda suka menunjuk-nunjuk seperti itu kepada lawan debat Anda…” Carla tidak terima jika ia selalu merasa dipojokkan oleh Ananta dalam rapat-rapat HIPMI.

Selepas usai rapat badan kepengurusan HIPMI, Carla meminta waktu 5 menit pada Ananta untuk berbicara empat mata saja.

“Dari dulu? Tau dari mana saudari Carla ini tentang saya? Apa yang Anda tau?” Ananta mencoba membantah Carla.

“Hmm.. memang pantas Anda tak pernah ingat dengan saya… meski kita pernah satu sekolah saat SD. Saya memang waktu itu masih cupu.. kecil, berkacamata, dan saya adik kelas Anda yang selalu anda bully di sekolah.. Ingat..? tentu saja tidak saya kira… Tapi tentu Anda ingat gadis kecil yang berani memukul wajah Anda saat kelas 3 SD…”

“Oh.. eh…”

“Kaget..?! Anda tentu tidak tau siapa saya waktu itu.. dan bagaimana saya sekarang…”

Carla sewaktu kecil merupakan perempuan yang tomboy. Ia berani melawan laki-laki yang kadang melakukan bullying baik terhadap dirinya sendiri atau pun kepada anak perempuan atau anak yang lemah lainnya. Meski begitu Carla seorang anak yang setia kawan, tidak memandang perbedaan berbagai latar belakang ekonomi, status sosial, agama, suku dan bangsa.

***

“Ren.. Lo inget gak ada yang namanya Carla waktu SD.. dia setahun di bawah kita…” Ananta masih penasaran tentang apa yang diucapkan Carla.

Malam itu sengaja Ananta mengajak Rendy bertemu untuk menceritakan apa yang siang tadi terjadi di rapat HIPMI.

“Carla.. hmm… ya inget dong.. dia memang satu SD sama kita.. gak nyangka ya dia yang dulu cupu tapi tomboy itu kini bisa berubah jadi cantik banget… gue sempet kagum pas suatu saat ketemu lagi… kenapa?’ Rendy manggut-manggut mengikuti musik jazz yang mengalun di cafe itu.

“Memang dia yang dulu waktu SD pernah nonjok gue?” Ananta minta diingatkan kembali memory-nya.

“Hahahaha.. iya gue juga baru inget.. betul bro.. dia adik kelas kita yang berani ngelawan lo waktu itu . dia membela temennya yang di-bully sama kita.. hehehe…” Rendy ngakak mendengar pertanyaan Ananta.

“Gila.. dia nyinggung soal itu tadi waktu rapat di HIPMI… gue gak bisa ngomong… gue sendiri aja lupa. Kalau pun gue bantah juga tambah bikin malu gue…,” ujar Ananta sambil menyeruput coke-nya.

“Sudah minta maaf belum lo..?” tanya Rendy saat pelayan menaruh french fries di meja mereka.

“Entahlah.. ada rasa yang lain kayaknya Ren…” Ananta merebahkan punggungnya pada sandaran sofa di cafe itu.

“Eh.. maksud lo? Wah.. ’sang pangeran’ sedang jatuh hati kayaknya nih… Turut senang dengan hal gembira ini brader…” Rendy makin bersemangat mengulas obrolan mereka.

Ananta mengusap-usap pipinya yang tidak gatal, tidak nyeri dan tidak digigit nyamuk. Ia seperti ingin merasakan kehadiran Carla dengan mengingat-ingat apa rasanya bogem Carla di pipinya dulu sewaktu kecil.

Rendy masih asik menggoyang-goyangkan kaki mengikuti alunan suara saxopohone saat Ananta mulai mengetik kata maaf pada gadgetnya. Laki-laki yang sangat dominan dalam rapat-rapat pengusaha itu kini harus jujur pada dirinya sendiri tentang perasaannya terhadap Carla

***

Enam bulan lalu di masa pergantian kepengurusan HIPMI, Carla termasuk bakal calon ketua HIPMI yang cukup populer di mata para anggota. Tapi tiba-tiba muncul kuda hitam, yaitu Ananta. Reputasi Ananta yang piawai dalam mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang hampir kolaps, disehatkan untuk kemudian dijual lagi, sudah dikenal luas.

