Jadwal Kematian

 

“Memang berat kehilangan orang yang kita cintai,” kata Rachel mencoba menebak pikiran di balik mendung wajah Ananta.

“Iya. Aku rindu Carla,” kata Ananta apa adanya.

Rachel sebetulnya kesal mendengar pengakuan Ananta itu, tapi ia berusaha tenang.

“Kamu tahu apa ini, Ananta?” Rachel menunjuk buku tebal berjudul ‘Arsitektur dan Desain Interior’ di tangannya.

“Buku.”

“Di balik buku ini ada siapa?”

“Penulis buku?”

“Iya, tepat sekali. Bab pertama buku ini bercerita tentang rumah minimalis. Sebelum menulis, penulis itu sudah menentukan ending-nya, gambaran tentang rumah minimalis yang ia bangun itu akan seperti apa sudah ada di kepalanya. Di bab lain dalam buku ini penulis bicara tentang interior untuk rumah minimalis, ia sudah menentukan konsep sejak awal termasuk ending-nya sudah ia tentukan sejak awal.”

“Kamu mau bicara apa sebetulnya, Rachel?”

“Katakanlah Carla itu sebuah buku, ada siapa di balik Carla?”

“Pencipta Carla, Tuhan?”

That’s right. Bisa dianalogikan, penulis buku ini seperti meniru cara kerja Tuhan.”

“Cara kerja Tuhan?”

“Kamu mau mendengar ceritaku?”

“Iya, aku mau dengar.”

“Kematian adalah takdir, kematian adalah ending dari perjalanan hidup manusia di dunia ini. Kita percaya bahwa detik menit hari jam tanggal tahun kematian kita sudah dituliskan oleh Tuhan, tidak bisa diganggu gugat. Orang bunuh diri sekalipun dan ia mati pada saat bunuh diri, memang dia sudah ditakdirkan mati oleh Tuhan pada saat itu. Tanpa bunuh diri pun dia akan mati di menit jam hari tanggal yang sama. Kematian itu sama seperti endingsebuah buku.”

“Ah, kamu ngomong mati.”

“Realistis. Semua yang hidup pasti akan mati. Jadi, di awal ketika Tuhan menciptakan manusia di dalam rahim, sekaligus Tuhan sudah menentukan ending-nya, jadwal kematiannya. Demikian juga dengan kematian Carla. Jadi, tidak ada gunanya kita berkabung terus-menerus menyesalinya.”

“Cara kerja Tuhan gak gitu. Tidak linear gitu. Tuhan menciptakan berjuta ending dengan milyaran percabangan hidup.”

“Memang begitu. Yang nggak linear itu masa antara kelahiran dan kematian, kalau kelahiran dan kematian sudah pasti.”

“Tuhan bisa membuat ending manusia mati di usia 25, tapi orang yang sama juga disiapkan Tuhan, mati di usia 50. Mati di usia 25 atau 50 itulah pilihan manusia.”

What?!

“Tuhan Maha Canggih dalam menulis skenario hidup. Tidak seperti manusia yang menulis skenario linear.”

“Tunggu Ananta, kamu bilang mati di usia 25 atau 50 itulah pilihan manusia? Apa maksudmu?”

“Iya, kematian takdir Tuhan itu juga karena pilihan hidup manusia yang menjalaninya.”

“Kok bisa?”

Book of Life manusia di Tangan Tuhan itu bukan seperti buku yang kita pegang sekarang, yang halaman demi halaman kita baca linear, dari halaman satu dan seterusnya. Tapi buku manusia itu bisa dari halaman satu lompat ke halaman 30 misalnya, itu karena pilihan manusia.”

“Buku apa yang kita pegang sekarang?”

“Aku jelasin dulu ya, jangan tanya dulu.”

“Oke.”

“Kalau kita baca buku buatan manusia, itu kan kita membaca dari halaman 1, 2, 3, dan seterusnya sampai halaman terakhir. Book of Life Manusia Kreasi Tuhan itu bentuknya tidak seperti halaman-halaman itu.”

“Gak juga, aku suka baca buku lompat-lompat halaman.”

“Jangan disela dulu.”

“Oke.”

“Tuhan menciptakan ratusan halaman pertama untuk seorang manusia, ratusan halaman kedua untuk manusia, dan seterusnya. Setiap halamannya di akhir kalimat manusia memiliki pilihan, akan memilih ke halaman 2 yang mana 2A, 2B, 2B1IIc, dan lain-lain. Atau bisa juga manusia tersebut memilih perjalanan hidupnya ke halaman 5, maka cerita tentang manusia itu dari halaman 1 ke halaman 5. Tapi jika manusia memilih ke halaman 2, itu bisa lain cerita dan takdirnya. Begitu juga kalau memilih melanjutkan ke halaman 3,takdirnya berbeda lagi, tapi tetap berurut kisahnya. Bukan seperti kamu yang baca lompat ke tengah-tengah, pasti ada yang missing.