Maka ketika sebagian anggota HIPMI mengusung nama Ananta, itu menjadi wacana yang cukup kontroversial. Mengingat Ananta merupkan anggota HIPMI yang baru saja bergabung. Ananta datang dan langsung menduduki posisi puncak, fenomena yang mengundang reaksi beragam. Namun, suara mayoritas memilih Ananta.

Intensitas hubungan Ananta dan Carla terjadi justru setelah selesainya pemilihan tersebut. Karena selanjutnya dalam pembentukan kepengurusan baru Carla juga masuk sebagai anggota tim formatur badan kepengurusan. Di situlah sering terjadi pergesekan antara Ananta dan Carla. Carla merasa Ananta selalu memojokkannya.

“Kenapa selalu saya pihak yang dipojokkan? Di sini kita bertiga, jadi kalau ada tiga pemberi keputusan, tapi saya tidak setuju, keputusan itu belum bisa dibilang sah,” debat Carla suatu saat dalam meeting untuk pengambilan keputusan.

Tapi Carla juga seorang perempuan yang sportif. Ia tak sungkan dan ragu untuk mengucapkan kata maaf jika ia salah dan memberikan ucapan selamat pada Ananta, jika memang itu yang semestinya.

Argumentasi Carla yang sering dipatahkan oleh Ananta tidak membuat Carla berkecil hati. Sikap legowo yang ditunjukkan Carla itu membuat Ananta mulai menyimpan rasa yang tidak biasa pada Carla. Hingga suatu saat ada kesempatan Ananta mengajak Carla makan malam berdua saja.

***

“Indonesia ini bukan negara bebas sebagaimana kamu biasa tinggal di Eropa sana Ananta…” Carla masih dingin dalam obrolan makam malam Ananta dan Carla yang masih serba canggung itu.

Hingga tema obrolan pun ngalor ngidul ke sana kemari. Bibir mereka mengucap kata-kata namun pikiran mereka berlarian dengan kegundahannya sendiri-sendiri.

“Kebebasan manusia itu dibatasi oleh kebebasan manusia lainnya…” Ananta menanggapi dengan common sense sekenanya.

“Kebebasan manusia dibatasi oleh hati, bukan oleh hukum dan kebebasan orang lain,” Carla mencoba mengoreksi.

“True.., but how is it?”

“Our first teacher is our own heart,jawab Carla.

“Lalu.. bagaimana hati mengajarkan kita?”

“Dengan bertanya, kamu akan menemukan jawabannya. Seperti tak ada jalan menuju perdamaian kecuali perdamaian itu sendiri adalah jalannya.

tak ada jalan menuju pengertian

kecuali pengertian itu sendiri adalah jalannya

tak ada jalan menuju kehidupan

kecuali kehidupan itu sendiri adalah jalannya

tak ada jalan menuju kematian

kecuali kematian itu sendiri adalah jalannya

tak ada jalan menuju kasih

kecuali kasih itu sendiri adalah jalannya

begitu juga tak ada jalan menuju cinta

kecuali cinta itu sendiri adalah jalannya…”

Ananta hanya bisa terpukau dengan keindahan anugerah Tuhan yang hadir di hadapannya. Paripurnanya isi pikiran dan hati, sikap dan perilaku makhluk cantik bernama Carla ini.

***

Cinta bisa datang tiba-tiba tanpa pernah kita duga

Cinta hadir tanpa pemberitahuan

Kadang kala…

orang yang kita cintai adalah orang yang paling menyakiti hati kita.

***

(Erri Subakti & Arimbi Bimoseno)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s