Begitu juga dengan ending-nya, di halaman 200 sekian bisa saja si manusia mati jika telah memilih jalan hidup atau halamannya. Tapi Tuhan juga menyiapkan ending si manusia mati di jutaan halaman lainnya tergantung pilihan halaman perjalanan hidup si manusia. Bisa saja si manusia mati di halaman 400. Itu semua sudah disiapkan oleh Tuhan. Kita mau mati di usia berapa, dengan pilihan jalan hidup yang mana, semua ada konsekuensinya. Kita mau hancur di halaman berapa dan bangkit di halaman berapa, ada takdirnya sendiri-sendiri, setelah kita memilih jalan.”

“Ananta, kupikir yang kamu jelaskan itu semua adalah lika-liku percabangan jalan hidup, bukan ending. Kalau ending, aku sulit menerima penjelasanmu itu karena itu menyangkut kepercayaan, gak bisa diperdebatkan.”

“Almarhum Uje misalnya, dia di satu momen pasti punya pilihan untuk meneruskan hidup hedonis atau taubat. Jadi taubatnya Uje bukanlah takdir Tuhan, tapi pilihan manusia.”

“Itu aku setuju.”

“Jika Uje memilih tidak taubat, Tuhan telah menyiapkan ending yang lain untuk Uje, mati di usia lebih muda lagi misalnya dengan sakit-sakitan.”

“Aku sulit percaya. Ada perokok mati muda, ada perokok mati tua. Tentang Uje, kematian Uje pada jam dan tanggal itu sudah ditulis Tuhan sejak Uje dilahirkan.”

“Sebentar Rachel, dengar dulu ya. Itu yang kumaksud Book of Life Manusia Kreasi Tuhan tidak sama dengan buku yang ditulis manusia. Kamu benar Uje meninggal beberapa waktu lalu itu sudah ditulis Tuhan sejak Uje lahir. Tapi Tuhan juga sudah menulis ending yang lain untuk Uje jika ia tidak bertaubat. Jadi soal Tuhan sudah menulis ending setiap manusia itu benar, takdir, tapi skenario Tuhan bukan satu. Ending manusia tergantung pilihan hidup manusia itu juga, Tuhan hanya menyiapkan takdirnya, ending yang beragam yang sudah ditulisnya. Tuhan Maha Canggih, skenarionya di luar nalar manusia, Sang Sutradara Kehidupan.

Sutradara yang menjalankannya bukan seperti sutradara manusia, tidak sekadar action and cut, tapi film itu telah disiapkan Tuhan secara pararel, tidak linear. Di satu episode si tokoh memilih adegan lain, maka Sang Sutradara telah menyiapkan episode yang lain. Tidak serial episode 1 ke episode 2 dan seterusnya.”

“Bahwa Tuhan Maha Canggih, Sang Sutradara Kehidupan, aku tidak bisa membantahnya, itu betul. Tapi soal jadwal kematian, itu yang kupahami dari Ustad Nadjamudin, sudah pasti, aku percaya.”

“Ya itu kan tafsir ustad, kalau yang kuungkap kan tafsir Ananta, hehehe….”

“Dipikir-pikir memang cukup masuk akal kok yang kamu bilang itu, gak tahulah.”

“Untuk menyadarkan manusia bahwa pilihan hidup ada di tangan manusia. Setiap pilihan jalan memiliki konsekuensi. Konsekuensi yang di dalamnya ada takdir Tuhan. Aku memilih A, di dalam jalan yang kupilih ada takdir Tuhan, termasuk kematian. Aku memilih B, di dalam jalan B ada takdir Tuhan beserta dengan keputusan kematiannya. Sehinggakematian selain takdir Tuhan, adalah konsekuensi dari pilihan jalan yang kita pilih.”

“Itu jalan hidup yang bercabang termasuk cara matinya bagaimana, jadwal kematian tetap.”

“Jadwal kematian sudah diputuskan Tuhan, di sini kita sepakat. Perbedaan di antara kita, aku menyebutkan Tuhan tidak menyiapkan satu takdir kematian saja untuk satu manusia, tapi banyak. Jadwalnya sudah ada sudah ditetapkan, tapi bukan satu.

Pikiran manusia terbiasa berpikir jadwal itu serial, padahal bisa pararel. Setiap manusia memiliki jadwal kematian yang beragam, sudah disiapkan, sudah ditulis Tuhan. Itu takdir, tapi tidak satu, tergantung pilihan manusia, pilih jalan hidup yang mana. Setiap pilihan hidup punya jadwal kematiannya.”

“Kamu memang jago debat, Ananta. Dan memang semuanya adalah tafsir, hasil interpretasi manusia. Break ya soal ini. Untuk sementara kita sepakat untuk tidak sepakat. Sekarang kembali ke persiapan pernikahan kita.”

“Oke, hehehe….”

“ Ada yang mengganggumu sebelum kita memasuki hari H?

“Ada.”

“Apa?”

“Diajak ngobrol kamu, membahas takdir dan kematian, hehehe….”

Love you, Ananta. Aku ingin jadi istrimu sebelum mati.”

Love you too, Rachel.”

Tampaknya Rachel sudah berhasil mengendalikan Ananta. Dan Ananta mengizinkan dirinya dikendalikan Rachel.

***

(Erri Subakti & Arimbi Bimoseno)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s